Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2007

Domestic Flight

Cerita lucu ini saya dapat dari milis dan lumayan bisa bikin ketawa! Makanya sayang kalau dibuang begitu saja. Apalagi sekarang maskapai kita lagi dilarang terbang ke Eropa, dan katanya Saudi Arabia juga mau ikutan. Menyikapi sikap Saudi Arabia ini, konon kabarnya ada anggota DPR dan juga menteri yang langsung marah-marah dan katanya malah mau ngeboikot nggak naik haji. Padahal masalahnya sebetulnya sih gak ada hubungannya sama naik haji segala, tapi emang maskapai Indonesia hampir amburadul semua, bukan hanya resiko kecelakaannya saja yang besar, tapi juga resiko diracun sampe meninggal (seperti yang menimpa Pak Munir).

*****

Based on a true story.

Adam Air, Lion Air, Air Asia ternyata merupakan pendatang baru dibandingkan dg airline dibawah ini.

Kejadian ini dialami teman saya waktu tinggal di Denpasar bersama ortunya. Kami sering nongkrong di warung jamu tradisionil di dekat rumah kami. Pada suatu hari ketika kami sedang duduk duduk di warung jamu, sepasang bule datang ke warung yang kelihatan meriah dari jauh. Bule kucel dengan ransel di punggung itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju ke halaman warung jamu. Dalam hati saya bangga juga jamu tradisionil kita sudah dikenal di mancanegara. Buktinya si bule pun mau mengunjungi warung jamu di Indonesia.

Makin dekat ke warung langkah bule tersebut kelihatan makin ragu, namun tetap saja mendekati kami. Setelah dekat, salah seorang bertanya kepada kami dalam bahasa Inggris dengan wajah agak ragu:

“Do you have a direct flight to Jogja for tomorrow?”

Gantian kami yang bengong sambil saling berpandangan penuh tanda tanya. Bukannya kami nggak tahu bahasa Inggris lho! Cuman tanya tiket pesawat kok di warung jamu.

Karena agak lama kami saling berpandangan tanda bingung, sekali lagi si bule bertanya:

“Air Mancur is a domestic flight, isn’t it?”

*****

Hahaha… Nyonya Meneer pasti ikut ketawa deh…

Read Full Post »

Balado Ikan

balado.jpgAda resiko yang sama yang bakalan dihadapi baik oleh orang yang nggoreng ikan maupun tim gegana penjinak bom, keduanya sama-sama punya resiko terkena letusan (kalau bom, cocoknya ledakan kali ya?). Dan ini yang saya alami hari ini (eh kemaren ding!). Bukan sebagai tim gegana, karena saya memang bukan polisi dan juga bukan anggota Brimob, tetapi sebagai penggoreng ikan yang kebetulan hari ini kepingin sekali makan balado ikan. Dan kebetulan lagi, di Kedai Hamburgnya mbak Retno (yang jago memasak itu) ada dipasang resep balado ikan Belanak dari mbak Yanti Rafles, jadinya ya klop lah. Saya cek di lemari es ternyata masih ada ikan (meskipun bukan belanak, dan saya juga nggak tahu apa namanya) yang dibeli di toko Turki. Ukurannya jauh lebih besar dari ikan teri, tapi lebih kecil dari ikan belanak (mungkin kakaknya ikan teri, dan adeknya ikan belanak kali ya?). Balado ikan jenis ini sering saya lihat tersaji kalau sedang ada pengajian bulanan IIC e.V. di KJRI Hamburg.

Sayangnya, di dapur ternyata nggak ada persediaan jeruk lemon dan juga cabe merah. Bawang merah juga nggak ada, tapi kebetulan ada bawang Bombay yang warnanya sama seperti bawang merah (sebut saja bawang merah Bombay hehehe…). Tomat kebetulan juga ada cukup banyak. Jadi, untuk melengkapi kekurangan bahan-bahan, ya pergi dulu ke ATM di samping Toko Turki di depan rumah ngambil sedikit duit dan terus dilanjut pergi ke Toko Turki di sebelah ATM buat beli cabe merah 11 biji dan jeruk lemon 3 biji. OK deh, bahan-bahan pun sudah tersedia lengkap akhirnya dan langkah-langkah yang ada di Kedai Hamburg tinggal ditiru plek.

