Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2005

Putri Cina


Coba tebak…. siapa gerangan putri Cina di atas?
Iklan

Read Full Post »

Jadwal PIN Polio 2005 : 30 Agustus dan 27 September 2005
yang punya Balita, ayo ikut… ikut… ikut…
(sumber gambar: Epochtimes)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari optimistis imunisasi polio yang akan dilakukan pada pekan imunisasi nasional (PIN) polio pada 30 Agustus dan 27 September 2005 akan sukses dan dapat menjangkau 24,5 juta anak usia lima tahun ke bawah (balita) di Tanah Air.

“Tentu saya harus optimis. Lagi pula kali ini kita jauh lebih agresif dibandingkan imunisasi polio sebelumnya. WHO dan UNICEF juga lebih agresif,” kata Menkes di Jakarta, Jumat.

sumber: Antara News

Read Full Post »

PraJab CPNS

Inget OSPeK jadi inget PraJab CPNS (Pra Jabatan Calon Pegawai Negeri Sipil). Dua event yang secara umum (menurut saya dan di jaman saya) hampir sama aja.

Sebelum jadi PNS, CPNS harus menjalani apa yang disebut sebagai prajab. Jaman dulu, prajab katanya biasa2 aja, seperti acara kursus intensif. Di jaman militer berkuasa di segala bidang, prajab berubah menjadi “sangar”. Kegiatan prajab dilakukan di kamp tentara dengan gaya tentara dan menunya pun menu tentara. Saya kurang tahu di jaman semi sipil seperti sekarang ini, prajab ala tentara masih diterapkan atau sudah diganti dengan gaya baru. Mudah-mudahan aja sudah diganti, dengan bentuk yang lebih pas dan cocok.

Di jaman saya prajab, kegiatan dipusatkan di Rindam Jaya (Resimen Induk Kodam Jaya). Para peserta adalah semua CPNS dari lembaga pemerintah di Jakarta. Seminggu sebelum prajab dimulai, semua peserta dibagikan perlengkapan prajab: sepatu tentara dan pakaian hijau tentara (seragam harian dan pakaian olahraga). Kegiatan prajab dilakukan menjadi beberapa gelombang karena banyaknya peserta dan terbatasnya asrama yang bisa ditempati. Pada hari H, peserta prajab laki-laki sudah harus punya potongan rambut ala tentara alias botak. Banyak yang coba-coba menghindari cukur botak, alias hanya dipotong cepak saja, namun ternyata usaha itu sia-sia belaka, karena sebelum masuk kamp ada penyortiran ulang oleh bapak tentara yang bertampang sangar dan bikin ciut nyali. Yang nggak lulus sortir harus pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lokasi sortir dimana di sana sudah menunggu beberapa “tukang jagal” yang siap membabat habis rambut di kepala. Satu menit beres, kepala langsung botak.

Menu setiap hari prajab cukup bikin capek, bangun jam 4 pagi harus sudah siap pakai pakaian olah raga dan pergi ke tanah lapang untuk berolahraga selama 1 jam. Mulai dari peregangan sekitar 15 menit, diteruskan dengan lari pagi keliling kompleks sekian putaran selama 30 menit, dan diakhiri dengan pelemasan kembali 15 menit. Istirahat shalat subuh (buat yang shalat) dan cebar-cebur mandi pagi masal di sebuah kamar mandi yang besar (tentunya dipisah laki2 dan perempuan, kalau nggak bisa gawat!). Pokoknya harus bisa cuek mandi barengan saling mempertontonkan “pedang”. Buat yang biasa setor pagi, harus rela antri sambil pegang perut karena jumlah WC terbatas. Juga harus siap setor gerak cepat karena jumlah pelanggan cukup banyak dan siap menggedor pintu kalau pelanggan yang sedang asyik di dalam melewati batas waktu rata-rata setor.

Selesai mandi masih harus rapi-rapi barak. Tempat tidur, lemari, rak sepatu, dll. semuanya harus rapi. Ketahuan ada salah satu yang nggak rapi, semua penghuni harus siap menerima hadiah push up. Push up hukuman beda sama push up olahraga. Ketika posisi badan sedang di bawah, harus siap nahan selama beberapa hitungan. Kalau ada satu orang yang nggak kuat nahan dan badannya jatuh menyentuh tanah, hukuman pun diulang. “Nikmat tenan!” kata Pak Sersan.

