Archive for Agustus 2006
SBY setuju lumpur Lapindo dibuang ke laut
Di detik.com hari ini saya membaca berita bahwa SBY akhirnya mengijinkan Lapindo untuk membuang lumpurnya ke laut. Saya yakin Lapindo “tersenyum gembira” dengan ijin yang diberikan itu, karena membuang lumpur ke laut adalah alternatif yang paling mudah dan murah buat mereka. Tapi kalau kita memandang dari sudut lingkungan, ijin yang diberikan SBY jelas mengenaskan dan memprihatinkan karena berpotensi merusak kualitas lingkungan pesisir dan laut.
Secara sepintas memasukkan lumpur ke laut memang tidak akan menimbulkan beda yang signifikan buat manusia, kecuali mungkin secara kasat mata akan terlihat adanya perubahan warna air yg menjadi keruh atau terjadinya sedimentasi. Tapi, dari sudut pandang penghuni laut (tinjauan ekosistem), jelas akan ada pengaruh yang bisa jadi sangat signifikan. Artinya kondisi lingkungan yang sekarang ada akan mengalami perubahan akibat masuknya lumpur tersebut. Hal ini akan dirasakan oleh para penghuni lautan. Sudah pasti tidak mudah bagi para penghuni lautan itu untuk bisa langsung beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Lebih dari itu, proses untuk kembali kepada kondisi “setimbang” atau kondisi baru yang dapat ditolerir oleh para penghuni laut, dari saat ketika lingkungan mengalami kerusakan akibat masuknya lumpur itu, akan memakan waktu yang mungkin saja sangat lama jika ditinjau dari sudut pandang para penghuni laut yang sensitif pada perubahan lingkungan yang drastis.
Dampaknya ke manusia, sebagai predator di level akhir dari rantai makanan yang ada di laut, jelas tidak terlalu signifikan. Mungkin saja dampaknya akan cukup signifikan untuk beberapa kalangan yang mata pencahariannya bergantung pada ekosistem pantai dan laut seperti para nelayan atau petambak. Apalagi jika ternyata di dalam lumpur tersebut ada kandungan bahan yang mungkin beracun dan berbahaya jika terakumulasi di badan air atau di dalam tubuh makhluk hidup penghuni laut. Kalau sudah begini, bisa jadi manusia sebagai predator tingkat akhir pun akan ikut merasakannya akibat melahap makanan laut yang diperoleh dari lokasi yang tidak jauh dari tempat pembuangan lumpur.
Tapi memang, dari sudut pandang manusia, manusia jelas jauh lebih “berarti” dan “berharga” daripada binatang. Rusaknya ekosistem binatang lebih bisa “diterima” daripada “ekosistem” manusia yang rusak. Menenggelamkan desa jelas tidak manusiawi, dan alternatif menggelontorkan lumpur itu ke laut jelas lebih “baik” buat manusia dan dari sudut pandang manusia. Dari sisi ekonomi jelas “lebih murah”, dari sisi teknologi pun “sangat mudah”. Tapi, masa sih di dunia ini tidak ada satupun teknologi yang bisa menyumbat lumpur yang keluar akibat kecerobohan manusia yang bekerja di industri pengeboran minyak? Padahal manusia kan sudah cukup lama berkecimpung di bidang ngebor-mengebor.
Ah, mungkin mereka masih harus berkonsultasi dan berguru dulu sama Inul si Ratu Ngebor!
Agama, ideologi, apapun itu
Rahma menggugat dalam blognya: “kenapa cewek Islam gak boleh nikah sama cowok non Islam?”, “kenapa agama sepertinya malah menciptakan diskriminasi?”. Dan masih banyak gugatan lain yang bisa dibaca di blognya yang memprotes “ketidakadilan” yang tercipta atas nama agama.
Buat saya pribadi, agama itu hampir sama dengan ideologi pada sebuah negara. Agama adalah sebuah pilihan hidup dan bukan sekedar takdir. Ketika kita sudah dewasa dan mampu memilih, kita bebas memilih agama apa yang kita mau, bahkan tak beragama pun boleh, karena memang tidak ada paksaan dalam beragama. Hanya saja kita harus siap dengan konsekuensi yang kita pilih itu, terutama pada kehidupan setelah mati kelak (itu juga kalau kita percaya akan ada kehidupan setelah mati).
