Feeds:
Pos
Komentar

Masih tentang reklamasi di Teluk Jakarta, berikut saya share salah satu laporan teknis yang pernah saya susun terkait reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta, semoga bermanfaat.

https://www.researchgate.net/publication/315805865_Laporan_Teknis_Bidang_Hidrodinamika_dan_Geomorfologi_Tim_Kajian_Kegiatan_Reklamasi_Balitbang_KP_Simulasi_Model_Hidrodinamika_dan_Dispersi_Termal_di_Teluk_Jakarta_Pra-_dan_Pasca-reklamasi_17_Pulau

 

Reklamasi di Teluk Jakarta

reklamasi_teluk_jakartaUrusan terkait reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta ternyata belum usai, dan semakin seru saja. Ada banyak isu dan permasalahan, baik sosial ekonomi dan lingkungan yang terus bermunculan. Pada masa sebelum ini, isu dan permasalahan tersebut sepertinya berhasil “diredam” dengan baik..

Mari kita ikuti saja terus perkembangannya..

Kembali Go Blog

Setelah sekian tahun meninggalkan my lovely Blogonesia, akhirnya kembali lagi untuk Go Blog..

Semoga bisa rutin kembali merangkai kata di sini..

Dirgahayu Indonesiaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dirgahayu mengandung makna panjang umur. Jadi, kalau dalam judul postingan saya kali ini memberi judul “Dirgahayu Indonesiaku”, itu artinya saya sedang optimis mendoakan semoga Indonesia, negeri yang saya cintai ini, masih tetap bisa bertahan hidup dengan semangat 45-nya hingga akhir zaman, meskipun masih banyak koruptor beserta komplotannya yang berkeliaran dan menggerogoti negeri ini bak parasit.

Tanggal 17 Agustus, seperti tahun sebelumnya, saya dan seluruh rekan kerja di Balai Riset dan Observasi Kelautan yang lokasinya agak cukup jauh dari perkampungan dan hiruk pikuk kota, kembali melakukan upacara bendera dengan penuh rasa khidmat, yang dilanjutkan kemudian dengan lomba-lomba khas 17-an seperti balap bakiak, balap kelereng, balap ular, tarik tambang, dan karaoke. Ruar biasa, meskipun sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan, kami semua bisa menikmati perayaan tahunan ini dengan penuh suka cita dari pagi hingga saat berbuka puasa tiba.

Sama seperti waktu masih kecil dan remaja dulu, atau ketika sedang tinggal jauh di negeri orang, saat ini pun perayaan hari kemerdekaan selalu memberikan keceriaan dan kesan tersendiri buat saya. Waktu kecil dulu, saya selalu menantikan saat perayaan hari kemerdekaan agar bisa mengikuti pawai sepeda, lomba gerak jalan ataupun lomba baca puisi, melihat karnaval dan arak-arakan dengan kostum yang beraneka macam, menonton orang memanjat kayu pinang yang dilumuri pelumas, dan lain-lain. Semasa remaja dan duduk di bangku SMA, hampir setiap tahun saya selalu mengikuti lomba baca puisi perjuangan, meskipun tidak pernah jadi juara (hahaha). Sewaktu di Hamburg dulu, perayaan 17-an adalah saatnya untuk bisa berkumpul dengan seluruh masyarakat Indonesia yang tinggal di sana dan menikmati hidangan-hidangan khas Indonesia dengan hiburan-hiburan yang juga ditampilkan oleh masyarakat Indonesia.

Sepertinya saya sudah tidak punya ide lagi harus menulis apa di postingan kali ini, jadi sebagai penutup saya hanya mau mengucapkan “Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-66 Indonesiaku, semoga Allah SWT selalu memberkahimu. Jayalah selalu Indonesiaku. MERDEKA!”

Kecerdasan Emosional

Beberapa hari yang lalu sempat menonton acara menjelang Maghrib di Metro TV yang membahas tentang 3 potensi kecerdasan yang ada pada diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dengan narasumber Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian. Materi yang disampaikan cukup menarik, hanya saja ketika beliau memberikan contoh tentang kecerdasan emosional, ada sedikit yang menurut saya kurang sreg.

Ketika membahas tentang kecerdasan emosional, beliau mencontohkan tentang seorang istri pejabat yang melakukan acara syukuran dan mengundang istri-istri bawahan suaminya karena bahagia dan bangga anaknya berhasil masuk 10 besar di sekolahnya. Nah, dalam acara syukuran itu ternyata ada seorang ibu yang anaknya satu sekolah dengan anak si istri pejabat ini dan menduduki ranking pertama di sekolah tersebut. Alkisah disampaikan bahwa ibu tersebut, dengan perasaan bangga, mengatakan bahwa anaknya satu sekolah dengan anak istri pejabat itu dan menduduki ranking pertama di sekolah tersebut. Akibat ucapan itu, beberapa hari kemudian suami ibu tersebut ternyata dimutasikan…

Dari kisah sederhana itu, ternyata narasumber hanya menyoroti perilaku ibu yang anaknya ranking pertama saja, dimana dikatakan bahwa ibu tersebut kurang memiliki kecerdasan emosional, sementara istri pejabat yang menurut saya justru lebih memble kecerdasan emosionalnya tidak dibahas sama sekali. Hayo, kenapa coba?

