blogonesia

my daily blogosphere, my virtual world

Kutu Rambut

with 8 comments

turut berduka citaJaman saya dulu tinggal di desa, biasanya suka ngelihat kegiatan yang bikin senyum. Ibu-ibu atau perempuan yang duduk-duduk di bawah pohon, ngerumpi sambil cari kutu di rambut kepala. Waktu itu, kutu rambut memang sudah menjadi hal yang biasa. Dan mencari kutu adalah juga hal yang biasa, sambil berinteraksi dengan sesama tetangga.

Tapi siapa sangka, ketika saat ini saya tinggal di sebuah negara yang maju dan modern, saya menemukan anak saya ketularan kutu rambut dari sekolah atau tempat penitipan anak. Awalnya, kita tak menduga sama sekali tentang hal ini. Tapi melihat Hasna suka garuk-garuk kepala, kami pun jadi penasaran untuk memeriksanya. Dan ternyata, kepalanya sudah jadi sarang kutu. Akhirnya istri saya pergi ke apotek untuk membeli obat kutu rambut dan dioleskan ke kepala kami bertiga dan dibiarkan semalaman.

Sekali bersih dari kutu rambut, bukan berarti aman untuk seterusnya. Beberapa bulan kemudian ketika kami periksa lagi, ternyata Hasna kembali tertular kutu rambut. Dan terpaksa kami harus sama-sama memakai obat kutu rambut lagi. Begitu seterusnya dan berulang sampai beberapa kali. Yang menjadi masalah, obat kutu rambut harganya cukup mahal, jadi kalau sering-sering beli juga bisa berabe dan mengganggu APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga). Akhirnya, untuk menghemat anggaran, pas kebetulan ada saudara mau datang ke Jerman untuk Post-Doc, kami titip untuk dibawakan Peditox, obat kutu rambut made in Indonesia.

Sebenarnya di sekolah Hasna sudah ada aturan, kalau ada anak yang terkena kutu rambut, maka dia tidak boleh pergi ke sekolah sampai kutunya dibasmi. Tapi kadang-kadang, banyak juga dari mereka yang bandel (orang tuanya) sehingga epidemi kutu rambut tak pernah benar-benar hilang. Makanya, tidak heran kalau di sekolah atau tempat penitipan anak saya, selalu ada pengumuman tentang kutu rambut ini. Bahkan, pernah sekali waktu, semua anak diperiksa dengan teliti rambutnya. Di TV pun, salah satu iklan yang sering saya lihat adalah iklan obat kutu rambut!

Gambar di atas adalah salah satu kutu rambut made in Germany yang sudah berkembang biak dengan sukses di kepalanya Hasna dan berhasil dijepret dengan sukses oleh kameranya kangtustel.

Written by agusset

September 19, 2005 pada 2:59 pm

Ditulis dalam Uncategorized

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Setelah baca “Panekuk Papa” dan entry yang ini, Hasna jadinya skul di Hamburg ya mas? Bukannya doi sempet pulang ke Indon bareng mamanya?

    ricorea

    September 19, 2005 at 4:14 pm

  2. @ricorea: pulang ke indonesia cuman untuk liburan musim panas aja.

    agus set

    September 19, 2005 at 4:50 pm

  3. hahaha…. kutu made in Germany ini kalah nggak ama kutu made in Indonesia? spt kakerlaker hehehe… ;)
    Lain kali kalau pulkamp coba dibuat foto kutu Indonesia… trus dibandingkan hihi…

    btw, iklan mana itu ya? saya kok sama sekali gak inget ada iklan kutu di tv… atau itu bagian dari Kinderprogramm kali ya? maklum saya gak pernah nonton Kinderprogramm atau film kartun.

    PS: hari ini kok sooo produktif ngebloggingnya…

    Ni Londo

    September 19, 2005 at 7:53 pm

  4. @ni londo: belum pernah diadu tuh kutunya. iklan obat kutu suka ada di superRTL (Toggolino).

    biasa, kalau sambil nunggu runningan suka ngeblog… masih penasaran sama Google AdSense nih. Baru dapet earning $0.01 hehehe… Lagi nyoba ngeset yang di kangtustel.

    agus set

    September 19, 2005 at 11:50 pm

  5. @ni londo : Ni… di Indonesia aja belum pernah liat yg namanya kutu rambut kok. Jd ya blm pernah bisa bandingin. Kaget ngliatnya jg hehe…

    Mutiara

    September 20, 2005 at 6:18 pm

  6. @Mas Agus: wah earningnya lewat google adsense itu mulai jadi saingan utk earning saya dari publikasi buku hehehe… ;)

    oh ya ada pepatah Jerman: “wer den Pfennig nicht ehrt, ist den Taler nicht wert” (Taler itu pada zaman dulu spt D-Mark). Berarti, orang yang tidak bisa menghargai 1 cent, tidak pantas untuk mendapatkan 1 Euro/Dollar.

    Ni Londo

    September 20, 2005 at 10:17 pm

  7. wah sama..di kita shf juga lagi mewabah läuse…hihh..so far..shf sih belum tertular..semoga gak deh…gatel ngebayanginnya..

    alhamdulillah kita punya banyak persediaan obat kutu dari indo…siap2 dulu pas mbak yanti minta buat yumna..

    kalo butuh…bialng aja…banyak belum kepake…

    -ari-

    Anonymous

    September 27, 2005 at 1:23 am

  8. susahnya sekarang nyari obat kutu yah…ada yg tahu info?

    delont

    Agustus 7, 2009 at 5:18 am


Tinggalkan Balasan