Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2006

Di detik.com hari ini saya membaca berita bahwa SBY akhirnya mengijinkan Lapindo untuk membuang lumpurnya ke laut. Saya yakin Lapindo “tersenyum gembira” dengan ijin yang diberikan itu, karena membuang lumpur ke laut adalah alternatif yang paling mudah dan murah buat mereka. Tapi kalau kita memandang dari sudut lingkungan, ijin yang diberikan SBY jelas mengenaskan dan memprihatinkan karena berpotensi merusak kualitas lingkungan pesisir dan laut.

Secara sepintas memasukkan lumpur ke laut memang tidak akan menimbulkan beda yang signifikan buat manusia, kecuali mungkin secara kasat mata akan terlihat adanya perubahan warna air yg menjadi keruh atau terjadinya sedimentasi. Tapi, dari sudut pandang penghuni laut (tinjauan ekosistem), jelas akan ada pengaruh yang bisa jadi sangat signifikan. Artinya kondisi lingkungan yang sekarang ada akan mengalami perubahan akibat masuknya lumpur tersebut. Hal ini akan dirasakan oleh para penghuni lautan. Sudah pasti tidak mudah bagi para penghuni lautan itu untuk bisa langsung beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Lebih dari itu, proses untuk kembali kepada kondisi “setimbang” atau kondisi baru yang dapat ditolerir oleh para penghuni laut, dari saat ketika lingkungan mengalami kerusakan akibat masuknya lumpur itu, akan memakan waktu yang mungkin saja sangat lama jika ditinjau dari sudut pandang para penghuni laut yang sensitif pada perubahan lingkungan yang drastis.

Dampaknya ke manusia, sebagai predator di level akhir dari rantai makanan yang ada di laut, jelas tidak terlalu signifikan. Mungkin saja dampaknya akan cukup signifikan untuk beberapa kalangan yang mata pencahariannya bergantung pada ekosistem pantai dan laut seperti para nelayan atau petambak. Apalagi jika ternyata di dalam lumpur tersebut ada kandungan bahan yang mungkin beracun dan berbahaya jika terakumulasi di badan air atau di dalam tubuh makhluk hidup penghuni laut. Kalau sudah begini, bisa jadi manusia sebagai predator tingkat akhir pun akan ikut merasakannya akibat melahap makanan laut yang diperoleh dari lokasi yang tidak jauh dari tempat pembuangan lumpur.

Tapi memang, dari sudut pandang manusia, manusia jelas jauh lebih “berarti” dan “berharga” daripada binatang. Rusaknya ekosistem binatang lebih bisa “diterima” daripada “ekosistem” manusia yang rusak. Menenggelamkan desa jelas tidak manusiawi, dan alternatif menggelontorkan lumpur itu ke laut jelas lebih “baik” buat manusia dan dari sudut pandang manusia. Dari sisi ekonomi jelas “lebih murah”, dari sisi teknologi pun “sangat mudah”. Tapi, masa sih di dunia ini tidak ada satupun teknologi yang bisa menyumbat lumpur yang keluar akibat kecerobohan manusia yang bekerja di industri pengeboran minyak? Padahal manusia kan sudah cukup lama berkecimpung di bidang ngebor-mengebor.

Ah, mungkin mereka masih harus berkonsultasi dan berguru dulu sama Inul si Ratu Ngebor!

Iklan

Read Full Post »

Rahma menggugat dalam blognya: “kenapa cewek Islam gak boleh nikah sama cowok non Islam?”, “kenapa agama sepertinya malah menciptakan diskriminasi?”. Dan masih banyak gugatan lain yang bisa dibaca di blognya yang memprotes “ketidakadilan” yang tercipta atas nama agama.

