Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2008

Beberapa waktu yang lalu, istri saya, yang juga oseanografer, meminta saya untuk membuat beberapa modul pelatihan oseanografi sederhana dan menyampaikannya di depan mahasiswanya di Program Studi Oseanografi ITB. Kebetulan, selama ini sudah beberapa tulisan, yang seringkali mentok hanya jadi draft karena malas untuk melakukan sentuhan akhir, yang telah saya buat di waktu senggang saya. Beberapa di antaranya pernah pula saya publikasikan di blog saya yang lain, yaitu Oseanografi, yang sekarang dalam kondisi tak tersentuh alias jablay akibat koneksi internet yang tak seindah dulu waktu masih tinggal di Hamburg. Berikut adalah 3 modul pelatihan tersebut beserta sedikit penjelasan singkatnya:

  1. Modul Pengenalan Data Oseanografi, ukuran file 89 kB, sedikit membahas tentang sejarah survey (pengumpulan data) oseanografi di Indonesia dan sumber-sumber data, baik yang ada di lembaga penelitian di Indonesia maupun yang tersedia online dan gratis dari lembaga-lembaga penelitian di luar negeri. Sederhana sekali, hanya sekedar memberikan gambaran umum.
  2. Modul OTPS, ukuran file 282 kB, berisi penjelasan mengenai cara menggunakan perangkat lunak OTPS (OSU Tidal Prediction Software), bersifat sangat teknis, sebagian besar isinya saya terjemahkan langsung dari petunjuk yang ada dalam paket OTPS yang bisa diunduh dari situsnya Oregon State University.
  3. Modul Membaca NetCDF, ukuran file 420 kB, juga bersifat sangat teknis, ditulis berdasarkan pengalaman saya menggunakan salah satu NetCDF toolbox-nya Matlab untuk membaca data reanalisis dari NCEP (National Centre for Environmental Prediction).

Sebetulnya masih banyak modul yang tengah saya tulis saat ini, secara paralel, memanfaatkan waktu saya yang saat ini masih belum banyak terpakai di kantor akibat masih belum punya riset sendiri dan belum cairnya dana penelitian yang dipotong sampai 40% itu. Beberapa dari tulisan saya yang saat ini masih memerlukan sentuhan akhir adalah: Mengolah data ADCP dengan menggunakan perangkat lunak CODAS, Potensi Upwelling/Downwelling dalam Menyerap Anthropogenic Carbon, dan Model Biogeokimia Laut, Sebuah Pendahululan.

Harapan saya, semoga modul-modul tersebut dapat bermanfaat buat anda yang menggeluti bidang oseanografi…

Read Full Post »

Barang bajakan, EGP HaKI

Pertama jalan-jalan ke Bandung Electronic Centre (BEC), sekembalinya dari menetap selama 4,5 tahun di Hamburg, saya gak nyangka juga kalau ternyata barang-barang bajakan masih banyak dijual dengan bebas di sana. Waktu itu kebetulan saya pergi ke BEC untuk membeli game Nintendo Wii. Ketika saya sempat menanyakan kepada penjaga toko “apakah gak pernah kena razia dengan alasan HaKI (sekarang HKI) mbak?” dengan enteng si mbak itu menjawab bahwa mereka, para penjual, sudah punya asoasiasi. Saya sendiri gak tahu apa maksudnya dengan asosiasi ini, tapi sepertinya asosiasi inilah yang “mengurus” segala sesuatu sehingga barang bajakan yang dijual tersebut bisa menjadi barang yang legal dan bebas dari razia HaKI. Hm… menarik juga fenomenanya. Setelah saya perhatikan lebih jauh lagi ternyata bukan hanya cakram-cakram game Nintendo Wii, XBox, dan PS saja yang bajakan, game-game untuk PSP (Play Station Portable) new generation (dalam format ISO), dan lagu-lagu mp3 untuk dipasang di telepon selular pun banyak yang bajakan. Bahkan sepengalaman saya, mencari cakram game Nintendo Wii yang asli itu ternyata sulit sekali, sama sulitnya dengan mencari rambut di jidat saya yang botak ini. hahaha…

