Ujian Negara, kenapa?
Ujian Negara (UN) digelar, eh hasilnya bikin ribut di mana-mana, malah sampai ke DPR segala. Kata berita, 80% dari anak yang nggak lulus UN dan melapor ke Komnas Perlindungan Anak adalah anak jenius! Ada lagi berita, banyak anak yang harus gigit jari karena terpaksa tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang sudah menerimanya lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) -atau ujian masuk perguruan tinggi ya?- karena ternyata UN-nya nggak lulus. Ada yang katanya peserta olimpiade fisika yang juga ternyata nggak lulus UN karena nilainya utk mata pelajaran matematika di bawah standar minimum kelulusan – kawan saya yang suka iseng nyeletuk: “bisa masuk saringan ikut olimpiade fisika, tapi koq nilai matematikanya jeblok ya? ikut olimpiadenya bagian fisika sejarah kali ya?” – (mohon maaf, kawan saya itu memang suka ngomong seenak udelnya sendiri).
Ada lagi kasus yang katanya gurunya ngasih bocoran jawaban ke murid-muridnya. Lucunya, ada yang bocoran jawaban yang dikasih si guru salah semua, jadinya lucu: udah ujiannya nyontek, eh masih nggak lulus juga! Lagi-lagi kawan saya yang suka iseng ini nyeletuk: “jangan-jangan gurunya sendiri nggak lulus kalau suruh ikutan UN!”.
Pak Bambang Sudibyo sebagai Mendiknas pasti pusing tujuh keliling plus deh! apalagi di jaman repormasi seperti sekarang ini, dimana suara rakyat melebihi suara Tuhan! nggak lulus UN kan bisa demo menuntut UN diulang dan ditiadakan supaya lebih gampang lulusnya! Bisa ngadu ke wakil rakyat di DPR sana yang katanya dulu waktu ngasih syarat-syarat untuk nyalonin diri jadi anggota dewan banyak (eh banyak atau ada ya?) yang kena kasus ijasah palsu. Tapi tenang! masih ada Pak Jusuf Kala, Wakil Presiden yang dengan senang hati bersedia menjadi “juru bicara” Mendiknas! Pak Bambang Sudibyo pasti tenang, wong Pak Jusuf Kala itu orangnya tegas dan cuek koq! Apalagi bawahannya di partai kan jadi ketua dewan yang terhormat!
Kalau menurut saya, UN itu sebenarnya normal saja, apalagi hanya 3 mata pelajaran yang diujikan. Logika saya, anak-anak sekolah pasti bisa mengerjakannya dan melewatinya dengan baik dan LULUS atau bisa mendapatkan nilai minimumnya. Beberapa kasus yg terjadi atau muncul akibat adanya UN, seperti guru membuatkan kunci jawabannya atau murid yg tidak lulus padahal sudah diterima di PTN melalui jalur PMDK mengindikasikan bahwa ada sekolah2 yang dalam proses belajar mengajar atau pemberian nilai kurang atau tidak beres. Menyalahkan semuanya pada UN sebenarnya kurang fair juga, karena sekolah, guru, atau murid yang bersangkutan juga punya andil dalam masalah ini. UN justru cukup berjasa mengungkap “borok” dan buruk yg ada di dalam sistem pendidikan kita (wuih, gaya bahasa pejabat nih!). Jadi, buat yang ribut-ribut, jangan sampai anda seperti apa yang dikatakan pepatah para leluhur kita dulu: “buruk muka, cermin dibelah”.
Setidaknya, kasus pasca UN ini mengindikasikan bahwa bukan hanya sekolahnya saja yang seperti kandang ayam, atau gaji gurunya yang hanya cukup buat makan seminggu (itu kata pusinya seorang profesor lho, bukan kata saya), tapi juga banyak masalah lain seperti muridnya yang mungkin hanya banyak ngapalin aja (lha masa matematika koq diapalin?), banyak yang gampang stres, banyak yang nggak bisa nerima kegagalan, banyak yang nggak jujur, dll. Gurunya juga, mungkin harus diperbaiki ketrampilannya dalam mengajar, memotivasi, mendidik, dll. Sekolahnya juga, jangan cuman gayeng pas narikin uang BP3 aja!
