Seorang kolega istri saya, warga negara Jerman, sempat berkata kepada istri saya bahwa Islam itu adalah agama yang hanya cocok untuk orang yang hidup di lintang menengah hingga ekuator. Alasan yang dikemukakannya sederhana saja: di saat musim panas daerah lintang tinggi relatif akan mengalami siang yang sangat panjang, bahkan pada saat soltice (deklinasi maksimum matahari) daerah lintang tinggi akan mengalami siang sepanjang hari. Artinya akan susah untuk menentukan kapan hilal muncul untuk menentukan awal bulan Ramadan, kapan waktunya untuk mulai sahur, puasa dan berbuka puasa, dan juga kapan harus melaksanakan shalat Subuh, Maghrib, dan Isya.
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di daerah dekat ekuator (Indonesia), tentu saja sulit juga bagi saya atau istri untuk memberikan argumentasi ketidaksetujuan akan pendapatnya itu. Jangankan memberikan argumentasi, memikirkan hal seperti itupun sejujurnya tidak pernah kami lakukan meskipun kami tahu bahwa agama Islam itu bisa dipeluk dan dijalankan oleh penduduk Bumi dimanapun mereka berada. Dan ternyata hal itu tidak hanya terjadi pada diri kami yang pengetahuan agamanya pas-pasan, bahkan seorang ustadz asal Indonesia yang sengaja diundang datang ke Jerman untuk mengisi ceramah Ramadan tahun lalu pun tak terlalu banyak bisa menjawab ketika diberi pertanyaan yang khas dihadapi oleh para pemeluk Islam yang tinggal di daerah lintang menengah dan tinggi ini.
Belum lama ini, usai shalat Idul Adha, saya dan beberapa bapak-bapak eks karyawan IPTN yang bekerja di Air Bus juga sempat berdiskusi tentang kalender waktu shalat. Seorang bapak menyampaikan bahwa ada perbedaan waktu antara yang tertulis di kalender dan yang ada di program azan di komputer, dan itu membuat adanya “diskusi hangat” di keluarganya karena sebagian anggota keluarga memilih apa yg tertulis di kalender dan sebagian lainnya memilih hasil hitungan dari software azan. Perbedaan yang mencolok biasanya terjadi khusus untuk waktu shalat Shubuh dan Isya karena adanya satu parameter yang nilainya memang tidak baku yaitu twilight angle.
Menurut seorang kawan yang ketika masih memakai Apple 14 tahun yang lalu sempat membuat software azan, biasanya dalam software azan besarnya twilight angle dibuat tetap mengacu kepada beberapa konvensi yang ada seperti metode dari University of Islamic Sciences, Karachi yang menggunakan twilight angle 18° baik untuk waktu Shubuh juga Isya, Islamic Society of North America (ISNA) yang menggunakan twilight angle 15° baik untuk waktu Shubuh dan Isya, World Islamic League yang menggunakan twilight angle 18° untuk waktu Shubuh dan 17° untuk waktu Isya, dan beberapa metode lainnya. Padahal secara astronomis besarnya twilight angle untuk twilight astronomi adalah 12°-18°. Dari hasil pengamatan morning dan evening twilight dengan mata telanjang selama setahun di Blackburn, Lancashire, Inggris, pun diperoleh bahwa besarnya twilight angle itu bervariasi terhadap waktu (musim) dengan kisaran harga antara 12° hingga 16°. Lebih dari itu, menurut moonsighting.com, besarnya twilight angle ini juga bervariasi terhadap lintang.
Akibat dari besarnya harga twilight angle yang bervariasi untuk setiap konvensi yang ada dan yang dianut itu maka tidak heran jika kita akan menemukan waktu Shubuh dan Isya yang berbeda-beda meskipun untuk kota yang sama. Di Hamburg misalnya, kalau kita mencoba untuk membandingkan jadwal shalat yang dikeluarkan oleh beberapa masjid yang ada, akan kita temukan perbedaan waktu itu. Masjid Iran punya awal waktu Shubuh yang berbeda dengan masjid Turki, demikian juga dengan waktu Isyanya. Dan sejujurnya, buat saya hal itu cukup membuat bingung dan menimbulkan keragu-raguan. Bingung dengan jadwal mana yang harus saya pilih dan ragu-ragu apakah jadwal itu benar-benar sudah menggunakan referensi lokal (dimana masjid itu berada) atau masih menggunakan referensi yang digunakan di negara tempat jemaah masjid itu berasal?
Kalau sudah seperti itu –masih menggunakan referensi negara asal padahal sudah tinggal di negara yang terletak di belahan Bumi yang lain–, saya jadi ingat kisah seorang kawan tentang orang Jawa –saudara dari nenek moyang saya– yang diangkut penjajah Belanda ke Suriname. Pada saat itu, ketika mereka melaksanakan shalat masih selalu menghadap ke “barat” (ngulon) mengikuti patokan yang digunakan saat masih tinggal di Jawa. Padahal, posisi Kabah relatif terhadap Suriname jelas bukan di barat lagi kan?
Hi Agus, Assalammu’alaikum,
Ini topik yg sejalan dgn problem yg saya hadapi, keluarga kami satu2nya kel Islam di sini dan jadinya kami log on ke websitenya Islamicity.com tiap kali mau download waktu shalat, duh memang the best thing untuk jadi orang Islam sih ya di Indonesia aja deh kayaknya, Malaysia, Singapura okelah, tapi kalo udah di belahan bumi Utara gini repot dan sedih banget rasanya.
Bayangkan winter gini kan matahari baru terbit jam 10 pagi dan jam 3 sore udah gelap lagi, trus kalo summer matahari ada terus sepanjang hari terang dan baru tenggelam jam 1 malam dan jam 3 subuh telah terang benderang lagi.
Suami saya sampe bilang gini “Iya ya kayaknya yg paling balance sih di Indonesia, jelas deh subuhnya jam 4.30 pagi dan magribnya jam 6 sore rasanya sangat teratur”.
O iya ingin tahu pendapat Agus, ttg Guru muslimah berjilbab dilarang di Jerman ?, lah gimana ini ?.
Wassalam,
Teh Iie
Whitehorse, Yukon, North Canada
agusset:
waalaikumsalam Teh…
Ada gampang susahnya juga ya Teh kalau tinggal di lintang tinggi. Kalau lagi winter puasa bisa lebih pendek waktunya, tapi kalau lagi summer malah jadi lebih panjang. Shalat juga gitu, kalau winter, shubuhnya bisa lebih siang, tapi dhuhur, asar, dan maghribnya punya selang waktu yang pendek. Pas giliran summer shubuh sama isya berdekatan, nunggu waktu isya kadang sampe ketiduran atau keterusan tidurnya, sedangkan waktu shubuh kadang sering “lepas”.
Soal guru berjilbab yang dilarang, kadang susah juga ya. Kadang saya juga gak ngerti kenapa dilarang. Padahal katanya ada program integrasi, tapi yang dimaui oleh mereka adalah kita berintegrasi mengikuti cara mereka dan meninggalkan cara kita. Katanya ada kebebasan, tapi yang dimaksud dengan kebebasan itu ya kadang kebebasan versi mereka juga.
Nah lo… Kalo sudah gini, siapa yang bisa jawab?
Kyai yang seumur hidup di pesantren atau siapa..?
saya dulu juga sempet mikir gitu…
kalo puasa susah juga ya..plg enak kalo musim dingin puasanya…malemnya lama,lalu nahan laparnya bentar….