Lucunya Din Syamsuddin
Membaca berita di detik.com hari ini tentang komentar Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin berkaitan dengan penetapan 1 Syawal oleh pemerintah, dimana pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, jadi geli juga saya, apalagi membaca bagian ini (berita lengkap di sini):
Beberapa negara di sebelah barat Indonesia seperti Arab Saudi, Mesir, dan Maroko hingga Eropa, lanjut Din, sudah melihat hilal sejak Minggu 22 Oktober, sehingga mayoritas umat Islam di sana menetapkan 1 Syawal pada 23 Oktober
Padahal, yang saya tahu, DIWAN (Deutsche islamwissenschaftliche Ausschuss der Neumonde atau Germans Islam-scientific committee of the new moon) mengirimkan surat setelah waktu Isya bahwa hilal tidak terlihat pada tanggal 22 Oktober 2006 di Jerman, sehingga puasa Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Juga dilaporkan oleh pengamat di Oxford, Inggris bahwa hilal tidak terlihat di sana (sumber: moonsighting.com). Juga ada laporan tentang tidak teramatinya hilal di beberapa wilayah Afrika dan Asia, dan Maroko yang memutuskan merayakan hari raya tanggal 24 Oktober 2006 yang dapat di baca di moonsighting.com. Dari hasil chatting dengan kawan di Mesir pun katanya pemerintah Mesir memutuskan 1 Syawal 1427 H jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006.
Artinya, klaim Din seperti yang ditulis di atas menurut saya tidak perlu dilakukan, apalagi kalau sampai (maaf) “asbun” dan tak akurat seperti itu (kalau kita coba bandingkan dengan fakta yang ada). Biarkan saja lah kalau ternyata pemerintah memutuskan bahwa 1 Syawal jatuh tanggal 24 Oktober -berbeda dengan fatwa OKI ataupun keputusan Muhammadiyah- berdasarkan hasil sidang isbat yang didasarkan tidak tampaknya hilal pada titik-titik pengamatan hilal di sekian banyak tempat di Indonesia pada tanggal 22 Oktober 2006. Memang beberapa negara di Eropa memutuskan untuk merayakan hari Idul Fitri tanggal 23 Oktober 2006, tetapi itu bukan karena mereka melihat hilal. Alasan utama yang saya tahu karena mereka mengikuti keputusan Arab Saudi, sama seperti ketika mereka memulai puasa Ramadan waktu itu.
Katanya puasa Ramadan dilakukan untuk menghasilkan orang yang bertakwa, lah kalau baru saja usai shalat Ied sudah bikin pernyataan yang macam-macam di media massa, tak akurat pula, apa nanti kata dunia?
Tokoh yang satu itu … Ah, Maaf lahir batin saja lah
. Semoga diridlai langkah-langkah dalam hidup kita
.
KWW
Oktober 23, 2006 at 4:15 pm
Beliau memang orang yang aneh
Tapi saya setuju banget dengan pernyataan Din yang: “Pemerintah tak perlu ikut ngatur dalam soal agama”. Tumben banget tuh punya pernyataan brilian.
wadehel
Oktober 24, 2006 at 11:31 am
hahaha.. kan ramadhan dah lewat, jadi beliau boleh donk ngomong apa aja.. masalahnya udah banyak uneg2 beliau yg tertumpuk selama bulan puasa,… soooo keluar deh semuanya hahaha *peace!!dilarang menghina2 org oy!
*
amellie
Oktober 24, 2006 at 1:51 pm
Yang lucu adalah yang mendasarkan keputusan 1 syawal berdasarkan rukyat. Giliran 4 orang saksi dari Ustadz Abu Bakar Basyir yang melihat hilal di jakarta, dan para pemantau rukyat PWNU JATIM yang melihat hilal di Bangkalan dan Genjeran Surabaya dan sudah melaporkan ke lembaga Itsbat Depag tapi tidak digubris. Jadi yang dipake itu yang mana ? Apa yang dipake itu hanya kesaksian orang depag saja, sementara kesaksian yang lain tidak bisa diterima ? Apa rukyat itu untuk memastikan /Formalitas TIDAK TERLIHATNYA HILAL sehingga lebaran tetap selasa atau berusaha untuk melihat hilal ? Kalau untuk melihat hilal, kenapa giliran ada yang melihat tapi tidak diterima ?