Acara berikutnya, makan pagi. Sebelum makan harus baris dulu buat apel pagi. Kami selalu berdoa, semoga apel pagi bisa berjalan lancar supaya bisa segera sarapan pagi. Menunya jangan ditanya. Pokoknya sedap, apalagi kalau habis capek olahraga. sepiring nasi, sayur yang cukup banyak, dan sedikit ikan (biasanya pindang atau teri) atau daging yang seringkali cukup alot dan sebuah pisang ambon agak kecil. Makan harus bersama dan selesai pun harus bersama. Semua harus habis. Buat mbak2 atau mas2 yang makannya sedikit, harus bisa nyari temen yang gembul yang siap berbagi. Si mbak/mas happy, si gembul happy, yang lain pun happy karena tidak harus kembali dapet hadiah push up yang nikmat tenan.

Habis makan pagi , boleh istirahat sebentar. Yang suka merokok boleh merokok dulu, yang mau setor silahkan, yang masih mau makan lagi di warung belakang barak juga silahkan. Selesai istirahat 15 menitan, mulai masuk fasa membosankan, masuk ke ruang kelas dan siap mendengarkan ocehan bapak/ibu pengajar sipil dengan materi Pancasila, UUD ’45, GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) dan kawan-kawannya. Lha gimana nggak bosen, dari mulai sekolah di SD sampai jadi PNS selalu aja dikasih materi yang itu-itu lagi. Waktu di ruang kelas sebenarnya adalah waktu ideal untuk tidur, sayangnya pak tentara sudah tahu kebiasaan buruk CPNS, jadi selalu saja ada patroli keliling. Yang ketangkep basah diajak keluar kelas, dikasih sedikit olahraga supaya matanya nggak ngantuk lagi.

Materi di kelas berlangsung dari pagi hingga sore hari, dipotong istirahat olahraga dan makan siang. Semakin tinggi matahari, semakin panas ruangan, semakin berat pula mata menanggung beban kantuk. Boro-boro ada materi dari pengajar yang masuk ke otak, malah sebaliknya materi lama yang ada di otak bisa menguap. Nasib CPNS!

Olah raga siang, minta ampun! Panas-panas harus lari keliling komplek dilanjut dengan push up di aspal panas. Lari sambil bernyanyi, bikin kerongkongan semakin kering. Selesai olahraga siang kembali harus masuk ruang makan. Beri hormat sebelum makan dan mulai makan siang dengan badan penuh keringat sehabis olahraga. Makan bercampur bau keringat, pokoknya “sedap nian!”. Banyak mbak2 dan mas2 yang nggak tahan dan hilang nafsu makan, namun apa daya makanan harus tetap dimakan. Inilah yang disebut makan siang perjuangan!

Selesai materi di ruang, sore hari adalah materi outdoor bersama pak sersan. Semuanya harus serba gerak badan. Baris-berbaris, lari sore, senam, guling-guling di lapangan. Pokoknya nikmat tenan! Terus begitu sampai tiba waktu istirahat sore yang cukup lama. Waktu istirahat sore adalah waktu bertransaksi dengan ibu-ibu tukang cuci pakaian. Ibu-ibu rumah tangga yang rumahnya berada di sekitar kompleks Rindam Jaya panen order cucian kalau sedang ada prajab seperti ini. Pakaian seragam yang jumlahnya cuman 2 setel harus bergiliran dicuci supaya tetap punya baju yang bersih. Juga pakaian lainnya termasuk daleman. Buat yang suka minum jamu, mbok jamu yang cantik selalu menjadi pengunjung setia di sore hari dengan gendongan jamu di punggungya. Ada jamu kuat push up, tolak angin, dan lain-lain.

Setelah cebar-cebur mandi sore, acara selanjutnya makan malam dan ditutup dengan apel malam. Kalau lagi sial banyak dapat hukuman, ya ditambah dengan menu hukuman malam. Romantis deh, malem-malem masih suruh push up di aspal!

Akhir pekan, hari yang ditunggu-tunggu. CPNS boleh pulang ke rumah atau kos2an masing2. Yang males pulang, boleh juga tetap tinggal di barak. Yang pulang ke rumah atau kos2an harus lapor ke kantor polisi/tentara/RT/RW setempat dan minta cap di surat jalan. Yang nggak melengkapi aturan, siap2 dapat hukuman di hari Senin!

