Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2006

The school meme

Wah, gw dapet tag dari rahma buat ngasih jawaban atas beberapa pertanyan susah di bawah ini. Sebenernya gw paling nggak bisa kalau disuruh bikin-bikin yang kaya gini, males mikirnya bo! Tapi ok lah, karena gw udah dikasih "lemparan manis" ini sama rahma, jadi gw musti bikin juga deh di blog gw ini. Oh iya, tumben-tumbenan nih gw pake bahasa Indonesia non-EYD buat mosting, soalnya kata rahma disuruh "break the language!" 😀

1. How many schools did I go to?

Gw nggak pernah sekolah TK, jadi masuk sekolah langsung SD, SMP, SMA, kuliah S1, kuliah S2, dan sekarang lagi S3. Jadi jumlahnya ada 6 deh. Selesai S3 mungkin gw mau ambil S-Teler aja deh, biar tambah teler…

2. Was I the studious nerd, or the last minute hero?

Tergantung mood, kalau lagi bagus moodnya gw bisa jadi murid teladan, tapi kalau lagi bad-mood ya jadi murid telatan…

3.Was I the class 'taiko' or the teacher's pet?

Waktu SD dan SMP, gw murid kesayangan guru bo! masuk SMA udah mulai suka ngaco sekolahnya, apalagi waktu kuliah S1. Biasa kena "culture shock", soalnya gw sekolah SD dan SMP kan di desa, sementara itu SMA gw agak di kota (kota asalnya Mayangsari yang baru aja ngelahirin kemaren, yang sampe sekarang belum ketahuan siapa bokapnya *halah dasar gw, sukanya baca berita gosip*), dan kuliah gw di kota kembang, Parijs van Java.

4. What was the biggest rule I broke in school?

Dari kecil gw manusia yang taat hukum dan peraturan, jadi gw jarang ngelanggar aturan. Aturan yang pernah gw langgar cuman sering dateng telat 15 menit setelah bel tanda masuk berbunyi waktu SMA. Hukumannya ya harus nunggu sampe jam pelajaran pertama abis baru boleh masuk kelas. Selama nunggu jam pelajaran pertama abis, gw harus duduk di ruang BP. Selama kuliah S1 gw kadang suka bolos kuliah, tapi waktu itu ikut kuliah emang nggak wajib koq, jadi ya nggak ngelanggar aturan kan?

5. Three subjects I enjoyed

Enjoy sama mata pelajaran apa ya? Waktu SD dan SMP sih gw suka matematika, bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Jawa). Di SMA nggak ada mata pelajaran yang gw suka, semua bikin bosen, makanya prestasi gw di SMA jelek. Tapi suer, meskipun gitu gw nggak pernah nyontek sedikitpun. Bahkan waktu ujian akhir SMA gw nulis "saya nggak bisa ngerjain pak" di lembar jawaban mata pelajaran kimia untuk soal-soal isian. Untungnya gw masih bisa lulus SMA, meskipun dengan nilai yang pas-pasan banget.

Waktu kuliah, gw suka sama mata kuliah pengenalan komputer soalnya ini bener-bener baru buat gw (maklum anak desa, bentuk komputer kaya apa aja nggak kebayang), konsep teknologi dan apa lagi ya? kayaknya bahasa Indonesia deh (gampang sih!). Masuk semester 3 dan seterusnya gw mulai suka sama mata kuliah yang berhubungan dengan kelautan, eh tapi gw juga enjoy banget waktu itu ngambil mata kuliah wajib Fisika Matematika di Departemen Fisika. Pas ngambil mata kuliah inilah gw ngerasa mood gw paling OK, padahal waktu itu gw nggak sedang jatuh cinta tuh hehehe… 😛