Lucu juga di jaman modern ini, tanggal 1 baru bisa diyakini last minute, tidak bisa diyakini jauh2 hari. Untung kita ga pernah pake tanggalan hijriyah untuk kegiatan2 keseharian kita. Lha mau pake gimana, wong untuk tahu kapan tanggal 1 itu harus nunggu sk Menag dan itu baru tahu pada setiap tanggal 29. Ini yang lebih lucu mas……
OJANK
Oktober 27, 2006 at 1:03 am
Hilal dengan ketinggian dibawah satu derajat tidak mungkin bisa diamati, jadi kesaksian penampakan hilal tgl 22 Oktober lalu harus ditolak karena secara astronomis mustahil.
dhani
Oktober 27, 2006 at 5:53 am
Menurut perhitungan hisab memang hilal di beberapa tempat di Indonesia berada di bawah 1 derajat. Kalau memang sudah yakin tidak mungkin bisa diamati, dan tidak bakalan ada surprise dari hasil rukyat, kenapa harus susah-susah dirukyat. Kan bisa langsung diputuskan jauh-jauh hari, tidak perlu repot-repot ada sidang itsbat last minute, hanya untuk mendengarkan pembacaan laporan hasil para saksi yang melakukan rukyat yang hasilnya sudah bisa diasumsikan bahwa hilal tidak tampak. Jaman Rasulullah SAW dimana hisab belum bisa dilakukan, rukyat adalah solusinya. Tapi saat ini dimana keakuratan hitungan astronomi sudah bisa dijamin, rasanya rukyat tidak diperlukan lagi, sama tidak diperlukannya saat kita mau melakukan salat tidak perlu lagi harus lihat matahari terbenam.
OJANK
Oktober 27, 2006 at 6:56 am
hmmm , tapi di arab saudi hilal sudah terlihat kan?
kus
Oktober 27, 2006 at 1:45 pm
# kus:
nah itu dia, menurut moonsighting.com, dari hasil laporan pengamatan yg dilakukan di Oman (dekat Arab), hilal tidak terlihat.
kalau di Arab terlihat sementara di Oman tidak, kan jadi tanda tanya juga…
ya tapi sudahlah, masing2 kan punya alasan dan argumentasi yg diyakini kebenarannya. saya sendiri gak mengganggapnya sebagai masalah. lha saya sendiri ikutan shalat ied di masjid Arab tgl.24 Oktober…
agusset
Oktober 27, 2006 at 4:18 pm
Saudi Arabia ternyata menggunakan hisab untuk penentuan tanggal qamariah dan mengabaikan hasil rukyat. Ini menurut Dr. Zaki Al-Mostafa dari the Institute of Astronomical & Geophysical Research at King Abdulaziz City for Science & Technology (which is the official Saudi authority which prepares Umm Al-Qurah Calendar).
Selengkapnya bisa dibuka http://www.icoproject.org/sau.html
Perbedaan metode penentuan tanggal qamariah ternyata telah menjadikan perbedaan pelaksanaan idul fitri 1 syawal 1427 di berbagai negara dalam 4 (empat) hari yang berbeda :
1. Nigeria merayakan pada hari Ahad 22 Okt 2006 karena mengclaim melihat hilal
2. Saudi Arabia plus 31 negara lainnya pada Senin 23 Okt
3. Indonesia plus 21 negara lainnya pada Selasa 24 Okt
4. India dan Pakistan pada Rabu 25 Okt 2006
Mudah2an ini rakhmat dan berkah dari Allah SWT. Wallahu a’lam bissawab.