Begitulah sekelumit acara Prajab CPNS yang kalau saya nggak salah inget berlangsung selama 3 mingguan. Sebenarnya saya nggak sreg dengan prajab seperti ini, tapi mau gimana lagi. Kata orang bijak, semua pilihan ada konsekuensinya. Jadi PNS, konsekuensinya ya ikutan prajab. Ya dinikmati aja lah, hitung-hitung jadi nambah pengalaman dan jadi punya kenalan pak sersan dan pak letnan.

Read Full Post »

Lagi-lagi OSPEK

Heran, itu kesan pertama di setiap tahun ajaran baru di Indonesia. Apa yang bikin heran? Apalagi kalau bukan OSPeK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus, selanjutnya disingkat OS aja ya supaya nggak terlalu panjang). Selalu aja ada berita tentang mahasiswa korban kerasnya OS (batu kali, keras). Yang tambah bikin heran lagi, kalau nggak salah di SMP dan SMA juga sekarang ada kegiatan semacam OS. Mudah-mudahan anak-anak TK dan SD nggak ikutan niru juga ya, bisa gawat!

Saya dulu juga ikut OS (baik yang barengan sekampus maupun yang himpunan), dan saya juga pernah ikut nge-OS (hanya yang himpunan). Memang kadang-kadang ada juga senior yang suka kebangetan. Baik itu kebangetan usilnya, maupun kebangetan nyiksanya. Saya juga nggak tahu, kenapa ya dulu saya mau ikutan OS? Pingin nyobain rasanya kayaknya deh.

OS itu, kalau menurut saya, rasanya nggak enak, tapi bisa bikin ngakak kalau diceritain lagi. Kadangkala, tak cukup waktu semalam untuk bernostalgila tentang OS. Mungkin itu yang bikin para senior ketagihan dan nggak mau menghapuskan OS begitu saja. Sama kasusnya seperti korupsi di negeri kita, mana mau para koruptor menghapuskan korupsi, lha wong enak je. Jadi sebenernya, manusia itu kalau dipikir-pikir ya sama aja sifat dan kelakuannya ya? (nggak semua sih, tapi rata-rata). Jadi kalau sesuatu yang enak-enak (menurut mereka) mau dihapusin, pasti aja selalu susah dan ada aja alesannya. Selalu maunya dipertahankan. Sudah tradisi, begitu katanya (kaya iklan biskuit aja ya?).

Kalau buat saya, yang alhamdulillah berbadan sehat, OS seberat apapun (asal nggak bikin celaka badan) nggak jadi masalah. Paling-paling lemes dan pegel-pegel dikit, ditambah sedikit luka-luka kecil di sekujur badan akibat disuruh push-up mengepal di jalan beraspal atau berkerikil tajam, atau berguling-guling di tanah lapang gundul yang keras di musim kemarau dan becek di musim hujan, atau kaki yang lecet karena harus pakai sepatu lapangannya para tentara yang berat dan keras, atau kulit yang terbakar disengat matahari tropis yang panas. Kalau omelan para senior (dulu di jaman saya OS disebut Jendral dan Jendril) ya tinggal dimasukkin telinga kiri dan keluarin telinga kanan ajalah, karena banyak yang isinya nggak jelas dan nggak perlu dimasukkin ke otak atau ke hati. Hampir semua kegiatan OS, menurut apa yang saya rasakan sebagai peserta dan panitia, latar belakangnya hanyalah usil dan ngerjain. Ada memang materi seriusnya, tapi porsinya ya sedikit banget lah. Lagian kalau udah masuk materi serius, paling enak ya tidur. Jadi kalau ada yang bilang OS itu bermanfaat, gini, gitu, dst…dst.. itu biasa, hanya alasan yang banyak dipaksakan supaya OS nggak dihapusin.

“Jadi, perlu nggak OS dihapusin?”

Ya tergantung. Kalau masih kepingin punya hiburan lain daripada yang lain di tahun ajaran baru dan pingin punya nostalgia yang kalau diceritain dan dikenang ulang bisa bikin senyum dan bahkan ngakak, ya jangan dihapusin. Tinggal tahu diri aja buat mereka yang memang berbadan kurang sehat dan punya penyakit serius (seksi mampus dulu istilahnya dalam OS yang pernah saya alami). Tahu diri di sini maksudnya ya ngomong jujur sama panitia kalau punya penyakit gawat, kalau perlu yang nggak usah ikutan OS, toh OS juga nggak masuk dalam daftar kuliah pilihan atau wajib. Istilahnya harus punya prinsip gitu lho! Harus bisa memilih: “Ikut OS dan mampus!” atau “Nggak usah ikut OS dan ngapain dipikirin!”

