Pseudo-turun
Saya agak geli juga kalau melihat iklannya Partai Demokrat. Di iklan itu, mereka begitu membanggakan “kebijakan” menurunkan harga BBM dan minyak goreng. Padahal, saat ini harga kedua komoditas itu di pasar dunia memang sedang turun. Jadi, kalau pemerintah nggak nurunin harganya, maka mereka layak untuk mendapat teriakan “huuuu…” dan selorohan “apa kata dunia?”
Selain dari itu, harga BBM -kalau dilihat resultannya- sebetulnya nggak turun (alias tetap), karena pemerintahan yang sama pernah menaikkan harganya ketika harga di pasar dunia sedang naik sangat tajam. Artinya, apa yang disebut sebagai “turun” itu boleh dibilang palsu belaka. Apalagi, setelah pemerintah menaikkan harga BBM, harga-harga lainnya justru malahan ikutan naik dan sampai saat ini susah turunnya walaupun harga BBM sudah kembali ke posisi semula.
Sebelum harga BBM dinaikkan oleh pemerintah, naik angkot jarak dekat di tempat saya Rp. 1000. Setelah harga BBM dinaikkan, tarif angkot naik jadi Rp. 1500. Sekarang, setelah BBM kembali ke harga sebelum dinaikkan, eh tarif angkot masih aja tetap Rp. 1500, meskipun pemerintah sudah menghimbau agar tarif angkutan diturunkan. Kalau saya coba komplain ke sopir angkot, dengan mengutip himbauan Pak Presiden, sopir angkotnya juga gak bakalan mau dibayar Rp. 1000, apalagi kalau ternyata sopir angkot itu bukan simpatisan Partai Demokrat dan malah merupakan wong ciliknya PDIP…
Sebelum harga BBM dinaikkan, sarapan pagi di Warteg langganan cuman Rp. 6000 saja. Setelah harga BBM dinaikkan, eh si ibu penjual Warteg menaikkan harga untuk sarapan pagi menjadi Rp. 7000. Sekarang, setelah harga BBM kembali ke harga semula, harga sarapan pagi di Warteg langganan saya itu ternyata tetep Rp. 7000.
Jadi, koq bisa Partai Demokrat begitu bangga menjadikan isu “turunnya” harga BBM dan minyak goreng dalam iklan politiknya?
Menurut akuntan, kasus BBM itu bukan penurunan harga melainkan pembatalan kenaikan harga. Kalau penurunan, berarti harga baru harus lebih rndah dari harga sebelum naik.
Moh Arif Widarto
Februari 11, 2009 at 6:57 am
Saya GOLPUT.
Tapi saya tertawa terbahak-bahak melihat foto narsis JK di jalan protokol Jakarta (di TV juga) yang berkaok-kaok bahwa JK mendukung anggaran 20% APBN untuk pendidikan.
Lha waktu inisiasi di DPR untuk isu tersebut yang terhormat mengatakan anggaran 20% itu nggak realistis dan seharusnya anggaran tersebut lebih baik untuk sektor industri.
Gini nih kalo pedagang jadi politisi…
Aji
Februari 13, 2009 at 3:47 am
Politisi emang payah kalau ngomomng konsistensi. Malu hilang sirna. Jadi, malu2in. Saya doain PKS jangan ikut2an aja. Hehehe…semoga masih ada harapan buat parpol.
fahri, spi
Februari 13, 2009 at 7:49 pm