OJANK
Oktober 27, 2006 at 11:01 pm
AsWrWb. Terima kasih atas kritik kawan2 di situs ini, saya sangat senang membacanya karena lucu2 juga. Terjadi salah kutip oleh pers dan kemudian dikutip salah oleh banyak pihak (dan ini sering terjadi atas pernyataan2 saya). Yg benar, saya mengulangi apa yg diinformasikan oleh Prof.Dr.Quraish Shihab ketika pertemuan para tokoh2 Islam di kediaman Wapres Yusuf Kalla, Sabtu 21 Oktober 2006, bahwa ada fatwa ulama sedunia yg menganjurkan jika hilal sudah terlihat oleh seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat maka seluruh bagian dunia yg mengalami malam harus mengikutinya (dalam hal ini mathla’ atau horizon teritorial hukum diperluas, tidak hanya NKRI seperti yg kita anut di Indonesia termasuk oleh Depag). Maka konsekwensinya (ini elaborasi dari saya), jika hilal sudah terlihat di negara2 lain seperti Saudi Arabia, Mesir, Moroko bahkan hingga ke Inggeris, dan kita di Indonesia masih mengalami malam (belum pagi) maka Indonesia perlu menganggap sudah mengalami hilal Syawal. Saya bersetuju dgn fatwa ulama sedunia ini, sehingga penentuan hilal Ramadhan/Syawal jangan ditetapkan pada waktu maghrib di Indonesia tapi masih perlu menunggu info terlihatnya hilal di bagian lain dari dunia. Masalah ini memang harus dicari jalan keluar, sementara itu perlu toleransi berbeda pendapat apalagi masing2 memiliki alasan2 yg kuat berdasarkan dalil2 naqli dan ‘aqli. Sekali lagi terima kasih atas tanggapan dan kritiknya, walau sering tidak akurat (karena mungkin tanpa tabayun), saya terima dengan ikhlas. Semoga menjadi amal anda semua. Wassalam, Din Syamsuddin (HP 08161881836, email: dinsyamsuddin@gmail.com).
Din Syamsuddin
Oktober 28, 2006 at 12:44 am
# OJANK:
Seringkali Arab Saudi tidak konsisten dalam penentuan bulan baru ini, kadang mengikuti hisab kadang rukyat. Yang paling mutakhir (kalau saya tidak salah ingat) adalah berubahnya keputusan jatuhnya hari Idul Adha tahun lalu yang sebelumnya diputuskan atas dasar hisab lalu kemudian diubah karena ada kesaksian seseorang yang mengaku melihat hilal meskipun berdasarkan hisab masih tidak mungkin untuk melihat hilal tersebut.
agusset
Oktober 28, 2006 at 7:41 am
saya kebetulan shalat di masjid muhamdiyyah, mereka menyatakan almanak mereka sejauh ini tepat dalam memprediksi, seperti memperkirakan kapan gerhana bulan, almanak mereka tepat sekali memprediksikannya, selain itu karena pergerakan bulan adalah stabil sesuai sunatullah, karena kalo tidak berarti kiamat.
ricky
November 3, 2006 at 12:19 am
# ricky:
saya tidak mempermasalahkan kalender mereka. saya hanya gemes aja sama pernyataan2 yg sebetulnya tidak perlu dan tida akurat itu (seperti yg saya kutip di atas).
agusset
November 3, 2006 at 4:47 am
Untuk membuktikan kapan 1 syawal 1427 H, silahkan lihat munculnya bulan purnama pada malam ke-15 bulan syawal, dan telah terbukti bulan purnama penuh muncul pada tanggal 5 November, sehingga bila dihitung kebelakang 1 Syawal jatuh pada 23 Oktober.