Di negara Indonesia yang berideologi Pancasila, kita pun boleh tidak berideologi Pancasila. Konsekuensinya jelas, di jaman ORBA dulu kita akan dicap anti Pancasila dan akan diciduk jadi tahanan politik oleh pemerintah yang berkuasa. Sebaliknya, di jaman reformasi seperti sekarang ini, jika kita memilih posisi sebagai anti reformasi dan anti demokrasi, maka orang atau pemerintah berkuasa pun punya “hak” untuk mencap kita sebagai anti reformasi, anti demokrasi, pendukung ORBA, pro status quo dan berjibun istilah lainnya. Dan semua itu adalah konsekuensi dari pilihan kita sendiri.
Sekarang ini, saya pun bisa mencap bahwa banyak orang/birokrat di Indonesia yang anti UUD’45 dan anti Pancasila. UUD’45 jelas mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar, tapi nyatanya banyak dari mereka yang masih keleleran, hidup menderita, dan tidak pernah dipelihara negara. Banyak orang/birokrat di Indonesia yang korup, padahal jelas-jelas korupsi itu tidak sesuai dengan Pancasila, kecuali di Pancasila ada sila yang berbunyi “Korupsi bagi seluruh Rakyat Indonesia”.
Kembali ke soal agama, kalau kita sudah memilih misalnya Islam sebagai agama kita, seharusnya kan kita patuh sama kitab sucinya, yang kalau dianalogikan dengan urusan negara di Indonesia, ya samalah dengan UUD’45. Artinya, kalau di dalam Al-Quran jelas-jelas tertulis “dilarang makan babi”, apapun alasannya ya mari kita jangan makan babi, karena jelas-jelas dilarang, meskipun misalnya babi itu aman dikonsumsi dan enak rasanya. Begitu juga kalau perempuan Islam dilarang nikah sama laki-laki bukan Islam, atau laki-laki Islam dilarang nikah sama perempuan musyrik (golongan orang-orang yang menyekutukan Allah), meskipun cintanya sudah setengah mati. Artinya lagi, kalau kita masih belum bisa mematuhi perintah-perintah yang ada dalam kitab suci, kita bisa menilai sendiri kadar keyakinan kita. Samalah seperti di Indonesia yang katanya rakyatnya Pancasilais, tapi masih banyak kesewenang-wenangan dan penyimpangan. Kita pun bisa menilai sendiri sejauh mana ke-Pancasilais-an kita yang hidup di Indonesia.
Kitab suci, dalam pandangan saya, tidak ubahnya seperti buku “Fortran User Guide” ketika dulu pertama kali saya belajar bahasa Fortran. Isinya jelas petunjuk-petunjuk supaya saya bisa menerapkannya dalam keseharian saya membuat program. User guide bahasa Fortran dalam beberapa hal jelas ada perbedaan dengan bahasa C atau Pascal misalnya, baik yang bersifat prinsipil maupun yang tidak. Kalau kita nekad menulis program dalam bahasa Fortran berdasarkan user guide bahasa Pascal, jelas tidak akan jalan, karena di Fortran tidak ada “begin” seperti di Pascal untuk memulai program. Begitupun sebaliknya.
Namun demikian, berbeda dalam bahasa pemrograman bukan berarti para programmer menjadi saling berantem, cakar-cakaran, dan merasa paling baik dan hebat sendiri. Kalaupun ada programmer yang seperti itu, jelas dia anomali dan mungkin punya penyakit jiwa kronis atau akut. Artinya, sebenarnya bukan agama yang membuat orang jadi berantem, bunuh-bunuhan, diskriminatif, dan lain-lain. Manusialah yang berbuat seperti itu, berdasarkan nafsu dengan dalih agama. Artinya lagi, janganlah dengan adanya fenomena seperti itu, kita jadi benci pada suatu agama dan menyalahkan agama itu. Toh agama bukan sesuatu yang berbentuk, sama seperti ilmu pengetahuan.
