Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, dan seperti biasa, sesuai dengan tradisi, kegiatan mudik akan menjadi agenda utama mayoritas masyarakat Indonesia. Semoga saja di tahun ini “Tragedi Brexit” yang dianggap enteng Menteri Perhubungan kala itu tidak terjadi lagi.

Nah, ngobrolin tentang hari raya keagamaan, Pemerintah Indonesia sejak 2002 punya kebijakan tentang cuti bersama, demi menyiasati hari kejepit nasional atau harpitnas supaya tidak dimanfaatkan oleh para PNS untuk ngebolos. Dengan adanya kebijakan cuti bersama ini, maka para pegawai diwajibkan untuk cuti bersama-sama, dan cuti ini bersifat mengurangi hak cuti pegawai yang ada.

Semakin kesini, kebijakan cuti bersama ini ternyata membuat hak cuti pegawai dibelenggu. Mau tidak mau, pegawai diwajibkan mengambil cuti di tanggal-tanggal yang telah ditetapkan pemerintah sebagai hari cuti bersama. Lalu, khusus untuk cuti bersama Idul Fitri, ternyata ada kebijakan tambahan tentang kuota jumlah pegawai yang boleh mengambil hak cuti menyambung waktu cuti bersama Idul Fitri.

Jadi, kalau sebelum tahun 2002 saya masih bisa mengambil hak cuti saya yang 12 hari semuanya atau setengahnya di Hari Raya Idul Fitri supaya mudiknya bisa santai dan waktu tinggal di kampung halaman bisa lebih lama, sekarang hal itu sulit untuk terjadi. Hanya 5% pegawai yang boleh mengambil hak cutinya menyambung cuti bersama yang sudah ditetapkan, sementara 95% pegawai lainnya wajib untuk masuk kerja kembali setelah masa cuti bersama usai.

Jadi, kalau sekarang arus mudik lebih gila-gilaan kepadatannya, mungkin salah satu penyebabnya ya karena belenggu cuti bersama ini. Bagusnya sih dihilangkan saja kebijakan cuti bersama. Biarkan kita memanfaatkan hak cuti kita sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau ada pegawai yang memanfaatkan harpitnas untuk membolos, ya mereka saja yang disikat, jangan kita yang harus disuruh cuti berjamaah..

Read Full Post »

Masih tentang reklamasi di Teluk Jakarta, berikut saya share salah satu laporan teknis yang pernah saya susun terkait reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta, semoga bermanfaat.

https://www.researchgate.net/publication/315805865_Laporan_Teknis_Bidang_Hidrodinamika_dan_Geomorfologi_Tim_Kajian_Kegiatan_Reklamasi_Balitbang_KP_Simulasi_Model_Hidrodinamika_dan_Dispersi_Termal_di_Teluk_Jakarta_Pra-_dan_Pasca-reklamasi_17_Pulau

 

Read Full Post »

reklamasi_teluk_jakartaUrusan terkait reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta ternyata belum usai, dan semakin seru saja. Ada banyak isu dan permasalahan, baik sosial ekonomi dan lingkungan yang terus bermunculan. Pada masa sebelum ini, isu dan permasalahan tersebut sepertinya berhasil “diredam” dengan baik..

Mari kita ikuti saja terus perkembangannya..

Read Full Post »

How fast can we change?

Aku sedang berpikir, sedikit pusing, ternyata mengajak orang untuk berubah itu sulit. Kelembaman, Hukum I Newton, sifat mempertahankan diri, yang diam cenderung diam, yang bergerak cenderung bergerak, hingga ada gaya yang memengaruhinya, baru akan terjadi perubahan, itu pun jika gaya yang memengaruhinya mencukupi.

Pertanyaannya: “seberapa besar gaya yang diperlukan?” atau bisa juga: “seberapa besar kelembaman kita?”

Pertanyaan itu, sepertinya, susah jawabannya. Anyway, sambil jalan nyari jawaban, mungkin kita bisa memulai dengan mengikuti nasehat Aa Gym: “Mulailah dari yang paling mudah!”. Little things mean a lot…

Read Full Post »

I am back again

Wah, ternyata sudah cukup lama juga saya gak pernah mengupdate blogonesia. Posting terakhir saya adalah Maret 2010, sedikit bercerita tentang acara UNEP yang saya ikuti di Nusa Dua Bali tentang konsep blue carbon.