Tapi memang, menjadikan UN sebagai satu2nya syarat kelulusan juga kurang tepat saya pikir, terlalu saklek dan kaku. Sistem lama, yg menyerahkan kelulusan kepada sekolah masing2, sepertinya sudah cukup baik dan masih relefan. Kalau ada kasus “mark up” nilai oleh sekolah, ya itu saja yg tinggal dikontrol dan diperbaiki sistemnya oleh sekolah masing2. Gampang toh! Pasti gampang, buktinya jaman dulu yang masih belum secanggih jaman sekarang aja banyak sekolah yang bagus. Lha kalau nggak ada sekolah bagus di jaman dulu, nggak mungkin kan ada yang bisa jadi dosen di ITB, UI, IPB, UGM, dll. Nggak mungkin juga PT. IPTN bisa bikin Tetuko, mendesain dan membuat sendiri N-250, atau mendesain N-2130 yang belum sempat dibikin sudah keburu krismon, padahal Pak Harto sudah sempat minta sumbangan ke rakyat Rp.100 per orang lho! (seratus jaman dulu sama dengan Rp.10.000 jaman sekarang, masih bisa buat beli semangkok bakso tanpa formalin).
Kembali ke masalah UN, nilai UN mungkin lebih baik digunakan utk “saringan” saja. Utk anak yg lulus SMA, nilai UN minimum bisa dijadikan syarat apakah mereka bisa meneruskan ke perguruan tinggi atau tidak. Kalau nilai rerata UN-nya di bawah minimum, mereka hanya bisa masuk ke politekhnik atau sekolah2 tinggi yg siap kerja (melanjutkan ke sekolah2 yg mengajarkan ketrampilan kerja). Begitu juga utk anak2 SMP, kalau nilai rerata UN-nya di bawah minimum, maka mereka hanya bisa meneruskan ke Sekolah Menengah Kejuruan Atas (SMKA) seperti STM di jaman dulu.
Jadi, perlu nggak UN diulang buat yang nggak lulus? Ah! kalau saya bilang sih nggak perlu, tapi kalau mau diulang juga boleh aja, tapi ya harus buat semua yang nggak lulus, jangan cuman buat yang nggak lulus tapi udah diterima di PTN aja. Terus ya terapin aturan, nilai maksimum dalam UN ulangan adalah nilai minimum kelulusan. Jadi cuman perlu buat lulus aja, bukan nyari nilai lagi.
Jadi, perlu nggak UN dibubarin? Wah, ya jangan gitu dong! Itu sama kaya anak saya yang masih berumur 9 tahun: kalau nggak suka sesuatu langsung dibuang, kalau nggak bisa ngerjain sesuatu langsung marah! Lha mereka yang katanya sudah bisa “mikirin negara” kan bukan anak 9 tahun lagi! Masa mau membuktikan kata-katanya Gus Dur: “kaya anak TK aja!”.
Hari gini masih sentralisasi
UMPTN aja udah desentralisasi untuk mengurangi beban administrasi terpusat.
Keledai saja tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama.
Indonesia jauh lebih bodoh dari itu
Aji
Juni 29, 2006 at 1:59 am
saya sependapat dengan mas Ikhsan tentang pendidikan multiple intelligence .. bahwa UAN itu adalah bentuk pengkerdilan kemampuan anak ….
http://muhamadikhsan.info/mempertanyakan-ujian-nasional.html
johan
Juni 29, 2006 at 2:28 am
Sebenernya sistemnya sama kok ama di Hamburg. Satu saat ada ulangan bersama seluruh sekolah dasar untuk mata pelajaran utama matematika dan bahasa Jerman, walaupun bener itu bukan syarat mutlak kelulusan/kenaikan kelas. Dan pada dasarnya semua anak bisa / mampu mengerjakannya.
