Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2006

Dana Taktis

Geli juga saya membaca berita di detik.com yang berjudul: “Orasi Ilmiah Mantan Menteri Kelautan Dibiayai Dana Pungutan”. Membaca berita itu, saya jadi teringat dengan postingan saya yang sudah cukup lama yang berjudul: “Staf Ahli, Staf Khusus, dan PNS”, dimana secara sepintas saya juga sedikit menyinggung tentang dana taktis ini.

Di banyak lembaga pemerintah, seperti juga tempat kerja saya, yang namanya dana taktis itu memang ada, dan hampir semua pegawai, baik dari level yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sudah tahu tentang hal itu. Biasanya dana taktis ini diperoleh dari uang Daftar Isian Proyek (DIP), sekarang kata kawan saya namanya diubah menjadi DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), yang “diakalin” sehingga tidak benar-benar dikeluarkan sesuai dengan apa yang tertera di dalam DIP dan masuk ke dalam rekening khusus. Atau bisa juga dana taktis ini diperoleh dari uang yang seharusnya disetor ke negara yang “diakalin” sebagian. Dana taktis ini biasanya memang digunakan untuk berbagai macam kegiatan “strategis” yang tidak tertera di dalam DIP. Kadang-kadang malah dana taktis ini juga dialokasikan untuk membayar THR para karyawan di saat menjelang hari raya, mensubsidi premi asuransi di luar asuransi kesehatan yang sudah ada untuk PNS, dan bahkan ada juga yang untuk membayar uang kurban di hari raya Idul Adha (bayangin saja, masa kurban dibayarin kantor?). Jadi, sesuai dengan namanya, memang dia bersifat taktis 🙂

Dari sudut pandang orang yang jujur dan bersih, jelas praktik semacam ini sudah masuk ke dalam kategori penyelewengan uang negara, tapi kalau karyawan sudah sama-sama diuntungkan, mereka bisa menyebutnya sebagai sebuah penyelewengan yang baik. Nah mendanai orasi Pak Menteri untuk jadi Profesor kan juga termasuk kegiatan yang baik toh? atau memanfaatkan dana taktis tersebut untuk kegiatan sosial, itu juga baik kan? hihihi… Jadi seperti cerita Robin Hood yang merampok untuk dibagikan kepada rakyat. Ah, jangan-jangan mereka memang penggemar Robin Hood ya?

Sejujurnya, seperti sudah saya katakan sebelumnya, hampir sebagian besar lembaga negara mengenal akan dana taktis ini. Hanya saja, pengalaman mengelola dana taktis selama berpuluh-puluh tahun akan menjadikan mereka pemain yang lihay dan susah untuk diendus oleh para auditor, karena memang bukti hitam di atas putihnya tidak ada, selain itu secara administratif memang sudah sesuai dengan prosedur yang ada dan tidak ditemukan yang namanya penyimpangan. Maka dari itu, menjerat para pemain dana taktis adalah sesuatu yang sulit dan saya yakin bahwa sebagian dari mereka yang akhirnya kini terendus oleh auditor dalam penggunaan dana taktis ini adalah para pemain yang kurang lihay, kurang berpengalaman -alias masih baru-, tidak berbakat, atau mungkin bolos ketika pelajaran pembagian jaman sekolah dulu, jadi hanya sempat masuk dan belajar pengurangan, penambahan, dan perkalian saja 🙂

Selain dana taktis yang tujuannya untuk berbagai macam kegiatan “strategis” tersebut, di akhir tahun anggaran biasanya para pengelola proyek sedang royal-royalnya menghabiskan uang “sisa” anggaran proyek. Ini juga fenomena yang lucu dan konyol, karena kalau anggaran tidak habis sesuai dengan apa yang tertera di dalam DIP, maka di tahun anggaran berikutnya jumlah dana yang akan diberikan ke lembaga yang anggarannya tidak habis itu akan dikurangi. Dari sudut pandang lembaga yang tidak becus menghabiskan dana DIP, ini adalah sebuah kerugian dan prestise buruk, karena dianggap tidak mampu membuat sebuah rencana kerja yang baik, maka dari itu uang yang tidak habis itu terpaksa harus dihabiskan bagaimanapun caranya. Mengembalikannya ke kas negara akan sama saja dengan bunuh diri, begitulah kira-kira. Dari sudut pandang orang yang jujur dan bersih, ini jelas penghambur-hamburan uang negara dan sebuah pola pikir yang keblinger, tapi mau bagaimana lagi. Kata Ranggawarsita: “Jamane jaman edan, nek ora melu edan ya ora keduman…”

Makanya, coba perhatikan dengan seksama di bulan-bulan seperti sekarang ini, pasti akan banyak kita temui acara-acara seminar atau rapat kerja yang dilakukan di hotel-hotel mewah… “lagi ngabisin anggaran boss!”