Giliran nggoreng ikan (yang sebelumnya sudah dikasih garem dan air jeruk lemon dan dibiarin selama beberapa waktu), dapur saya tutup rapet, maklum lokasi dapur ada di bagian depan rumah dan berhubungan langsung dengan pintu masuk dan juga dekat dengan kamar tidur. Selain itu, si anak yang kebetulan sudah ada di rumah paling nggak suka sama bau ikan digoreng (meskipun kalau dibikinin ikan goreng sukanya minta ampun), sama seperti bapaknya (berarti saya dong ya? hehehe…) yang kalau istri lagi nggoreng-nggoreng, pasti suka ribut-ribut dan protes karena baunya kemana-mana. Nah giliran nggoreng ikan ini letusan pun terjadi berkali-kali, apalagi pas ngebalik ikannya. Untung di dapur ada “tameng” buat menghindari letusan (yang bentuknya seperti raket itu lho), tapi tetep aja masih kaget juga kalau ada letusan dan mau nggak mau terpaksa misuh-misuh sendiri di dapur. Busyet dah! Selesai nggoreng ikan, ceceran minyak pun bertebaran kemana-mana, bau ikannya juga nempel di badan. Ah, jadi kebayang gimana susahnya jadi tukang masak ternyata…

Akhirnya, sukses juga deh bikin balado ikannya. Rasanya? Jujur aja, nggak kalah sama balado ikan yang paling enak yang ada di dunia ini, hahaha… Ternyata ada bakat juga nih jadi juru masak… Lumayan lah bisa jadi alternatif mata pencaharian kalau nanti udah bosen jadi PNS. hahaha…

*keterangan gambar: kasihan, ikannya kelelep cabe merah.

Read Full Post »

Angka unik dan angpao

Geli juga baca berita di detik.com yang berjudul “Terima 7 undangan nikah 7/7/7, siapkan angpao Rp.1 juta”. Gara-gara tanggalnya unik, banyak orang yang memilihnya untuk acara pernikahan. Akibatnya undangan pun datang dari 7 penjuru angin (hahaha… kaya cerita Kho Ping Ho aja) dan bikin pusing 7 keliling.

Ngomong-ngomong soal “ungkapan kasih sayang (atau tanda kasih) yang akan diberikan” (angpao maksudnya), kalau dalam manajemen keuangan rumah tangga, pusing juga ya memperkirakan pengeluaran tak terduga seperti ini? Susah kan memperkirakan jumlah undangan yang bakal diterima setiap bulannya? Harus punya dana taktis atau dana non-budgeter kali ya? Apalagi di jaman sekarang ini sudah menjadi tradisi dan kebiasaan yang lazim kalau menghadiri undangan pernikahan itu harus ngasih angpao (bukan karangan bunga atau cendera mata). Dan makin keder lagi kalau di meja penerima tamu ternyata angpao kita ditandai sesuai dengan nomor urut nama yang kita tulis di buku tamu.

Padahal di kertas undangan yang dimohon kan cuman doa restu ya? Biasanya tertulis seperti ini: “Merupakan suatu kehormatan & kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai” atau kadang seperti ini: “Tiada yang dapat kami ungkapkan selain ucapan terima kasih dari hati yang tulus atas kehadiran serta pemberian doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i kepada putra-putri kami”. Sejak kapan coba doa restu bisa dimasukin ke dalem amplop?

Hehehe… Dasar saya memang pelit! Kalau dateng kondangan makannya paling banyak, semuanya dicobain, tapi giliran ngasih angpao ngomel-ngomel!. Kebanyakan baca Paman Gober sih…

Read Full Post »

Judul Tanpa Empati

Judul sebuah berita di detiksurabaya ini sungguh menunjukkan betapa sang penulis berita atau media yang memuat berita ini menyengajakan diri atau membiarkan begitu saja membuat sebuah judul tanpa empati. Peristiwa yang terjadi dan diberitakan tersebut adalah sebuah tragedi yang menyedihkan dan mengenaskan. Meskipun yang menjadi korban adalah seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental, kurang simpatik rasanya jika kata “idiot” mesti dituliskan secara eksplisit dengan gaya bahasa yang vulgar dengan menyertakan pula kata “terpanggang”. Betul-betul sebuah judul yang tanpa perasaan. Sebuah judul tanpa empati.

Meskipun korbannya adalah seorang bocah yang mengalami keterbelakangan mental, peristiwa yang menimpa bocah itu sungguh sangat tragis, dan bagaimanapun juga keluarganya pasti akan sangat berduka cita…

Read Full Post »