Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2006

Maha Penyiksa

Selama 3 tahun aktif mengikuti ceramah Ramadan di aula KJRI Hamburg, saya menemukan ada seorang jemaah yang selalu menanyakan hal yang sama (pada setiap tahunnya) kepada penceramah yang berbeda. Pertanyaannya mengenai salah satu dari asmaul husna (nama-nama Allah yang baik dan agung) yaitu: “Allah yang Maha Penyiksa” atau “The Avenger” (Al Muntaqim). Saya sendiri tidak tahu kenapa dia selalu menanyakan hal yang sama setiap tahunnya, bisa jadi karena ada kebimbangan di hatinya, bisa jadi juga dia masih belum mendapatkan jawaban yang pas dari para ustadz yang ditanyainya. Dan Sabtu malam, tanggal 21 Oktober 2006 kembali dia menanyakan pertanyaan yang sama kepada penceramah malam itu Prof. Dr. Hamdani Anwar.

Hanya saja, kalau dilihat dari pertanyaannya, sepertinya dia membuat sebuah analogi yang kurang tepat. Dia menganggap sifat Maha Penyiksa akan “merusak” citra Allah, karena jika dianalogikan dengan manusia (pemimpin) yang bersifat pengasih, penyayang, adil, pemaaf, dan lain-lain, maka sifat penyiksa akan memberikan citra yang negatif kepada manusia (pemimpin) itu.

Menurut Prof. Dr. Hamdani Anwar, dalam asmaul husna, ada beberapa nama Allah yang menurut sebagian manusia bisa jadi berkonotasi “negatif” seperti: Maha Penyiksa (Al Muntaqim), Maha Memaksa (Al Qahhaar), Maha Menyempitkan (Al Qaabidh), Maha Merendahkan (Al Khaafidh), dan Maha Menghinakan (Al Mudzil). Hanya saja, menurut beliau, Allah tidak akan menyiksa, memaksa, menyempitkan, merendahkan, dan menghinakan umatnya yang beriman dan bertakwa. Sifat-sifat Allah itu hanya akan diberlakukan kepada manusia yang ingkar, tak beriman, suka membuat kerusakan di muka bumi, dan segala macam perbuatan buruk lainnya. Lebih dari itu, sifat-sifat itu tidak sedikitpun akan “mencemari” atau “merusak” kebesaran-Nya, karena sebagai sang pencipta Dia memang berhak atas itu semua.

Selanjutnya beliau memberi beberapa contoh tentang sifat-sifat Allah itu, sayangnya saya lupa dengan contoh-contohnya, mungkin karena sudah mengantuk mengingat waktu yang sudah cukup malam saat itu. Saya kurang tahu apakah jemaah yang selalu bertanya tentang hal itu puas dengan jawaban pak ustadz atau akan kembali menanyakan hal yang sama di ceramah Ramadan tahun depan. Kita tunggu saja, mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk berpuasa Ramadan di Hamburg tahun 1428 Hijriah yang masih setahun lagi datangnya itu…

Iklan

Read Full Post »

Lucunya Din Syamsuddin

Membaca berita di detik.com hari ini tentang komentar Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin berkaitan dengan penetapan 1 Syawal oleh pemerintah, dimana pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, jadi geli juga saya, apalagi membaca bagian ini (berita lengkap di sini):

Beberapa negara di sebelah barat Indonesia seperti Arab Saudi, Mesir, dan Maroko hingga Eropa, lanjut Din, sudah melihat hilal sejak Minggu 22 Oktober, sehingga mayoritas umat Islam di sana menetapkan 1 Syawal pada 23 Oktober

Padahal, yang saya tahu, DIWAN (Deutsche islamwissenschaftliche Ausschuss der Neumonde atau Germans Islam-scientific committee of the new moon) mengirimkan surat setelah waktu Isya bahwa hilal tidak terlihat pada tanggal 22 Oktober 2006 di Jerman, sehingga puasa Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Juga dilaporkan oleh pengamat di Oxford, Inggris bahwa hilal tidak terlihat di sana (sumber: moonsighting.com). Juga ada laporan tentang tidak teramatinya hilal di beberapa wilayah Afrika dan Asia, dan Maroko yang memutuskan merayakan hari raya tanggal 24 Oktober 2006 yang dapat di baca di moonsighting.com. Dari hasil chatting dengan kawan di Mesir pun katanya pemerintah Mesir memutuskan 1 Syawal 1427 H jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006.