Iklan

Read Full Post »

Dana Pensiun PNS

Ada sedikit yang saya kira perlu diluruskan dari komentar Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga tentang dana pensiun untuk pegawai negeri sipil (PNS) yang dimuat di detik.com dengan judul: “Menneg Pora Setuju Dana Pensiun Pejabat Tinggi Dihapus”. Dalam berita itu Menneg Pora mengatakan:

Mereka beranggapan, menjadi PNS itu nyaman, karena dapat asuransi kesehatan dan uang pensiun di kemudian hari. Ini juga harus dihapus secara pelan-pelan, tandasnya.

Ada persepsi yang salah dalam pendapat Pak Menteri itu, seolah-olah fasilitas asuransi kesehatan dan uang pensiun diperoleh oleh PNS secara cuma-cuma, padahal sebenarnya (dan hal yang sesungguhnya terjadi) adalah setiap bulan para PNS dipotong gajinya untuk asuransi kesehatan dan dana pensiun. Semakin tinggi gaji si PNS, semakin besar pula uang potongannya. Uang untuk asuransi kesehatan kemudian dikelola oleh PT. ASKES, sementara untuk dana pensiun oleh PT. TASPEN (itu kalau belum berubah ya!).

Itu sama saja kasusnya dengan kalau kita membuat asuransi kesehatan sendiri ke perusahaan asuransi swasta, dimana setiap bulannya kita diharuskan membayar uang premi. Hal yang sama juga berlaku jika kita ikut program dana pensiun yang diadakan oleh perusahaan dana pensiun swasta. Carilah info yang lengkap terlebih dahulu Pak Menteri, sebelum anda mengucap sesuatu yang mungkin kurang tepat ke media massa!

Kalau untuk dana pensiun menteri atau pejabat-pejabat tinggi lainnya -yang masa jabatannya singkat, tetapi mendapat uang pensiun seumur hidup yang sangat besar dan fasilitas kesehatan yang super mewah- itu mungkin layak dikaji ulang, karena terlihat adanya ketidak-fair-an di sana, dan memang benar terlalu membebani anggaran negara. Tetapi untuk asuransi kesehatan dan dana pensiun PNS, yang memang secara ril mereka membayar premi bulanan, tentu akan lebih baik jika sistem manajemen di PT. ASKES dan PT. TASPEN lah yang diperbaiki jika terjadi kebocoran dana atau hal-hal lain yang merugikan. Atau bisa juga dengan memberlakukan aturan baru, seperti memperpanjang usia pensiun PNS, atau bahkan secara serius menerapkan zero growth bagi PNS (wacana zero growth ini sudah saya dengar sejak tahun 90-an, tetapi realisasinya nol besar karena birokrasi kita memang amburadul).

Saya kira, sistem asuransi kesehatan dan dana pensiun PNS adalah sesuatu yang sangat bagus dan layak ditiru, hanya saja mungkin karena manajemen yang amburadul di perusahaan pengelola dana atau malah di birokrasi pemerintahan, kesan yang timbul justru negatif dan malah dianggap merugikan negara. Apalagi dengan memberlakukan dana pensiun bagi para mantan wakil rakyat, menteri, dan pejabat-pejabat negara lainnya yang masa tugasnya relatif pendek. Kalau sudah begini, pemerintah sendirilah yang pantas untuk disalahkan, karena telah jor-joran dan keblinger dalam memberikan uang pensiun kepada mereka.

Sistem dana pensiun dan juga asuransi kesehatan adalah sesuatu yang lumrah dan harus ada di negara maju, itu artinya keputusan pemerintah Indonesia di jaman dahulu untuk mengadakan asuransi kesehatan dan dana pensiun bagi PNS (dan juga ABRI, sekarang TNI dan POLRI) adalah sesuatu yang mempunyai visi ke depan, mampu berpikir jangka panjang. Dan saya yakin, jika dana PNS yang terkumpul itu mampu dikelola dengan baik oleh PT. ASKES dan PT. TASPEN, dan tidak digerogoti oleh para birokrat yang brengsek dan para cecunguknya yang bau kecut itu, mereka akan sama besarnya seperti perusahaan asuransi kelas dunia. Sayangnya, di negeri Indonesia yang super korup, BUMN mana sih yang tidak diporotin uangnya sama para keparat itu?