Tapi kalau udah nggak perlu hiburan-hiburan macam gitu lagi, ya hapusin aja. Cuman ya siap-siap aja, para senior pasti nggak rela deh OS dihapusin begitu aja. Pokoknya nggak rela aja! Ya tinggal gimana caranya para mahasiswa bisa bersatu, menuntut supaya OS dibubarin! Sekali-kali perlu kan mahasiswa demo buat membela kepentingan mahasiswa sendiri (meskipun yang didemo juga mahasiswa, yaitu para seniornya). Jangan bisanya hanya demo buat kepentingan rakyat aja. 🙂

Read Full Post »

Komputer Amphibix

Banyak komputer yang dipasangi 2 sistem operasi oleh pemiliknya, linux dan windows. Saya menyebutnya sebagai komputer amphibix, dari kata amphibi ditambah huruf x supaya ada kesan teknologi informasi, yaitu komputer yang hidup di dua sistem operasi.

Kenapa harus 2 sistem operasi? saya kurang tahu. Tapi komputer saya dahulu di Bandung juga punya 2 sistem operasi, karena saya ingin tahu seperti apa sebenarnya linux. Sayangnya, saya lebih banyak berkegiatan di windows daripada di linux, dan malas untuk reeboot kalau mau mencoba-coba linux.

Di Jerman ini, saya kembali harus hidup di 2 sistem operasi, windows dan linux. Windows untuk komputer di rumah dan linux untuk komputer di tempat kerja di universitas. Sebenarnya tidak masalah, saya sudah terbiasa dengan 2 sistem operasi ini sejak dulu. Kalau mau kerja remote ke komputer di universitas, sebatas tidak pakai x-window, ya tinggal pakai putty. Kalau terpaksa harus menjalankan aplikasi dengan x-window, supaya display bisa muncul di layar komputer di rumah ya tinggal pakai x-windownya cygwin. Jadi sebagai pengguna setia windows di rumah, saya tidak perlu merubah komputer yang ada menjadi komputer amphibix. Alasannya sederhana saja, saya bukan tukang oprek komputer. Selain itu, saya lebih banyak berkecimpung dengan perangkat lunak yang berbasis windows kalau pakai komputer di rumah.

Kalau di universitas pakai linux, itu juga tidak masalah, karena peran saya hanyalah sebagai pengguna biasa. Perintah-perintah yang harus saya kuasai pun tidak terlalu kompleks. Kebanyakan hanyalah perintah-perintah dasar yang sederhana, mudah diingat dan mudah pula dipelajari. Urusan-urusan yang rumit sudah diatur oleh para administrator yang handal dan profesional.

Kalau masalah keamanan komputer, sejauh ini saya tidak punya masalah baik di windows maupun di linux. Menurut saya, apapun sistem operasinya, semuanya punya kekurangan disamping kelebihannya. Tinggal bagaimana kitanya saja untuk selalu berhati-hati. Kalau di rumah, komputer saya lengkapi dengan antivirus yang akan selalu terupdate, firewall pun tak lupa dipasang. Juga perangkat lunak keamanan lainnya. Akses-akses yang tak perlu pun selalu dihindari. Kalau di universitas, tenang saja, semua sudah diurus sama om admin. kita tinggal jadi user yang baik saja.

Read Full Post »

Kalau

Kalau aku tak berilmu,
tentu aku akan berusaha mencari ilmu,
agar aku bisa menjadi orang yang berilmu

Kalau aku sudah berilmu,
tentu aku akan menyebarkan ilmuku itu,
agar orang lain yang tak berilmu menjadi berilmu seperti aku

Kalau orang lain yang tak berilmu,
mau menerima dan mempelajari ilmuku,
tentu aku akan bahagia,
karena ilmuku menjadi berguna bagi sesama

Kalau semua orang sudah berilmu,
dunia akan dipenuhi oleh orang berilmu,
tentu seharusnya dunia akan menjadi lebih baik,
tetapi ternyata tidak selalu!