Buat saya pribadi, agama itu hampir sama dengan ideologi pada sebuah negara. Agama adalah sebuah pilihan hidup dan bukan sekedar takdir. Ketika kita sudah dewasa dan mampu memilih, kita bebas memilih agama apa yang kita mau, bahkan tak beragama pun boleh, karena memang tidak ada paksaan dalam beragama. Hanya saja kita harus siap dengan konsekuensi yang kita pilih itu, terutama pada kehidupan setelah mati kelak (itu juga kalau kita percaya akan ada kehidupan setelah mati).

Di negara Indonesia yang berideologi Pancasila, kita pun boleh tidak berideologi Pancasila. Konsekuensinya jelas, di jaman ORBA dulu kita akan dicap anti Pancasila dan akan diciduk jadi tahanan politik oleh pemerintah yang berkuasa. Sebaliknya, di jaman reformasi seperti sekarang ini, jika kita memilih posisi sebagai anti reformasi dan anti demokrasi, maka orang atau pemerintah berkuasa pun punya “hak” untuk mencap kita sebagai anti reformasi, anti demokrasi, pendukung ORBA, pro status quo dan berjibun istilah lainnya. Dan semua itu adalah konsekuensi dari pilihan kita sendiri.

Sekarang ini, saya pun bisa mencap bahwa banyak orang/birokrat di Indonesia yang anti UUD’45 dan anti Pancasila. UUD’45 jelas mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar, tapi nyatanya banyak dari mereka yang masih keleleran, hidup menderita, dan tidak pernah dipelihara negara. Banyak orang/birokrat di Indonesia yang korup, padahal jelas-jelas korupsi itu tidak sesuai dengan Pancasila, kecuali di Pancasila ada sila yang berbunyi “Korupsi bagi seluruh Rakyat Indonesia”.

Kembali ke soal agama, kalau kita sudah memilih misalnya Islam sebagai agama kita, seharusnya kan kita patuh sama kitab sucinya, yang kalau dianalogikan dengan urusan negara di Indonesia, ya samalah dengan UUD’45. Artinya, kalau di dalam Al-Quran jelas-jelas tertulis “dilarang makan babi”, apapun alasannya ya mari kita jangan makan babi, karena jelas-jelas dilarang, meskipun misalnya babi itu aman dikonsumsi dan enak rasanya. Begitu juga kalau perempuan Islam dilarang nikah sama laki-laki bukan Islam, atau laki-laki Islam dilarang nikah sama perempuan musyrik (golongan orang-orang yang menyekutukan Allah), meskipun cintanya sudah setengah mati. Artinya lagi, kalau kita masih belum bisa mematuhi perintah-perintah yang ada dalam kitab suci, kita bisa menilai sendiri kadar keyakinan kita. Samalah seperti di Indonesia yang katanya rakyatnya Pancasilais, tapi masih banyak kesewenang-wenangan dan penyimpangan. Kita pun bisa menilai sendiri sejauh mana ke-Pancasilais-an kita yang hidup di Indonesia.

Kitab suci, dalam pandangan saya, tidak ubahnya seperti buku “Fortran User Guide” ketika dulu pertama kali saya belajar bahasa Fortran. Isinya jelas petunjuk-petunjuk supaya saya bisa menerapkannya dalam keseharian saya membuat program. User guide bahasa Fortran dalam beberapa hal jelas ada perbedaan dengan bahasa C atau Pascal misalnya, baik yang bersifat prinsipil maupun yang tidak. Kalau kita nekad menulis program dalam bahasa Fortran berdasarkan user guide bahasa Pascal, jelas tidak akan jalan, karena di Fortran tidak ada “begin” seperti di Pascal untuk memulai program. Begitupun sebaliknya.