Oh iya, semenjak April 2010 saya pindah bekerja di Bali, di sebuah desa di Kabupaten Jembrana, 3 jam perjalanan dari Denpasar. Jarak yang cukup jauh dan melelahkan. Saya jadi ingat jaman dulu dari Bandung ke Jakarta lewat Puncak atau Purwakarta. Jalan sempit, berbelok-belok, banyak truk yang jalannya merayap. Tapi ada enaknya juga pindah ke Perancak, terutama karena bisa berpisah dengan kemacetan ibukota yang bikin stress. Suasana desanya cukup nyaman, jauh dari hiruk pikuk, meskipun kadang-kadang merasa kesepian juga. Maklum, bagaimanapun juga, suasana kota yang ramai dan riuh rendah tetap saja bisa membuat saya kangen, apalagi kalau sudah lebih dari 2 pekan stand by di kantor, 1 periode jenuh telah terlampaui, waktunya untuk break sejenak…

Hmm, sebetulnya saya masih punya banyak bahan untuk diceritakan saat ini, tetapi karena masih banyak PR di kantor yang harus saya selesaikan, terpaksa saya tunda dulu cerita-ceritanya. I hope next week I can start to write my experience stay in Perancak…

Read Full Post »

test post by e-mail

This is just an experiment, trying to post via e-mail. Is it realy work? I just knew this feature after very long time have no time to take a look my blog. I miss blogging very much, and trying to manage my time…

Read Full Post »

Kearifan Lokal

Nature pada publikasinya tanggal 28 November memuat artikel berjudul Males can drive species decline yang menceritakan tentang sebuah percobaan yang dilakukan oleh para pakar ekologi pada sebuah populasi kadal. Percobaan dilakukan dengan membuat dua grup populasi kadal, dimana pada grup pertama 78% populasi adalah kadal betina sedangkan sisanya pejantan, dan pada grup kedua dibuat komposisi yang sebaliknya, 78% pejantan dan sisanya betina.

Hasil pengamatan selama 1 tahun menunjukkan bahwa pada grup pertama jumlah kadal meningkat dari 73 menjadi 118 ekor, sedangkan pada grup kedua jumlah kadal justru berkurang menjadi 35 ekor dengan jumlah pejantan yang lebih banyak. Dalam grup kedua ini jumlah kematian kadal betina 4 kali lebih besar daripada grup pertama dan angka kelahiran kadal baru pun hanya sekitar 3 atau 4 ekor per tahun, padahal kondisi normalnya adalah 5 ekor per tahun.

Dari percobaannya itu mereka menyimpulkan bahwa jumlah pejantan yang berlebih pada sebuah populasi kadal akan menyebabkan berkurangnya spesies tersebut. Hal ini terjadi karena tingkat stres kadal betina lebih tinggi akibat tuntutan seks yang lebih agresif karena jumlah pejantan lebih banyak dari betina. Istilahnya, para kadal betina harus menghadapi ajakan kawin yang terus menerus dan juga kekerasan seksual.

Membaca hasil penelitian ini, saya jadi teringat masa-masa hidup di desa. Kebetulan nenek saya punya pekarangan yang cukup luas dan dimanfaatkan untuk memelihara bebek, ayam dan kambing. Yang saya ingat, memang dalam populasi ayam atau bebek yang ada, hanya ada satu pejantan untuk sekitar 10 ekor betina. Bahkan, untuk kambing, beliau tidak perlu punya pejantan karena ada seorang tetangga yang memiliki kambing pejantan yang bersedia untuk meminjamkan pejantannya jika kambing betina nenek saya sedang dalam masa birahi. Selain itu, jika hendak menyembelih ayam atau bebek, atau menjualnya, pasti yang dipilih adalah ayam atau bebek jantan, apalagi jika jumlahnya sudah cukup berlebih.

Nenek saya atau penduduk desa tempat saya tinggal tidak tahu tentang teori ekologi versi sekolahan modern, tapi mereka mampu mengamalkannya karena belajar dari pengalaman atau petuah-petuah nenek moyangnya. Dalam istilah keren atau ilmiahnya hal ini biasa disebut sebagai kearifan lokal.

Dalam hal konservasi lingkungan, kearifan lokal banyak mendapat perhatian serius dari para pakar karena terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sayangnya, dalam kehidupan modern, hal ini sering diabaikan dan bahkan dianggap sebagai sebuah ketertinggalan dan kuno sehingga sering ditinggalkan oleh generasi-generasi yang ada saat ini. Dan yang lebih ironis lagi, mereka baru akan mempercayai kearifan lokal ini (sambil mengangguk-anggukan kepalanya) jika sudah ada hasil penelitian ilmiah dari para peneliti asing yang membuktikannya.

Read Full Post »

Older Posts »