Feeds:
Pos
Komentar

Kalau nonton berita-berita di TV Indonesia, sepertinya Indonesia sudah akan bangkrut ya? Korupsi dan mafia ada di mana-mana, mahasiswa sampai rakyat jelata tawuran seperti waktu di jaman primitif dulu, nyari sekolah susah dan mahal, macet melanda hampir semua kota besar di Indonesia, PNS dianjurkan supaya gak boleh beli premium, dan berjibun persoalan dan masalah lainnya. Belum lagi kalau sudah ngedengerin pembawa acara yang kadang-kadang suka mencecar gak sopan pihak-pihak tertentu yang dianggap berseberangan dengan pendapat mayoritas. Belum lagi kadang-kadang pendapat beberapa pengamat juga terkesan sok lebih pinter dan lebih jago, komplet lah sudah…

Sementara kalau nonton sinetron isinya juga gak jauh berbeda, orang licik dan culas ada di mana-mana, saling berebut harta dengan segala cara. Nonton acara hiburan lainnya juga gak membuat suasana hati menjadi terhibur, apalagi kalau ngelihat pembawa acaranya yang ternyata jauh lebih kekanak-kanakan daripada anak-anak. Nonton acara pengajian juga gitu, ustadznya banyak yang lebay, lebih cocok jadi pelawak daripada jadi ustadz. Belum lagi nanti kalau pas bulan Ramadan, acara saurnya biasanya juga banyak menunjukkan tingkah laku yang konyol dan kurang mendidik. Padahal terlalu banyak bercanda itu termasuk yang tidak dianjurkan dalam Islam kan. Akibatnya, nonton TV malah bikin stress dan juga bikin penonton tambah bloon… (hehehe, salah sendiri kenapa nonton TV).

Kalau sudah begini, gak usah nonton TV sepertinya akan lebih sehat ya? Betul gak?

Bali dan Anjing Liar

Masih mau bercerita tentang bersepeda. Ada satu hal yang cukup mengganggu dan menguatirkan saya kalau mau bersepeda mengelilingi tempat-tempat tertentu di sekitar saya tinggal di Perancak, Jembrana, Bali. Apalagi kalau bukan anjing. Maklum, saya suka parno kalau ngelihat anjing, apalagi kalau si anjing sudah mulai menggonggong, takut dikejar. Dulu waktu masih kecil, belasan kali saya pernah harus lari terbirit-birit gara-gara dikejar anjing sialan, untung belum pernah sampai digigit. Bahkan pas jaman masih kuliah di Bandung, saya pernah juga jatuh dari Vespa gara-gara dikejar anjing dan harus angkat kaki tinggi-tinggi, memalukan sekali.

Nah di Bali ini, menurut data yang ada, populasi anjing sudah mencapai lebih dari 500 ribu. Selain itu, di akhir tahun 2008 juga pernah ada wabah rabies, yang sampai sekarang pemerintah Bali masih menemui kendala untuk mem-vaksin semua anjing yang ada, apalagi anjing-anjing liar. Kebetulan lagi, di sekitar tempat saya tinggal, yang jauh dari mana-mana, adalah salah satu tempat orang membuang anjing. Sementara itu, kasus terjadinya gigitan anjing di Bali juga sangat tinggi. Di tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing ada 50 ribu, di 2009 menurun menjadi 24 ribu gigitan, lalu di 2010 naik lagi jadi 41 ribu gigitan (165 gigitan per hari). Jadi lengkaplah sudah.

Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali yang sekitar 3 jutaan jiwa, maka populasi anjing di Bali memang cukup fantastis juga. Kalau kata Pak Gubernur Mangku Pastika, tingginya populasi anjing di Bali ini tidak lepas dari kepercayaan atau mitos yang ada. Sebagian besar orang Bali percaya bahwa anjing dapat membawa mereka ke surga. Kalau tidak salah hal tentang itu ada di dalam cerita tentang anjing setia milik Yudistira, si sulung dari Pandawa 5 yang bisa ikut masuk ke surga karena kesetiannya.

Jadi kalau selama ini orang sering menghubungkan kata BALI dengan BAnyak LIbur (karena di Bali ada tambahan libur fakultatif untuk pemeluk agama Hindu sesuai dengan SK Gubernur Bali), bisa-bisa karena banyaknya populasi anjing, terutama anjing liar, BALI bisa juga merupakan singkatan dari Banyak Anjing LIar, hehehe…

Pagi ini, seperti biasa, saya berolah raga naik sepeda ke arah kantor Bupati Jembrana, tempat dimana orang-orang yang tinggal di sekitar Negara (ibukota Kabupaten Jembrana) biasa berolah raga terutama di hari Minggu. Jarak dari rumah ke kantor Bupati sekitar 10 km dan melewati hamparan hutan bakau dan persawahan, lokasi yang ideal untuk berolah raga sepeda, karena selain bisa menghirup segarnya udara pagi, juga bisa menikmati pemandangan yang ijo royo-royo. Nah, pas kebetulan melewati lapangan di samping persawahan, saya lihat banyak sekali kerbau besar dan kekar sedang berkumpul di sana. Rupanya hari ini sedang ada acara Makepung alias balapan kerbau.