Buat Pak Menneg Pora Adhyaksa Dault, gaul dikit dong sama PNS beneran! Kan banyak tuh di lingkungan kerja Bapak! Lagian tidak semua PNS itu jelek, banyak juga yang bagus! (contohnya gue! hahaha). Mau jadi PNS ataupun berwira usaha, kalau niatnya bagus kan gak masalah toh? Menteri juga ada yang jelek, lah Bapak kenapa mau jadi menteri juga? tanya kenapa? 🙂

Read Full Post »

Republik Amburadul

Meledaknya pipa gas milik Pertamina di kawasan kolam lumpur Lapindo menunjukkan betapa kacau-beliaunya manajemen pemerintah dalam menghadapi sebuah kondisi bencana. Tidak masuk di akal (menurut saya), bahwa pada sebuah kawasan yang dianggap berbahaya, Pertamina masih mengalirkan gasnya melalui saluran pipa yang berada di kawasan itu. Seharusnya, kalau memang benar pemerintah punya manajemen yang baik, Pertamina harus diperintahkan untuk menghentikan sementara pemfungsian saluran pipa gasnya sampai benar-benar diyakini bahwa tetap mengalirkan gas di instalasi yang berada di kawasan berbahaya itu adalah aman dan dapat dipertanggungjawabkan.

Memang pengaliran gas itu penting, karena Pertamina memasoknya untuk PT. Petrokimia Gresik, Perusahaan Gas Negara dan sebagian PLN (sumber: gatra.com), tetapi seharusnya untuk kondisi luar biasa seperti ini, Pertamina perlu mengkaji masalah keamanan dan keselamatan secara lebih hati-hati. Apalagi pipa itu ada pada kedalaman hanya 1,5 meter dari permukaan tanah dan dalam kondisi tertutup lumpur panas dan juga tanggul, serta adanya mobilitas di permukaan yang di atas normal. Artinya, peluang untuk terjadinya kerusakan pada pipa tersebut sangatlah besar.

Ketua Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Panas, Basuki Hadimuljono, dalam Media Indonesia Online mengatakan bahwa relokasi pipa gas Pertamina ini sebenarnya sudah dimulai, tetapi masih pada tahap penelitian. Ia juga mengatakan bahwa belum tahu pasti pipa gas mana saja yang akan direlokasi, karena kewenangan merelokasi pipa tersebut ada pada pihak Pertamina.

Kalau begitu buat apa dibentuk tim nasional yang khusus seperti itu kalau tidak bisa membuat sebuah rencana menyeluruh yang bersifat mengikat semua pihak dalam menanggulangi bencana lumpur panas itu? Amburadul betul! Jelas bahwa banjir lumpur panas adalah kondisi luar biasa, artinya segala jenis kegiatan yang sensitif dan mengandung resiko akibat kondisi luar biasa ini harus dihentikan sementara, termasuk di dalamnya penyaluran gas melalui saluran pipa yang berada di kawasan tersebut. Toh prinsip keselamatan kerja juga seperti itu? Apalagi Pertamina bukanlah perusahaan kemarin sore yang baru seumur jagung dalam mengurusi masalah pipa-pipa gas ini, artinya Pertamina seharusnya sudah memperhitungkan bahwa resiko akan terjadi kerusakan pada instalasi pipa gas mereka besar kemungkinannya.

Ah! tapi sudahlah, namanya juga Republik Amburadul! yang dipikirkan kebanyakan hanya keuntungan sesaat saja! Saya sih hanya bisa turut berduka cita saja untuk para korban dan keluarganya, semoga saja ini merupakan kejadian terakhir yang memakan korban, dan semoga saja pemerintah bisa lebih serius mengurusi masalah yang sudah cukup berlarut-larut ini… amin!