Namun demikian, berbeda dalam bahasa pemrograman bukan berarti para programmer menjadi saling berantem, cakar-cakaran, dan merasa paling baik dan hebat sendiri. Kalaupun ada programmer yang seperti itu, jelas dia anomali dan mungkin punya penyakit jiwa kronis atau akut. Artinya, sebenarnya bukan agama yang membuat orang jadi berantem, bunuh-bunuhan, diskriminatif, dan lain-lain. Manusialah yang berbuat seperti itu, berdasarkan nafsu dengan dalih agama. Artinya lagi, janganlah dengan adanya fenomena seperti itu, kita jadi benci pada suatu agama dan menyalahkan agama itu. Toh agama bukan sesuatu yang berbentuk, sama seperti ilmu pengetahuan.

Ah, saya koq jadi ngelantur kemana-mana gini… sorry atuh!

Read Full Post »

Sudah lewat seminggu, agak basi dikit, tapi sayang untuk dilewatkan. Maunya langsung bikin laporan pandangan mata hari itu juga tentang acara tujuh belasan di KJRI Hamburg, sayangnya lagi banyak kerjaan dan kurang punya mood ngeblog. Kata pepatah: “tidak ada kata terlambat untuk posting acara tujuh belasan”.

Acara upacara bendera tujuh belasan kali ini saya kedapetan tugas jadi petugas upacara bagian baca doa. Kebetulan orang yang biasanya bertugas baca doa lagi berhalangan, jadi seperti kata peribahasa: “tidak ada akar rotan pun jadi…” eh kebalik! Waktu pertama kali diminta jadi petugas upacara, sempat gak mau juga. Masalahnya sederhana: “saya gak punya setelan jas!”. Tapi kata si ibu konsul yang nawarin tugas: “boleh pakai batik koq!” Dan saya bilang lagi: “Saya juga gak punya batik!”. Maklum, saya ini masuk golongan orang yang gak suka pakai jas, juga batik. Perasaan, kalau pakai jas atau batik, kelihatan “kasep” euy…! (kasepak kuda meureun nyak?).

Akhirnya, karena saya orang yang paling gak bisa nolak, apalagi kalau yang minta tolong ibu-ibu, jadi saya iya-in aja deh. Kebetulan istri pulang ke Indonesia bulan Juli (Juni atau Juli ya? lupa euy!), jadi aja titip dibeliin batik sama kopiah, juga celana panjang yang klop sama si batik. Khusus cuman buat upacara tujuh belasan. Ah ternyata saya masih cinta Indonesia, buktinya masih mau ikutan upacara tujuh belasan, jadi petugas upacara lagi.

Ternyata pas upacara, semua petugas pakai jas, cuman saya aja yang anomali, pakai batik sendirian. Simpatik deh: simpanse pakai batik! hahaha… kacau deh! Tapi dasar saya, EGP aja! cuek bebek, meski banyak juga yang kayaknya ngelihatin. Positif thinking aja: kali mereka ngelihatin saya karena terpesona soalnya kasep pakai batik baru! hahaha… Alhamdulillah tugas dapat dilaksanakan dengan lancar, dan mudah2an doa yang saya bacakan dikabulkan Allah. Secara prinsip isi doanya sederhana aja: “semoga rakyat Indonesia bisa makmur, rukun, damai, sejahtera semuanya!”.

Eh iya, ada yang lupa, sepertinya peci yang saya pakai agak kegedean deh. Nomor 11, buatan Mang Iming! Kaya peci yang dipakai kalau foto pakai pakaian tradisional Belanda deh! Eh tapi, peci saya beda sendiri lho! Paling bagus deh kayaknya se-Hamburg! Ah, jangan-jangan Pak Konjen iri ya ngelihat peci saya… hahaha…

Habis upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Pak Konjen, ada acara ramah-tamah dengan peserta upacara. Biasalah, salam-salaman sambil ngobrol. Cuman karena saya paling nggak demen ngobrol, ya cuman ikutan salam-salaman aja sambil pasang senyum kemerdekaan.