Lebih jauh lagi, ternyata para pedagang cakram game ini juga menyediakan jasa untuk meng-hack console game kita supaya bisa memutar cakram versi bajakan ini. “Untuk Nintendo Wii tarifnya sekitar 400 ribu Rupiah!”, begitu kata mereka. Secara ekonomis, cakram bajakan ini memang cukup menggiurkan, dengan uang kurang dari 20 ribu kita sudah bisa membeli satu game. Coba bandingkan dengan versi aslinya. Sebagai contoh, di Hamburg cakram game Nintendo Wii versi asli berharga sekitar 40 Euro, atau lebih dari 400 ribu Rupiah. Mana tahan! Siapa coba yang kuat menahan godaan harga murah versi bajakan seperti ini?

Lalu, ketika saya kembali bekerja di kantor yang sekitar 4,5 tahun saya tinggalkan karena alasan tugas belajar, dimana di kantor itu pula gerakan IGOS ikut dikumandangkan dan digaungkan, ternyata jumlah komputer yang menggunakan software bajakan tidak berkurang jumlahnya, malahan bertambah karena dari sebagian besar pengadaan PC baru, mereka lebih memilih untuk membeli PC kosong, tanpa sistem operasi dan kemudian meng-install-nya dengan software bajakan. Bener-bener deh…

Jadi bagaimana dong soal HaKI kalau begini keadaannya? Ah, emang gue pikirin? hehehe… Eit tapi jangan salah, giliran lagu Rasa Sayange dipake sama Malaysia, kita koq kebakaran jenggot ya? Pake teriak-teriak soal HaKI segala. hahaha… Kata anak saya, dengan logat Jawa yang medok, “saenake dhewe!” Lho, siapa yang saenake dhewe? ya siapa lagi kalau bukan kita (juga Malaysia). hahaha… cape deh…

Btw. film Ayat-ayat Cinta yang baru diputer kemaren aja udah ada “bajakannya” di internet… bener-bener deh…

Read Full Post »

Di kantor tempat saya bekerja ada seorang kawan yang kebetulan anaknya tahun depan akan masuk ke perguruan tinggi. Saat ini, sebagai orang tua, dia sedang mencari sebanyak mungkin informasi tentang jurusan atau program studi yang mungkin bisa dipilih anaknya nanti. Kawan saya ini lulusan dari Fisika Teknik yang bekerja di Jakarta sementara keluarga tinggal menetap di Bandung, senasib dengan saya. Pada suatu kesempatan dia sempat bertanya ke saya tentang Program Studi Oseanografi ITB, apakah cocok untuk anaknya atau tidak. Cocok dari sisi jenis kelamin (kebetulan anaknya perempuan) dan kemudahan mencari pekerjaan atau ketersediaan lapangan kerja.

Hm, kalau ada pertanyaan seperti ini, susah juga saya menjawabnya. Dari sisi jenis kelamin, sepertinya sih tidak ada masalah di jaman sekarang ini, toh kesetaraan gender sudah diakui di negeri ini. Hanya saja saya sedikit memberi masukan kepada kawan saya ini bahwa kalau nanti sebagai oseanografer anaknya banyak bekerja di lapangan (bekerja di kapal survey misalnya), maka dia harus siap selama berminggu-minggu di laut lepas. Pengalaman saya akhir tahun lalu mengikuti pelayaran dengan kapal riset Mirai dari Jepang, untuk pelayaran dari Selandia Baru hingga ke Okinawa (melintasi Samudera Pasifik), kami harus berlayar selama satu bulan lamanya. Di kapal riset Mirai itu sendiri ada 3 perempuan yang ikut, 2 teknisi dari JAMSTEC (yang memiliki kapal riset tersebut) dan seorang research scientist, mahasiswa S2 dari Filipina. Sebelumnya, dua teknisi dari JAMSTEC ini baru saja ikut dalam pelayaran dari Laut Bering hingga ke Selandia Baru yang memakan waktu lebih dari sebulan lamanya. Artinya, karena dilanjutkan dengan pelayaran berikutnya dari Selandia Baru hingga ke Okinawa ini, maka mereka harus berlayar lebih dari 2 bulan lamanya. Dari hasil tanya-tanya, dalam setahun mereka akan berada di atas kapal riset lebih dari 6 bulan lamanya. Wow! tua di laut dong!