Ah, saya koq jadi ngelantur kemana-mana gini… sorry atuh!
Tujuh belasan minggu lalu di KJRI Hamburg
Sudah lewat seminggu, agak basi dikit, tapi sayang untuk dilewatkan. Maunya langsung bikin laporan pandangan mata hari itu juga tentang acara tujuh belasan di KJRI Hamburg, sayangnya lagi banyak kerjaan dan kurang punya mood ngeblog. Kata pepatah: “tidak ada kata terlambat untuk posting acara tujuh belasan”.
Acara upacara bendera tujuh belasan kali ini saya kedapetan tugas jadi petugas upacara bagian baca doa. Kebetulan orang yang biasanya bertugas baca doa lagi berhalangan, jadi seperti kata peribahasa: “tidak ada akar rotan pun jadi…” eh kebalik! Waktu pertama kali diminta jadi petugas upacara, sempat gak mau juga. Masalahnya sederhana: “saya gak punya setelan jas!”. Tapi kata si ibu konsul yang nawarin tugas: “boleh pakai batik koq!” Dan saya bilang lagi: “Saya juga gak punya batik!”. Maklum, saya ini masuk golongan orang yang gak suka pakai jas, juga batik. Perasaan, kalau pakai jas atau batik, kelihatan “kasep” euy…! (kasepak kuda meureun nyak?).
Akhirnya, karena saya orang yang paling gak bisa nolak, apalagi kalau yang minta tolong ibu-ibu, jadi saya iya-in aja deh. Kebetulan istri pulang ke Indonesia bulan Juli (Juni atau Juli ya? lupa euy!), jadi aja titip dibeliin batik sama kopiah, juga celana panjang yang klop sama si batik. Khusus cuman buat upacara tujuh belasan. Ah ternyata saya masih cinta Indonesia, buktinya masih mau ikutan upacara tujuh belasan, jadi petugas upacara lagi.
Ternyata pas upacara, semua petugas pakai jas, cuman saya aja yang anomali, pakai batik sendirian. Simpatik deh: simpanse pakai batik! hahaha… kacau deh! Tapi dasar saya, EGP aja! cuek bebek, meski banyak juga yang kayaknya ngelihatin. Positif thinking aja: kali mereka ngelihatin saya karena terpesona soalnya kasep pakai batik baru! hahaha… Alhamdulillah tugas dapat dilaksanakan dengan lancar, dan mudah2an doa yang saya bacakan dikabulkan Allah. Secara prinsip isi doanya sederhana aja: “semoga rakyat Indonesia bisa makmur, rukun, damai, sejahtera semuanya!”.
Eh iya, ada yang lupa, sepertinya peci yang saya pakai agak kegedean deh. Nomor 11, buatan Mang Iming! Kaya peci yang dipakai kalau foto pakai pakaian tradisional Belanda deh! Eh tapi, peci saya beda sendiri lho! Paling bagus deh kayaknya se-Hamburg! Ah, jangan-jangan Pak Konjen iri ya ngelihat peci saya… hahaha…
Habis upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Pak Konjen, ada acara ramah-tamah dengan peserta upacara. Biasalah, salam-salaman sambil ngobrol. Cuman karena saya paling nggak demen ngobrol, ya cuman ikutan salam-salaman aja sambil pasang senyum kemerdekaan.
Sehabis salam-salaman dan ngobrol ngalor-ngidul, ada pembagian piala dan hadiah untuk para pemenang lomba tujuh belasan, dibagikan langsung oleh Pak Konjen. Di sela-sela pembagian piala dan hadiah, ada juga pembagian rokok Gudang Garam Signature. Cuman tahun ini KJRI agak ngirit (atau pelit ya?) kasih rokoknya, masa isinya cuman 2 batang. Padahal tahun lalu masih ngasih yang isi 10 batang! Saya iseng-iseng ikutan minta, seperti juga tahun lalu. Dan seperti biasa, tujuh belasan ikutan merdeka ngerokok juga, meskipun malemnya jadi batuk-batuk. Jadi bersyukur juga, untung isinya cuman 2 batang, coba kalau 10 batang bisa batuk-batuk sampe botak deh!