Kalau di Indonesia sampai banyak yang gak lulus… gak tahu juga ya apa faktornya. Soalnya yang susah atau …? Coba ntar tanya psikolog yg di yogya
putri
Juni 29, 2006 at 3:37 am
# Aji:
Giliran ujian, sentralisasi dipermasalahkan. Giliran mbangun gedung sekolahan, desentralisasi yang dipermasalahkan. Lha gimana bisa maju kalau maunya cuman yang enak-enak aja?
# johan:
UAN itu kan bagian dari pedagogis pendidikan (mengutip artikel yg anda beri link-nya), yaitu aspek pengetahuan (kognitif), jadi dari sisi mana pengerdilannya? toh kemampuan mengerjakan soal2 matematika dan bahasa (inggris dan indonesia) adalah sebagian dari proses belajar mengajar. selain itu, kemampuan anak kan diperolehnya di bangku sekolah, bukan di saat UAN. UAN hanya sekedar mengevaluasi sebagian apa yg sudah didapatkan di bangku sekolah. kalau kemampuan kognitifnya baik, UAN nggak akan bermasalah. nilai minimum pastilah bisa didapat.
# putri:
faktor utamanya: sistem pendidikannya masih jelek, tetapi pemerintah memaksakan untuk menerapkan sistem evaluasi yang diterapkan oleh negara2 yg sistem pendidikannya sudah jauh lebih maju.
agusset
Juni 29, 2006 at 6:02 am
Buset dah, semua mua ditangkisin
However, saya rasa semua berpulang pada sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. UAN tidak sempurna? ya.. maka harus diperbaiki. Desentralisasi (per daerah kan lebih baik) dibanding sentralistik (termasuk pembangunan fisik).
Aji
Juni 29, 2006 at 6:21 am
# Aji:
bukan mau nangkisin atau ngedukung salah satu, tapi kan orang harus bisa seobjektif mungkin menilai sesuatu. Dalam setiap pendapat orang selalu ada bagian yg kontradiktif, semakin subjektif, semakin banyak kontradiksinya. Toh memang tidak ada yg sempurna yg bisa dilakukan di dunia ini. Makanya, seperti filosofi sepak bola Jerman (kata saya): “Bermain secara tim adalah solusi terbaik menjadi juara”. Tidak perlu ada pemain bintang, asal timnya kompak dan nggak cakar2an, bakalan bagus juga toh akhirnya.
Di Jerman, sistem pendidikan juga sering mengalami revisi. Ketersediaan tenaga guru yg muda2 juga ada masalah, karena banyak generasi muda yg tidak mau jadi guru: “tingkat stresnya tinggi, meskipun gajinya juga termasuk yg paling tinggi!”
Orang Jawa bilang: “jer basuki mowo beo”, “alon-alon asal klakon”, dll.
Orang Islam bilang: “orang yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, orang yang merugi adalah yang hari ini sama dengan kemarin, dan orang yang celaka adalah yang hari ini lebih buruk dari kemarin”.
*lha koq jadi kemana-mana komentar saya? wis ah!*
agusset
Juni 29, 2006 at 6:37 am
Hidup Ceko! (Ikutan ngawur)
Aji
Juni 29, 2006 at 9:26 am
Ikutan gabung Mas..
Kita perlu melihat masalah ini nggak cuma dari Ujian Nasional ini saja sebab yang namanya pendidikan, evaluasi berjalan sejak dari desain pembelajaran, proses KBM (kegiatan belajar mengajar) berlangsung sampai pada akhir kegiatan belajar itu selesai.
Ketidakadilan dari sisi pedagogis saya melihat karena gemuknya kurikulum yang harus diterima siswa kita. Kami kampus pernah membedah kurikulum Jerman dan membandingkannya dengan kurikulum Indonesia, dan memang ternyata muatan kurikulum Jerman lebih sedikit dari pada kurikulum Indonesia. Sedangkan metode penyampaian hingga pada evaluasi pembelajaran di Jerman lebih beragam (sesuai dengan tingkat kemampuan anak).
