blogonesia

my daily blogosphere, my virtual world

SBY, Menteri, dan lumpur Lapindo

with 17 comments

Lumpur Lapindo belum juga berhenti, bahkan baca-baca di berita semakin banyak muncratnya. Baca berita lagi, sekarang lumpurnya sudah mulai dibuang ke laut, berdasarkan hasil keputusan tim nasional yang dibentuk SBY. Sebelum SBY memberi lampu hijau untuk mengijinkan lumpur itu dibuang kelaut, para pejabat berjanji hanya akan membuang airnya saja ke laut, bukan lumpurnya. Makanya waktu itu orang-orang yang punya jabatan itu rame-rame ngomong nggak genah tentang “water treatment”. Bahkan Pak menteri LH mencoba membuktikan bahwa air hasil treatment itu aman dengan cara meminumnya. Jelas menteri nekat, seperti mantan pemain debus, nggak ilmiah blas! Maksud saya, ya mbok pake cara yang lebih ilmiah dikit gitu lho, lagian kan masalah sebenernya bukan mau bikin air minum toh? Ah saya koq jadi inget sama kasus pencemaran di Buyat dulu, eh menteri LH nya malah ngadain pesta makan ikan dan nunjukkin gimana nikmatnya dia makan ikan. Malah denger-denger ikan yang dimakan juga bukan ditangkap dari Teluk Buyat.

Ujug-ujug, waktu SBY setuju lumpur itu dibuang ke laut, istilah “water treatment” pun mulai lenyap dari daftar kosa kata yang suka dipakai para pejabat kalau bicara soal lumpur Lapindo ini. Dan lebih gila lagi, lumpur itu langsung dibuang ke Sungai Porong, tanpa water treatment. Alasannya sederhana, “berpacu dalam melodi”, eh salah “berpacu dengan waktu”, biar tanggulnya nggak keburu jebol, apalagi mau dateng musim rendheng alias musim hujan. Pompa-pompa pun mulai didatangin dari Jakarta, siap bekerja 24 jam. Ah, pompa pun patuh sama instruksi tim nasional bentukan SBY itu. Coba bandingin aksi cepat mendatangkan dan menginstalasi pompa itu dengan rencana water treatment yang dulu digembar-gemborkan. Saya baca di sini, malah water treatmentnya masih pake taraf penelitian dulu. Lha, emergency koq masih pake neliti njelimet kaya gitu. Khan bisa aja toh ndatengin alat yang sudah siap pakai dengan kapasitas yang besar.

Membuang langsung lumpur ke Sungai Porong, kalau menurut saya, justru sangat riskan saat ini. Jelas Sungai Porong jadi makin dangkal. Sedimen yang kebawa ke Selat Madura pun akan berpotensi mendangkalkan daerah muara. Hal ini akan menimbulkan apa yang disebut sebagai “local sea level rise”. Ya permukaan laut di sekitar daerah itu akan naik, coba ingat-ingat kembali hukum Archimedes. Artinya, selain banjir lumpur, daerah sekitarnya siap-siaplah menerima banjir air kalau terjadi hujan yang cukup lebat. Apalagi sekarang sudah masuk bulan dengan akhiran -ber, yang kata orang-orang di kampung saya dulu di Jawa Tengah adalah saatnya musim hujan. Dan kata Perum Jasa Tirta, dalam kondisi banjir debit Sungai Porong bisa mencapai 1500 m3/detik. Gede lho itu…

Kata Pak Rovicky, lumpur Lapindo itu 70% nya adalah air. Logikanya, kalau kita buang yang 70% nya saja, sisa 30% kan? Itung-itungan ala tukang kulakan ya jelas sudah menguntungkan. Cuman memang perlu usaha memisahkan air dari lumpurnya. Ya nggak perlu jernih-jernih amat seperti hasil treatment yang diminum sama Pak Menteri LH itulah, yang penting nggak keruh-keruh amat lah.

Ya tapi kadang-kadang kita suka seperti kerbau ditusuk hidungnya sih kalau yang sudah ngomong itu orang yang jabatannya Presiden. Padahal Presiden kan manusia juga ya? Kalau saya jadi menterinya, pasti deh saya bilangin ke pak Presiden itu bahwa kalau ngebuang langsung lumpurnya itu ke sungai atau laut resikonya juga banyak. Masalahnya bukan apa-apa, kalau lumpurnya cuman satu ember sih nggak masalah, lha ini kan minta ampun banyaknya.

Saya koq jadi ingat sama kasus jaman dulu waktu Gubernur Jawa Tengah dateng ke suatu desa yang dilanda paceklik dan penduduknya hanya makan gaplek. Pak Gubernurnya ikutan makan gaplek dan bilang “uenak koq gaplek juga!”. Lha ya iya, pak Gubernurnya makan gapleknya cuman sekali, lha penduduk yang paceklik itu kan makan gapleknya tiap hari pak, pagi-siang-sore-malam. Ya mana tahan atuh! Kepriben sampeyan! Wong kaya kue koq isa dadi gubernur, jan! Lho, koq saya malah jadi ngomong Banyumasan? Kaya mendiang Kasino Warkop aja! Eh, koq jadi nggak nyambung gini ya paragraf penutupnya?

