Indonesia Anonymus pada salah satu postingannya bercerita tentang sebuah keluarga yang ketika sedang mengendarai mobilnya ditilang oleh polisi lalu lintas karena melanggar aturan lalu lintas yang ada. Si suami yang jujur dan idealis tidak mau berdamai dengan sang polisi yang menilang dan menahan SIM-nya, meskipun sang polisi memberikan alternatif itu kepadanya. Mengetahui hal itu, sang istri yang berpikiran praktis kembali menemui polisi yang telah menahan SIM suaminya untuk mengajak damai. Proses perdamaian pun terjadi, SIM dikembalikan dan tidak ada penilangan. Semua beres di tempat.
Kejadian tersebut disaksikan oleh 2 anak mereka yang turut di dalam mobil. Pada suatu malam, kedua anak tersebut bermain mobil-mobilan dengan tema “polisi dan perampok”. Si kakak berperan sebagai polisi sementara si adik sebagai perampok. Ketika polisi berhasil menangkap mobil si perampok, si perampok mencoba untuk berdamai dengan si polisi, persis seperti apa yang ia saksikan ketika sang ibu mencoba berdamai dengan polisi untuk menebus SIM ayahnya dan meniadakan surat tilang. Sang bapak yang melihat itu berkata kepada si adik yang berperan sebagai perampok bahwa hal itu tidak baik, dan bertanya: “siapa yang mengajari adik?” Dan jawaban yang diterima sungguh mengejutkan: “ibu”.
Jumat minggu lalu, saya mengantarkan anak saya berlatih gamelan di KJRI Hamburg. Sesuai kesepakatan, kami semua harus sudah berada di KJRI pukul 16:00. Sayangnya kesepakatan itu tidak ditepati. Saya dan anak sudah tiba di KJRI pukul 15:50, KJRI masih sepi. Wajar, karena saya datang lebih awal. Tunggu punya tunggu, peserta latihan pertama yang datang setelah saya baru tiba pukul 16:05. Lalu baru datang lagi peserta berikutnya pada pukul 16:15, dan seterusnya. Hasil akhirnya, latihan baru dimulai hampir pukul 17:00.
Dua kejadian yang berbeda itu melibatkan orang tua dan anak. Apa yang direkam oleh anak dalam dua peristiwa itu? Ya betul! sebuah kebiasaan buruk. Dan itu bisa dipastikan akan melekat dalam diri anak dan berpotensi menjadi sebuah kebiasaan pula bagi mereka di kemudian hari: sesuatu yang wajar dan layak dilakukan. Akibatnya, kebiasaan buruk, tanpa disadari, menurun dari orang tua ke anak melalui tindakan yang dilakukan atau diucapkan oleh orang tua, dilihat, didengar, dan dirasakan oleh anak. Maka, terjadilah proses pelestarian budaya buruk.
Banyak kasus pelestarian budaya buruk di sekitar kita terjadi lewat proses efektif ini tanpa kita sadari: tidak tepat waktu, menyeberang jalan sembarangan, mengendarai kendaraan dengan tidak disiplin, membuang sampah sembarangan, menyuap dan menerima suap, korupsi, ngegosip, boros, dan lain-lain. Semua terekam oleh anak tanpa kita sadari…
“Tidak tepat waktu”. Gw tepat waktu. “Menyeberang tdk pada tempatnya”. Gw selalu patuh bahkan sekalian jembatan penyeberangannya. “Berkendaraan tdk disiplin”. Gw disiplin bahkan waktu masih punya mobil selalu sewa joki three in one. Hehehehe… “Membuang sampah sembarangan”. Wahh.. ini enggak gw banget deh. “Menyuap..”, ehehehhee… iya. “Menerima suap”. Belom pernah. “Korupsi”. Hmmm… pernah dulu. Tp bukan gw pake utk kepentingan gw. Tp utk nolong sohib gw. Itu dana kerjaan jurusan yg gw pake krn gw terkenal paling “suci” megang duit dulunya. Akhirnya temen yg gw tolong ga jelas rimbanya. Nah, gw ketempohan deh. Lupa waktu itu jual apa buat nutupin itu. Waktu laporan pertanggung jawaban gw ngaku make itu duit. Cuman komentar mrk, “Ngapain laporan klo uangnya balik utuh?” “Ngegosip”. Wuahh… enggak banget deh. “Boros”. Tergantung.
So long Panzer!!
# ricorea:
hehehe… kalah juga akhirnya jagoan gw. sebelum main udah punya firasat kayanya memang bakalan kalah lagi sama italia…
pahitnya, kalahnya di menit terakhir perpanjangan waktu…
bagaimanapun: viva Jerman!
sama … saya juga pernah diprotes ponakan yg baru 4 tahun karena masuk jalan yg ada gambar perboden … Sayangnya, saya cuek aja. Padahal saya sadar betul kalau itu nggak mendidik.
Walaupun postingannya sudah lawas, subtansinya masih tetap relevan untuk diangkat, apalagi dengan kasus klaim budaya indonesia oleh tetangga, tetapi yg diklaim pasti budaya yang baik ya. Kalo budaya yang buruk diklaim sih gak papa ya hehehe
Memang sulitnya mengubah kebiasaan jika tidak dari kita sendiri yang mengubah kebiasaan tersebut.