Kebetulan kedua tekhnisi ini masih lajang, jadi pergi berlayar selama lebih dari 6 bulan dalam setahun masih bukan masalah bagi mereka. Bagaimana kalau mereka sudah berkeluarga dan punya anak pula? Hal seperti ini pernah juga menjadi bahan diskusi di radio Deutsche Welle tahun lalu, kebetulan istri saya termasuk salah satu yang diwawancarai. Topik yang menjadi bahan bahasan adalah: “Sejauh mana wanita bisa menjadi seorang saintis sekaligus merangkap sebagai ibu rumah tangga yang baik, dimana kedua tugas dan tanggung jawab tersebut bisa dijalankan dengan seimbang? Sukses berkarir sebagai saintis sekaligus sukses sebagai ibu rumah tangga yang tetap memiliki waktu untuk suami dan anak-anak”.

Nah, sekarang bagaimana dari sisi lapangan kerja? Sejujurnya, meskipun kita sering berbangga menyebut negara kita sebagai negara maritim, bangga punya ribuan pulau (sampai sekarang berapa jumlah pasti pulau-pulau kita masih belum jelas karena masih banyak pulau yang belum punya nama), mengaku punya garis pantai yang paling panjang di dunia (dunia internasional kalau tidak salah masih mengakui Kanada sebagai negara dengan garis pantai paling panjang di dunia karena kita masih belum selesai mengukur garis pantai kita), dan juga mengaku punya nenek moyang yang pelaut ulung, pada kenyataannya perhatian pemerintah pada sektor kelautan masih memble. Akibatnya, lapangan kerja di sektor kelautan juga masih sangat terbatas dan masih beresiko tinggi. Mau berwiraswasta, semisal membuat budidaya laut, pun masih riskan. Pernah suatu kali dalam sebuah seminar marikultur (budidaya laut) yang kami adakan di tahun 97-an, Bapak Iskandar Alisjahbana sempat “mengeluh” karena lahan budidayanya harus tutup akibat pemerintah setempat mengijinkan dibangunnya pabrik kertas di dekat lokasi budidayanya, yang katanya membuang limbah ke laut dan mencemari air di sekitarnya.

Kebanyakan lowongan yang ada untuk lulusan oseanografi masih terbatas pada lembaga penelitian atau perguruan tinggi, sementara di sektor swasta masih sangat terbatas, termasuk untuk berwiraswasta. Artinya, bersiap-siaplah untuk tidak langsung dapat kerja setelah lulus, kecuali kalau mau beralih profesi ke bidang lain. Dan hal inilah yang banyak terjadi, kebanyakan dari kawan-kawan kuliah saya dulu pada akhirnya banyak yang memilih untuk terjun di bidang tekhnologi informasi. Bahkan trend yang terjadi sekarang ini, banyak dari mereka yang setelah lulus sarjana (S1) melanjutkan kuliah magister (S2) di jurusan lain seperti Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Teknik Planologi, Teknik Elektro, dan juga Studi Pembangunan. Betul-betul beralih profesi! Mungkin karena dulunya memang punya obsesi lain (bukan sebagai oseanografer) tetapi harus mentok diterima di pilihan kedua waktu tes penerimaan mahasiswa baru, atau bisa juga karena memang dari awal mereka sudah salah pilih dan kurang sreg, tapi apa boleh buat daripada harus ikut tes masuk perguruan tinggi lagi…

