Prospek sebagai oseanografer
Di kantor tempat saya bekerja ada seorang kawan yang kebetulan anaknya tahun depan akan masuk ke perguruan tinggi. Saat ini, sebagai orang tua, dia sedang mencari sebanyak mungkin informasi tentang jurusan atau program studi yang mungkin bisa dipilih anaknya nanti. Kawan saya ini lulusan dari Fisika Teknik yang bekerja di Jakarta sementara keluarga tinggal menetap di Bandung, senasib dengan saya. Pada suatu kesempatan dia sempat bertanya ke saya tentang Program Studi Oseanografi ITB, apakah cocok untuk anaknya atau tidak. Cocok dari sisi jenis kelamin (kebetulan anaknya perempuan) dan kemudahan mencari pekerjaan atau ketersediaan lapangan kerja.
Hm, kalau ada pertanyaan seperti ini, susah juga saya menjawabnya. Dari sisi jenis kelamin, sepertinya sih tidak ada masalah di jaman sekarang ini, toh kesetaraan gender sudah diakui di negeri ini. Hanya saja saya sedikit memberi masukan kepada kawan saya ini bahwa kalau nanti sebagai oseanografer anaknya banyak bekerja di lapangan (bekerja di kapal survey misalnya), maka dia harus siap selama berminggu-minggu di laut lepas. Pengalaman saya akhir tahun lalu mengikuti pelayaran dengan kapal riset Mirai dari Jepang, untuk pelayaran dari Selandia Baru hingga ke Okinawa (melintasi Samudera Pasifik), kami harus berlayar selama satu bulan lamanya. Di kapal riset Mirai itu sendiri ada 3 perempuan yang ikut, 2 teknisi dari JAMSTEC (yang memiliki kapal riset tersebut) dan seorang research scientist, mahasiswa S2 dari Filipina. Sebelumnya, dua teknisi dari JAMSTEC ini baru saja ikut dalam pelayaran dari Laut Bering hingga ke Selandia Baru yang memakan waktu lebih dari sebulan lamanya. Artinya, karena dilanjutkan dengan pelayaran berikutnya dari Selandia Baru hingga ke Okinawa ini, maka mereka harus berlayar lebih dari 2 bulan lamanya. Dari hasil tanya-tanya, dalam setahun mereka akan berada di atas kapal riset lebih dari 6 bulan lamanya. Wow! tua di laut dong!
Kebetulan kedua tekhnisi ini masih lajang, jadi pergi berlayar selama lebih dari 6 bulan dalam setahun masih bukan masalah bagi mereka. Bagaimana kalau mereka sudah berkeluarga dan punya anak pula? Hal seperti ini pernah juga menjadi bahan diskusi di radio Deutsche Welle tahun lalu, kebetulan istri saya termasuk salah satu yang diwawancarai. Topik yang menjadi bahan bahasan adalah: “Sejauh mana wanita bisa menjadi seorang saintis sekaligus merangkap sebagai ibu rumah tangga yang baik, dimana kedua tugas dan tanggung jawab tersebut bisa dijalankan dengan seimbang? Sukses berkarir sebagai saintis sekaligus sukses sebagai ibu rumah tangga yang tetap memiliki waktu untuk suami dan anak-anak”.
Nah, sekarang bagaimana dari sisi lapangan kerja? Sejujurnya, meskipun kita sering berbangga menyebut negara kita sebagai negara maritim, bangga punya ribuan pulau (sampai sekarang berapa jumlah pasti pulau-pulau kita masih belum jelas karena masih banyak pulau yang belum punya nama), mengaku punya garis pantai yang paling panjang di dunia (dunia internasional kalau tidak salah masih mengakui Kanada sebagai negara dengan garis pantai paling panjang di dunia karena kita masih belum selesai mengukur garis pantai kita), dan juga mengaku punya nenek moyang yang pelaut ulung, pada kenyataannya perhatian pemerintah pada sektor kelautan masih memble. Akibatnya, lapangan kerja di sektor kelautan juga masih sangat terbatas dan masih beresiko tinggi. Mau berwiraswasta, semisal membuat budidaya laut, pun masih riskan. Pernah suatu kali dalam sebuah seminar marikultur (budidaya laut) yang kami adakan di tahun 97-an, Bapak Iskandar Alisjahbana sempat “mengeluh” karena lahan budidayanya harus tutup akibat pemerintah setempat mengijinkan dibangunnya pabrik kertas di dekat lokasi budidayanya, yang katanya membuang limbah ke laut dan mencemari air di sekitarnya.
