Masih mau bercerita tentang bersepeda. Ada satu hal yang cukup mengganggu dan menguatirkan saya kalau mau bersepeda mengelilingi tempat-tempat tertentu di sekitar saya tinggal di Perancak, Jembrana, Bali. Apalagi kalau bukan anjing. Maklum, saya suka parno kalau ngelihat anjing, apalagi kalau si anjing sudah mulai menggonggong, takut dikejar. Dulu waktu masih kecil, belasan kali saya pernah harus lari terbirit-birit gara-gara dikejar anjing sialan, untung belum pernah sampai digigit. Bahkan pas jaman masih kuliah di Bandung, saya pernah juga jatuh dari Vespa gara-gara dikejar anjing dan harus angkat kaki tinggi-tinggi, memalukan sekali.
Nah di Bali ini, menurut data yang ada, populasi anjing sudah mencapai lebih dari 500 ribu. Selain itu, di akhir tahun 2008 juga pernah ada wabah rabies, yang sampai sekarang pemerintah Bali masih menemui kendala untuk mem-vaksin semua anjing yang ada, apalagi anjing-anjing liar. Kebetulan lagi, di sekitar tempat saya tinggal, yang jauh dari mana-mana, adalah salah satu tempat orang membuang anjing. Sementara itu, kasus terjadinya gigitan anjing di Bali juga sangat tinggi. Di tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing ada 50 ribu, di 2009 menurun menjadi 24 ribu gigitan, lalu di 2010 naik lagi jadi 41 ribu gigitan (165 gigitan per hari). Jadi lengkaplah sudah.
Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali yang sekitar 3 jutaan jiwa, maka populasi anjing di Bali memang cukup fantastis juga. Kalau kata Pak Gubernur Mangku Pastika, tingginya populasi anjing di Bali ini tidak lepas dari kepercayaan atau mitos yang ada. Sebagian besar orang Bali percaya bahwa anjing dapat membawa mereka ke surga. Kalau tidak salah hal tentang itu ada di dalam cerita tentang anjing setia milik Yudistira, si sulung dari Pandawa 5 yang bisa ikut masuk ke surga karena kesetiannya.
Jadi kalau selama ini orang sering menghubungkan kata BALI dengan BAnyak LIbur (karena di Bali ada tambahan libur fakultatif untuk pemeluk agama Hindu sesuai dengan SK Gubernur Bali), bisa-bisa karena banyaknya populasi anjing, terutama anjing liar, BALI bisa juga merupakan singkatan dari Banyak Anjing LIar, hehehe…
‘Tak kenal maka takut’ (haiah!), seperti umumnya kalo kita berpapasan sekilas dengan preman di terminal. Padahal bisa aja hatinya ternyata tidak serusuh tampangnya.. hahaha…
Sy dog lover. Anjing sy sering diganggu anak-anak kecil yang penasaran, dari mulai meneriaki sampai menimpuki dgn batu –padahal kalo diganggu balik, mereka nangis. Lalu sy & anjing sy deh yang disalahkan.
Kemudian, cukup sy yakini & harapkan, anak-anak yang mengganggu tersebut kedepannya akan memiliki trauma terhadap anjing karena anjing sy jelas kesal, lalu menggonggong & mau menyerang anak-anak tersebut. Begitulah juga sekiranya dengan trauma yang mas Agus & bahkan juga sy alami waktu kecil dulu, kurang-lebih sama. Sebaliknya, kejadian-kejadian semacam itulah yang sering bikin anjing jadi dendam ke banyak anak kecil.
Poin yg ingin sy coba ingatkan lagi adalah, bahwa anjing memang menggonggong. Pada waktu merasa senang, sedih, lapar, marah, mereka akan menggonggong. Ditambah dengan tingkat excitement mereka yang tinggi, kalo ada sesuatu yang bergerak cepat, anjing juga akan merespon dengan berlari, juga sambil menggonggong.
Tapi tenang, segalak-galaknya anjing, tetap tidak lebih kuat dari manusia (ups, tergantung ras anjingnya juga sih). Jadi kalo kita berani, anjing pasti takut. Tendang aja, mereka pasti lari. Kecuali kalo mereka keroyokan, mending kita yang lari..
…dan yang terpenting, bersyukurlah selama mereka hanya menggonggong. Kalau saja mereka berbicara sebelum mendekat… jangankan Mas Agus, sy pun yg dog lover sudah pasti lari……
Anyway, nice article, Mas Agus. Thankyou for sharing!
Salam budaya
# T.A. Putra: Thanks untuk sharing info tentang anjing. By the way, tetep aja saya takut sama anjing kalau dia sudah pasang tampang gak bersahabat…
Sama-sama.. setiap orang berhak untuk punya rasa takut. Walaupun sy dog lover, tapi sebenarnya masih tetap takut juga kalo ketemu anjing liar di jalanan…
Btw, sy mau minta izin copas ya untuk di fanpage / grup komunitas kami, Dog’s Day Out Indonesia (FB). Mungkin akan ada sedikit suntingan & pembubuhan ilustrasi imej sebagai pemanis. Kalo nanti mas Agus kurang sreg, bisa sy tulis ulang -persis dgn tulisan aslinya disini.
Link kami: http://www.facebook.com/dogsdayoutindonesia
Kalo berkenan & ada waktu, monggo, mampir ke tulisan sy di: http://www.facebook.com/notes/dogs-day-out-indonesia/ringisan-kegembiraan-kebisuan/10150169846381911.
Ada juga 2 tulisan yang sangat bagus dari mas Adam Herdanto di:
- http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150169499146911
- dan, http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150247795401911
Halo. Tulisan yg menarik. Syukur saya “terdampar” di sini.
Saya setuju dengan T.A. Putra. Anjing menggonggong karena mereka takut (akan manusia – terutama anak-anak kecil yg suka mengganggu – ini jg terjadi pada anjing saya). Ketakutan ini yg membuat mereka agresif, lalu bisa saja mendorong mereka untuk menggigit. Mungkin kalau lebih banyak org belajar tentang cara berhadapan dengan anjing, gigitan anjing bisa dihindari.
Anyway, karena yg diceritakan di sini “anjing liar”, kebanyakan anjing liar di Bali yg dimaksud adalah jenis yg disebut “anjing kacang Bali”. Yuk mengenal lebih lanjut anjing kacang Bali, sekaligus berbagi informasi tentangnya di blog saya: http://anjingkacangbali.blog.com/. Terima kasih.