Artinya, klaim Din seperti yang ditulis di atas menurut saya tidak perlu dilakukan, apalagi kalau sampai (maaf) “asbun” dan tak akurat seperti itu (kalau kita coba bandingkan dengan fakta yang ada). Biarkan saja lah kalau ternyata pemerintah memutuskan bahwa 1 Syawal jatuh tanggal 24 Oktober -berbeda dengan fatwa OKI ataupun keputusan Muhammadiyah- berdasarkan hasil sidang isbat yang didasarkan tidak tampaknya hilal pada titik-titik pengamatan hilal di sekian banyak tempat di Indonesia pada tanggal 22 Oktober 2006. Memang beberapa negara di Eropa memutuskan untuk merayakan hari Idul Fitri tanggal 23 Oktober 2006, tetapi itu bukan karena mereka melihat hilal. Alasan utama yang saya tahu karena mereka mengikuti keputusan Arab Saudi, sama seperti ketika mereka memulai puasa Ramadan waktu itu.

Katanya puasa Ramadan dilakukan untuk menghasilkan orang yang bertakwa, lah kalau baru saja usai shalat Ied sudah bikin pernyataan yang macam-macam di media massa, tak akurat pula, apa nanti kata dunia? 🙂

Read Full Post »

God Spot

Pada tulisan sebelumnya saya telah mencoba menuliskan sebagian dari materi ceramah Ramadan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hamdani Anwar yang mengulas salah satu pendapat tentang makna dari kata ganti “Kami” untuk Allah dalam Al-Quran. Selanjutnya, pada bagian ini, saya mencoba untuk menuliskan bagian pertama dari 3 macam kecerdasan dalam Islam, yaitu kecerdasan spiritual.

Menurut beliau, kecerdasan spiritual berkaitan dengan keyakinan manusia akan hal-hal yang gaib, dimana puncak dari segala kegaiban adalah Allah. Artinya, dari sudut pandang Islam, kecerdasan spiritual akan mengacu kepada kadar keimanan seseorang.

Dalam diri manusia ada salah satu bagian dari otak, yang disebut God Spot, yang diyakininya merupakan bagian yang berperan dalam “mencerna” hal-hal yang bersifat gaib. Mengacu kepada literatur-literatur yang ada (silahkan cari sendiri di internet), ada 2 pendapat tentang God Spot ini, sebagian peneliti meyakini akan keberadaannya sementara sebagian lainnya meragukannya, dan Prof. Dr. Hamdani Anwar termasuk yang meyakini keberadannya.

Kecerdasan spiritual, sama halnya seperti kecerdasan emosional dan intelektual, adalah sesuatu yang bisa diasah, dan akan semakin baik kualitasnya jika kita mampu mengasahnya. Menurut Islam, pada saat masih berada di alam ruh, ruh manusia sudah berikrar mengakui akan keberadaan dan ke-esa-an Allah. Hanya saja, berpindah dari alam ruh ke alam nyata (dunia) menjadikan ruh manusia “lupa” untuk mengingat apa yang sudah dikrarkannya tersebut. Untuk itu, menurut beliau, ketika menyambut kelahiran bayi, orang tua dianjurkan untuk membisikan lantunan adzan ke telinga sang jabang bayi untuk mengingatkan kembali ruh yang ada di dalam tubuh bayi itu akan ikrarnya di alam ruh. Memang apa yang diuraikan beliau itu terlihat atau terdengar kompleks dan (mungkin) tak masuk akal, terutama buat mereka yang tidak menyakini akan hal-hal gaib seperti ini.