Makepung ini, kalau menurut literatur yang ada, merupakan acara tradisional khas Kabupaten Jembrana. Maka dari itu jangan heran kalau kita mengendarai kendaraan bermotor dari arah Denpasar ke Gilimanuk, di perbatasan Tabanan-Jembrana akan kita temui patung besar Makepung di sebelah kiri jalan. Buat yang penasaran ingin tahu lebih jauh tentang Makepung, sila lihat artikel lengkap di sini.

Kalau melihat postur tubuhnya, kerbau yang digunakan dalam Makepung ini betul-betul kekar, ada juga yang bule (kali dulunya si kerbau ini turis ya, terus pindah kewarganegaraan karena kawin sama kerbau lokal atau mungkin kehabisan bekal dan gak bisa balik ke negara asalnya, hahaha garing pisan!). Sepertinya kerbau-kerbau ini memang sudah dilatih dan mendapat perlakuan khusus, beda dengan kerbau-kerbau di Jawa yang perutnya buncit-buncit. Oh iya, supaya si kerbau tetap berlari kencang dan bisa menjaga jarak dengan lawan di belakangnya, si joki akan memukul bagian pinggul si kerbau dengan pemukul berbentuk batang kayu sepanjang lebih kurang 1 meteran. Nah pas tadi pagi saya lihat lebih detail, ternyata pemukul yang digunakan itu diberi paku! (coba lihat gambar di samping kanan ini, di bagian pemukul yang berwarna biru…). Jadi kasihan juga saya sama si kerbaunya. Pantas saja, kalau dilihat di bagian pinggulnya, terutama kerbau yang bule karena warnanya lebih kontras jadi lebih mudah dilihat, selalu ada bekas-bekas luka. Apalagi kalau sedang balapan, si joki mukulnya gak kira-kira, terdengar sampai jarak yang cukup jauh. Untung kerbau yang digunakan untuk Makepung bukan diimpor dari Australia ya…

Selamat Datang di 2011

Wuih, gak terasa sudah masuk tahun 2011 euy. Kalau dirasa-rasa, ternyata waktu cepat banget berlalunya ya? apalagi kalau lagi banyak kerjaan, belum sempat ngambil cuti eh sudah ganti tahun… kasihan deh gue, masa di 2010 masih punya 5 hari jatah cuti yang hangus terbakar…

Masuk 2011, kayanya bakalan makin sibuk aja nih, banyak target yang harus dicapai. Yah, mudah-mudahan aja bisa tetap sehat walafiat, meskipun sepertinya jidat semakin botak aja (silau man!), juga rambut putih yang semakin tumbuh liar (hampir di setiap tempat yang ditumbuhi rambut sudah ditemukan adanya rambut putih, tanda-tanda penuaan global! hahaha…)

Okay deh, selamat datang 2011, untuk sementara saya gak punya resolusi khusus buat diri sendiri di tahun ini… Hanya ada sedikit harapan dan doa: “Semoga di tahun 2011 saya bisa lebih baik lagi deh. Baik hatinya, baik budinya, baik rumahnya, baik mobilnya, baik jumlah saldo tabungannya, dst…dst… Amin!”

Ini bukan mau menakut-nakuti, hanya sekedar berbagi informasi saja berkaitan dengan datangnya musim penghujan 2011 yang kebetulan berbarengan dengan La Nina yang sepertinya masih akan terus berlanjut hingga pertengahan 2011. Menurut informasi yang dikeluarkan oleh Climate Prediction Center (CPC), kondisi La Nina akan semakin menguat di Nopember 2010 hingga Januari 2011, dan baru kemudian akan perlahan-lahan melemah. Bahkan menurut perkiraan yang dibuat oleh Climate Forecast System NCEP, La Nina berpotensi terus berlanjut hingga datangnya musim panas di BBU.

Kita tahu bahwa La Nina yang bersamaan dengan musim hujan akan menyebabkan curah hujan yang di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini juga dapat dilihat dari data radiasi balik gelombang panjang yang menunjukkan adanya peningkatan konveksi di wilayah Indonesia.

