Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘humor’ Category

Kecerdasan Emosional

Beberapa hari yang lalu sempat menonton acara menjelang Maghrib di Metro TV yang membahas tentang 3 potensi kecerdasan yang ada pada diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dengan narasumber Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian. Materi yang disampaikan cukup menarik, hanya saja ketika beliau memberikan contoh tentang kecerdasan emosional, ada sedikit yang menurut saya kurang sreg.

Ketika membahas tentang kecerdasan emosional, beliau mencontohkan tentang seorang istri pejabat yang melakukan acara syukuran dan mengundang istri-istri bawahan suaminya karena bahagia dan bangga anaknya berhasil masuk 10 besar di sekolahnya. Nah, dalam acara syukuran itu ternyata ada seorang ibu yang anaknya satu sekolah dengan anak si istri pejabat ini dan menduduki ranking pertama di sekolah tersebut. Alkisah disampaikan bahwa ibu tersebut, dengan perasaan bangga, mengatakan bahwa anaknya satu sekolah dengan anak istri pejabat itu dan menduduki ranking pertama di sekolah tersebut. Akibat ucapan itu, beberapa hari kemudian suami ibu tersebut ternyata dimutasikan…

Dari kisah sederhana itu, ternyata narasumber hanya menyoroti perilaku ibu yang anaknya ranking pertama saja, dimana dikatakan bahwa ibu tersebut kurang memiliki kecerdasan emosional, sementara istri pejabat yang menurut saya justru lebih memble kecerdasan emosionalnya tidak dibahas sama sekali. Hayo, kenapa coba?

Iklan

Read Full Post »

Bali dan Anjing Liar

Masih mau bercerita tentang bersepeda. Ada satu hal yang cukup mengganggu dan menguatirkan saya kalau mau bersepeda mengelilingi tempat-tempat tertentu di sekitar saya tinggal di Perancak, Jembrana, Bali. Apalagi kalau bukan anjing. Maklum, saya suka parno kalau ngelihat anjing, apalagi kalau si anjing sudah mulai menggonggong, takut dikejar. Dulu waktu masih kecil, belasan kali saya pernah harus lari terbirit-birit gara-gara dikejar anjing sialan, untung belum pernah sampai digigit. Bahkan pas jaman masih kuliah di Bandung, saya pernah juga jatuh dari Vespa gara-gara dikejar anjing dan harus angkat kaki tinggi-tinggi, memalukan sekali.

Nah di Bali ini, menurut data yang ada, populasi anjing sudah mencapai lebih dari 500 ribu. Selain itu, di akhir tahun 2008 juga pernah ada wabah rabies, yang sampai sekarang pemerintah Bali masih menemui kendala untuk mem-vaksin semua anjing yang ada, apalagi anjing-anjing liar. Kebetulan lagi, di sekitar tempat saya tinggal, yang jauh dari mana-mana, adalah salah satu tempat orang membuang anjing. Sementara itu, kasus terjadinya gigitan anjing di Bali juga sangat tinggi. Di tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing ada 50 ribu, di 2009 menurun menjadi 24 ribu gigitan, lalu di 2010 naik lagi jadi 41 ribu gigitan (165 gigitan per hari). Jadi lengkaplah sudah.

Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali yang sekitar 3 jutaan jiwa, maka populasi anjing di Bali memang cukup fantastis juga. Kalau kata Pak Gubernur Mangku Pastika, tingginya populasi anjing di Bali ini tidak lepas dari kepercayaan atau mitos yang ada. Sebagian besar orang Bali percaya bahwa anjing dapat membawa mereka ke surga. Kalau tidak salah hal tentang itu ada di dalam cerita tentang anjing setia milik Yudistira, si sulung dari Pandawa 5 yang bisa ikut masuk ke surga karena kesetiannya.