Tidak berhenti hanya sampai di situ saja, proses untuk mengasah kecerdasan spiritual harus terus dilakukan kepada bayi yang mulai tumbuh itu. Memberikan makanan yang baik dan halal, mengajarkannya mengucapkan doa ketika akan melakukan sesuatu, menciptakan atau menghadirkan suasana Islami di dalam kehidupannya sehari-hari, memperkenalkan kasih sayang Allah, dll. adalah contoh-contoh yang akan mengasah kecerdasan spiritual itu. Untuk itu, kecerdasan spiritual yang berkualitas akan didapatkan anak-anak yang mempunyai keluarga dan lingkungan yang baik dan berkualitas pula.

Nah, bagian-bagian yang bersifat spiritual yang dialami oleh si jabang bayi atau manusia selama masa pertumbuhan atau hidupnya itulah yang akan “ditangkap” oleh God Spot tadi dan menciptakan apa yang disebut dengan kecerdasan spiritual.

Mungkin akan banyak pertanyaan yang muncul dari uraian singkat ini, sama seperti pertanyaan yang diajukan oleh para jemaah pada malam itu ketika ceramah Ramadan diadakan. Hanya saja, berhubung saya bukan pakarnya dan kebetulan hanya sekedar menuliskan apa yang bisa saya interpretasikan dari materi ceramah beliau, maka mohon jangan bertanya lebih jauh lagi kepada saya kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih detail, karena saya pun tak tahu jawabannya 🙂

Baiklah, selamat Idul Fitri, semoga kita berhasil menjadi orang yang bertakwa setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin kalau dalam tulisan di blog saya selama ini banyak hal-hal yang kurang berkenan di hati anda…

Read Full Post »

Kami-nya Allah

Postingan ini adalah bagian dari ceramah Ramadan di aula KJRI Hamburg yang dibawakan oleh Prof. Dr. Hamdani Anwar, anggota staf pengajar Universitas Islam Negeri Jakarta.

Dalam ceramah Ramadan hari Sabtu, 21 Oktober 2006 kemarin beliau berbicara tentang 3 macam kecerdasan manusia menurut Islam, yaitu: kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual. Namun, sebelum memulai membahas masalah itu, beliau sedikit bercerita tentang istilah “Kami” dalam Al-Quran sebagai salah satu kata pengganti Allah. Penjelasan ini diperlukan karena dalam ayat yang dikutip oleh beliau yang menjelaskan tentang turunnya Al-Quran di malam kemuliaan (lailatul qodar), Allah menggunakan kata ganti “Kami”.

Dalam Al-Quran, menurut beliau, pengganti kata Allah ada 4 yaitu “Aku”, “Engkau”, “Dia”, dan “Kami”. Tiga yang pertama menunjukkan kata ganti tunggal, sementara kata ganti yang terakhir bermakna jamak. Menurut beliau, ada kalangan di luar Islam yang mencoba “mengritisi” kata “Kami” ini: “Katanya Islam agama tauhid (monotheis), lalu kenapa di dalam kitab suciNya Dia menyebut diriNya sebagai “Kami”? Artinya, tuhannya orang Islam itu banyak dong?”, begitulah kira-kira komentar mereka.

Menurut beliau, umat Islam sempat “kaget” akan pertanyaan ini, sehingga dicobalah untuk mencari jawabannya. Ada ahli bahasa yang mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa kata “Kami” digunakan untuk menyatakan kebesaran Allah. Jawaban ini dikemudian dikomentari lagi oleh mereka yang mengomentari penggunaan kata “Kami” dengan pertanyaan: “Kalau memang kata “Kami” digunakan untuk menyatakan kebesaran Allah, lalu kenapa tidak sekalian saja mengganti semua kata ganti untuk Allah dengan kata “Kami”?

Menurut beliau, penggunaan kata “Kami” dalam Al-Quran menunjukkan bahwa dalam peristiwa yang terjadi, ada pihak lain yang terlibat di dalamnya. Jadi kalau dalam ayat yang menjelaskan tentang turunnya Al-Quran Allah menyatakan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada malam kemuliaan”, maka hal ini menjelaskan bahwa pada saat menurunkan Al-Quran itu ada pihak lain yang ikut terlibat, dan dalam hal ini adalah malaikat Jibril yang bertugas sebagai penyampai wahyu-Nya kepada nabi Muhammad saw.