6. Three teachers that inspired me

Paling terinspirasi ya sama dosen Fisika Matematika itu, Dr. Lilik Hendrajaya. Kalau ngajar kayaknya bisa mompa semangat mahasiswanya deh. Caranya ngajarnya juga enak dan kayaknya wawasannya juga luas. Tapi doi punya aturan aneh, kalau mau ikutan kuliah dia harus pake pakaian yang ada kerahnya alias nggak boleh pake kaos oblong (T-shirt). Dosen lainnya ya Ibu Irawati dari Departemen Matematika, dosen Aljabar Linier Elementer. Doi kece abis, cool deh pokoknya, idaman para mahasiswa! Kalau lagi ngajar, wah pakaiannya sensual banget bo!. Saking banyaknya inspirasi yang gw dapet, gw sampe nggak lulus deh mata kuliah ini (*kebanyakan ngelamun sih*). Kagum aja, koq ada ya dosen secakep doi, kirain dosen2 kece kaya gitu cuman ada di filmnya Roy Marten doang. Sialnya, semester berikutnya dosennya diganti. Dan lebih sial lagi, disertasi S3 gw sekarang ternyata banyak berurusan dengan Aljabar Linier. Dosen terakhir yang banyak ngasih inspirasi ya Profesor pembimbing S3 gw sekarang. Semangat bikin programnya kagak ada matinya deh. Struktur berpikirnya kalau bikin program juga bagus dan rapi. Semua detail dipikirin mateng2, sampe-sampe gw juga heran dan kadang-kadang suka ngomentarin dalam hati: "koq doi kepikiran ya sama yang gw nggak pernah pikirin?" Kreatif deh, pantes aja bisa jadi Profesor…

OK deh, segitu aja ya. Selanjutnya gw lemparin tema ini ke aji, ricorea, kusaeni, dan amellie. Hayo ditangkeep ya… Pis!

Read Full Post »

Najis dan halal-haram

Usai shalat Jumat minggu lalu, seorang kawan dari Riau daratan yang sudah lama tinggal di Hamburg bertanya tentang dua hal kepada saya dan seorang kawan lain. Pertanyaan pertama yang ditanyakan adalah tentang memakai sabuk kulit buaya atau babi, "apakah itu najis atau tidak?" Pertanyaan kedua tentang membeli daging ayam, kambing atau sapi di toko atau supermarket biasa yang ada di Hamburg (maksudnya toko yang bukan dikelola oleh orang Islam dari Turki atau tanpa label halal), "apakah daging yang dibeli di sana itu halal atau tidak?"

Pertanyaan yang menarik dan selalu hangat didiskusikan selama ini. Di pengajian rutin mingguan yang sering saya ikuti, pernah beberapa kali dibahas tentang masalah itu. Ada dua pendapat yang berbeda sejauh ini berkaitan dengan pertanyaan kesatu. Sebagian besar peserta pengajian menyatakan selain haram babi juga najis, sementara itu sebagian kecil lainnya menyatakan bahwa babi hanya haram untuk dimakan, dan kulitnya jika telah disamak maka menjadi tidak najis, demikian juga dengan kulit buaya.

Berkaitan dengan pertanyaan kedua, secara garis besar juga terdapat dua pendapat berbeda. Sebagian besar menyatakan bahwa daging ayam, kambing atau sapi yang dibeli di toko-toko atau supermarket yang biasanya adalah haram karena proses penyembelihannya dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam, dimana penekanan utamanya adalah: "pada saat disembelih disebutkan nama Allah". Sementara itu, sebagian kecil lainnya menganggap bahwa daging yang dibeli tetap halal karena penyebutan nama Allah pada saat menyembelih bukanlah hal yang wajib.

Dalam kesempatan ini saya tertarik untuk menguraikan argumentasi yang diberikan oleh pendapat minoritas yang menyatakan bahwa daging yang dibeli di toko atau supermarket biasa di Hamburg itu adalah halal. Landasan yang mereka gunakan adalah sama saja dengan pendapat para mayoritas, yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 173 (dan beberapa surat lain yang memiliki isi yang hampir sama seperti Al-Maidah ayat 3, Al-An'am ayat 145, dan An-Nahl ayat 115).

Sekarang mari kita tinjau bunyi dari surat Al-Baqarah ayat 173 tersebut:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah….

Perhatikan kalimat "dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah". Menurut mereka, kalimat itu menyatakan bahwa binatang yang pada saat kita menyembelihnya menyebutkan nama selain Allah yang diharamkan dagingnya. Artinya, kalau kita tidak menyebut nama-nama lain selain Allah (dan juga tidak menyebut nama Allah), maka itu tidak haram. Dan sebaliknya, jika pada saat menyembelih kita menyebut nama Allah, tetapi juga menyebut nama-nama lain selain Allah, maka dagingnya akan menjadi haram meskipun telah disebutkan nama Allah. Hal ini terjadi karena ada penyebutan nama lain selain Allah.