Habis acara bagi-bagi, acara selanjutnya makan-makan! Seperti kata pepatah: “ngumpul ora ngumpul, sing penting mangan!”. Menunya: perkedel kentang, ayam dibumbu kecap, sayur buncis, kerupuk, dan sambal. Kata saya rasanya kurang enak, enakan yang tahun lalu! Tapi, namanya juga makan-makan, enak gak enak, ya makan aja! Toh, kalau lagi merdeka dan ngerasa laper, apa sih yang gak enak?
Sambil makan-makan, mulai ada acara hiburan. Awal acara hiburan berjalan agak kurang lancar, maklum MC-nya kurang bisa berimprovisasi. Acara hiburang dibuka dengan paduan suara ibu-ibu Dharmawanita dengan lagu-lagu perjuangan. Selanjutnya, MC memanggil pengisi acara berikutnya: gamelan anak-anak. Sayangnya si MC kurang berkoordinasi dengan pengisi acara. Acara hiburan dibuka terlalu dini, sementara gamelan anak-anak sudah dijadwalin manggungnya pukul 14:00. Jadi pas MC manggil anak-anak pengisi acara, ya mereka masih dandan, wong masih belum jam 14:00. Untung saja ada pengisi acara lain…
Akhirnya, anak-anak siap untuk tampil, sayangnya para pendukung bagian perlengkapan kurang “cerdas”. Biasanya para nayaga itu duduk pakai bantal, nah ternyata bantalnya belum ditaruh di tempat gamelan. Habis itu, lembaran not juga belum dipasang di tempat not di depan gamelan. Jadi pas anak-anak mau keluar, baru dibagikan. Padahal not itu sudah siap dari tadi. Habis itu, sound juga kurang siap. Harusnya sound untuk sinden dan kendang sudah ada di situ, karena pasti suara kendang dan sinden tidak akan mampu menandingi suara gamelan yang lain.
Alhamdulillah, meskipun ada sedikit kekurangsigapan dari para pengatur acara, penampilan anak-anak yang berlatih setiap minggu selama 3 bulan berlangsung sukses. Empat lagu dan satu tarian berhasil mereka bawakan dengan sangat baik. Sayangnya, pas acara gamelan ada beberapa ibu-ibu dipojok asyik gogorowokan dengan ketawa yang cekikikan kaya kuntilanak, mengganggu pisan! Padahal kalau mereka mau gogorowokan, mendingan nongkrong di dapur aja, jadi gak mengganggu penonton yang lain. Ah, namanya juga merdeka! suka-suka atuh!
Habis acara gamelan anak-anak, acara dilanjutkan dengan penampilan beberapa waria. Menurut saya, bukannya anti waria lho!, acara yang mereka tampilkan kurang pada tempatnya. Banyak penampilan mereka yang terlalu vulgar dan menonjolkan goyangan dan pakaian yang “semi porno”, padahal banyak penonton yang masih anak-anak di bawah 3 atau 5 tahun. Sedikit himbauan untuk pihak KJRI, mudah-mudahan ada yang baca, sepertinya mereka perlu diberi batasan-batasan ketika tampil mengisi acara yang juga ditonton oleh anak-anak. Jangan terlalu vulgar dan erotis!
Acara lainnya, tarian tradisional oleh penari-penari Indonesia dari Goettingen, poco-poco oleh anak-anak Jerman, dan band ABG. Semuanya seru pisan! terutama pas bagian band ABG! Maklum, ABG Indonesia di Hamburg cukup banyak, dan keren-keren. Apalagi, lagu-lagu yang dinyanyiin juga lagu-lagu dari grup musik Indonesia seperti Coklat, Peterpan, KLa Project (eh KLa mah bukan ABG lagi ya?), dll. Sorry, saya gak tahu banyak, maklum bukan anak gaul!
Merdeka deh!