Kebanyakan lowongan yang ada untuk lulusan oseanografi masih terbatas pada lembaga penelitian atau perguruan tinggi, sementara di sektor swasta masih sangat terbatas, termasuk untuk berwiraswasta. Artinya, bersiap-siaplah untuk tidak langsung dapat kerja setelah lulus, kecuali kalau mau beralih profesi ke bidang lain. Dan hal inilah yang banyak terjadi, kebanyakan dari kawan-kawan kuliah saya dulu pada akhirnya banyak yang memilih untuk terjun di bidang tekhnologi informasi. Bahkan trend yang terjadi sekarang ini, banyak dari mereka yang setelah lulus sarjana (S1) melanjutkan kuliah magister (S2) di jurusan lain seperti Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Teknik Planologi, Teknik Elektro, dan juga Studi Pembangunan. Betul-betul beralih profesi! Mungkin karena dulunya memang punya obsesi lain (bukan sebagai oseanografer) tetapi harus mentok diterima di pilihan kedua waktu tes penerimaan mahasiswa baru, atau bisa juga karena memang dari awal mereka sudah salah pilih dan kurang sreg, tapi apa boleh buat daripada harus ikut tes masuk perguruan tinggi lagi…
Secara umum, sebetulnya peminat oseanografi di Indonesia sudah agak lumayan sekarang ini. Jumlah perguruan tinggi yang memiliki program studi ilmu kelautan pun semakin bertambah (dibanding jaman saya kuliah dulu). Di ITB sendiri ada dua program studi yang berurusan dengan laut, yaitu Program Studi Teknik Kelautan dan Program Studi Oseanografi, dimana untuk Program Studi Oseanografi mereka lebih mengususkan diri pada pemodelan numerik. Banyak dosen dari perguruan tinggi lain (baik di Jawa maupun di luar Jawa) yang belajar pemodelan oseanografi (jenjang S2) di Program Studi Oseanografi ini, dan kemudian mengembangkannya di perguruan tinggi mereka. Di negara maju seperti Jerman, yang riset dan tekhnologi kelautannya jauh lebih maju daripada kita, jumlah mahasiswa yang berminat mengambil ilmu kelautan justru semakin berkurang akhir-akhir ini karena keterbatasan lapangan kerja yang ada (kecuali menjadi peneliti) dan jenjang karir dan gaji yang menurut mereka kurang menarik. Maka dari itu tidak jarang lowongan riset di institut kelautan yang ada banyak diisi oleh peneliti dari negara lain, baik dari Eropa maupun Asia, dan saya termasuk yang memanfaatkan lowongan riset ini untuk mengambil gelar S3 saya.
Menurut istri saya, ITB akan meniadakan SPP (gratis biaya kuliah) buat mahasiswa yang memilih Program Studi Oseanografi, dan beberapa Program Studi lainnya seperti Astronomi dan Meteorologi, karena ilmu ini masih dianggap penting dan perlu terus dikembangkan di negeri ini, selain juga untuk menarik peminat. Sebetulnya ada juga pro dan kontra terhadap tawaran ini, dimana pihak yang kontra menilai bahwa tawaran ini justru akan membuat Program Studi yang bersangkutan menjadi kurang bonafid. Mereka mungkin termasuk orang yang punya moto: “gratis itu gak bonafid”.
