Saya tergelitik untuk memposting tulisan ini setelah membaca mutiara kata di situs resmi Presiden SBY. Mutiara kata ini dikutip oleh redaksi situs tersebut dari sambutan Presiden SBY pada pelantikan Panglima TNI dan KSAU di Istana Negara tanggal 13 Februari 2006. Berikut bunyi mutiara katanya:
Ruh dan jiwa dari reformasi adalah berhentinya TNI dari kegiatan “politik, politik praktis”.
Mungkin akan ada banyak tafsir jika kita membaca dan memikirkan secara seksama kalimat di atas, terutama pada bagian yang saya beri tanda petik dua -makna apa yang terkandung sebenarnya dari pengucapan “politik, politik praktis”?-.
Buat saya sendiri, dengan menggunakan pemikiran yang sangat sederhana, kalimat di atas berarti bahwa TNI harus tidak boleh terjun ke dunia politik, terutama/apalagi politik praktis, jika ingin reformasi di Indonesia memiliki ruh dan jiwa. Jadi selama TNI masih berpolitik, terutama/apalagi politik praktis, maka reformasi menjadi tidak ber-ruh dan berjiwa.
Dalam ilmu Biologi, sesuatu yang tidak berjiwa disebut sebagai benda mati. Jadi, jika TNI masih bergelut dalam dunia poilitik, terutama/apalagi politik praktis, maka reformasi yang bergulir di Indonesia adalah reformasi yang termasuk dalam kategori benda mati, memiliki wujud tetapi tak hidup.
Pertanyaan yang muncul dalam benak saya setelah membaca mutiara kata itu tentu saja adalah: “sederhana sekali indikator yang digunakan Bapak SBY dalam menilai sebuah reformasi memiliki jiwa/ruh atau tidak?”. Atau, jika Bapak SBY tidak bermaksud untuk menyederhanakan masalah (mungkin saya harus baca lengkap teks sambutan beliau), maka pertanyaan saya akan berubah menjadi pernyataan dan berbunyi: “gegabah sekali redaksi situs Presiden SBY memasukkan kalimat di atas sebagai mutiara kata!”.
Apakah sebenarnya politik itu? dan lebih dari itu, apakah sebenarnya politik praktis itu? Siapa sajakah yang boleh terjun ke dunia politik? Lalu, siapa pula yang hanya boleh terjun ke politik praktis?
Dalam awal era reformasi, Amien Rais pernah mengumandangkan gagasannya tentang politik adiluhung, politik dengan permainan yang cantik, yaitu politik yang tidak praktis memburu syahwat kekuasaan atau dengan kata lain adalah politik yang melibatkan seluruh komponen masyarakat sebagai variabel politik kebangsaan (politik kebudayaan).
Mengacu pada hal di atas, saya berpendapat bahwa keterlibatan TNI atau PNS dalam arena politik adalah tidak tepat untuk dijadikan indikator bahwa reformasi yang berjalan menjadi tak ber-ruh atau berjiwa. Selama TNI, PNS atau siapapun dia bisa bermain dalam kancah politik yang adiluhung, maka itu baik-baik saja. Yang menurut saya akan menjadi masalah ialah kalau TNI berubah menjadi pendukung sebuah partai politik tertentu, atau bahkan menjadi partai politik dan ikut sebagai salah satu kontestan dalam pemilu. Kenapa akan menjadi masalah? Karena Pak Harto pernah bilang bahwa TNI itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan itu artinya, semua rakyat, bukan hanya rakyatnya Golkar, PDIP, PAN, PKS atau yang lainnya.
Jadi, buat tim redaksi, lebih teliti dan berpikir agak sedikit panjanglah kalau mau memasukkan potongan pidato sebagai mutiara kata ke dalam situs yang dibaca oleh banyak orang ini. Itu usul saya lho, karena saya punya prinsip: “apa yang diucapkan oleh Presiden (atau siapapun yang jabatannya tinggi) belum tentu benar dan tepat, atau mungkin benar/tepat tetapi hanya dalam skala lokal, atau, bisa jadi, meskipun benar belum tentu layak jadi mutiara kata!”.
Sepengetahuan saya (untuk redaksional dan content ada staf lain yang menangani, dan rata-rata wartawan senior) pemilihan kalimat yang dijadikan mutiara kata adalah kalimat atau frase pada pidato tersebut yang memiliki kesan paling mendalam bagi pendengar/pembaca.
Jadi bukan berarti suatu kalimat yang harus benar/tepat dan bersifat universal. Tetapi sebagai bagian yang “berkilat” pada pidato/teks tersebut. Walau memang diusahakan pilihan yang dilakukan adalah hal berkilat yang baik. Tapi faktor kesan pada frase dan kalimat tersebut adalah yang berperan penting. Apalagi karena suatu kalimat memiliki nilai interpretasi yang sangat kontekstual (semantic, pragmatic maupun semiotic).
Bisa dilihat daftar mutiara kata yang ditampilkan di source code dari halaman utama.
# IMW:
Berarti pemahaman saya tentang mutiara kata berbeda dengan pemahaman para tim redaksi, apalagi kalau indikator utamanya lebih ditekankan pada “keberkilatan” sebuah teks.
Mengenai indikator kesan mendalam pendengar/pembaca, apakah memang para pendengar/pembaca sangat terkesan dengan kalimat itu? Jika memang para pendengar/pembaca sangat terkesan dengan bunyi kalimat itu, sungguh dahsyat sekali pengaruh TNI dalam reformasi. Ruh dan jiwa reformasi ternyata ada di “sepak terjang” mereka.
sebenarnyalah indonesia ini masih memerlukan militer untuk tetap hadir di bumi indonesia tercinta ini,karena militerlah yang masih memegang teguh cita cita negara kesatuan indonesia ,selain itu saat ini semua partai i idealismenya amburadul dan tidak jelas tujuannya kemana islamisme juga mau kemana,nasionalisme juga mau kemana dan yang jelas saat ini dikuasi oleh kapitalisme yang tidak memihak rakyat
sangat disayangkan bila semangat TNI yang punya jiwa penjaga nusantara ini politik prktisnya dimatikan begitu aja dan dimasukkan dalam barak karena sampai saat ini hanya TNI lah yang dapat menjaga nusantara ini dalam wadah kesatuan repuplik indonesia apapun ideologinya merekalah alat tangguh dalam menyatukan republik ini,merah puti ada dalam jiwa setiap prajurit,rawe rawe rantas malang malang buntung indonesia tetaplah bersatu TNI siap mengawal negriku