Kita sudah sangat paham bahwa hujan deras sebentar saja sudah bisa membuat jalan-jalan di DKI Jakarta dan kota-kota besar lainnya tergenang, dimana hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya sampah yang dibuang sembarangan ke saluran air ditambah buruknya sistem drainase. Sementara itu, di wilayah-wilayah di sekitar perbukitan/pegunungan dan daerah-daerah bertebing, kita juga harus mewaspai potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. Hal ini harus menjadi perhatian kita karena kerusakan ekosistem saat ini sudah cukup parah, dimana salah satunya adalah akibat maraknya pembalakan liar.

Jadi, seperti peribahasa nenek moyang kita, tidak ada salahnya jika kita mulai “sedia payung sebelum hujan” sedini mungkin agar dampak negatif dari musim hujan yang berbarengan dengan La Nina ini dapat diminimalkan.

Akhir pekan lalu saya baru mendapat kiriman buku dengan judul “Guide to best practices for ocean acidification research and data reporting” dari European Project on Ocean Acidification (EPOCA). Buku ini diberikan gratis dan sengaja saya pesan karena di 2011 BROK akan melakukan kegiatan riset yang berkaitan dengan ocean acidification atau pengasaman laut. Sebagai bidang riset yang relatif masih baru dilakukan di Indonesia, buku ini akan sangat memberikan manfaat yang signifikan karena banyak memberikan teori-teori dan metode-metode pengukuran yang dibutuhkan demi berhasilnya riset ini.

Bentuk PDF dari buku ini sebetulnya bisa diunduh secara gratis di sini, tetapi karena EPOCA juga memberikan tawaran untuk bisa mendapatkan secara gratis hard copy-nya, maka saya pun memesan satu. Buku ini dibagi dalam 15 bab yang membahas secara lengkap riset di bidang ocean acidification. Tak hanya itu, dari buku ini saya juga dapat melihat daftar pustaka yang lengkap yang selanjutnya bisa kami gunakan dalam kajian pustaka sehingga kami dapat menghasilkan penelitian yang benar-benar bermutu dan dapat memenuhi kebutuhan dasar ilmiah yang sangat diperlukan ketika membahas tentang perubahan iklim seperti yang sudah pernah saya singgung di postingan saya sebelumnya.

Hari ini saya dapat undangan untuk menghadiri acara peresmian Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan di Desa Bug Bug, Karang Asem oleh Presiden SBY. Karena jarak Perancak Karang Asem sangat jauh, yaitu dari barat ke timur dengan waktu tempuh 4 sampai 5 jam dan karena diminta untuk sudah kumpul pukul 07.30, maka mau gak mau harus berangkat dari Perancak pukul 03.00 dini hari. Sayangnya, acara yang di undangan direncanakan dimulai pukul 10.00 harus molor dan baru dimulai pukul 11.00, padahal sejak pukul 08.00 hampir semua undangan sudah hadir di tempat acara diadakan.

Lokasi Balai ini berada di pinggir pantai, dikelilingi oleh bukit berbatu dengan pemandangan yang cukup indah, hanya saja lokasinya agak terpencil dan jauh dari keramaian. Kalau dibandingkan dengan tempat kerja saya sekarang yang juga sudah cukup terpencil, maka balai ini ternyata jauh lebih terpencil lagi. By the way, meskipun cukup terpencil lokasinya, tapi balai ini oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dinyatakan sebagai pusat produksi induk udang Vaname terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 675 ribu ekor induk per tahunnya dan harga per ekornya yang 10 kali lebih murah daripada harga benih yang diimpor dari Amerika. Oh iya, Kementerian Kelautan merasa perlu untuk mendirikan balai ini karena kebutuhan akan bibit udang di Indonesia sangat besar, dan selama ini masih harus dipenuhi dengan cara mengimpor dari Hawaii dan Florida dengan harga sekitar 400 ribu per ekornya.

Dalam pidatonya, sebelum meresmikan balai ini, Presiden SBY kembali menekankan bahwa sekitar dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut, dan sungguh sangat merugi jika potensi yang besar itu tidak dapat kita manfaatkan seoptimal mungkin. Menurut beliau, kalau Indonesia tidak mampu memanfaatkan potensi sumberdaya laut dan pantainya untuk kesejahteraan rakyat, maka ada yang salah dengan negara ini. Banyak negara ingin bisa mengembangkan budidaya udang, tapi mereka terkendala dengan potensi sumberdaya alamnya yang terbatas, jadi sungguh ironis kalau Indonesia yang sudah diberi anugerah sumberdaya yang sangat besar ini harus menyia-nyiakannya.

“Bersama kita bisa!” itulah salah satu pesan yang beliau tekankan sebelum menandatangani prasasti peresmian balai ini. Selamat untuk Balai Produksi Benih Udang Unggul dan Kekerangan. Semoga harapan dari didirikannya balai ini dapat menjadi kenyataan dan visi Kementerian Kelautan untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia di 2015 dapat terbantu dengan adanya balai ini.