Archive for Oktober 2006
Maha Penyiksa
Selama 3 tahun aktif mengikuti ceramah Ramadan di aula KJRI Hamburg, saya menemukan ada seorang jemaah yang selalu menanyakan hal yang sama (pada setiap tahunnya) kepada penceramah yang berbeda. Pertanyaannya mengenai salah satu dari asmaul husna (nama-nama Allah yang baik dan agung) yaitu: “Allah yang Maha Penyiksa” atau “The Avenger” (Al Muntaqim). Saya sendiri tidak tahu kenapa dia selalu menanyakan hal yang sama setiap tahunnya, bisa jadi karena ada kebimbangan di hatinya, bisa jadi juga dia masih belum mendapatkan jawaban yang pas dari para ustadz yang ditanyainya. Dan Sabtu malam, tanggal 21 Oktober 2006 kembali dia menanyakan pertanyaan yang sama kepada penceramah malam itu Prof. Dr. Hamdani Anwar.
Hanya saja, kalau dilihat dari pertanyaannya, sepertinya dia membuat sebuah analogi yang kurang tepat. Dia menganggap sifat Maha Penyiksa akan “merusak” citra Allah, karena jika dianalogikan dengan manusia (pemimpin) yang bersifat pengasih, penyayang, adil, pemaaf, dan lain-lain, maka sifat penyiksa akan memberikan citra yang negatif kepada manusia (pemimpin) itu.
Menurut Prof. Dr. Hamdani Anwar, dalam asmaul husna, ada beberapa nama Allah yang menurut sebagian manusia bisa jadi berkonotasi “negatif” seperti: Maha Penyiksa (Al Muntaqim), Maha Memaksa (Al Qahhaar), Maha Menyempitkan (Al Qaabidh), Maha Merendahkan (Al Khaafidh), dan Maha Menghinakan (Al Mudzil). Hanya saja, menurut beliau, Allah tidak akan menyiksa, memaksa, menyempitkan, merendahkan, dan menghinakan umatnya yang beriman dan bertakwa. Sifat-sifat Allah itu hanya akan diberlakukan kepada manusia yang ingkar, tak beriman, suka membuat kerusakan di muka bumi, dan segala macam perbuatan buruk lainnya. Lebih dari itu, sifat-sifat itu tidak sedikitpun akan “mencemari” atau “merusak” kebesaran-Nya, karena sebagai sang pencipta Dia memang berhak atas itu semua.
Selanjutnya beliau memberi beberapa contoh tentang sifat-sifat Allah itu, sayangnya saya lupa dengan contoh-contohnya, mungkin karena sudah mengantuk mengingat waktu yang sudah cukup malam saat itu. Saya kurang tahu apakah jemaah yang selalu bertanya tentang hal itu puas dengan jawaban pak ustadz atau akan kembali menanyakan hal yang sama di ceramah Ramadan tahun depan. Kita tunggu saja, mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk berpuasa Ramadan di Hamburg tahun 1428 Hijriah yang masih setahun lagi datangnya itu…
Lucunya Din Syamsuddin
Membaca berita di detik.com hari ini tentang komentar Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin berkaitan dengan penetapan 1 Syawal oleh pemerintah, dimana pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, jadi geli juga saya, apalagi membaca bagian ini (berita lengkap di sini):
Beberapa negara di sebelah barat Indonesia seperti Arab Saudi, Mesir, dan Maroko hingga Eropa, lanjut Din, sudah melihat hilal sejak Minggu 22 Oktober, sehingga mayoritas umat Islam di sana menetapkan 1 Syawal pada 23 Oktober
Padahal, yang saya tahu, DIWAN (Deutsche islamwissenschaftliche Ausschuss der Neumonde atau Germans Islam-scientific committee of the new moon) mengirimkan surat setelah waktu Isya bahwa hilal tidak terlihat pada tanggal 22 Oktober 2006 di Jerman, sehingga puasa Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Juga dilaporkan oleh pengamat di Oxford, Inggris bahwa hilal tidak terlihat di sana (sumber: moonsighting.com). Juga ada laporan tentang tidak teramatinya hilal di beberapa wilayah Afrika dan Asia, dan Maroko yang memutuskan merayakan hari raya tanggal 24 Oktober 2006 yang dapat di baca di moonsighting.com. Dari hasil chatting dengan kawan di Mesir pun katanya pemerintah Mesir memutuskan 1 Syawal 1427 H jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006.