Silahkan bedah kurikulum Indonesia, bagaimana stressnya pelajar-pelajar kita karena apa yang dipelajari nggak ada begitu banyak (silahkan hitung waktu lama belajar siswa Indonesia dengan siswa negara lain) serta dengan campur tangan pemerintah bahkan sampai pada taraf bagaimana guru mengajar dan memberi evaluasi sehingga baik guru dan siswa akhirnya cuma kejar target setoran materi kurikulum.
Jadi kesimpulannya menurut saya, kalau memang Ujian Nasional ini benar-benar mau di laksanakan pemerintah harus memikirkan efisiensi dan efektivitas kurikulum dan pola pengajaran -pemangkasan muatan kurikulum yang nggak penting perlu dilakukan-
Selain itu kalau dilihat gagalnya siswa yang lulus UN ini mayoritas dari sekolah-sekolah yang minim sarana belajar. Jadi pemerintah nggak cuma harus pintar mematok nilai standar kelulusan saja -hasil- tapi juga mutlak perlu membenahi prasarana belajar sekolah serta pembinaan guru-guru dengan materi metode mengajar yang efektif dan benar. Jadi nggak asal men-cap siswa malas belajar aja.
Muhamad Ikhsan
Juni 29, 2006 at 10:14 am
# Muhamad Ikhsan:
Nah itu dia mas, kan di DPR yg diributin sekarang cuman soal ujian negaranya aja. Soal UN ulangan untuk si Pohan! Lha padahal itu mah masalah kecil! Masalah besarnya kan nggak pernah diributin? Lha wong Jusuf Kalla aja marah dibilang sekolahan di Indonesia kaya kandang ayam, padahal kan bener begitu? lha malah lebih jelek, di kandang ayam fasilitas untuk ayam lengkap…
Soal beban berlebih, ini juga yg sedang bikin saya bingung kalau nanti kami pulang dan anak saya melanjutkan SD di Indonesia. Dulu sempat sekolah kelas 1 di Bandung dan cukup banyak PR dibawa pulang setiap hari. Pas sekolah di Jerman (kembali masuk di kelas 1), dia termasuk anak yang bingung kalau pas pelajaran bebas (jam pelajaran dimana anak bebas mengerjakan apa saja yg dia mau di kelas), soalnya selama di Bandung kan guru yg mendominasi dan memerintah ini itu. Dia juga sempat bosan karena sekolah di Jerman jauh lebih santai daripada dulu waktu di Bandung, banyak acara main2nya. Lambat laun dia mulai bisa beradaptasi, mulai bisa berimbang antara kemampuan bermain dan berpikirnya, juga kemampuan2 lainnya. Itu pun bukan dengan proses dan cara yg sederhana, sampai2 dia hrs ikut kelas terapi musik segala…
Alhamdulillah perkembangannya baik, sekarang sampai kelas 3 dia enjoy dengan sekolahnya ini. Nah, balik ke Indonesia nanti, bisa pusing dan stres dia karena kembali hrs beradaptasi dgn pola pengajaran yg jauh berbeda dgn yg dia rasakan sekarang… Makanya, maunya sih cari sekolah yg santai2 aja nanti di Indonesia….
agusset
Juni 29, 2006 at 12:28 pm
Gw cuman mau mencermati bagian “ikutan olimpiade fisika tp matematika gak lulus”. Kenapa juga Gary Kasparov ga bisa matematika padahal analisis langkahnya bisa nandingin “deep blue” yg notebene adalah komputer?! Sekian juta analisis langkah gitu loh! Pakar fisika (bahkan pemenang Nobel fisika) persamaannya dikerjakan ama matematikawan termasuk Einstein! Masa sih komentar macam gini masih ada juga?! Ketemu temennya mas itu, aku botakin beneran deh.
Trus masalah UN utk saringan aja. Aku kurang stuju. Kadang, kadar “care” seseorg ke masa depannya gak langsung sontak kepikir dia mo jadi apa. Dulu, tjita2 aku adalah pengen banget jadi pilot. Gagal krn gigi berlobang. Sempet stress. Trus tjita2 kedua pengen jadi arsitek. Aku bahkan ikutan les utk bisa jebol jurusan arsitektur salah satu perguruan tinggi (swasta) arsitektur terbaik di Asia Tenggara di Bandung. Setelah dinyatakan kurang bakat, aku bahkan gak menjadikannya pilihan di UMPTN! Sampe akhirnya terdampar dgn asal milih yg penting lulus UMPTN di perguruan tinggi favorit. Baru sedjak itu aku mudeng mo jadi apa kelak.