Demikianlah sedikit bincang-bincang singkat dan diskusi menarik yang sering kami lakukan tentang aturan dalam Islam. Sejauh ini selalu saja ada perbedaan tafsir atas surat atau ayat yang sama. Buat saya, hal itu tidak menjadi masalah karena memang penafsiran manusia akan suatu hal bisa saja jauh berbeda. Yang terpenting adalah tidak saling bermusuhan, menghujat, menyalahkan, mengafirkan, dan sejenisnya hanya karena berbeda pendapat dan penafsiran.

Anda punya pendapat lain? Silahkan!

Read Full Post »

Sebagian rakyat Papua menuntut merdeka dan terlepas dari Republik Indonesia, itu hal dan tuntutan yang wajar. Selama ini kita semua tahu bahwa sebagai daerah penghasil bijih logam dan kekayaan hutan andalan Indonesia, Papua -yang dulu bernama Irian Jaya- hanya dijadikan layaknya seekor sapi perah bagi pemerintah pusat (Jakarta). Kesejahteraan masyarakat Papua tak begitu diperhatikan, sementara itu kerusakan lingkungan akibat penambangan bijih logam dan hutan harus mereka tanggung dan rasakan setiap harinya.

Alih-alih memperbaiki kesalahan manajemen pemerintahannya sendiri, kini orang-orang di pusat -baik di pemerintahan maupun di parlemen- ribut dan kebakaran jenggot dengan pemberian visa tinggal sementara kepada 42 warga Papua yang mencari suaka. Saya kira wajar kalau mereka mencari suaka ke Australia, mungkin saja keselamatan jiwa mereka benar-benar tengah terancam oleh tingkah laku yang "zalim" dari aparat keamanan kita.

Apa untungnya lebih meributkan soal tingkah polah Australia? Jika memang tidak suka, ya ambil saja langkah tegas: putuskan hubungan diplomatik misalnya. Sebagai negara yang waras, tentu saja mereka juga cukup "ngiler" dengan kayanya sumberdaya alam di Papua. Kalau Papua bisa merdeka, tentu itu keuntungan tersendiri buat mereka, sama seperti kasus lepasnya Timor Leste dari Indonesia.

Pekerjaan rumah pemerintah kita sudah jelas, membuat rakyat Papua merasa seperti di rumahnya sendiri. Memberikan apa yang menjadi hak mereka dan jangan merampas semua yang ada hanya untuk kepentingan Jakarta atau Jawa. Jadi, daripada menguras energi dengan mengambinghitamkan Australia atas kesalahan manajemen sendiri, lebih baik perbaikilah diri kita sendiri.

Atau, jangan-jangan kita memang lebih suka ribut-ribut daripada kerja serius?

Read Full Post »

Rangkuman: Siapa yang salah?

Terimakasih untuk kawan-kawan yang sudah memberikan komentar dan tanggapan pada postingan saya sebelumnya "Siapa yang salah?". Cukup menarik ternyata. Secara garis besar ada 3 pendapat yang berbeda tentang siapa yang bersalah yaitu: (1) si pemerkosa, (2) perempuan yang berpakaian tak seronok, dan (3) dua-duanya salah. Adapun tolok ukur dan sudut pandang yang digunakan dalam menilai salah tidaknya didasarkan kepada beberapa hal yaitu: (1) agama, (2) budaya, (3) psikologi/kelainan jiwa.

Dari sudut pandang agama, Aji menilai bahwa manusia perlu untuk menjaga kemaluannya. Artinya bahwa pemerkosaan tak akan terjadi jika laki-laki mampu menjaga kemaluannya. Demikian juga dengan si wanita, jika ia mampu menjaga kemaluannya maka kemungkinan besar ia tidak akan mau menggunakan pakaian yang terlihat menggoda atau terlalu sensual dengan memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang membangkitkan hasrat dan selera kelelakian -untuk menggantikan kata tak seronok- apapun alasannya (baik karena alasan supaya terlihat cantik/seksi, mengikuti mode, tidak ingin ribet, dll.). Tentu saja ini adalah suatu kondisi yang sangat ideal, apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini.