Contoh lain adalah surat Al-Anaam ayat 6 yang berbunyi:

“… dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka …”

Penggunaan kata “Kami” di sini menunjukkan bahwa hukum alam ikut terlibat di dalam terjadinya hujan dan mengalirnya sungai-sungai. Secara prinsip Allah lah yang mencurahkan hujan dan mengalirkan sungai-sungai itu, tetapi melalui sebuah proses yang dalam ilmu pengetahuan modern dikenal sebagai hidrologi atau hidrometeorologi.

Jadi sebenarnya menarik sekali kalau kita, umat Islam, bisa mengkaji Al-Quran dengan lebih mendalam lagi. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya.

Read Full Post »

Dosa itu “Relatif”?

Tahun 2006 Masehi atau 1427 Hijriah ini, awal puasa Ramadan di Hamburg ada 2 tanggal, sebagian memutuskan untuk memulai puasa Ramadan pada tanggal 23 September, mengikuti Saudi Arabia, dan sebagian lainnya memulainya pada tanggal 24 September, mengikuti keputusan resmi Dewan Hisab dan Rukyat yang ada di Jerman. Kita tahu, puasa Ramadan itu hukumnya wajib. Wajib sendiri artinya “harus dilakukan”, dan bagi yang tidak melakukan maka ia akan mendapat dosa. Artinya, kalau kita ikut puasa Ramadan tanggal 23 September 2006, maka mereka (yang beriman) yang tidak berpuasa pada hari itu jelas sudah “melanggar” kewajiban dan berarti telah “berdosa” karena meninggalkan apa yang telah diwajibkan. Namun “dosa” itu menjadi “relatif” karena mereka yang belum berpuasa pada tanggal 23 September tersebut mengikuti keputusan dewan resmi yang berwenang dalam memutuskan jatuhnya awal Ramadan, dimana telah diputuskan bahwa awal Ramadan jatuh pada tanggal 24 September 2006.

Lalu, menjelang Idul Fitri, berpuasa pada tanggal 1 Syawal juga diharamkan, artinya mereka yang melaksanakan puasa pada tanggal itu juga akan mendapatkan dosa karena sudah melanggar larangan. Ada 2 kemungkinan jatuhnya 1 Syawal di Jerman. Untuk mereka yang telah memulai puasa Ramadan pada tanggal 23 September 2006, alternatif jatuhnya 1 Syawal adalah tanggal 22 Oktober (jika bulan Ramadan berjumlah 29 hari) atau 23 Oktober (jika bulan Ramadan berjumlah 30 hari). Sedangkan untuk mereka yang memulai puasa Ramadan pada tanggal 24 September 2006, alternatif jatuhnya 1 Syawal adalah tanggal 23 Oktober (jika bulan Ramadan berjumlah 29 hari) atau 24 Oktober (jika bulan Ramadan berjumlah 30 hari).

Taruhlah bahwa ternyata pada tanggal 23 Oktober hilal (bulan baru) tidak terlihat di Jerman atau negara sekitarnya, seperti hasil hitungan yang saat ini diperoleh, dan diputuskan oleh dewan yang berwenang di Jerman agar kaum muslimin menggenapkan bilangan puasanya di bulan Ramadan menjadi 30 hari. Buat mereka yang memulai puasa Ramadan tanggal 24 September, jumlah hari Ramadan jelas akan 30 hari, artinya “no problem”. Tetapi, buat mereka yang memulainya tanggal 23 September, jumlah hari akan menjadi 31 hari. Artinya, mau tidak mau, 1 Syawal “harus” jatuh tanggal 23 Oktober 2006. Artinya lagi, mereka yang memulai puasa Ramadan pada tanggal 24 September akan berpuasa di hari yang diharamkan orang untuk berpuasa, ditinjau dari sudut pandang mereka yang telah mulai berpuasa pada tanggal 23 September.