Bukti. Ternyata, tidak semuanya mahasiswa ITB itu tadinya juara kelas. Ada yg hanya medioker jaman2 di SMAnya dulu (banyak banget malah). Ada yg bahkan hobi tinggal kelas pas SMAnya. Bahkan ada yg mesti dua kali SMA setelah 3 kali jatah UMPTN gagal terus akhirnya beli ijasah kelas 3 SMA lagi agar bisa ikutan UMPTN lagi dan akhirnya baru keterima. Bahkan temen baikku lulus UMPTN sambil ujiannya mabok cimeng alias gak tau ngisi apa. Klo ujiannya tertulis, udah pasti tuh anak ga bakalan lulus!! Tapi, stelah mereka masuk, satu persatu mulai sadar dgn rezki bisa masuk salah satu perguruan tinggi favorit di Indon.
Klo UN mo jadi standar, mestinya gurunya (pendidikan tiap propinsi) juga mesti standar. Udah gitu, jgn ada gap antara satu perguruan dgn perguruan lain. Dgn kata lain, mo Einstein skolah di skul manapun, dia mesti tetep bisa menelurkan E=MC(2)!
Klo gw sekarang diposisi yg sedang ikut UN, klo tiap hari gw skolah dgn hanya 3 mata pelajaran dan giliran tiap mata pelajaran punya passing grade buat lulus dan gw ga lulus, itu artinya gw yg bego. Klo gw skarang ga lulus 3 mata pelajaran dgn masih belajar yg lain, tentu gw protes!
Rata2 NEM gw waktu lulus SMA adalah 7. Tp klo ada passing grade tiap mata plajaran, tentunya gw pasti ga lulus!! Krn gw punya nilai satunya 9 satunya 4.
Menuntut penjelasan UN!! Buat yg ga lulus, trima ini sebagai pembelajaran. Bukan utk mencari pembenaran!!
ricorea
Juni 29, 2006 at 3:59 pm
# ricorea:
Kasparov bukannya gak bisa matematika, tapi mungkin dia gak bisa bahasa matematikanya aja.
Tentang komentar “macam gini”, hahaha jgn sewot gitu dong! Namanya juga pendapat… he..he..he… tapi kan logis juga toh? salah satu unsur dalam fisika kan matematika. nah kalau di olimpiade fisika itu kan pasti ya nurunin atau ngerumusin fenomena fisika ke dalam persamaan matematika segala toh? kecuali kalau masuk kategori lomba fisika sejarah, cuman ngebahas tokoh2 dalam bidang fisika… hahaha… *just kidding*
Tentang bukti, secara statistik contoh yg diberikan prosentasenya pasti (stil yakin gini, mungkin aja deh) kecil. he..he..he..
Soal Einstein, kalau dia sekolah di sekolah yg “jelek” terus menerus, bisa jadi dia jadi preman… hahaha… *just kidding lagi*
you wrote:
“Klo gw skarang ga lulus 3 mata pelajaran dgn masih belajar yg lain, tentu gw protes!”
Ha..ha..ha.. jadi maunya semua mata pelajaran masuk dalam ujian negara? Kalau gw sih bersyukur, belajarnya banyak tapi yg diuji cuman 3, artinya ya tiga itu aja yg dipelajarin, yg lainnya dicuekin aja toh nggak nentuin… ha..ha..ha.. *lagi2 just kidding*
Tapi yang jelas memang kalau njadiin UN sebagai satu2nya syarat kelulusan ya emang agak saklek juga. Tapi kalau gw yg jadi anak SMA, pasti masih akan bersyukur: seneng karena bukan kimia yg di UN-kan.
agusset
Juni 29, 2006 at 4:27 pm
“Seneng krn bukan kimia yg di UN-kan” Hahahahahaha… Inilah nilai 4 yang aku punya. Klo kimia, nyerah Blanda deh. HAHAHAHAHAHA!!! Padalah guru kimia kmi cantik banget loh. Hahahahaha…
ricorea
Juni 29, 2006 at 6:26 pm
# ricorea:
Justru karena cantik jadi nggak konsen sama pelajaran… kaya dosen aljabar linier saya dulu… hahaha…
agusset
Juni 30, 2006 at 2:17 am
Mungkin yang enggak lulus MTK itu menderita Dyscalculia.