Written by agusset

September 29, 2006 pada 10:43 pm

Ditulis dalam humor

17 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. humor yang pahit :)

    paman tyo

    September 30, 2006 at 5:39 pm

  2. pejabat kan maunya cari solusi yg gampang2… mau itu merugikan lingkungan kek, masyarakat kek,… mereka mana peduli?? soooo disappointing!

    amellie

    Oktober 1, 2006 at 1:06 am

  3. Hehehehehe…
    Lama ta’ bersuo. Maaf baru nyamperin lagi mas. ;)
    Met Puasa yaa…

    ricorea

    Oktober 1, 2006 at 8:12 pm

  4. dak usah kaget di sini itu biasa..

    medon

    Oktober 2, 2006 at 8:25 am

  5. Dagelan politik kelas atas, selera murahan :)

    Aji

    Oktober 3, 2006 at 3:47 am

  6. Amat menyakitkan tingkah para pejabat itu…

    Icha

    Oktober 3, 2006 at 4:41 am

  7. sepertinya para pembuat keputusan itu sudah lupa kalau pada awalnya lapindo ’sengaja’ tidak menggunakan casing (untuk alasan penghematan).
    sepertinya para pembuat keputusan itu juga lupa bahwa sejak lapindo beroperasi tidak ada sepeserpun pemasukan untuk pembangunan Sidoarjo, padahal tahun 1997, PT Lapindo Brantas menanda-tangani MoU dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk supply gas sampai tahun 2010.

    Saat itu, yang menarik, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)tengah menjabat Menteri Pertambangan.

    dan hingga sekarang, para pengambil keputusan itu masih belum bisa memutuskan (dan hampir melupakan) (dan sedang mengalihkan perhatian publik), mengenai pertanyaan apakah blow out lumpur itu akibat bencana alam atau kelalaian. (sepertinya beban APBN akan semakin besar…)

    aSti

    Oktober 5, 2006 at 5:39 pm

  8. Typical pejabat Indonesia gak jauh-2. Dulu ketika di Bali ditemukan adanya virus avian influenza pada ayam pedaging di daerah Gianyar, eh Gubernur Bali, I Dewa Made Beratha malah kampanye makan daging ayam. Untung aja gak langsung kesamber virus avian tuh pejabat. Tipu-2 gaya gini mah biasa mas. Ini mencerminkan betapa kekanak-2annya mereka. Sama kaya kasus lapindo, kayanya masyarakat di sepanjang jalur sungai Porong mau diracuni tuh. Tdi pagi ada berita di TV kalau sumur-2 di kawasan kali Porong mulai tercemar. Bisakah Pak Menteri LH meminum air sumur itu? Sialhken dicoba Pak Menteri !

    Made Suka Adi

    Oktober 26, 2006 at 2:15 am

  9. Kepriben urusane kie..

    Faisal

    Oktober 28, 2006 at 11:51 pm

  10. emang salah klo ngeliat dr sisi pemerintah yang kyk anak kecil tp jgn selalu salahin pemerintah donk
    mana mahasiswa qt yg slalu b’demo untuk ini-itu untuk rakyat tp klo dah da musibah malah pd diem
    ko gak ikutan bantuin?????????
    Biar pemerintah tau klo mahasiswa tu g cm bs demo tok…….
    So BUKTIIN GUYS!!!!!!!!!!!!

    konez

    November 14, 2006 at 2:32 pm

  11. namanya aja politikus, suka pake propaganda basi…malu2in aja… pasti dia bilang EGP

    ali301

    Maret 17, 2007 at 6:13 am

  12. mahasiswa sudah ikut bergerak tapi saat ini masi dalam lingkup sosial, tolong sodaraku jangan hanya pandai berkata ikutlah berpikir gimana klo lmpur terus menyembur apa kalian senang Indonesia tenggelam dan mati perlahan?????

    rusman e44 ITS

    Maret 27, 2007 at 9:21 pm

  13. Masyarakat disana juga sodara kita, mungkin saat ini kita hanya bisa menyalahkan pemerintah tetapi kita sendiri seperti apa????Ayo bantu sodara kita, berpikir untuk kesejahteraan bangsa,mulai dari sekarang walaupun hasilnya mungkin belum saat ini… tetapi pikirkan Indonesia untuk 5 thn lagi, Indonesia 20 thn lagi seperti apa???Ayo temen2ku…HIDUP MAHASISWA….

    rusman e44 ITS

    Maret 27, 2007 at 9:25 pm

  14. ass,
    yang terhormat pejabat pemerintah, diberitahukan bahwasanya lumpurlapindo akan meneggelamkan daratan sampai setengah dari propinsi tersebut, perkataan ini saya dapat dari orang tua cirebon, maka bagi yang terkait dengan lumpur lapindo bersegeralah datang ke cirebon untuk meminta petunjuk kepada orang tua dicirebon. semoga apa yang saya sampaikan ada manfaatnya amien.
    wasalam

    muatofa lutfi

    September 19, 2007 at 3:39 am

  15. saya jg orang cirebon..!njaluk petunjuk iku karo gustiAllah.n sy kira kita dpt memetik pelajaran dr ini semua..,n berbalik arah lumpur akan menjadi berkah bagi orang sidoarjo,bukan lagi bencana. Dr:Wong Sunan Gunung Jati (Syeh Syarif Hidayatullah)”

    nano

    Juni 12, 2008 at 5:15 pm

  16. maaf baru bisa mampir
    salam

  17. kasus lumpur lapindo adalah kasus kolaborasi pengusaha dan penguasa, rakyat? ha ha ha …dari dulu kan rakyat hanya jadi objekan keduanya(penguasa dan pengusaha) untuk mengeruk duit lewat utang luar negeri. rakyat nya juga bodoh…kenapa mau dibodohin? SBY diplih lagi, saya yakin abu rizal bakri yang lapindo brantas juga pasti jadi mentri lagi haqqul yakin, dan rakyat…..tenggelam lagi dilumpur. kowacian dech….

    anjar sumbara

    Juli 12, 2009 at 4:03 pm


Tinggalkan Balasan