Sehabis salam-salaman dan ngobrol ngalor-ngidul, ada pembagian piala dan hadiah untuk para pemenang lomba tujuh belasan, dibagikan langsung oleh Pak Konjen. Di sela-sela pembagian piala dan hadiah, ada juga pembagian rokok Gudang Garam Signature. Cuman tahun ini KJRI agak ngirit (atau pelit ya?) kasih rokoknya, masa isinya cuman 2 batang. Padahal tahun lalu masih ngasih yang isi 10 batang! Saya iseng-iseng ikutan minta, seperti juga tahun lalu. Dan seperti biasa, tujuh belasan ikutan merdeka ngerokok juga, meskipun malemnya jadi batuk-batuk. Jadi bersyukur juga, untung isinya cuman 2 batang, coba kalau 10 batang bisa batuk-batuk sampe botak deh!

Habis acara bagi-bagi, acara selanjutnya makan-makan! Seperti kata pepatah: “ngumpul ora ngumpul, sing penting mangan!”. Menunya: perkedel kentang, ayam dibumbu kecap, sayur buncis, kerupuk, dan sambal. Kata saya rasanya kurang enak, enakan yang tahun lalu! Tapi, namanya juga makan-makan, enak gak enak, ya makan aja! Toh, kalau lagi merdeka dan ngerasa laper, apa sih yang gak enak?

Sambil makan-makan, mulai ada acara hiburan. Awal acara hiburan berjalan agak kurang lancar, maklum MC-nya kurang bisa berimprovisasi. Acara hiburang dibuka dengan paduan suara ibu-ibu Dharmawanita dengan lagu-lagu perjuangan. Selanjutnya, MC memanggil pengisi acara berikutnya: gamelan anak-anak. Sayangnya si MC kurang berkoordinasi dengan pengisi acara. Acara hiburan dibuka terlalu dini, sementara gamelan anak-anak sudah dijadwalin manggungnya pukul 14:00. Jadi pas MC manggil anak-anak pengisi acara, ya mereka masih dandan, wong masih belum jam 14:00. Untung saja ada pengisi acara lain…

Akhirnya, anak-anak siap untuk tampil, sayangnya para pendukung bagian perlengkapan kurang “cerdas”. Biasanya para nayaga itu duduk pakai bantal, nah ternyata bantalnya belum ditaruh di tempat gamelan. Habis itu, lembaran not juga belum dipasang di tempat not di depan gamelan. Jadi pas anak-anak mau keluar, baru dibagikan. Padahal not itu sudah siap dari tadi. Habis itu, sound juga kurang siap. Harusnya sound untuk sinden dan kendang sudah ada di situ, karena pasti suara kendang dan sinden tidak akan mampu menandingi suara gamelan yang lain.

Alhamdulillah, meskipun ada sedikit kekurangsigapan dari para pengatur acara, penampilan anak-anak yang berlatih setiap minggu selama 3 bulan berlangsung sukses. Empat lagu dan satu tarian berhasil mereka bawakan dengan sangat baik. Sayangnya, pas acara gamelan ada beberapa ibu-ibu dipojok asyik gogorowokan dengan ketawa yang cekikikan kaya kuntilanak, mengganggu pisan! Padahal kalau mereka mau gogorowokan, mendingan nongkrong di dapur aja, jadi gak mengganggu penonton yang lain. Ah, namanya juga merdeka! suka-suka atuh!

Habis acara gamelan anak-anak, acara dilanjutkan dengan penampilan beberapa waria. Menurut saya, bukannya anti waria lho!, acara yang mereka tampilkan kurang pada tempatnya. Banyak penampilan mereka yang terlalu vulgar dan menonjolkan goyangan dan pakaian yang “semi porno”, padahal banyak penonton yang masih anak-anak di bawah 3 atau 5 tahun. Sedikit himbauan untuk pihak KJRI, mudah-mudahan ada yang baca, sepertinya mereka perlu diberi batasan-batasan ketika tampil mengisi acara yang juga ditonton oleh anak-anak. Jangan terlalu vulgar dan erotis!