Jadi kalau selama ini orang sering menghubungkan kata BALI dengan BAnyak LIbur (karena di Bali ada tambahan libur fakultatif untuk pemeluk agama Hindu sesuai dengan SK Gubernur Bali), bisa-bisa karena banyaknya populasi anjing, terutama anjing liar, BALI bisa juga merupakan singkatan dari Banyak Anjing LIar, hehehe…

Read Full Post »

Selamat Datang di 2011

Wuih, gak terasa sudah masuk tahun 2011 euy. Kalau dirasa-rasa, ternyata waktu cepat banget berlalunya ya? apalagi kalau lagi banyak kerjaan, belum sempat ngambil cuti eh sudah ganti tahun… kasihan deh gue, masa di 2010 masih punya 5 hari jatah cuti yang hangus terbakar…

Masuk 2011, kayanya bakalan makin sibuk aja nih, banyak target yang harus dicapai. Yah, mudah-mudahan aja bisa tetap sehat walafiat, meskipun sepertinya jidat semakin botak aja (silau man!), juga rambut putih yang semakin tumbuh liar (hampir di setiap tempat yang ditumbuhi rambut sudah ditemukan adanya rambut putih, tanda-tanda penuaan global! hahaha…)

Okay deh, selamat datang 2011, untuk sementara saya gak punya resolusi khusus buat diri sendiri di tahun ini… Hanya ada sedikit harapan dan doa: “Semoga di tahun 2011 saya bisa lebih baik lagi deh. Baik hatinya, baik budinya, baik rumahnya, baik mobilnya, baik jumlah saldo tabungannya, dst…dst… Amin!”

Read Full Post »

Pajak

Hari gini bermewah-mewah pake uang pajak, apa kata dunia…

Sudah masuk bulan Februari, sebentar lagi harus mulai ngisi SPT tahun 2009. Siap-siap nyetor pajak deh. Sebenernya, sebagai pembayar pajak, agak gak rela juga ya kalau nanti pajak yang kita setorin itu ternyata banyak yang dikemplang oleh para pejabat negara dan kroninya, atau banyak yang dialokasikan untuk bermewah-mewahan seperti membeli mobil dinas baru dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya untuk para pejabat negara yang bisanya cuman petantang-petenteng.

Kalau sudah begitu, apa kata dunia coba?

Read Full Post »

Kenaikan Gaji

Tulisan ini hanya guyonan, jangan dianggap serius…

Kenapa sih “segelintir” pengamat dan rakyat begitu ributnya nanggapin rencana kenaikan gaji pejabat negara? Kalau saya sih biasa-biasa saja, malah justru bangga! Bangganya? karena sebagai bagian dari rakyat Indonesia ternyata saya masih mampu untuk membayar mereka yang bekerja untuk kita (rakyat) dengan bayaran yang jauh lebih layak. Coba bandingkan dengan para pemiliki modal dan para pengusaha, yang untuk ngasih upah buruh sesuai UMR saja susahnya minta ampun. Padahal kan para buruh juga sudah bekerja mati-matian untuk kemajuan perusahaan tempat mereka kerja yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menyejahterakan mereka para pemilik modal. Loh, emangnya antara buruh dengan pejabat negara itu sama? Anggap saja sama, buktinya mereka sering menyebut diri mereka abdi negara, abdi masyarakat. Dalam tingkatan sosial, abdi kan termasuk level yang paling rendah (dalam tingkatan pabrik atau perusahaan, buruh juga kan ada dalam posisi yang paling rendah ya?).

Sebagai rakyat mestinya kita harus merasa senang karena masih punya nurani untuk membantu menyejahterakan mereka (para pejabat negara, abdi masyarakat, wakil rakyat) yang telah rela mengabdi kepada kita itu. Kasihan kan, mereka toh sudah bekerja keras siang malam, mbanting tulang peras keringat mikirin urusan rakyatnya yang beratus2 juta banyaknya. Masa cuman dikasih gaji segitu doang. Padahal, salah satu motivasi mereka untuk mengabdi ke masyarakat adalah  meningkatkan kesejahteraan, baik kesejahteraan rakyat maupun kesejahteraan diri sendiri.

Selain itu, kalau gaji pejabat negara terlalu kecil, wibawa dan gengsinya juga kurang. Akibatnya, yang mau jadi pejabat negara biasanya cuman orang yang kualitasnya ecek-ecek, nggak memenuhi kriteria 3B (brain, beauty, behaviour). Halah, emang kontes Putri Indonesia, pake syarat 3B segala! Buktinya? Sampe sekarang negara kita nggak maju2 kan? Nah, pasti salah satu faktor yang bikin negara kita nggak maju2 itu ya karena kecilnya gaji mereka!