Sa menganjurkan untuk penyelidikan lebih mendalam mengenai korelasi antara baju tak seronok dan timbulnya gairah laki-laki untuk memperkosa. Bisa jadi si laki-laki memperkosa bukan karena baju wanita yang tidak seronok tetapi lebih karena si lelaki itu mabok atau habis menonton film porno seperti kasus yang terjadi di Jawa Timur (Kompas, 27 Februari 2004). Sementara itu, Doeljoni -yang berpendapat bahwa kedua pihak sama-sama salah- mengatakan bahwa seharusnya orang-orang tersebut bisa lebih dewasa dan bijak. Harus bisa menempatkan hak dan kewajiban asasi secara seimbang. Amellie -yang tidak tahu siapa yang seharusnya disalahkan- memaklumi bahwa memang laki-laki itu birahinya tinggi. Benarkah demikian?

Di lain pihak, Ni Londo menilai -berdasarkan data statistik yang ada- bahwa kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual justru banyak terjadi di negara yang wanita-wanitanya berpakaian cukup atau sangat rapat. Sementara itu, di negara-negara yang wanitanya diberikan kebebasan berbusana, kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual malah sangat sedikit. Dia juga berpendapat bahwa pria pemerkosa adalah orang-orang yang menderita penyakit kejiwaan, yang menikmati seks jika mampu mendominasi wanita, yaitu melakukan tindakan dengan cara paksa, sadis dan brutal. Artinya, meningkatnya jumlah kasus pemerkosaan -ditinjau dari sisi ini- mengindikasikan meningkatnya jumlah laki-laki penderita penyakit kejiwaan. Satu hal yang cukup menarik dari pendapat Ni Londo adalah mengenai dibuatnya RUU APP yang menurutnya sangat menghina laki-laki Indonesia karena dianggap berpotensi menjadi pemerkosa.

Rahma, dengan semangatnya yang berapi-api (karena katanya sedang emosi, sama seperti Ni Londo) menilai bahwa di sebagian negara masih berlaku budaya yang selalu menjadikan wanita sebagai kambing hitam atau pihak yang bersalah. Dan itu sepertinya memang merupakan salah satu isu yang cukup hangat dalam diskusi pro dan kontra RUU APP, sehingga dalam draft pasal-pasal yang ada, negara perlu untuk mengatur pakaian para wanita supaya tidak membuat laki-laki Indonesia terangsang hasrat dan gairahnya. Satu hal yang dia tekankan adalah bahwa bentuk busana tidak mencerminkan moral. Artinya, dengan mengharuskan wanita berbusana serba tertutup belum tentu akan menjadikan moral laki-laki menjadi baik.

Mungkin rangkumannya masih belum lengkap menurut anda? silahkan tambahkan!

Read Full Post »

Siapa yang salah?

Beberapa hari yang lalu seorang kawan yang anaknya tengah duduk di bangku SMA di Hamburg bercerita tentang materi pelajaran anaknya di sekolah. Pada sebuah jam pelajaran, kelas anaknya tersebut diberi sebuah materi diskusi untuk membahas masalah wanita yang berpakaian tak seronok yang diperkosa. Ada sebuah pertanyaan yang harus didiskusikan pada kasus ini yaitu: “siapa yang bersalah dalam kasus ini? apakah lelaki yang memperkosa ataukah wanita yang berpakaian tak seronok itu?

Menurut kawan saya itu, seluruh teman anaknya menyatakan bahwa lelaki pemerkosa itulah yang bersalah, dan anaknya adalah satu-satunya murid di kelas itu yang berpendapat sebaliknya yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tak seronok itulah yang bersalah. Tentunya masing-masing punya alasan dan argumentasi dengan pendapatnya itu. Anak kawan saya itu berpendapat bahwa wanita itu patut disalahkan karena telah mengundang birahi si lelaki akibat pakaian yang dikenakannya. “Coba kalau dia berpakaian yang biasa-biasa saja, belum tentu si lelaki akan memperkosanya!” begitu pendapatnya. Sementara itu kawan-kawannya yang berpendapat bahwa lelaki pemerkosa itulah yang bersalah beranggapan bahwa berpakaian seperti apapun adalah hak asasi si wanita itu. Selama cara berpakaiannya tidak menyalahi aturan kesopanan yang berlaku di tempat itu atau selama ia masih menutupi daerah kemaluannya maka itu sah-sah saja. Masalah ingin tampil seksi, sebagian wanita memang menginginkan hal itu dimanapun ia berada. Bahkan sebagian besar desainer pakaian wanita pun menempatkan parameter keseksian pada urutan pertama dalam mendesain pakaian.