Kalau nonton berita-berita di TV Indonesia, sepertinya Indonesia sudah akan bangkrut ya? Korupsi dan mafia ada di mana-mana, mahasiswa sampai rakyat jelata tawuran seperti waktu di jaman primitif dulu, nyari sekolah susah dan mahal, macet melanda hampir semua kota besar di Indonesia, PNS dianjurkan supaya gak boleh beli premium, dan berjibun persoalan dan masalah lainnya. Belum lagi kalau sudah ngedengerin pembawa acara yang kadang-kadang suka mencecar gak sopan pihak-pihak tertentu yang dianggap berseberangan dengan pendapat mayoritas. Belum lagi kadang-kadang pendapat beberapa pengamat juga terkesan sok lebih pinter dan lebih jago, komplet lah sudah…

Sementara kalau nonton sinetron isinya juga gak jauh berbeda, orang licik dan culas ada di mana-mana, saling berebut harta dengan segala cara. Nonton acara hiburan lainnya juga gak membuat suasana hati menjadi terhibur, apalagi kalau ngelihat pembawa acaranya yang ternyata jauh lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak. Nonton acara pengajian juga gitu, ustadznya banyak yang lebay, lebih cocok jadi pelawak daripada jadi ustadz. Belum lagi nanti kalau pas bulan Ramadan, acara saurnya biasanya juga banyak menunjukkan tingkah laku yang konyol dan kurang mendidik. Padahal terlalu banyak bercanda itu termasuk yang tidak dianjurkan dalam Islam kan. Akibatnya, nonton TV malah bikin stress dan juga bikin penonton tambah bloon… (hehehe, salah sendiri kenapa nonton TV).

Kalau sudah begini, gak usah nonton TV sepertinya akan lebih sehat ya? Betul gak?

Bali dan Anjing Liar

Masih mau bercerita tentang bersepeda. Ada satu hal yang cukup mengganggu dan menguatirkan saya kalau mau bersepeda mengelilingi tempat-tempat tertentu di sekitar saya tinggal di Perancak, Jembrana, Bali. Apalagi kalau bukan anjing. Maklum, saya suka parno kalau ngelihat anjing, apalagi kalau si anjing sudah mulai menggonggong, takut dikejar. Dulu waktu masih kecil, belasan kali saya pernah harus lari terbirit-birit gara-gara dikejar anjing sialan, untung belum pernah sampai digigit. Bahkan pas jaman masih kuliah di Bandung, saya pernah juga jatuh dari Vespa gara-gara dikejar anjing dan harus angkat kaki tinggi-tinggi, memalukan sekali.

Nah di Bali ini, menurut data yang ada, populasi anjing sudah mencapai lebih dari 500 ribu. Selain itu, di akhir tahun 2008 juga pernah ada wabah rabies, yang sampai sekarang pemerintah Bali masih menemui kendala untuk mem-vaksin semua anjing yang ada, apalagi anjing-anjing liar. Kebetulan lagi, di sekitar tempat saya tinggal, yang jauh dari mana-mana, adalah salah satu tempat orang membuang anjing. Sementara itu, kasus terjadinya gigitan anjing di Bali juga sangat tinggi. Di tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing ada 50 ribu, di 2009 menurun menjadi 24 ribu gigitan, lalu di 2010 naik lagi jadi 41 ribu gigitan (165 gigitan per hari). Jadi lengkaplah sudah.

Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali yang sekitar 3 jutaan jiwa, maka populasi anjing di Bali memang cukup fantastis juga. Kalau kata Pak Gubernur Mangku Pastika, tingginya populasi anjing di Bali ini tidak lepas dari kepercayaan atau mitos yang ada. Sebagian besar orang Bali percaya bahwa anjing dapat membawa mereka ke surga. Kalau tidak salah hal tentang itu ada di dalam cerita tentang anjing setia milik Yudistira, si sulung dari Pandawa 5 yang bisa ikut masuk ke surga karena kesetiannya.

Jadi kalau selama ini orang sering menghubungkan kata BALI dengan BAnyak LIbur (karena di Bali ada tambahan libur fakultatif untuk pemeluk agama Hindu sesuai dengan SK Gubernur Bali), bisa-bisa karena banyaknya populasi anjing, terutama anjing liar, BALI bisa juga merupakan singkatan dari Banyak Anjing LIar, hehehe…