Jadi, relakan saja gaji mereka naik. Kalau perlu, mari barengi dengan doa: “semoga kenaikan gaji ini cukup memberikan dampak sistemik dalam meningkatkan motivasi mereka”. Siapa tahu, tahun depan negara kita lebih maju daripada negara tetangga lainnya! Nah, kalau nggak maju2 juga? Mungkin kenaikan gajinya kurang, tambah aja lagi! Siapa tahu berhasil! Kalau tetap nggak maju2 juga? Ya, yang sabar aja! Banyak2 nyebut! but…but..but…

Read Full Post »

Goerge…George…

Ah ternyata intelektualitas si George cuman segitu aja. Masih berjiwa preman juga rupanya dia. Seru juga ngelihatnya di TV! Orang yang bangga dengan kedoktorannya ini ternyata beda antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan. Sekarang mulai deh sibuk cari-cari alasan. Menggelikan!

Belum lagi konco-konconya ikut ngebela dia pula! Bagaimanapun juga dan apapun alasannya, apa yang dilakukan George ini salah di mata hukum. Mau si Ramadhan kena atau nggak, mau dia pakai tangan kiri atau kanan, yang jelas sudah ada unsur tindakan kekerasan disana. Sebagai orang yang mengaku intelek, harusnya dia malu dengan ulah jeleknya itu dan segeralah meminta maaf.

Coba, cukup punya nyali gak dia untuk meminta maaf? Kalau gak, prihatin deh gw! Bener-bener memalukan! Ternyata dia tidak lebih baik dari orang-orang yang “diburuk-burukannya” di dalam buku itu. Hahaha…

Read Full Post »

Pseudo-turun

Saya agak geli juga kalau melihat iklannya Partai Demokrat. Di iklan itu, mereka begitu membanggakan “kebijakan” menurunkan harga BBM dan minyak goreng. Padahal, saat ini harga kedua komoditas itu di pasar dunia memang sedang turun. Jadi, kalau pemerintah nggak nurunin harganya, maka mereka layak untuk mendapat teriakan “huuuu…” dan selorohan “apa kata dunia?”

Selain dari itu, harga BBM -kalau dilihat resultannya- sebetulnya nggak turun (alias tetap), karena pemerintahan yang sama pernah menaikkan harganya ketika harga di pasar dunia sedang naik sangat tajam. Artinya, apa yang disebut sebagai “turun” itu boleh dibilang palsu belaka. Apalagi, setelah pemerintah menaikkan harga BBM, harga-harga lainnya justru malahan ikutan naik dan sampai saat ini susah turunnya walaupun harga BBM sudah kembali ke posisi semula.

Sebelum harga BBM dinaikkan oleh pemerintah, naik angkot jarak dekat di tempat saya Rp. 1000. Setelah harga BBM dinaikkan, tarif angkot naik jadi Rp. 1500. Sekarang, setelah BBM kembali ke harga sebelum dinaikkan, eh tarif angkot masih aja tetap Rp. 1500, meskipun pemerintah sudah menghimbau agar tarif angkutan diturunkan. Kalau saya coba komplain ke sopir angkot, dengan mengutip himbauan Pak Presiden, sopir angkotnya juga gak bakalan mau dibayar Rp. 1000, apalagi kalau ternyata sopir angkot itu bukan simpatisan Partai Demokrat dan malah merupakan wong ciliknya PDIP…

Sebelum harga BBM dinaikkan, sarapan pagi di Warteg langganan cuman Rp. 6000 saja. Setelah harga BBM dinaikkan, eh si ibu penjual Warteg menaikkan harga untuk sarapan pagi menjadi Rp. 7000. Sekarang, setelah harga BBM kembali ke harga semula, harga sarapan pagi di Warteg langganan saya itu ternyata tetep Rp. 7000.

Jadi, koq bisa Partai Demokrat begitu bangga menjadikan isu “turunnya” harga BBM dan minyak goreng dalam iklan politiknya?

Read Full Post »

Older Posts »