Melihat kasus yang seperti ini, akan ada orang yang berpikiran dan berpendapat bahwa ternyata dosa itu bersifat “relatif”, bergantung kepada darimana kita meninjaunya dan bergantung juga kepada paham dan atau keyakinan yang kita pegang dan atau anut. Perbedaan pendapat tentang awal bulan baru dalam kalender Komariah, dalam menentukan awal Ramadan dan akhir Ramadan atau hari Idul Fitri (khususnya untuk mereka yang tinggal di negara yang sama) akan melahirkan suasana seperti yang saya gambarkan di atas.

Dari sudut pandang para ustadz yang saya tanya, mereka mengatakan bahwa hal itu tidak perlu diributkan karena memang ada perbedaan pendapat akan hal itu. “Semuanya benar! yang tidak benar adalah mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadan!”, begitu kira-kira jawabannya. “Semuanya benar! Jadi, tinggal pilih saja mana yang lebih kita yakini kebenarannya! Insya-Allah tidak akan berdosa” begitu kata para ustadz lebih lanjut.

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang pernah saya alami selama di tanah air dulu. Bukan kisah tentang awal Ramadan atau hari Idul Fitri, tetapi kisah tentang THR. Idul Fitri tanpa THR adalah “kurang afdol”, setidaknya begitu pendapat sebagian orang. Kebetulan boss di tempat kerja saya juga punya pendapat seperti itu. Akibatnya, pada saat membuat rencana anggaran belanja untuk daftar isian proyek tahun yang berjalan, alokasi dana untuk THR sudah diperhitungkan. Sayangnya, di lembaga pemerintah tidak mungkin untuk menuliskan atau mengajukan alokasi dana khusus untuk THR secara eksplisit. Artinya, harus ada trik untuk mengakalinya. Untuk itu, dibuatlah beberapa item atau kegiatan tertentu yang bersifat fiktif, dimana dana yang dialokasikan di item atau kegiatan fiktif itu akan digunakan untuk uang THR. Dari sudut pandang negara, jelas itu masuk kategori “korupsi” atau “penyalahgunaan” uang negara, tetapi dari sudut pandang boss saya jelas tidak seperti itu. Nah ini juga kasus “relativitas” dosa namanya, hanya saja (mungkin) berbeda dengan kasus yang sudah saya ceritakan sebelumnya mengenai awal Ramadan dan 1 Syawal.

Sebagi info tambahan, di lembaga pemerintah (setidaknya di tempat saya kerja), meskipun kita memegang sebuah proyek dengan jumlah anggaran milyaran atau bahkan trilyunan rupiah (maksudnya Daftar Isian Proyek atau bantuan luar negeri), tidak ada sedikitpun dari uang tersebut yang dialokasikan untuk gaji mereka yang terlibat dalam proyek dan berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Artinya, kalau gaji para PNS pelaksana proyek itu sangat kecil, maka cukup wajar jika akhirnya sering terjadi kebocoran uang proyek. Realitasnya, sangat jarang orang yang mampu dan kuat bertahan melawan godaan uang sebanyak itu. Lebih dari itu, tidak ada salahnya juga kan menghargai jerih payah diri sendiri dan teman seperjuangan, apalagi kalau ternyata negara tidak mampu melakukannya… hahaha…

Read Full Post »

Berita Gosip

Kalau tidak salah PBNU dalam waktu yang belum lama ini telah mengeluarkan fatwa haram untuk berita gosip alias infotainment, padahal di Indonesia tontonan ini memiliki penggemar yang cukup banyak. Bahkan, seingat saya, hampir semua stasiun TV punya berita gosip andalan masing-masing yang saling bersaing memperebutkan hati pemirsa dan juga para pengiklan. Dan biasanya orang yang sering sial kena bulan-bulanan gosip ya para artis dan keluarganya. Kadang berita gosipnya juga hal yang remeh-temeh seperti misalnya artis buka puasa makan singkong, artis punya pacar baru, artis bisulan (hahaha…), dll. Anehnya, meskipun beritanya remeh seperti itu, tetap saja banyak orang yang suka menontonnya.