Acara lainnya, tarian tradisional oleh penari-penari Indonesia dari Goettingen, poco-poco oleh anak-anak Jerman, dan band ABG. Semuanya seru pisan! terutama pas bagian band ABG! Maklum, ABG Indonesia di Hamburg cukup banyak, dan keren-keren. Apalagi, lagu-lagu yang dinyanyiin juga lagu-lagu dari grup musik Indonesia seperti Coklat, Peterpan, KLa Project (eh KLa mah bukan ABG lagi ya?), dll. Sorry, saya gak tahu banyak, maklum bukan anak gaul!

Merdeka deh!

Read Full Post »

Jauh di mata, dekat di hati. Begitulah kira-kira perasaan sebagian besar perantau Indonesia di luar negeri akan tanah airnya. Bahkan ada pepatah ekstrim yang menyatakan bahwa lebih enak hujan batu di negeri sendiri daripada hujan uang di negeri orang, yang mengindikasikan bahwa sejelek-jeleknya tanah air sendiri, rasa cinta di dada tak akan bisa luntur, meskipun sudah hidup mapan di negeri orang. Itulah sebabnya acara-acara khusus seperti pengajian, halal bihalal saat lebaran, perayaan hari kemerdekaan, dan lain-lain masih menjadi sesuatu yang selalu antusias diikuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Maka dari itu jangan heran jika tempat-tempat seperti kedutaan besar atau konsulat jenderal bagi sebagian besar perantauan di luar negeri memiliki arti dan fungsi yang strategis dan memiliki daya tarik yang besar untuk selalu dikunjungi di acara-acara khusus tersebut. Dan itu juga berlaku untuk Konsulat Jenderal RI di Hamburg yang alhamdulillah hingga saat ini masih bebas dimasuki tanpa perlu ada birokrasi yang ketat dan bertele-tele.

Mungkin itu juga salah satu kekhasan kantor perwakilan Indonesia di luar negeri. Saya ingat, ketika di tahun 1998 saya mengikuti pelatihan di Badan Meteorologi Oslo, Norwegia, KBRI di Oslo juga sering dikunjungi oleh orang Indonesia yang menetap di sana. Dan yang saya masih ingat, ketika saya pertama kali melapor ke sana di awal kedatangan saya, saya diajak ke dapur di lantai dasar dan disuguhi masakan Indomie rebus yang panas dan sedap. Sambutan khas Indonesia…

Baiklah, kembali ke topik awal, menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-61 seperti biasa KJRI Hamburg akan mengadakan open house seusai upacara bendera. Biasanya acara ini diadakan di halaman belakang yang cukup luas. Diawali dengan tradisi khas Indonesia yaitu makan-makan –yang menunya tentu saja masakan khas indonesia yang bikin lidah bergoyang dan keringatan kalau rasanya pedas– acara juga akan dimeriahkan dengan lantunan lagu berirama pop maupun dangdut yang dinyanyikan oleh warga negara Indonesia yang memang punya hobi dan kemampuan menyanyi.

Pada peringatan tahun ini, selain lantunan lagu pop dan dangdut, rencananya akan ada juga pertunjukkan gamelan dan tarian dari anak-anak. Kebetulan KJRI memiliki seniman Jawa yang saya kira cukup kesohor di belantara Eropa yang bernama Pak Maharsi, yang melatih orang-orang Indonesia yang tinggal di Hamburg bermain gamelan dan menarikan tarian-tarian tradisional Jawa. Dan jangan heran, jika sebagian dari mereka yang sudah cukup lama berlatih dan saat ini sangat trampil bermain gamelan bukanlah orang Jawa tetapi orang Ambon, Batak, dan Manado. Kebetulan perangkat gamelan yang ada di KJRI Hamburg cukup lengkap, dan kebetulan juga Pak Maharsi adalah seniman Jawa yang serba bisa. Hampir semua jenis gamelan beliau kuasai, juga tarian dan bermain wayang kulit.