Kadangkala ada saja manusia berilmu,
yang terlalu bangga pada keilmuannya,
menganggap dirinya paling berilmu,
tak mau dengar pendapat orang lain,
karena dianggap tak cukup ilmu

Kadangkala ada saja manusia yang baru punya sedikit ilmu,
namun sudah begitu sombong dan berlagu,
nyeruduk sana-sini dengan ilmu pas-pasannya

Kadangkala ada saja orang yang berilmu palsu,
ilmu yang dimilikinya bukan dihasilkan dari belajar atau ngelmu,
tapi dibeli dari pengedar sekolah dan ijasah palsu,
akibatnya ia suka menjual ilmu agar modalnya bisa kembali,
berikut dengan labanya

Ngelmu bukanlah dengan membeli ijasah palsu,
atau sekolah di sekolah palsu,
karena itu menipu diri sendiri

Orang berilmu tak harus memasang gelar di belakang atau di depan nama,
kalau memang harus dipasang karena alasan administrasi, pasanglah seperlunya saja,
kalau memang tak punya gelar yang bisa dipasang, ya tak perlu membeli
juga tak perlu pasang gelar ‘Haji’ yang disingkat menjadi H,
kenapa tidak sekalian pasang gelar ibadah yang lain,
ada ‘Syahadat’, ‘Sholat’, ‘Puasa’, dan ‘Zakat’, disingkat menjadi SSPZ,
kalau digabung dengan nama menjadi: H. Agusset, SSPZ

Read Full Post »

Seandainya…

Seandainya saja para pemimpin suka naik angkutan umum untuk pergi/pulang ke/dari tempat kerja, maka para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya akan meniru untuk naik angkutan umum ke/dari tempat kerja mereka. Akibatnya angkutan umum akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar mereka bisa nyaman menggunakannya. Akibat lebih lanjut, masyarakat pengguna angkutan umum yang sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki angkutan umum yang nyaman dan baik.

Seandainya para pemimpin suka berjalan kaki menggunakan trotoar, para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya pun akan menirunya untuk suka berjalan kaki di trotoar. Akibatnya trotoar akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar mereka bisa nyaman menggunakannya. Akibat lebih lanjut, masyarakat pemakai trotoar sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki trotoar yang nyaman dan baik.

Seandainya para pemimpin suka berbelanja di pasar tradisional dan kedai kaki lima, para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya pun akan menirunya untuk berbelanja di pasar tradisional dan kedai kaki lima. Akibatnya pasar tradisional dan kedai kaki lima akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar para pemimpin dan koleganya bisa nyaman berbelanja. Akibat lebih lanjut, masyarakat pelanggan pasar tradisional dan kedai kaki lima sesungguhnya pun menjadi senang karena bisa berbelanja di tempat terjangkau yang nyaman dan baik.

Sayangnya, para pemimpin kita tidak suka melakukannya, karena kebanyakan mereka menganggap hal itu bisa menurunkan prestise dan martabat mereka yang terhormat dan mulia. Jangankan melakukannya, memikirkannya pun jarang…

Seandainya para pemimpin memiliki gaji yang sama kecilnya dengan gaji orang kebanyakan dan tidak mendapatkan fasilitas negara dan segala kemudahannya yang berlebihan, mungkin mereka akan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang kebanyakan. Akibatnya mereka akan lebih memperhatikan nasib orang kebanyakan itu, karena mereka merupakan bagian darinya. Akibat lebih lanjut, orang kebanyakan akan merasa bahagia dan terharu karena nasib mereka dipikirkan dan diperhatikan oleh pemimpin mereka.

Sayangnya, gaji para pemimpin dan segala fasilitas yang mereka terima terlalu berlebihan sehingga mereka sangat sulit untuk bisa membayangkan apalagi merasakan apa yang dirasakan oleh orang kebanyakan…

Seandainya untuk menjadi pemimpin tidak didasarkan semata hanya kepada ketersediaan dana untuk kampanye dan membeli suara, dan seandainya semua suara pemilih tidak bisa dibeli oleh para calon pemimpin yang mengandalkan dana semata, mungkin akan muncul banyak pemimpin yang benar-benar berkualitas dan mengerti bagaimana menjadi pemimpin.

Sayangnya, untuk bisa menjadi pemimpin memang harus punya dana yang lebih dari cukup karena banyak suara pemilih yang bisa dibeli…

Seandainya para pemimpin kita sadar dan tahu bahwa kepemimpinan mereka kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hari pembalasan, mungkin mereka akan berusaha untuk selalu menjadi pemimpin yang baik…

Sayangnya, para pemimpin kita banyak yang lupa dan tidak mau tahu tentang hal itu…

Seandainya para pemimpin membaca postingan di blog saya ini, mungkin mereka akan menghubungi saya untuk mengucapkan terimakasih karena sudah diingatkan…

Sayangnya mereka tidak pernah membaca blog saya ini… 🙂

Read Full Post »

Older Posts »