Dulu, selama kerja di Jakarta, saya termasuk yang suka juga sama berita gosip ini. Saya ketularan suka dengan berita gosip karena di ruangan tempat saya kerja ada pesawat TV-nya (sebenarnya TV ini lebih banyak digunakan untuk pemutaran video hasil penelitian kalau sedang ada pameran). Nah kebetulan salah satu teman kerja saya, perempuan, dan kawan-kawannya, juga perempuan, di hari-hari tertentu selalu menyempatkan diri untuk nonton acara gosip ini. Karena keseringan ikut melihat, secara tidak sengaja, lama-lama akhirnya saya jadi ikutan ngefans juga deh sama acara ini. Seingat saya, awal-awal mulai sering melihat berita gosip ya waktu goyang ngebornya Inul sedang naik daun.

Selain berita gosip di TV, saya juga jadi suka baca berita gosip di tabloid. Ini juga karena teman saya yang perempuan yang suka nonton berita gosip itu juga suka berlangganan tabloid-tabloid yang ngegosipin artis-artis. Kalau tabloidnya sedang nganggur, iseng-iseng saya suka meminjam dan membacanya di jam istirahat. Dan yang awalnya iseng itu akhirnya jadi kesukaan, saya pun jadi rutin meminjam tabloidnya kalau dia sudah selesai membacanya. Kacau betul ya! Tapi untungnya, saya belum pernah nekat beli sendiri tabloid-tabloid seperti itu, artinya kesukaan saya pada berita gosip masih dalam level yang aman-aman saja, belum sampai kecanduan. hehehe…

Sejujurnya, menurut saya, membaca atau menonton berita gosip itu sebenernya memang lebih banyak tidak ada manfaatnya. Apa coba manfaatnya melihat artis diwawancarai waktu punya pacar baru, atau waktu buka puasa makan singkong, apalagi berita artis bisulan? Yang ada ya malah geli, “koq si artis gak malu gitu ya ngomong-ngomongin urusan pribadi di TV, ditonton sama banyak orang? Lha makan singkong aja koq pake ngomong-ngomong ya!”. hihihi…

Untungnya, sejak di Hamburg ini saya sudah jarang baca-baca berita gosip, kecuali satu dua, itu juga hanya dari detik.hot kalau judulnya agak-agak mengusik rasa penasaran. Tapi, sialnya, kebanyakan berita gosip judulnya justru memang bikin rasa penasaran, misalnya: “Model Gendut Berlenggang di Catwalk Gaultier”, lha kata “Gendut” nya itu kan jadi bikin penasaran ya? Ah! wartawan gosip harus bertanggung jawab kalau sudah begini!

Kembali ke soal PBNU yang mengharamkan acara infotainment, sepertinya cukup berasalan karena hampir 80% penduduk Indonesia (betul nggak ya?) beragama Islam, dan dalam Islam menggosip alias ghibah itu sangat tidak baik, sama seperti memakan daging saudaranya sendiri. Berikut adalah dalil-dalil yang menjelaskan tentang menggosip itu:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya”. (Al-Hujurat: 12)

“Tahukah kalian apakah ghibah itu ? “Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “Beliau bersabda: “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan: “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku? “Beliau menjawab : “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”. (Hadits Riwayat Muslim, 4/2001)

“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”. (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

“Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya”. (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami’. 6238)

Jadi, tobat ah saya nggak mau baca berita gosip lagi. Eh, tapi sebetulnya yang harusnya lebih bertanggung jawab akan adanya berita gosip dan penyebarannya ya media massa dan wartawan atau penyiarnya ya? Masa dapet uangnya dari ngegosipin orang? Iiih… serem deh!