Lah koq malah saya yang misuh-misuh? maap atuh euy…

Read Full Post »

Investasi Gombal

Sampai sekarang saya masih heran, koq masih saja ada orang yang mau ditipu dengan dalih investasi seperti kasus Interbanking Bisnis Terencana (IBIST) di Bandung atau kasus-kasus sejenis lainnya. Kalau ada jenis investasi seperti itu, dengan iming-iming bagi hasil yang menggiurkan dan cukup besar setiap bulannya, yakinlah bahwa hal seperti itu akan lebih banyak bohongnya.

Kalau saja ada 5 orang yang bersedia menyetor ke saya uang masing-masing Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah), dan saya diminta untuk mentransfer keuntungan 4% setiap bulannya ke rekening mereka, saya pasti tidak akan keberatan. Dalam kurun waktu setahun pertama saya pasti akan bisa dengan lancar dan tepat waktu mengirimkan keuntungan yang 4% per bulan itu ke rekening mereka, setelah itu, saya harus kabur membawa lari sisa uang mereka. Giliran saya yang meraup untung, setelah selama setahun nasabah saya yang menikmatinya…

Tapi saya yakin, sebelum waktu setahun itu (sebelum saya kabur maksudnya), orang yang berminat menginvestasikan uangnya ke saya akan bertambah banyak. Lima orang nasabah pertama saya yang selalu saya kirimi uang setiap bulannya dengan lancar tentu bisa saya andalkan untuk menjadi agen pemasaran yang baik dan melipatgandakan jumlah nasabah saya. Ini seperti pesan yang suka ada di warung makan Padang: “Jika anda puas, beritahu teman…”

Ambil kata, sebelum waktu setahun itu, saat yang tepat untuk saya kabur dengan uang ratusan juta, sudah terkumpul nasabah berjumlah 20 orang dengan investasi masing-masing Rp. 100 juta,- maka di rekening saya akan terkumpul Rp. 2 ribu juta alias Rp. 2 M (angka 2 diikuti dengan sembilan angka nol). Lima orang nasabah pertama saya akan menerima 4%*Rp. 100 juta*12 bulan*5 orang = Rp. 240 juta. Dari 15 orang nasabah sisanya, ambil kata 5 orang mendaftar dan menyetor uang pada bulan ke-4, 5 orang pada bulan ke-6, dan 5 orang sisanya pada bulan ke-8 (sejak 5 orang nasabah pertama saya). Sebelum saya kabur, kepada 15 orang ini saya akan mentransfer uang @4% per bulan sebanyak 4%*Rp. 100 juta*8 bulan*5 orang + 4%*Rp. 100 juta*6 bulan*5 orang + 4%*Rp. 100 juta*4 bulan*5 orang = Rp. 360 juta. Jadi total uang yang akan saya transfer ke 20 orang nasabah saya adalah Rp. 240 juta + Rp. 360 juta = Rp. 600 juta saja. Dan semua uang transfer itu tidak sedikitpun keluar dari uang pribadi saya, sebagian kecil dari uang mereka lah (4%) yang saya kirimkan kembali ke rekening mereka.

Ambil contoh lagi, untuk meyakinkan mereka bahwa usaha saya bonafid, saya perlu menyewa sebuah rumah (untuk dijadikan kantor) yang cukup baik, katakanlah dengan biaya sewa Rp. 20 juta per bulan. Selama setahun menyewa, saya hanya akan mengeluarkan uang untuk membayar sewa sebesar Rp. 240 juta. Total jenderal, dari uang Rp. 2 M yang terkumpul di saya, selama setahun akan terpakai sebanyak Rp. 840 juta saja. Supaya mudah, mari kita genapkan saja semuanya menjadi Rp. 900 juta, hitung-hitung anggap saja saya mengeluarkannya untuk biaya pegawai dan alat tulis kantor (ATK) selama setahun perusahaan investasi saya beroperasi. Sisanya, saya masih menyimpan uang mereka sebesar Rp. 1,1 M di tabungan saya yang siap untuk dibawa kabur.

Jadi, siapa yang mau investasi ke saya? Silahkan, dijamin gombal dan melarat setiap saat!

Read Full Post »

Tamu Adalah Raja

Menjadi tuan rumah untuk seorang tamu negara yang juga pemimpin dari negara adi daya, adi kuasa, dan juga polisi dunia memang merepotkan. Lebih dari seminggu ini saya mencoba mengikuti berita persiapan menyambut kedatangan Tuan Bush ke Bogor, kota tempat saya numpang dilahirkan di rumah sakit PMI 37 tahun yang lalu. Sungguh luar biasa persiapannya, juga sambutannya, baik dari yang pro maupun yang kontra, yang sama-sama menggelar demo dan turun ke jalan, membuat macet kota Bogor. Para pejabat negara, wakil rakyat, pemimpin organisasi massa, dan orang biasa pun saling riuh rendah menyampaikan opini, dari yang pro sampai yang kontra. “Seru pisan pokona mah!” kata orang Sunda tea. George Bush emang “T-O-P-B-G-T” lah!