Mungkin lain waktu saya perlu juga menceritakan isu terhangat apa saja di sektor kelautan yang ada saat ini yang menarik dan menantang untuk dikaji lebih lanjut oleh para penelit kelautan di Indonesia.
pak tetap semangat yah…temen saya S3 di Perancis sudah siap2 mengganti topik disertasinya dan mau jadi OSEANOGRAFER…..saya selalu semangat kok pak jadi OSEANOGRAFER….(saya jadi optimis akhir2 ini….)
winda
Februari 26, 2008 at 2:14 pm
saya mah mau jadi scientist..karna kayanya menarik,dan asik gitu riset2 nemu teori baru… (kaya’ kita ngeblog..beragurmen, ngrasa paling bener errhhh baca2 lagi lalu nyadar teori kita belom bener…….), tapi sayang deh.. waktu abg kurang terarah pendidikannya, jadi kurang sadar bakat dan minat saya tuh dimana…
dulu2 pernah baca majalah scientist dan kaya’nya jadi scientist itu menarik..ikut gelar Phd eh dibayar pula…
lalu asiknya lagi… kalo yg kaya’ mas agus, bruntung sekolah sama profesi sejalan… yg dipelajari itu fokus kesatu bidang…..
lalu saya, dari IT, lalu nyebrang ke multimedia..yg juga blajar graphic design..yg kaya’nya nggak saya bangettt… saya sukanya kerja itu dikasih brief lalu duduk mojok ngerjain project.. kalo creative (mo share boleh ya,hheheh).. stress nya ituuuuuuu.. dibentak ama senior..direject ama clients..
capeeekkkk loooo..
kadang saya nyesel deh… enakan jadi scientist..
ntar kalo punya anak, pengen diarah ke left brain aja… (nggak bisa gitu juga yahhhh…??)
thanks bagi2 crita profesinya..
rahma
Februari 26, 2008 at 11:44 pm
pingin bangat ngedalamin oceanografi
apalagi pemodelan kyaknya asyik bngat tuh
tp sayang
ilmu itung2an saya sangat dangkal bngat
jadi agak susah buat nyerap ilmu ini
padahal sekarang lagi bergelut di bidang yg dinamakan oceanografi ini
mudah2an nanti pak agus bisa ngebantu buat ngebimbing saya klo seandainya nanti di”paksa” untuk harus bisa bidang oceanografi ini
pak mohon bimbingannya suatu saat nanti
Salam,
A. Rahman AS
La An
Februari 27, 2008 at 12:31 pm
oceanography itu kerjaanya ngapain yah pak? terus terang, mindset saya kerjaannya itu penelit laut.
thanks
Sonny
Maret 9, 2008 at 8:01 am
pak saya jg lg mndalami bidang oceanografi tetapi di undip…
sy msih ragu dgn ilmu yg sy dalami ini…
klo boleh tanya prospek kedepan untuk para lulusan oseanografi apakah menjanjikan ya pak..?
kan qta tau skrang indonesia bnyk trjadi gmpa di dsar laut..mngkin ilmu qta bsa dipakai..
atma
Maret 23, 2008 at 3:03 pm
Pemerintah memang masih mamandang setengah mata pengembangan sektor kelautan/maritim. Dengan perbandingan luas lautan yang jauh lebih besar daripada daratan lantas tidak membuat pemerintah membuka sebelah matanya lagi untuk sektor ini.
rhakateza
April 16, 2008 at 10:36 pm
hujur aq sngat tertarik dgn oceanografi but aq bingung kerja ini modelnya gmn ya? beri saran d email dong pak?.
hengky
Juni 3, 2008 at 4:27 am
jadi takut… aku sekarang udah kelas3 SMA en pengen masuk oseanografi coz kalo masuk teknik kelautan agak riskan buat diriku yang gak terlalu suka hal2 berbau teknik. Gipula aku seneng buanget sama laut en isinya walo risikonya menurut aku cukup besar kalo kerja di laut tapi semua pasti ada risikonya dan dibutuhkan pengorbanan.. hix.