Mendengar cerita kawan saya itu, saya jadi ingat tentang diskusi pro dan kontra RUU APP. Seingat saya, alasan-alasan seperti yang diuraikan di atas termasuk yang mengemuka dalam diskusi-diskusi RUU APP itu. Asalkan jangan gara-gara menolak RUU APP lalu mengancam minta merdeka mungkin masih baik dan wajar-wajar saja. Kalau sudah mengancam sampai minta merdeka itu lho yang membuat geli, seperti anak-anak yang kalau tidak dibelikan permen atau mainan yang diinginkannya lalu mogok tidak mau makan atau menangis meraung-meraung sambil berguling-guling di tanah atau lantai.

Ada yang ingin ikut berpendapat dengan materi diskusi di atas? silahkan!

Read Full Post »

Sungguh suatu kebetulan yang sangat ajaib, Exxon terpilih sebagai operator blok Cepu 24 jam sebelum Menlu AS Condoleezza Rice datang berkunjung ke Indonesia (Republika, 15 Maret 2006). Sebelumnya, Dirut Pertamina juga harus diganti terlebih dahulu, padahal Dirut sebelumnya (Widya Purnama) pernah berkata, beberapa hari sebelum jabatannya dicopot, bahwa Pertamina mampu mengelola blok Cepu. Indonesia punya SDM yang cukup untuk itu, lembaga keuangan pun banyak yang sudah antri untuk memberikan kucuran modal (milis iagi-net).

Setelah keputusan yang menghebohkan ini, ramai-ramai para dedengkot Republik Indonesia kumpul-kumpul sambil makan sukun goreng untuk membahas terpilihnya Exxon (detik.com). Mbah Tardjo (dedengkotnya PDIP) bahkan mencak-mencak dengan keputusan pemerintah ini dan berkata: “Go to Hell Exxon!“.

Yah, apa boleh buat, Amerika memang hebat! Jadi jangan heran kalau para pejabat pengambil keputusan di negeri kaya sumberdaya alam bernama Indonesia rela untuk takluk dengan ikhlas dan senang hati di bawah ketiak mereka. Yang tidak mau ikutan takluk dan dibaui ketiak Amerika, ya hanya bisa misuh-misuh sambil makan sukun goreng. Dan Amerika -serta kroni dan para kulinya- mana mungkin mempan kalau hanya dilawan dengan sukun goreng dan misuh-misuh.

Nasionalisme memang seringkali hanya dijadikan sekedar slogan kosong belaka! Diperlukan saat kampanye dan dibuang sedikit jauh saat sudah habis masa kampanye. Didengungkan saat menghardik lawan dan dilupakan saat tengah berkawan. Diteriakkan saat tak berkuasa dan disimpan dalam usus besar -kemudian keluar sebagai kentut dan kotoran- saat tengah berkuasa.

Apa boleh buat, itulah sebabnya seorang Kwik Kian Gie harus mendengungkan lagi apa yang pernah diucapkan oleh Soekarno bertahun-tahun yang lalu (sumber: Jawa Pos):

Kita mempunyai hak sepenuhnya untuk menolak menjadi een natie van koelies en een koelie onder de naties (Bung Karno) atau bangsa yang terdiri atas kuli-kuli bagi sekelompok kecil elite global di negerinya sendiri dan bangsa yang menjadi kuli bagi bangsa-bangsa asing dalam percaturan dan interaksi antarbangsa.

Berjualan negara -dan sumberdaya alamnya- memang sangat menggiurkan keuntungannya dan tak perlu modal besar dan sukar. Cukup dengan 2 syarat saja: (1) tak punya malu dan (2) sudi membunuh nasionalisme dan patriotisme di dalam dada, itu sudah lebih dari cukup.

Read Full Post »

Photoblog: Mobil bersalju

Mobil Bersalju

Yang membuat salju menjadi begitu indah adalah warnanya yang putih. Dan salah satu yang membuat musim dingin begitu indah adalah saljunya.

Read Full Post »

Older Posts »