Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2008

Dasar Aneh!

“Sesederhana apapun sebuah peraturan, ia tetap peraturan yang harus diindahkan. Sekecil apapun pelanggaran tetap sebuah pelanggaran, seharusnya kita malu jika melakukannya, apalagi jika kita tahu bahwa peraturan itu memang ada…”

Hari ini Jakarta penuh demo. Secara pribadi, saya tidak suka melihat demo (kecuali demo masak), apalagi kalau melihat para pendemo yang kadang bertindak semaunya dan suka melanggar peraturan, meskipun itu hanya peraturan yang remeh temeh. Aparat polisi yang berjaga-jaga juga saya lihat tidak jarang melanggar peraturan yang seharusnya mereka tegakkan.

Hari ini kebetulan saya jalan kaki dari Stasiun Gambir ke kantor yang jaraknya memang tidak terlalu jauh, paling lama hanya 15 menit. Kebetulan pula cuaca Jakarta tidak terlalu panas hari ini. Keluar dari Stasiun Gambir, mood saya sudah mulai terganggu gara-gara jalan keluar dari dalam stasiun yang kurang manusiawi, dimana pintu tidak dibuka sepenuhnya, hanya sebatas leher orang dewasa. Sebetulnya pintu di stasiun Gambir itu banyak dan lebar-lebar. Ada pintu yang ditulisi “khusus VIP” yang selalu tertutup (ya jelas akan lebih sering tertutup, seberapa banyak sih VIP yang mau menggunakan kereta api yang dari dulu sampai sekarang bukannya tambah canggih), juga pintu lainnya dari sisi mata angin yang berbeda, yang juga selalu tertutup. Terus buat apa coba dibuat pintu sebanyak itu kalau tidak dimanfaatkan? Ah, dasar aneh!

Perjalanan dari Gambir ke kantor saya tempuh melalui samping Taman Monas yang banyak rusanya, melewati trotoar yang sangat lebar dan nyaman di depan kantor Walikota. Sayangnya hari ini kenyamanan berjalan kaki saya terganggu akibat banyaknya polisi yang lalu lalang mengendarai sepeda motor melalui trotoar itu, malahan ada yang tidak pakai helm pula. Dasar polisi tolol, tidak tahu peraturan! Gitu koq ya bisa jadi polisi. Yang lebih parah lagi, polisi pun membiarkan pengendara sepeda motor yang menggunakan trotoar itu. Ah, dasar aneh!

Selanjutnya, sepanjang perjalanan, saya melihat para pendemo dengan jaket almamater berteriak-teriak dengan gagahnya, menyuarakan kebenaran membela rakyat. Sayangnya, mereka berteriak-teriak menyuarakan kebenaran dengan melanggar peraturan lalu-lintas: yang mengendarai sepeda motor banyak yang tidak menggunakan helm, sementara itu yang naik bus banyak yang duduk di atap. Bagaimana mungkin saya mau bersimpati dengan aksi mereka, wong mereka sendiri ternyata telah dengan sadar bertindak melanggar peraturan, meskipun hanya peraturan yang boleh dibilang sepele jika dibandingkan dengan urusan negara dan rakyat yang mereka suarakan. Ah, dasar aneh! Semua serba kacau balau, seenak perutnya sendiri. Chaotic, begitu kata anak semata wayang saya yang baru kelas 5 SD…

Read Full Post »