Trus kalo kerja di laut itu harus bisa berenang khan? duh, aku ada asma nih.. tapi bener ga sih asma itu bisa sembuh kalo rajin berenang?? trus bener bakal susah nyari kerja di INDONESIA, negara kita tercinta ini??? sekarang ini masalah kebumian lagi banyak khan? ada solusi ga??????
oia, Pak.. kira2 oseanografi itu lebih bagus di PTN mana?? tolong dijawab ya..
putri
Juli 16, 2008 at 1:57 am
# putri:
wah, kalau soal PTN mana yang bagus oseanografinya? susah juga ya ngejawabnya, karena saya gak punya datanya…
agusset
Juli 17, 2008 at 11:42 pm
saya sekarang sudah diterima melalui usm pengembangan program studi oseanografi…
mnurut saya tidak ada jurusn yg tdk berprospek baik… oseanografi salah satu jurusan yg memliki potensi berkembang ke dpn,, krn saat ini msh bnyk dbutuhkan tenaga ahli yg mmpunyai skill khusus di bdang itu…
jadi bole dikata pradigma masyarakat indonesia saat ini masih dalam peralihan dari era industri ke era informasi… so,,, bwt pr plajar yg ingin melanjutkan studinya, mari kita baca peluang ke depan!!!jgn terpaku pda pola pikir kebanyakan masyarakat saat ini
Aryo
Agustus 7, 2008 at 1:39 am
halo mas,,
udh keterima di perguruan tinggi ose mana?
saya juga berencana msk ke ose juga,
dan sudah keterima,
tapi saya masih ragu kedepannya,
mas bisa kasih penjelasan lebih dalam g mengenai ose??
terima kasih
email:
arief1234abcd@yahoo.com
arief
Juni 4, 2009 at 2:18 am
Oseanografi.. Cukup menarik kok. Asal kita seneng nglakuin sesuatu, urusan ke depannya jg enak. Di Ose, kita belajar gerak massa air laut, jg interaksinya dengan atmosfer. Setahu saya, prodi Oseanografi ada di ITB, Undip. PT swasta ada atau ga y?
rr_ose07_itb
September 16, 2008 at 6:38 pm
Hhhh….Kapan yah Sektor Kelautan menjadi yang paling diperhatikan di negara ini? Sektor yang paling banyak menyediakan lapangan kerja dan paling banyak membutuhkan tenaga kerja dan ahli????
Aku Sarjana Kelautan Undip, Kalo ada yang butuh tenaga Kelautan atau yang berkaitan email aku yah di ryan_pandjaitan@yahoo.com
Ryan Pandjaitan
September 23, 2008 at 3:18 am
wah klo baca blog ini, saya jadi terpacu. saat ini saya kuliah prodi oseanografi undip. dalam 1 kls (emg cm 1) jumlah cewe 1:3 dgn cowo.
tapi kita gak kalah sama mereka. tapi ini kan di kelas, kalo di lapangan bagaimana?
memeng mslh gender udah setara, tapi bagaimanapun langkah cowo lebih panjang daripada cewe. seperti yang anda tulis, masih lajang c msh oke, tapi kalo udah berkaluarga gimana?
apalagi klo dihitung dosen pengajar kami kebanyakan bapak2,, mereka hebat2. tapi dosen sewe juga gak kalah hebat.
intinya saya melihat prospek oseanografer cewe masih kecil..
tapi biar begitu saya cinta mati dgn OSEANOGRAFI (walaupun pd awalnya tertipu dgn nama prodi yg menarik,, kuliahnya………ampun,, seru koq!!!)
rate
Oktober 14, 2008 at 7:41 am
Saya mengetahui sedikit ttg model oseanografi (arus, gelombang, pasut, sediment dan garis pantai)
saya tertarik dengan model sebaran minyak..
