Yes! Akhirnya, setelah seminggu ini kurang tidur, telat makan siang, dan harus pulang kantor malam-malam, berhasil juga saya meng-compile Nucleus for European Modelling of the Ocean (NEMO). Cukup memakan waktu juga rupanya, tentu saja di luar kesibukan rutin di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Banyak hal harus saya lakukan, mulai dari tambah library ini itu di Linux, sampai harus googling sana-sini cari solusi dari pesan-pesan kesalahan yang muncul saat compiling.
Oh iya, sengaja kali ini saya konsen ngoprek NEMO karena tahun depan saya punya riset yang harus menggunakan model numerik dan saya melihat NEMO memenuhi kriteria untuk digunakan di riset itu.
So, karena proses compiling sudah tidak ada masalah, hal berikutnya yang harus saya lakukan adalah mempelajari manualnya dan teori-teorinya untuk dapat segera menerapkan model ini di riset saya. Sebagai langkah awal, ada beberapa exercise yang dapat saya gunakan untuk “learning by doing”.
By the way, kalau ada yang sudah berpengalaman dengan NEMO, silahkan tinggalkan comment di sini ya, nanti saya akan hubungi untuk berguru…
Ikutan belajar ah nanti….
keren iki
riset tau ngarep, alate wes dadi taun saiki
@Luthfi: Iya, memang harus dipersiapkan sedini mungkin sebelum riset dimulai supaya pas riset berjalan tool-nya sdh siap digunakan…
saya…*sambilnunduk*…mau belajar ya pak…
[...] Sebelumnya, di Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (PIT ISOI) ke-7 di Bangka Belitung 6-7 Oktober 2010, saya juga sempat memaparkan hasil penelitian yang berkaitan dengan perhitungan fluks karbon di perairan Indonesia menggunakan data penginderaan jauh dan pendekatan empirik. Tahun 2011 ini, setelah mendapatkan hasil yang membuat penasaran di 2010, BROK akan melanjutkan penelitian tentang karbon laut ini dengan menggunakan model biogeokimia laut seperti yang sudah saya ceritakan sekilas di sini. [...]