Dalam rangka mempersiapkan kelompok nayaga anak-anak untuk mengisi acara 17-an tersebut, diadakan latihan yang awalnya dilaksanakan setiap hari Jumat pukul 16:00 (silahkan baca postingan sebelumnya: “Latihan gamelan”). Sebulan mendekati perayaan, latihan diintesifkan menjadi seminggu 2 kali, Rabu dan Jumat mulai pukul 16:00. Rencananya anak-anak akan membawakan 3 lagu dan 1 tarian. Di latihan terakhir Rabu lalu, penampilan para nayaga cilik sudah cukup bagus. Klenengannya sudah enak didengar dan menghadirkan aplaus dari orang tua yang mengantar mereka latihan. Tinggal tariannya saja yang masih perlu beberapa kali latihan lagi, karena memang pada awalnya tidak ada. Jumat ini kebetulan tidak ada latihan karena KJRI punya acara khusus di Wisma KJRI, dan Pak Maharsi yang melatih anak-anak harus ikut hadir di acara khusus tersebut. Rencananya, tinggal ada 2 hari latihan lagi, Senin dan Rabu minggu depan. Hari Rabu juga rencananya akan digunakan sebagai gladi resik untuk beberapa pengisi acara yang lainnya.

Oh iya, selain latihan gamelan yang diadakan di ruang aula KJRI, di lantai dasar (bawah tanah) juga ada latihan band ABG. Rencananya para ABG ini juga akan mengisi acara 17-an tersebut, mungkin dengan lagu-lagu cinta atau musik hingar bingar khas anak muda. Sepertinya peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-61 ini akan berlangsung cukup meriah meskipun jatuhnya bukan di hari libur dan kebetulqan bersamaan dengan hari pertama anak-anak masuk sekolah.

Buat yang penasaran, nantikan saja liputannya nanti ya?

**keterangan gambar:
gambar kiri atas: halaman belakang KJRI Hamburg.
gambar tengah kanan: anak-anak latihan gamelan

Read Full Post »

Wawancara menarik

Coba klik link ini, ada wawancara yang sangat menarik tentang perang Israel-Hisbullah. Cermati bagaimana media massa, melalui penyiarnya, mencoba memanipulasi kita dengan pertanyaan-pertanyaan “bodoh” pro Israel dan Amerika. Untungnya George Galloway, nara sumber yang diwawancarai, adalah orang yang sangat kritis dan malah mendebat pertanyaan-pertanyaan “bodoh” pro Israel yang disodorkan oleh pewawancara!

Saya sendiri sependapat dengan Galloway, selama Israel masih terus menjajah dan belum bisa “ditendang” jauh-jauh dari bumi Palestina dan Libanon Selatan yang dicaploknya, selama itu pula perang dan konflik di Timur Tengah akan terus berlanjut. Ibarat pejuang Indonesia di jaman penjajahan Belanda, maka rakyat Palestina dan pejuang Hisbullah pun punya hak dan kewajiban untuk terus bergerilya dan berteriak lantang: “merdeka atau mati!”.

Read Full Post »

Walaupun sedang tinggal jauh di negeri orang, hari kemerdekaan negeri sendiri tetap harus dirayakan semeriah mungkin. Maka dari itu, KJRI Hamburg tidak pernah lupa untuk memfasilitasi masyarakat Indonesia yang tinggal di Hamburg untuk selalu memeriahkan hari-hari menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus dengan perlombaan-perlombaan khas 17-an. Ada balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, memasukkan pinsil ke botol, membawa bola pingpong di sendok, catur, gaple, play station, badminton, bola voli, tenis meja, dan futsal.