Coba lihat entry Wikipedia tentang Dyscalculia.
calupict
Juni 30, 2006 at 4:26 am
“Soal Einstein, kalau dia sekolah di sekolah yg “jelek” terus menerus, bisa jadi dia jadi preman… hahaha… *just kidding lagi*”
Ikut nimbrung sedikit….Tiap mau ke kampus, saya selalu lewat sebuah bus stop yang memasang poster advertising, gambarnya foto Einstein. Ad tag nya berbunyi: “As a student, he was no Einstein”.
Jadi mungkin high school (dan UAN) mungkin agak sulit juga dijadikan standar untuk menentukan masa depan seorang siswa. Semoga ribut-ribut UAN sekarang ini akan menghasilkan sebuah sistem yang lebih baik, yang mengakomodasi semua potensi murid (atau yang membuat seorang anak menyadari potensinya?)
anyway, salam kenal….
philips vermonte
Juli 1, 2006 at 4:03 am
# philips vermonte:
Salam kenal juga…
Memang bukan hanya high school dan atau UAN yg akan menentukan masa depan seorang siswa, tetapi pendidikan itu sendirilah yang akan menentukan akan seperti apa kelak dia di kemudian hari. Potensi manusia akan tergali dengan baik jika dia mendapatkan pendidikan yang baik. Tentunya makna pendidikan di sini sangat luas, bukan melulu hanya kegiatan di sekolah tetapi juga di keluarga dan masyarakat.
Faktanya, para tokoh dan penemu dalam bidang sains dan teknologi kebanyakan lahir dari negara2 yg sistem pendidikannya cukup baik.
agusset
Juli 1, 2006 at 9:27 am
saya adalah salah satu siswi di smp swasta jakarta. menurut saya saya tidak setuju dengan penghapusan un. lebih baik diadakan un untuk meningkatkan kualitas sdm diindonesia.
bila digantikan dengan ebtanas negara kita akn mengalami kemunduran..
sebaiknya tetap diadakan un tapi lebih di ketatkan lagi dalam proses ngajar -mengajar..
dalam menghadapi ujian negara agar kita bener2 lulus dalam un..
kalau tidak lulus un berarti itu sebuah kegagalan dan sebuah kesia -siaan u/ bersikeras demo besar2an cuma pengen un diganti..
tetep aja walupun diganti itu tidak menjamin akan lulus..
kelulusan itu ada dalam diri kita yang mau berusaha..
sabrina novianti
April 3, 2007 at 10:34 am
un… ???
bingung……………..!!!!!!!!!!
lulus g yah…!!!
smoga aj smuanya lulus dengan nilai yang baik..
Aamiin…!!!!!
udh ah sgini aj, nti tmbah g nymbung lgi..
ochied
Mei 14, 2007 at 6:32 am
Mengikuti cerita UN, jadi ingat jaman SMA dulu. Namanya jurusan IPA kan dinilai lebih tinggi derajatnya (padahal kan enggak ya). Tapi itulah pendapat pada waktu itu. Ahirnya, banyak teman yang mati2an meskipun dengan cara curang berjuang untuk bisa masuk IPA. Ternyata kecurangan itu ketahuan. Setelah sejumlah teman2ku sempat duduk di kelas IPA selama 2 minggu, sekolah mengadakan ujian ulangan. Hasilnya, sebanyak satu kelas IPA dinyatakan dibubarkan karena ternyata hasil ujian ulangan menunjukkan teman2ku itu harus masuk IPS. Tapi, dasar anak SMA, teman2ku enjoy2 aja….dan berseloroh….ternyata di kelas IPA ga asyik lagi…makanya kami pindah ke kelas IPS….Ada2 aja. Lalu bagaimana dengan UN yang konon kabarnya juga penuh kecurangan yang terkoordinir itu? ……Ga berani berkomentar ah……
tatikdjoe
Juni 12, 2007 at 8:26 am
knp hrs dtmbh IPA?