Artinya, klaim Din seperti yang ditulis di atas menurut saya tidak perlu dilakukan, apalagi kalau sampai (maaf) “asbun” dan tak akurat seperti itu (kalau kita coba bandingkan dengan fakta yang ada). Biarkan saja lah kalau ternyata pemerintah memutuskan bahwa 1 Syawal jatuh tanggal 24 Oktober -berbeda dengan fatwa OKI ataupun keputusan Muhammadiyah- berdasarkan hasil sidang isbat yang didasarkan tidak tampaknya hilal pada titik-titik pengamatan hilal di sekian banyak tempat di Indonesia pada tanggal 22 Oktober 2006. Memang beberapa negara di Eropa memutuskan untuk merayakan hari Idul Fitri tanggal 23 Oktober 2006, tetapi itu bukan karena mereka melihat hilal. Alasan utama yang saya tahu karena mereka mengikuti keputusan Arab Saudi, sama seperti ketika mereka memulai puasa Ramadan waktu itu.
Katanya puasa Ramadan dilakukan untuk menghasilkan orang yang bertakwa, lah kalau baru saja usai shalat Ied sudah bikin pernyataan yang macam-macam di media massa, tak akurat pula, apa nanti kata dunia?
God Spot
Pada tulisan sebelumnya saya telah mencoba menuliskan sebagian dari materi ceramah Ramadan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hamdani Anwar yang mengulas salah satu pendapat tentang makna dari kata ganti “Kami” untuk Allah dalam Al-Quran. Selanjutnya, pada bagian ini, saya mencoba untuk menuliskan bagian pertama dari 3 macam kecerdasan dalam Islam, yaitu kecerdasan spiritual.
Menurut beliau, kecerdasan spiritual berkaitan dengan keyakinan manusia akan hal-hal yang gaib, dimana puncak dari segala kegaiban adalah Allah. Artinya, dari sudut pandang Islam, kecerdasan spiritual akan mengacu kepada kadar keimanan seseorang.
Dalam diri manusia ada salah satu bagian dari otak, yang disebut God Spot, yang diyakininya merupakan bagian yang berperan dalam “mencerna” hal-hal yang bersifat gaib. Mengacu kepada literatur-literatur yang ada (silahkan cari sendiri di internet), ada 2 pendapat tentang God Spot ini, sebagian peneliti meyakini akan keberadaannya sementara sebagian lainnya meragukannya, dan Prof. Dr. Hamdani Anwar termasuk yang meyakini keberadannya.
Kecerdasan spiritual, sama halnya seperti kecerdasan emosional dan intelektual, adalah sesuatu yang bisa diasah, dan akan semakin baik kualitasnya jika kita mampu mengasahnya. Menurut Islam, pada saat masih berada di alam ruh, ruh manusia sudah berikrar mengakui akan keberadaan dan ke-esa-an Allah. Hanya saja, berpindah dari alam ruh ke alam nyata (dunia) menjadikan ruh manusia “lupa” untuk mengingat apa yang sudah dikrarkannya tersebut. Untuk itu, menurut beliau, ketika menyambut kelahiran bayi, orang tua dianjurkan untuk membisikan lantunan adzan ke telinga sang jabang bayi untuk mengingatkan kembali ruh yang ada di dalam tubuh bayi itu akan ikrarnya di alam ruh. Memang apa yang diuraikan beliau itu terlihat atau terdengar kompleks dan (mungkin) tak masuk akal, terutama buat mereka yang tidak menyakini akan hal-hal gaib seperti ini.
Tidak berhenti hanya sampai di situ saja, proses untuk mengasah kecerdasan spiritual harus terus dilakukan kepada bayi yang mulai tumbuh itu. Memberikan makanan yang baik dan halal, mengajarkannya mengucapkan doa ketika akan melakukan sesuatu, menciptakan atau menghadirkan suasana Islami di dalam kehidupannya sehari-hari, memperkenalkan kasih sayang Allah, dll. adalah contoh-contoh yang akan mengasah kecerdasan spiritual itu. Untuk itu, kecerdasan spiritual yang berkualitas akan didapatkan anak-anak yang mempunyai keluarga dan lingkungan yang baik dan berkualitas pula.
Nah, bagian-bagian yang bersifat spiritual yang dialami oleh si jabang bayi atau manusia selama masa pertumbuhan atau hidupnya itulah yang akan “ditangkap” oleh God Spot tadi dan menciptakan apa yang disebut dengan kecerdasan spiritual.
Mungkin akan banyak pertanyaan yang muncul dari uraian singkat ini, sama seperti pertanyaan yang diajukan oleh para jemaah pada malam itu ketika ceramah Ramadan diadakan. Hanya saja, berhubung saya bukan pakarnya dan kebetulan hanya sekedar menuliskan apa yang bisa saya interpretasikan dari materi ceramah beliau, maka mohon jangan bertanya lebih jauh lagi kepada saya kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih detail, karena saya pun tak tahu jawabannya
Baiklah, selamat Idul Fitri, semoga kita berhasil menjadi orang yang bertakwa setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin kalau dalam tulisan di blog saya selama ini banyak hal-hal yang kurang berkenan di hati anda…