Supaya lomba-lomba yang diadakan oleh KJRI itu bisa diikuti oleh masyarakat Indonesia yang ada di Hamburg, maka penyelenggaraannya dipilih pada hari Minggu. Non-stop dari pagi sampai sore hari. Lomba badminton, bola voli, tenis meja, dan futsal diadakan pada hari Minggu, 23 Juli 2006 di Alsterdorf Sporthalle, sedangkan lomba tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, memasukkan pinsil ke botol, membawa bola pingpong di sendok, catur, gaple, dan playstation diadakan pada hari Minggu 30 Juli 2006 di KJRI Hamburg.

Lomba-lomba sudah pasti berjalan seru, maklum acara ini kan cuman berlangsung satu tahun sekali, sayang juga kan kalau dilewatkan begitu saja? Nah saking antusiasnya masyarakat ikutan lomba, satu orang bisa sampai ikutan semua lomba, padahal supaya menghemat waktu, panitia maunya acara lomba bisa berlangsung paralel. Makanya kadangkala ada saja kejadian yang kocak. Orang yang harusnya bertanding tenis meja, ketika dipanggil eh ternyata masih main badminton. Ada juga tim yang dibentuk secara mendadak, seperti pada pertandingan bola voli dan futsal. Dan yang lebih lucu lagi, ada satu orang yang menjadi anggota dari tim yang berbeda, dan sialnya lagi kedua tim yang diperkuatnya itu masuk ke babak berikutnya dan harus saling bertemu. Akibatnya, kedua tim tersebut harus memperebutkan orang itu, dan tim yang akhirnya tidak mendapatkan orang itu harus sibuk merekrut anggota baru. Kalau sudah begini, panitia hanya bisa ketawa ngakak…

Anak-anak termasuk yang antusias mengikuti lomba-lomba tradisional seperti tarik tambang, makan kerupuk, balap karung, memasukkan pinsil ke botol, dan membawa bola pingpong di sendok. Sama seperti pada kasus pertandingan olahraga, semua anak pun ingin bisa ikut dalam semua pertandingan yang ada. Nggak perlu jadi juara, yang penting seneng dan meriah! Apalagi kebetulan cuaca di Hamburg juga lagi cerah. Dan yang lebih seru lagi, cewek dan cowok saling bersaing dalam lomba yang sama. Kesetaraan gender pokoknya lah! hehehe…

Ibu-ibu juga termasuk yang nggak rela melewatkan lomba tarik tambang, meskipun sehabis ikutan lomba itu badan jadi pegel-pegel dan terpaksa suami harus turun tangan mijetin malam harinya :).

Oh iya, menurut anak-anak yang ikut lomba, lomba makan kerupuk termasuk yang paling susah. Bukan karena kerupuknya digantung terlalu tinggi, juga bukan karena kerupuknya terlalu besar, tapi karena kerupuknya agak alot dan melempem. hahaha… Mungkin seharusnya panitia nyediainnya kerupuk Palembang yang renyah dan gurih.

Lomba 17-an memang selalu seru! Apalagi buat kita-kita yang tinggal di negeri orang.

Read Full Post »

Sudah lama saya tidak menyentuh blog saya ini karena sedang sibuk belajar mengaplikasikan OpenMP untuk mem-paralelisasi program Fortran saya. Iseng-iseng hari ini saya buka blog ini dan ketika membuka dashboard, saya melihat banyak pengunjung yang datang ke sini (setelah diarahkan oleh mesin pencari) dan membuka artikel saya yang berjudul “Awan aneh dan gempa”.

Di artikel tersebut sebenarnya saya tidak pernah membahas tentang awan aneh atau “awan gempa” yang saat ini sedang membuat orang-orang di Jakarta, Bandung dan sekitarnya menjadi “parno”. Saya hanya menuliskan bahwa mungkin saja benar ada kaitan antara munculnya awan aneh yang terlihat di Bantul beberapa hari yang lalu dengan gempa yang hari ini terjadi berurutan di selatan Pulau Jawa, yang juga disertai tsunami di pantai selatan Jawa (Pangandaran, Cilacap, Kebumen dan Bantul).