Secara umum, sebetulnya peminat oseanografi di Indonesia sudah agak lumayan sekarang ini. Jumlah perguruan tinggi yang memiliki program studi ilmu kelautan pun semakin bertambah (dibanding jaman saya kuliah dulu). Di ITB sendiri ada dua program studi yang berurusan dengan laut, yaitu Program Studi Teknik Kelautan dan Program Studi Oseanografi, dimana untuk Program Studi Oseanografi mereka lebih mengususkan diri pada pemodelan numerik. Banyak dosen dari perguruan tinggi lain (baik di Jawa maupun di luar Jawa) yang belajar pemodelan oseanografi (jenjang S2) di Program Studi Oseanografi ini, dan kemudian mengembangkannya di perguruan tinggi mereka. Di negara maju seperti Jerman, yang riset dan tekhnologi kelautannya jauh lebih maju daripada kita, jumlah mahasiswa yang berminat mengambil ilmu kelautan justru semakin berkurang akhir-akhir ini karena keterbatasan lapangan kerja yang ada (kecuali menjadi peneliti) dan jenjang karir dan gaji yang menurut mereka kurang menarik. Maka dari itu tidak jarang lowongan riset di institut kelautan yang ada banyak diisi oleh peneliti dari negara lain, baik dari Eropa maupun Asia, dan saya termasuk yang memanfaatkan lowongan riset ini untuk mengambil gelar S3 saya.

Menurut istri saya, ITB akan meniadakan SPP (gratis biaya kuliah) buat mahasiswa yang memilih Program Studi Oseanografi, dan beberapa Program Studi lainnya seperti Astronomi dan Meteorologi, karena ilmu ini masih dianggap penting dan perlu terus dikembangkan di negeri ini, selain juga untuk menarik peminat. Sebetulnya ada juga pro dan kontra terhadap tawaran ini, dimana pihak yang kontra menilai bahwa tawaran ini justru akan membuat Program Studi yang bersangkutan menjadi kurang bonafid. Mereka mungkin termasuk orang yang punya moto: “gratis itu gak bonafid”.

Mungkin lain waktu saya perlu juga menceritakan isu terhangat apa saja di sektor kelautan yang ada saat ini yang menarik dan menantang untuk dikaji lebih lanjut oleh para penelit kelautan di Indonesia.

Read Full Post »

Susahnya jadi peneliti

Saya pikir, cukup logis juga kalau fenomena brain drain banyak mencuat dan menjadi isu yang selalu hangat di negara ini, apalagi beberapa tahun belakangan ini. Dana penelitian lembaga pemerintah tahun 2008 ini saja banyak yang dipotong sampai 40%. Lebih parah dari itu, sampai saat ini belum sepeserpun dari uang penelitian tersebut yang bisa dicairkan untuk melakukan kegiatan, padahal sudah masuk bulan Februari. Pusing deh. Kapan mau mulai meneliti kalau begini kondisinya?

Selain itu, kalau kita bekerja di lembaga penelitian milik pemerintah dan berniat untuk memilih jabatan fungsional peneliti, peraturan baru dari LIPI menyaratkan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) untuk peneliti terlebih dahulu, dengan biaya keikutsertaan sekitar Rp. 7 juta rupiah. Lebih parah lagi, di lembaga tempat saya bekerja, uang sebesar itu harus keluar dari kantong sendiri karena biro sumberdaya manusia atau biro pendidikan dan latihan tidak mau menyediakannya. Ada juga unit kerja yang mau mengalokasikan dana untuk calon peneliti muda mengikuti diklat ini, tapi dengar-dengar uangnya ternyata harus dikais dari dana non-budgeter. Gak betul juga kan?

Oh iya, tentang mengikuti diklat untuk peneliti yang dijadikan salah satu syarat wajib untuk memilih jabatan fungsional peneliti, menurut saya sih terlalu mengada-ada. Untuk bisa lulus jadi sarjana kan kita harus melalui tahap menulis karya ilmiah (skripsi), apalagi yang sudah meraih gelar master bahkan doktor. Artinya, menulis karya ilmiah itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita yang sejak awal sudah nekad memilih bekerja di lembaga penelitian.

Ruwet betul kan? Bagaimana mau maju penelitian di negeri ini kalau para penelitinya dikebiri seperti itu. Padahal tidak sedikit peneliti di negeri ini yang potensial dan rela menerima gaji yang tidak terlalu besar, asal bisa enjoy meneliti. Makanya jangan melulu menyalahkan mereka yang kabur ke luar negeri atau ngobyek di luar kantor. Bagaimanapun juga, ada alasan yang jelas yang membuat mereka melakukan hal itu.

