Ruang kerja dan tanaman
Salah satu yang saya suka dari ruang kerja orang-orang di Hamburg (atau malah mungkin di Jerman) adalah adanya tanaman dalam pot di hampir setiap ruang kerja mereka. Dan yang membuat saya lebih "kagum" lagi, tanaman itu diadakan sendiri oleh mereka, milik mereka sendiri dan, lebih dari itu, juga dirawat sendiri oleh mereka. Setidaknya itu yang saya tahu dari ruang kerja yang ada di lingkungan IfM, tempat saya kerja doktoran selama ini, dan juga beberapa ruang kerja di tempat lain yang pernah saya masuki karena suatu urusan.
Bahkan ruang kerja seorang profesor ada yang benar-benar hijau dan rimbun seperti dalam "hutan" karena dipenuhi oleh pot-pot dengan tanaman yang terawat baik yang diletakkan di jendela maupun di bagian-bagian tertentu di ruangannya. Di ruangan profesor pembimbing saya pun saya lihat ada beberapa tanaman dalam pot yang beliau rawat sendiri. Salah satu yang membuat ruangan itu menjadi unik adalah adanya alat penyiram tanaman (embor?) yang ditaruh di samping pot tanamannya. Beliau selalu menyempatkan diti untuk ke kamar mandi atau dapur mengambil air dengan alat itu untuk menyiram tanamannya. Jika kebetulan sedang mengambil cuti musim panas dalam waktu yang agak lama, biasanya beliau akan menitipkan tanamannya tersebut ke mahasiswa atau kolega di ruang sebelahnya dan meminta tolong mereka untuk merawat tanaman tersebut selama beliau liburan.
Di ruang kerja saya, yang dipakai berdua dengan seorang mahasiswa S3 dari Jerman, juga ada pot tanamannya. Teman seruangan saya yang memiliki dan memelihara tanaman itu. Sementara itu saya sendiri lebih memilih untuk memelihara tanaman di rumah saja, karena suka angin-anginan kalau pergi ke tempat kerja (Biasanya saya lebih memilih bekerja dari rumah. Pergi ke tempat kerja saya lakukan kalau sedang ada jadwal diskusi dengan profesor saja atau kalau tidak sedang terserang penyakit malas).
Ada beberapa jenis tanaman yang saya taruh di ruang tamu rumah kami yaitu 3 mini kaktus, 2 pohon seperti batang bambu kecil yang ditaruh dalam pot yang berisi air, satu pohon seperti pohon beringin (katanya namanya Weeping fig atau Ficus benjamina bahasa Latinnya) peninggalan dari penghuni sebelumnya, dan 3 pot tanaman bunga yang saya tidak tahu apa namanya yang juga merupakan peninggalan penghuni rumah sebelumnya. Jika sedang musim panas dengan kondisi yang sangat cerah dan kering, pohon-pohon ini (kecuali mini kaktus) perlu disirami minimal setiap 2 hari sekali. Tetapi, jika cuaca sedang mendung atau musim dingin, maka penyiraman seminggu sekali sudah lebih dari cukup buat mereka.
Memelihara tanaman dalam ruangan sepertinya memang cukup mengasyikkan…
Iya. Baru inget juga aku.
Enjiner PT Timah tempat bokapku kerja taun 70-80an kebanyakan orang Jerman. Salah satunya menjadi karib bokapku. Di kantor si Jerman ini bekerja memang ada banyak tanaman yg dia pelihara sendiri bahkan tanaman itu dia susun dari tangga lantai 1 sampai lantai 3 (kebetulan gedungnya cuman tiga lantai, dan si Jerman ini di lantai 3, dan gedung ini jg favoritku krn di sebelah gedung ini jual kwetiaw enak).
Bokap sempet nanya kenapa ampir semua Jermani yg ada di gedung ini suka bikin kebun. Trus si Jerman ini bilang, ini buat melatih kepekaan dan meningkatkan sisi humanitynya manusia. Trus bokap kejar dgn sebuah pertanyaan lagi. Krn WWII? Hehehehe… si Jermannya manyun.
ricorea
Mei 28, 2006 at 3:23 am
kalo menjelang natal pada majang Weihnachtstern di ruang kerja. aku baru tau kalo taneman itu bisa dipelihara indoor
. kalo di Indonesia kan itu taneman semak besar untuk di halaman
yanti
Mei 30, 2006 at 4:17 am
Gw tanem juga tanaman di kamar, lumut ijo yang idup di retakan dinding. Ga bagus sih, jelek malah, tapi ya lumayan lah bwat penghasil oksigen, biar ga sumpek-sumpek amat
Aji
Juni 1, 2006 at 1:31 am
soal mengadakan dan memelihara sendiri tanamannya patut dicontoh ya mas
jadi inget di kantor yg dulu yg punya taneman di dalem ruangan yg ngerawat malah cleaner. typisk, enak deh punya apapun yg ngurus orang lain, bagi2 rezeki katanya :p
tika
Juni 4, 2006 at 8:52 am
Bener pak memang asyik melihara tanaman,
coba deh pak tambahin koleksi taman Anda dengan tanaman Lidah Mertua, di Jepang jenis tanaman ini jadi primadona dan mahal harganya karena katanya bisa menyerap racun dan radiasi dari perangkat elektronik dan polusi…
aufklarung
Juni 9, 2006 at 9:40 am
Menarik artikelnya… saya juga punya pengalaman lain. Saya bekerja di bidang landscape consultants. Dulu kantor di tempat yang penuh tanaman dan bunga, cocok sih buat kita yang kerja dibidang itu selain lebih sejuk juga untuk menghapal ciri dan nama latin tanamannya. Namun saya dua minggu lalu kantor saya akhirnya dipindahkan ke Denpasar (sebelumnya di Desa Canggu Bali) yang notabene panas, kering, dan berdebu. Ironi sekali dulunya berkantor di kebun sekarang di tempat yang kering kerontang
.
Aditya
Juni 27, 2009 at 7:53 am
Diruangan kerjaku aku memelihara 1 pot tanaman hidup . Juga beberapa sirih belanda aku letakkan di tiap wastafel kamar mandi. Setiap saat aku bisa melihat perkembangan mereka, lain sekali dengan bunga2 tiruan. Usaha yg bergerak dibidang ini disebut apa yah?. Florist ..bukan , lanscape juga kog kurang tepat , karena pingin aku seriusi .
Christina
Oktober 23, 2009 at 3:42 am