Sejauh ini, kalau kita mencoba mencari tentang fenomena “awan dan gempa” di mesin pencari, informasi yang ada belumlah begitu meyakinkan. Memang ada sebuah “paper” yang ditulis oleh Zhonghao Shou yang berjudul “Earthquake clouds and short term prediction”, yang katanya dimuat di Science and Utopya No.64 Th.1999 dalam edisi Bahasa Turki. Disebutkan dalam paper itu bahwa pada saat akan terjadi gempa, gesekan antar batuan akan menghasilkan energi panas (heat) yang bisa jadi cukup besar dengan temperatur sekitar 300 s.d. 1500 derajat Celcius di sepanjang patahan. Temperatur yang panas ini akan mengakibatkan air tanah menguap dan “terlepas” ke udara dan dibawa naik oleh angin permukaan, bertemu dengan udara yang lebih dingin dan terjadilah kondensasi atau proses per-awan-an (sengaja ditulis seperti itu supaya tidak tertukar dengan kata “perawan”).

Proses per-awan-an ini katanya seperti kalau kita membuat sutra tiruan (artificial silk), maka dari itu salah satu bentuk atau ciri dari awan gempa ini katanya memanjang seperti rambut si gadis Sunsilk yang dikepang atau terurai tertiup kipas angin. Beberapa kemungkinan lain dari bentuk awan gempa katanya ada yang seperti garis, ada juga yang seperti ular yang meliuk-liuk panjang, ada yang seperti bulu, ada juga yang seperti sinar lentera. Bentuk yang berbeda-beda ini katanya ditentukan oleh distribusi sumber uap air dan hembusan angin permukaan. Katanya lagi, awan gempa ini jika dibandingkan dengan awan cuaca bedanya sangat jelas. (Saya pakai kata “katanya” di sini karena memang belum pernah melihatnya sendiri).

Sekarang, untuk sementara, mari kita lupakan terlebih dahulu tentang bentuk awan gempa ini. Ada hal lain yang lebih menarik yang perlu dibahas terlebih dahulu sebelum kita membahas bentuk awan gempa ini. Seperti telah disebutkan di atas, awan gempa ini terjadi karena adanya uap air yang lepas dari batuan akibat adanya energi panas yang dihasilkan oleh gesekan antar batuan pada daerah pertemuan lempeng. Sayangnya hingga kini para ilmuwan yang sudah karatan berkecimpung dalam bidang gempa masih belum bisa mendeteksi jumlah energi panas tersebut sesuai dengan hasil perhitungan menggunakan hukum gesekan sederhana. Fenomena ini dikenal sebagai “Heat Flow Paradox”. Sejauh ini fenomena ini masih menjadi sebuah kontroversi dan belum terpecahkan. Seharusnya memang ada energi panas yang terbentuk ketika terjadi gesekan antar batuan/lempeng, tetapi entah kenapa sepertinya energi panas itu hilang secara misterius dan belum bisa dijelaskan sepenuhnya secara ilmiah.

Kalau kita mencoba mencari di mesin pencari tentang heat flow paradox ini, akan banyak kita temui artikel dan penelitian ilmiah yang mengulasnya dengan sangat lengkap. Jadi sebenarnya kalau kita berangkat dari fenomena heat flow paradox ini, apa yang dijelaskan oleh Shou tentang proses pembentukan awan gempa menjadi mentah kembali karena bagaimana mungkin akan terbentuk uap air dan awan gempa kalau energi panas yang menguapkan air tanah tidak ada?

Sampai di sini, sepertinya cerita tentang awan gempa menjadi semakin seru saja ya? Sebetulnya saya kepingin juga melanjutkan ceritanya, karena ada pendapat lain yang mendukung teori Shou tentang awan gempa ini. Tetapi, berhubung lagi banyak setoran kerjaan, bagaimana kalau dilanjutkan minggu depan saja kisah awan gempanya?

Read Full Post »