Gimana nih Pak Menristek, Pak Ketua LIPI, dan Pak Ketua BPPT? Ini kan seharusnya menjadi bagian dari tugas anda toh? Membuat sebuah kondisi dimana para peneliti bisa nyaman meneliti di negerinya sendiri. Jangan dibikin susah dan repot begitu dong!

Read Full Post »

Mengais sisa aset

Seminggu ini saya disibukkan untuk menghidupkan kembali workstation tua Sun yang ada di kantor. Workstation ini peninggalan dari riset tahun 1995. Sebenarnya waktu itu ada 5 workstation yang dibeli dari riset ini, dengan beberapa perangkat lunak oseanografi dan meteorologi, segala macam asesoris (media penyimpanan eksternal, dll) dan koneksi jaringan LAN-nya, yang harganya waktu itu berorde ratusan juta rupiah. Dari sekian aset yang ada tersebut, hanya tinggal satu workstation saja yang saat ini masih bisa dihidupkan. Untungnya, di workstation inilah semua perangkat lunak oseanografi dan meteorologi itu berada. Artinya masih ada peluang untuk tetap bisa memanfaatkan perangkat lunak mahal tersebut.

Dulu biasanya saya dan tim monitoring, forecasting, dan modelling yang suka menggunakan workstationworkstation ini, hanya saja semenjak saya melanjutkan sekolah lagi sementara ketersediaan dana riset hanya bertahan sampai tahun kelima dan teman-teman harus disibukkan dengan kegiatan proyek lainnya, yang sayangnya hampir tidak menggunakan fasilitas yang sudah ada tersebut, maka hampir tak ada seorang pun yang perduli dengan peralatan mahal tersebut.

Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, unit tempat saya bekerja harus pindah kedeputian dan kami pun harus pindah lantai. Semua peralatan harus ikut dipindahkan, termasuk workstationworkstation tersebut. Tragisnya, kami tidak mendapatkan tempat sama sekali untuk bisa menaruh dan menyusun ulang workstationworkstation tersebut. Akibatnya, semua peralatan tersebut harus ditumpuk di gudang. Lucunya, malah lemari dan meja yang ada di tempat workstation itu berada sebelumnya yang jadi rebutan, sementara peralatan yang lebih berharga malah diabaikan. Sesuatu yang sangat menyebalkan.

Read Full Post »

Ini pengalaman kemarin, Rabu 6 Februari 2008, ketika saya pulang ke Bandung naik kereta api Argogede pukul 17.45. Dengan menggunakan ojek saya tiba di stasiun Gambir pukul 17.35, masih ada cukup waktu untuk bisa naik kereta Argogede pukul 17.45. Beli tiket di loket, dengan harga Rp.75 ribu rupiah, saya dapat tempat duduk no.11D di gerbong 4. Naik ke jalur 4, saya lihat penumpang Argogede cukup banyak. “Sepertinya bakalan penuh nih”, batin saya.

Sekitar lima menit menjelang waktu keberangkatan, kereta Argogede dari Bandung pun tiba dengan jumlah penumpang yang tidak terlalu banyak. Setelah semua penumpang dari Bandung turun, saya pun segera mencari gerbong no. 4, dan ternyata setelah sampai ke gerbong paling belakang, gerbong kereta hanya sampai no. 3. Gile! Nanya ke orang Perumka yang tugas di kereta Argogede, mereka bilang memang hanya membawa 3 gerbong saja dari Bandung. Tanya ke customer service, eh justru mereka malah bengong dan bingung dan malah bertanya lugu: “lho koq bisa?”. Bodor pisan!

Akhirnya, kereta yang mustinya berangkat pukul 17.45 itu pun harus menunda keberangkatannya, dan baru diberangkatkan sekitar pukul 18.00 dengan tetap membawa hanya 3 gerbong. Penumpang yang di tiketnya mendapat tempat duduk di gerbong 4 diminta untuk naik dulu dan baru nanti di stasiun Manggarai akan disediakan gerbong ke-4 nya. Konyol pisan! tapi apa boleh buat, marah atau protes pun tak ada gunanya. Lebih baik ketawa saja, karena dagelan Perumka kali ini memang bener-bener lucu! Thukul aja kalah lucu…

Read Full Post »