Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2011

Kalau nonton berita-berita di TV Indonesia, sepertinya Indonesia sudah akan bangkrut ya? Korupsi dan mafia ada di mana-mana, mahasiswa sampai rakyat jelata tawuran seperti waktu di jaman primitif dulu, nyari sekolah susah dan mahal, macet melanda hampir semua kota besar di Indonesia, PNS dianjurkan supaya gak boleh beli premium, dan berjibun persoalan dan masalah lainnya. Belum lagi kalau sudah ngedengerin pembawa acara yang kadang-kadang suka mencecar gak sopan pihak-pihak tertentu yang dianggap berseberangan dengan pendapat mayoritas. Belum lagi kadang-kadang pendapat beberapa pengamat juga terkesan sok lebih pinter dan lebih jago, komplet lah sudah…

Sementara kalau nonton sinetron isinya juga gak jauh berbeda, orang licik dan culas ada di mana-mana, saling berebut harta dengan segala cara. Nonton acara hiburan lainnya juga gak membuat suasana hati menjadi terhibur, apalagi kalau ngelihat pembawa acaranya yang ternyata jauh lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak. Nonton acara pengajian juga gitu, ustadznya banyak yang lebay, lebih cocok jadi pelawak daripada jadi ustadz. Belum lagi nanti kalau pas bulan Ramadan, acara saurnya biasanya juga banyak menunjukkan tingkah laku yang konyol dan kurang mendidik. Padahal terlalu banyak bercanda itu termasuk yang tidak dianjurkan dalam Islam kan. Akibatnya, nonton TV malah bikin stress dan juga bikin penonton tambah bloon… (hehehe, salah sendiri kenapa nonton TV).

Kalau sudah begini, gak usah nonton TV sepertinya akan lebih sehat ya? Betul gak?

Iklan

Read Full Post »

Bali dan Anjing Liar

Masih mau bercerita tentang bersepeda. Ada satu hal yang cukup mengganggu dan menguatirkan saya kalau mau bersepeda mengelilingi tempat-tempat tertentu di sekitar saya tinggal di Perancak, Jembrana, Bali. Apalagi kalau bukan anjing. Maklum, saya suka parno kalau ngelihat anjing, apalagi kalau si anjing sudah mulai menggonggong, takut dikejar. Dulu waktu masih kecil, belasan kali saya pernah harus lari terbirit-birit gara-gara dikejar anjing sialan, untung belum pernah sampai digigit. Bahkan pas jaman masih kuliah di Bandung, saya pernah juga jatuh dari Vespa gara-gara dikejar anjing dan harus angkat kaki tinggi-tinggi, memalukan sekali.

Nah di Bali ini, menurut data yang ada, populasi anjing sudah mencapai lebih dari 500 ribu. Selain itu, di akhir tahun 2008 juga pernah ada wabah rabies, yang sampai sekarang pemerintah Bali masih menemui kendala untuk mem-vaksin semua anjing yang ada, apalagi anjing-anjing liar. Kebetulan lagi, di sekitar tempat saya tinggal, yang jauh dari mana-mana, adalah salah satu tempat orang membuang anjing. Sementara itu, kasus terjadinya gigitan anjing di Bali juga sangat tinggi. Di tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing ada 50 ribu, di 2009 menurun menjadi 24 ribu gigitan, lalu di 2010 naik lagi jadi 41 ribu gigitan (165 gigitan per hari). Jadi lengkaplah sudah.

Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali yang sekitar 3 jutaan jiwa, maka populasi anjing di Bali memang cukup fantastis juga. Kalau kata Pak Gubernur Mangku Pastika, tingginya populasi anjing di Bali ini tidak lepas dari kepercayaan atau mitos yang ada. Sebagian besar orang Bali percaya bahwa anjing dapat membawa mereka ke surga. Kalau tidak salah hal tentang itu ada di dalam cerita tentang anjing setia milik Yudistira, si sulung dari Pandawa 5 yang bisa ikut masuk ke surga karena kesetiannya.

Jadi kalau selama ini orang sering menghubungkan kata BALI dengan BAnyak LIbur (karena di Bali ada tambahan libur fakultatif untuk pemeluk agama Hindu sesuai dengan SK Gubernur Bali), bisa-bisa karena banyaknya populasi anjing, terutama anjing liar, BALI bisa juga merupakan singkatan dari Banyak Anjing LIar, hehehe…

Read Full Post »

Pagi ini, seperti biasa, saya berolah raga naik sepeda ke arah kantor Bupati Jembrana, tempat dimana orang-orang yang tinggal di sekitar Negara (ibukota Kabupaten Jembrana) biasa berolah raga terutama di hari Minggu. Jarak dari rumah ke kantor Bupati sekitar 10 km dan melewati hamparan hutan bakau dan persawahan, lokasi yang ideal untuk berolah raga sepeda, karena selain bisa menghirup segarnya udara pagi, juga bisa menikmati pemandangan yang ijo royo-royo. Nah, pas kebetulan melewati lapangan di samping persawahan, saya lihat banyak sekali kerbau besar dan kekar sedang berkumpul di sana. Rupanya hari ini sedang ada acara Makepung alias balapan kerbau.

Makepung ini, kalau menurut literatur yang ada, merupakan acara tradisional khas Kabupaten Jembrana. Maka dari itu jangan heran kalau kita mengendarai kendaraan bermotor dari arah Denpasar ke Gilimanuk, di perbatasan Tabanan-Jembrana akan kita temui patung besar Makepung di sebelah kiri jalan. Buat yang penasaran ingin tahu lebih jauh tentang Makepung, sila lihat artikel lengkap di sini.

Kalau melihat postur tubuhnya, kerbau yang digunakan dalam Makepung ini betul-betul kekar, ada juga yang bule (kali dulunya si kerbau ini turis ya, terus pindah kewarganegaraan karena kawin sama kerbau lokal atau mungkin kehabisan bekal dan gak bisa balik ke negara asalnya, hahaha garing pisan!). Sepertinya kerbau-kerbau ini memang sudah dilatih dan mendapat perlakuan khusus, beda dengan kerbau-kerbau di Jawa yang perutnya buncit-buncit. Oh iya, supaya si kerbau tetap berlari kencang dan bisa menjaga jarak dengan lawan di belakangnya, si joki akan memukul bagian pinggul si kerbau dengan pemukul berbentuk batang kayu sepanjang lebih kurang 1 meteran. Nah pas tadi pagi saya lihat lebih detail, ternyata pemukul yang digunakan itu diberi paku! (coba lihat gambar di samping kanan ini, di bagian pemukul yang berwarna biru…). Jadi kasihan juga saya sama si kerbaunya. Pantas saja, kalau dilihat di bagian pinggulnya, terutama kerbau yang bule karena warnanya lebih kontras jadi lebih mudah dilihat, selalu ada bekas-bekas luka. Apalagi kalau sedang balapan, si joki mukulnya gak kira-kira, terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Untung kerbau yang digunakan untuk Makepung bukan diimpor dari Australia ya…

Read Full Post »