Dari berita terakhir yang saya baca, hari di saat Bush berkunjung ke Bogor telah ditetapkan menjadi hari libur, kantor-kantor pemerintahan yang tidak ada urusan dalam penyambutan Tuan Bush tutup. Masyarakat Bogor pun dihimbau untuk tidak  keluar rumah. Bukan hanya itu saja, terminal Baranang Siang pun akan ditutup pada tanggal 20 November 2006 (Republika), juga hotel-hotel yang berada di dekat lokasi pertemuan Bush-SBY harus disterilkan. Repot pisan pokona mah

Sepertinya, dimana-mana, Tuan Bush memang bikin repot ya…? Beginilah resikonya punya “teman” negara adi daya, adi kuasa, dan polisi dunia. Belum lagi kita memang punya prinsip “tamu adalah raja” *lol*

Read Full Post »

Enjoy your life

Masuk bulan November, Hamburg sudah mulai dingin. Suhu udara sudah mulai di bawah 10°C tiap harinya. Untungnya masih jarang-jarang terjadi suhu udara di bawah 0°C, ya paling sekali dua, itu pun hanya di pagi atau malam hari saja. Hanya saja, masuk musim gugur ini, hujan sering sekali turun, angin pun berhembus cukup kencang. Akibatnya, suhu 0°C bisa terasa -3°C atau -6°C. Makanya, kalau melihat ramalan cuaca, sangat penting untuk memperhatikan suhu udara yang terasa di badan, yang bisa beda jauh dengan suhu udara yang terukur.

Masuk ke musim yang mulai dingin, gelap, dan kelabu seperti ini, dengan siang hari yang terlalu cepat berlalu tetapi jarum jam ternyata masih menunjukkan waktu sore hari, sepertinya cukup menyebalkan buat saya. Bayangkan saja, pukul 4 sore sudah hampir gelap gulita, sedangkan pukul 6 sore serasa seperti pukul 9 malam. Hanya saja memang ada keuntungannya juga, pagi hari pukul 7 masih masuk waktu shalat Shubuh, jadi dijamin shalat Shubuh saya tidak pernah kesiangan di musim gugur dan dingin ini. Ini berbeda dengan musim panas yang waktu Shubuhnya jatuh sekitar pukul 3 dini hari. Jadi, kalau saya biasa bangun pukul 5 pagi (hihihi… seringnya malah kebablasan sampai pukul 6 lebih), itu waktu yang sudah terlalu telat untuk shalat Shubuh, lebih tepat disebut shalat Dhuha. Kalau sudah begini, tinggal ikut pepatah Melayu saja: “Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali“. Kacau memang!

Musim dingin itu musim dispensasi boleh jarang-jarang mandi. Bukan karena tidak ada air hangat, tetapi karena kalau sering-sering mandi air hangat, kulit menjadi kering “kerontang” dan rusak. Apalagi kebetulan kulit saya termasuk jenis kulit yang kering, yang kalau tidak pakai krim pelembab bisa jadi seperti kulit ikan asin yang bersisik. Jadi bikin kurang PD gitu loh… Makanya, lebih PD jarang mandi daripada punya kulit kering dan bersisik, pakai sedikit parfum sudah OK lah. Kalau nggak mau keluar uang buat beli parfumnya, ya sering-sering aja dateng ke toko parfum dan ngambil sampel-sampel parfum yang ada. Lumayan kan?