faiz
November 7, 2006 at 2:39 pm
# faiz:
tgl 1 bulan berikutnya dalam kalender Islam bukan hanya ditentukan dari waktu terjadinya konjungsi (Matahari-Bumi-Bulan berada segaris) saja, tetapi ada syarat lain yaitu melihat sabit kecil ketika bulan baru baru saja lahir (hilal). dan untuk bisa melihat hilal ini ada beberapa perbedaan di antara para ahli itu sendiri.
jika hilal terbenam sebelum matahari terbenam, jelas mustahil untuk dilihat. tetapi ada saatnya hilal terbenam sesudah matahari terbenam, dan bergantung pada ketinggian berapa derajat, dia masih bisa dilihat. dan ini bergantung pula pada kapan bulan baru lahir atau kapan konjungsi terjadi.
soal terjadinya konjungsi, semua sudah sepakat dan itu memang dapat dihitung secara astronomis. munculnya bulan purnama pada malam ke-15 yang anda maksud di atas itu didasarkan pada sejak terjadinya konjungsi. artinya pembuktian yang anda berikan dengan melihat bulan purnama tidak sepenuhnya bisa digunakan.
agusset
November 7, 2006 at 3:26 pm
Menurut saya Islam adalah rahmatan lil alamin, sehingga mencakup seluruh dunia, untuk itu saya setuju dengan Pak Din Syamsudin bahwa apabila seseorang atau sekelompok orang telah melihat hilal maka telah datang bulan baru. Memang dunia Islam memerlukan khilafah Islamiyah agar umat Islam tidak terpecah belah
arie
November 9, 2006 at 2:33 am
perlu kita ketahui bahwa metode ru’yah adalah kebudayaan masyarakat arab dan mesopotamia, sedangkan di negara eropa menggunakan matahari sebagai penentu waktu dan tentu saja hal tersebut digunakan pada masa itu dalam menentukan bulan baru karena belum ada teknologi yang lebih memadai. kini setelah Islam mencakup seluruh dunia apakah metode yang sama dapat digunakan?perlu kita ingat beberapa negara di eropa utara mengalami siang hari selama 28 jam seperti di swedia sehingga sangat tidak memungkinkan bagi penduduk wilayah tersebut melihat hilal.untuk itu metode hisab lah yang paling universal penggunaannya, dan yang harus dimengerti ilmu hisab merupakan perkembangan dari ilmu ru’yah yang merupakan ilmu Allah juga, karena Allahlah pemilik segala ilmu.
dani
November 9, 2006 at 2:46 am
saya kira bang dien betul…juga mas dani..coz kita sudah hidup di zaman modern..islam kan shalih likulli zaman wa makan ndak jumud dan terbelakang …..metode tradisional, ya jualan jamu saja
mukhlis
September 7, 2007 at 10:54 pm
Maaf, sebagian yg anda tulis tidak berdasarkan hujjah’ dan cenderung menghujat.
NIZAM AZHAR
September 1, 2008 at 2:21 am
yo kowe wae sing goblok…. dasar wong bento. enek ilmu pengetahuan kuwi yo dipake gak di nggurne wae…
kapan uthegmu iso maju nek ngunu kuwi…
SUYOTO BOJONEGORO
Januari 27, 2009 at 5:24 am
kate bang dien tu bener lho, kite dah ada di zaman modern, masa nentuin awal bulan aja masih manual, ..
l@utkidul
April 18, 2009 at 7:06 am
Din samsudin itu kan memang orang gila, gila popularitas, gila jabatan, apa yang dia omongin cuma cari sensasi aja supaya bisa masuk tipi. kalo aku sih jijik bener liat manusia munafik kayak si din ini. jijik deh akiu
Abah Rendahhati
April 25, 2009 at 10:44 am
heee kamu tu ngiri ya ama beliau, belajar dulu dah sampai dapetin gelar doktor, itupun kalu kamu bisa nandingi kecerdasan beilau, jadi semua komentar loe tu gak akan diperatiin oleh tokoh sekelas beliau,…..heee….heeee….99X
DIN SAMSUDIN
Juli 4, 2009 at 8:53 am