Read Full Post »

Jam satu yang kritis

Sudah 17 hari berpuasa di bulan Ramadan, masih saja saya mengalami masa-masa “kritis” mendekati jam satu siang, jam waktunya makan siang. Ini belum pernah terjadi di puasa Ramadan sebelum-sebelumnya. Masalah “kritis” yang saya hadapi sederhana saja, ketika jam makan siang, rasa lapar berada pada kondisi puncak, dan dampak negatifnya: saya jadi “susah mikir”. Yang membuat tambah ribet lagi, di jam satu siang itu biasanya saya harus berdiskusi dengan Profesor saya tentang penelitian yang sedang saya lakukan.

Menahan untuk tetap tidak makan bukan masalah, tapi menahan untuk tetap bisa berpikir dalam keadaan lapar itu yang penuh perjuangan. Bahkan Senin kemarin, ketika berdiskusi dengan Profesor di saat “kritis” seperti itu, saya harus bertanya berkali-kali tentang apa yang dia katakan karena konsentrasi selalu buyar dan susah untuk berpikir. Minggu sebelumnya bahkan saya lupa dengan banyak hal yang sudah kita diskusikan, dan lebih sial lagi saat itu saya tidak mencatat apa-apa saja yang sudah didiskusikan. Ah! memalukan sekali! Akibatnya saya musti berpikir keras dan penuh perjuangan untuk mengingat-ingat kembali semuanya.

Kejadian seperti ini cukup mengherankan, karena sebelumnya tidak pernah terjadi. Biasanya saya tetap bisa berkonsentrasi meskipun dalam keadaan lapar. Bahkan sewaktu masih kerja di Jakarta, saya jarang sekali pergi makan siang dan malah asyik bekerja di depan komputer. Mungkin karena sudah tua ya? atau karena sudah terbiasa makan enak masakan istri? ah, kurang tahu juga. Tapi memang selama ini berat badan saya punya kecenderungan untuk terus naik, perlahan tapi pasti, melampaui batas ideal, meskipun belum sampai di atas 80 kg. Dan herannya lagi, selama puasa Ramadan yang sudah berjalan 17 hari ini, berat badan saya hanya turun 1 kg saja, padahal makan sahur dan buka tidak terlalu banyak. Mungkin karena jarang bergerak ya? siang malam hanya kerja di depan komputer saja. Atau, bisa jadi timbangan di rumah sudah rusak! hahaha…

Untungnya, kalau pergi atau pulang ke atau dari institut, saya masih suka lari-lari mengejar kereta atau bus, dan di institut pun masih berusaha untuk ke ruangan kerja di lantai 4 dengan naik tangga, setidaknya masih ada gerakan badan yang cukup bikin ngos-ngosan dan membakar sedikit lemak yang mengendap di pinggang dan di perut. Sejujurnya, saya paling benci jadi orang berperut buncit, tapi males juga kalau harus berolahraga setiap harinya.

Sekarang suhu udara sudah mulai bertambah dingin, di siang hari hanya sampai 17 derajat Celcius saja sementara di pagi dan sore/malam hari sekitar 10 derajat Celcius. Suhu dingin seperti ini, terus terang, membuat rasa lapar semakin cepat datang. Puasa Ramadan pun jadi tambah penuh perjuangan, apalagi dengan tuntutan harus tetap bisa bekerja dan berpikir. Godaan lain tidak terlalu bermasalah, maklum sudah mulai masuk musim gugur, sudah tidak ada lagi cewek bule yang pakai pakaian “you can see”, tank top, apalagi bikini. Sedikit godaan mungkin datang dari iklan pakaian dalam wanita yang banyak dipasang di stasiun-stasiun bawah tanah dalam ukuran yang sangat besar. Memasuki musim yang mulai dingin begini, biasanya memang banyak bermunculan iklan pakaian dalam dengan pose-pose yang syur, mungkin supaya dapat menghadirkan kehangatan ya? hehehe…

Tapi, jujur saja, tantangan seperti ini malah membuat puasa Ramadan semakin enak untuk dinikmati detik demi detik. Merasakan waktu-waktu “kritis” dalam keadaan lapar dan susah mikir punya kesan tersendiri buat saya…

Read Full Post »

Older Posts »