Di suhu udara yang dingin seperti ini, laju “kelaparan” akan bertambah, artinya: perut akan cepat keroncongan sebelum jam makan tiba, makanya perlu sedia cemilan di manapun berada. Kalau sudah begini, maka resiko badan gendut bisa lah sedikit diabaikan. Daripada kedinginan dan juga kerocongan, yang jelas jauh lebih menderita daripada sakit hati apalagi sakit gigi, lebih baik gendut sedikit tak mengapa, rela rela rela aku rela… (hihihi seperti lagu dangdutnya Hamdan ATT aja ya? apa ya kepanjangannya ATT itu? Aku Tidak Tahu meureun nyak?). Selain cemilan, minuman hangat pun jangan sampai dilupakan. Lebih cocok lagi kalau punya termos atau gelas khusus yang bisa “menyimpan” panas, supaya minuman bisa tahan lama hangatnya, biar tetap nikmat gitu loh… Buat yang suka sekoteng atau wedang jahe, musim dingin lah saat yang tepat untuk membuka persediaan sekoteng anda. Oh iya, ngomong-ngomong soal sekoteng, orang Jerman ternyata punya juga minuman sejenis sekoteng, namanya “Gluehwein”, lagi banyak dijual nih sekarang di pasar-pasar Natal…

Tapi untungnya di Hamburg, yang letaknya tidak jauh-jauh amat dari Laut Utara, suhu udaranya tidak terlalu dingin di musim dingin. Masih di atas 0°C lah suhunya, berbeda dengan daerah Jerman bagian selatan yang kalau sudah masuk musin dingin sama seperti masuk ke dalam freezer, amit-amit deh bekunya. Apalagi kalau sudah salju di mana-mana, licin bo! Dinginnya juga seperti masuk dari kaki, menyebar ke seluruh tubuh. Belum lagi kalau saljunya cukup tebal, jalan pun harus pakai tenaga ekstra, jadi tambah laper deh…

Makanya, memang paling enak hidup di negeri tropis. Mau jalan-jalan keluar rumah cukup pakai kaos oblong, celana pendek, dan sendal jepit. Lah di sini, kalau musim dingin, mau ke warung depan rumah aja musti pakai pakaian yang cukup tebel, pakai jaket, pakai kaos kaki, pakai sepatu… ruepot tuenan… masih untung nggak pakai sepatu ski ya… hehehe…

Tapi ya yang namanya hidup, semua harus dinikmati senikmat-nikmatnya. Kopi yang rasanya pahit pun bisa terasa begitu nikmat. Keju yang baunya kadang jauh lebih bau dari keleknya Tarzan atau kaos kaki kakak saya yang dipakai terus-menerus seminggu lamanya pun bisa terasa nikmat. Jadi, tak ada yang tak nikmat kalau kita bisa menikmatinya. Kata istri saya: “enjoy your life…

Read Full Post »

Kapan saja kita melihat hilal?

Pada suatu kesempatan ngobrol-ngobrol santai di rumah seorang kawan, saya pernah bertanya ke seseorang tentang fenomena melihat hilal dalam menentukan bulan baru dalam sistem penanggalan komariah (lunar). Apakah di setiap akhir bulan berjalan (hari ke-29), lembaga-lembaga -yang pada saat penentuan hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) serta awal Ramadan bertugas melihat hilal- juga melihat hilal untuk menentukan kapan tanggal 1 bulan berikutnya?

Orang yang saya tanya tersebut menjawab bahwa sepengetahuannya hilal hanya dilihat ketika kita akan menghadapi bulan Ramadan (akhir bulan Syaban), di akhir bulan Ramadan dan ketika menentukan awal bulan Dulhijah (bulan dimana tanggal 10 Dulhijah jatuh sebagai Hari Raya Kurban atau Idul Adha), selain itu tidak.

Lalu saya bertanya lagi: “Lalu patokan apa yang digunakan di 9 bulan lainnya?”

Jawabnya lagi: “Ya hasil perhitungan (hisab). Dari sisi ibadah, tidak ada urgensinya untuk melihat hilal di bulan-bulan lainnya”.

Saya kurang tahu apakah jawaban beliau betul atau tidak, tetapi setidaknya dari jawaban ini saya bisa memaklumi kalau perbedaan tanggal 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Dulhijah akan tetap terjadi di masa yang akan datang. Bayangkan saja, dari 12 kali kesempatan melihat hilal, yang bisa dijadikan studi empiris untuk suatu hasil yang lebih baik, kita hanya melakukannya 3 kali saja, sementara di sisa 9 kali lainnya kita “santai-santai” saja dan tidak ada masalah dengan sistem hisab.

Mungkin ini akibat kita menggunakan sistem samsiah (solar) dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang betul bahwa tidak ada urgensinya untuk selalu melihat hilal di akhir bulan berjalan kecuali di 3 bulan yang saya sebut di atas. Lucu juga ya?

Read Full Post »