Itu adlh prbuatan yg tdk adil
knp Sistem pendidikan sll berganti2,itu sangatlah menyulitkan bagi yayasan,guru,sekolah,dan murid sendiri.
knp itu terjadi?
ap karena indonesia tdk memiliki uud ttg pendidikan yg tetap?
knp pemerintah tdk menciptakan uud ttg pendidikan,kalau samapai hal perubahan sistem belajar berganti-ganti stp kali maka akan merugikan smua orang,baik penerbit buku paket yg akan menghabiskan berapa pohon hanya untuk membuat buku paket bahkan buku paket yg baru terbit harus dikembalikan karena murid2 sdh tdk menggunakan?mau dikemanakan buku paket itu?
apakah bukannya menambah masalah?knp tdk memutuskan satu sistem pendidikan yg akan menguntungkan bagi murid,guru,dan pemerintah.knp pemerintah malah menjadikan murid dan guru sbg kelinci percobaan yg hrs berganti-ganti kurikulum?
itu adalah sedikit komentar dr saya,terima kasih jika pemerintah mau menanggapi komentar saya.maaf kalauada kata yg menyinggung perasaan siapa saja.
Mickhael
Nopember 24, 2007 at 6:39 am
seharusnya sebelum UN dilaksanakan, pemerintah harus tahu terlebih dahulu kondisi sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah. kenapa harus seperti itu?, UN adalah pengkabirian terhadap sistem pendidikan yang ada, apalagi kalau dikaitkan dengan KTSP. UN memaksa sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah harus sama dengan sekolah-sekolah yang ada di perkotaan yang fasilitasnya memadai, jumlah guru yang banyak dan memepunyai siswa yang awalnya punya kecerdasan yang baik. UN bisa berjalan dengan lancar apabila standar kelulusan di kota dan di daerah dibedakan sesuai dengan keadaan sekolah dan lingkungan.
Eka
Desember 13, 2007 at 1:33 am
ga adil!gmn bs kelu2san siswa hx dpt ditntukan dlm wktu 2 jam saja?bagi anda2 yg se7, mungkin krn anda tdk merasakan sendiri bgmna sdhx ga bs melanjutkan studi dan menunggu 1 th kmd!tlng anda posisikan diri anda sbg siswa!kami semua belajar mati2an,tp ga ber7an biar jd pinter!tp biar lu2s!beban kami sangat bx!beban moral, psikologis,danedukatif. Smw ini bkn hx menentukan nasib kami. tlong mengerti perasaan kami!ini jg menyangkut pd HAM seorang siswa dlm memperoleh pendidikan. namun, di mana HAM itu?
deka
Februari 15, 2008 at 8:18 am
menurut pendapat saya ujian itu harus ga ada sebab itu membingngkan sekali ha..ha.ha………alias pusing. kan waktu dulu juga ujian negara itu ga ada…………..
Ridho
April 16, 2008 at 12:42 am
ujian nasional sangat perlu dibenahi lagi.
setiap anak pnya kcerdasan khusus & unik.
seandainya olah raga atau seni rupa menjadi syarat kelulusan, janius matematik juga belum tentu lulus…
anggrahini kd
Mei 8, 2008 at 5:23 am
ujian nasional memang bagus untuk menunjang kompetensi anak, namun mengapa yang diuankan hanya 3 mata pelajaran saja, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, IPA.
mengapa nak yang sekolah selama 6 tahun di sekolah dasar, 3 tahun disekolah menegah pertama dan 3 tahun di sekolah menegah atas.hanya dapat diukur dengan 3 mata pelajaran yang diuankan saja…..
dinar
Desember 19, 2008 at 3:09 pm