Apakah ada yang bisa membantu saya…
Ad_k2e001370@yahoo.co.id
Terimakasih….
Adi Surya Pria Pranata
November 1, 2008 at 3:39 pm
Wah keren opininya Pak. Dulu (th.2005), saya jg prnah ktrima di Oseanografi UNDIP tapi gak saya ambil. Menurut saya Oseanografi tuh keren deh.. ya mungkin Pemerintah Indonesianya aja yg gak terlalu tanggap sma sgl sesuatu yg berkaitan dgn Kelautan.
Hidup Oseanografi!!! Maju terus pantang mundur..
Dominiq
Januari 23, 2009 at 2:16 pm
Pak saya bingung,jujur j saya gak suka bangt m oceanografi krena prospek krjny amat sangat sempit,rencannya tahun depan saya pengen pindah jurusan kteknik mesin.tapi dioceanografi sangat berkesan pak.
RURI
Februari 8, 2009 at 4:38 am
iya bapak saya juga punya smangat nih buat asuk ose itb 2009, tapi alat2nya yang masih kurang dan prospek nya ga jelas juga. tapi pengen saya berkariiiiiir di pertambangan lepas pantai.
frista
Februari 11, 2009 at 7:32 am
iya bapak saya juga punya smangat nih buat masuk ose itb 2009, tapi alat2nya yang masih kurang dan prospek nya ga jelas juga. tapi pengen saya berkariiiiiir di pertambangan lepas pantai.tapi bagi yang punya semangat sama ayo kita bangun laut kita.
frista
Februari 11, 2009 at 7:34 am
hahha,
ayo frista,
bersama2 menbangun laut indonesia,
emg qm udh keterima d kelautan?
arief
Juni 4, 2009 at 2:12 am
emang sih prospeknya masih membuat calon mahasiswa yg mau ngambil jurusan osean ragu. tapi tetap aja karir utk bekerja di bidang kelautan masih terbuka…
agusset
Februari 11, 2009 at 9:01 am
masa depan terjamin tidak pak buat memilih ini?
saya menentang pendapat orang tua da lebih memilih ini
saya siap – siap dihujani dengan pertanyaan kenapa milih ini (oseanografi)
RNE
Mei 13, 2009 at 7:21 am
halo,,
udh keterima di ose mana??
salam kenal
arief
Juni 4, 2009 at 2:20 am
saya diterima di UNSOED jur OSEANOGRAFI.Ni prodi ke 2, krn prodi pertamanya tdk ditrima.Jujur saya tdk tll yakin di bdg ni.Saya bingung mau ambil kesempatan ni ap gk, saya takut nanti cari kerjanya susah. Apalagi saya perempuan, ibu saya tdk mengizinkan kerjanya jauh2 apalagi berbulan2 di laut. Saya bener2 bingung neh….
rezty
Mei 20, 2009 at 3:06 am
pak/.
saya mo nanya,
apakah seorang oseanografer
dapat bekerja d bidang
minyak lepas pantai??
terima kash,
mohon penjelasannya
arief
Juni 4, 2009 at 2:24 am
Jujur saya tertarik dngn ose pak,,kalau boleh tanya,bapak kerja d perusahaan apa ya?dan d bag. Apa?lalu apa benar bisa melamar d perusahaan minyak off shore seperti mobil oil?tlong ya pak dibalas,saya mohon,karena tgl 1 juli suda SNM PTN,,tlong pak,bapak jg boleh balas d email saya,ii.shinigami@yahoo.com
tolong ya pak. .terima kasih
Azizah
Juni 10, 2009 at 11:11 am
Yaoloh pak, saya jg rencananya mo ke sana pak, ke oseanografi. Tapi kaga boleh ama ortu. Karena apa? Karena saya perempuan. Fuhh…
Ime
Oktober 13, 2009 at 1:25 pm
oseanografi jaya di laut kaya didaratan…
imad
Oktober 14, 2009 at 12:42 pm