Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2006

Organisasi umat Islam Indonesia di Hamburg, yaitu Indonesisches Islamisches Centrum (IIC) e.V. memutuskan untuk melaksanakan shalat Idul Adha pada hari Sabtu, 30 Desember 2006, mengikuti keputusan pemerintah Saudi Arabia. Di Hamburg sendiri ada 2 keputusan berbeda tentang jatuhnya hari raya Idul Adha, sebagian mengikuti keputusan Saudi Arabia dan sebagian lagi (seperti umat Islam yang berasal dari Turki, Afganistan, bahkan dari Arab) memutuskan bahwa Idul Adha jatuh di hari Minggu, 31 Desember 2006. Ini seperti kasus Idul Fitri yang baru lalu, yang juga ada 2 keputusan berbeda. IIC e.V. juga organisasi umat Islam dari Turki dan Afganistan memutuskan mengikuti Saudi Arabia, sementara DIWAN memutuskan Idul Fitri jatuh pada hari yang berbeda (silahkan baca di sini untuk cerita lengkapnya). Dan saya, yang mengikuti keputusan DIWAN, melaksanakan shalat Idul Fitri di masjid Arab.

Karena jatuh di akhir pekan, maka jemaah yang melaksanakan shalat Idul Adha di KJRI Hamburg pun cukup banyak. Acara yang dimulai pukul 09.15 berlangsung dengan lancar dan khidmat. IIC e.V. mengundang Dr. Syamsuddin Arif, mahasiswa doktoran di Frankfurt, untuk menjadi imam dan khatib shalat Idul Adha kali ini. Berita lengkap bisa dibaca di sini.

Pengaturan tempat shalat, pemasangan tikar dll. dilakukan oleh panitia shalat Idul Adha yang dibentuk IIC e.V. pada hari Jumat sore usai jam kerja KJRI. Sebelumnya kami sudah memperkirakan bahwa jumlah jemaah mungkin akan cukup banyak, maka dari itu tempat shalat yang biasanya hanya di aula KJRI harus diperluas hingga ke ruang depan KJRI. Sebenarnya halaman belakang KJRI cukup luas, hanya saja karena saat ini sedang musim dingin, maka perluasan tempat shalat harus dilakukan ke ruang depan. Inilah kurang enaknya hidup di negara yang ada musim dinginnya, hanya bisa menggunakan tempat terbuka di musim semi atau panas saja.

Begitulah sedikit cerita tentang Idul Adha di Hamburg. Selamat Idul Adha 1427 Hijriah, selamat mengimplementasikan makna berkurban dalam kehidupan sehari-hari.

Read Full Post »

Post ke-400

Menurut statistik blog ini, postingan ini adalah yang ke-400 yang dipublish di blog ini. Sudah 400 post itu cukup “ruar biasa” buat saya yang termasuk dalam kategori orang yang malas menulis. Kalau setiap post sama dengan 1 halaman buku, maka saya sudah membuat tulisan sebanyak 400 halaman sejak awal mula berkecimpung di dunia blog ini (Juni 2005). Sayangnya, tulisan saya tidak konsisten pada satu tema tertentu, selain itu juga banyak yang tidak bermutu, jadi ya tidak mungkin juga dibuat buku. hahaha…

Awalnya, blog perdana saya ada di blogspot, tetapi setelah saya jatuh cinta kepada wordpress, “terpaksa” saya harus membloggamikan (ini istilahnya jelas ngawur, harusnya mungkin poliblogi) blogspot saya dan memindahkan semua postingan yang ada di sana ke blog ini. Tadinya, dalam rencana, saya akan tetap menulis baik di blog yang di blogspot maupun yang di wordpress, sayangnya ternyata saya tidak bisa berlaku adil dalam berbloggami. Nasib blog yang ada di blogspot pun terkatung-katung, dicerai tidak, dinafkahi (lahir batin) pun tidak, padahal blog di blogspot itu sudah saya daftarkan ke Planet Terasi dan secara statistik bukan termasuk dalam kategori blog jablai. hahaha…

Mengamati statistik di blog ini, saya melihat bahwa tulisan yang berbau gosip ternyata memiliki traffic yang paling baik. Fenomena ini pertama kali saya alami ketika terjadi “pertarungan” antara Halimah dan Mayangsari, dimana secara tidak sengaja, beberapa hari sebelum “pertarungan” itu terjadi saya sedikit mengomentari berita di detikhot tentang rencana perkawinan anak pasangan Bambang-Halimah, dan Mayangsari (istri ke-2 Bambang) yang tidak diundang dalam postingan saya yang berjudul “Wartawan Gosip”. Kita (maksudnya saya, dan juga anda) memang masih suka membaca berita gosip, itulah makanya infotainment laris manis di tanah air. Kali cocok juga nama infotainment diganti jadi ghibahtainment. hahaha…

Sementara itu, tulisan yang agak ilmiah atau serius seringkali sepi pengunjung, kecuali beberapa pengunjung tetap yang kalau di dalam dunia nyata mungkin hampir sama statusnya seperti tetangga dekat. Sayangnya, saya bukan termasuk yang lihai dalam menulis berita gosip, jadi tidak bisa juga memanfaatkan peluang ini agar bisa menjadikan blog saya masuk dalam jajaran the fastest growing blogs atau bahkan mungkin masuk juga ke dalam jajaran top 10, atau malah masuk dalam kategori blog ghibah. hahaha…

Selain blog ini, saya juga membuat sebuah blog tentang bidang ilmu yang saya tekuni, yaitu oseanografi. Sayangnya blog itu harus rela menjadi blog jablai, mungkin karena bidang ilmu yang tekuni masih kurang populer di tanah air, meskipun lautan kita lebih luas daripada daratannya dan kita pun bangga disebut sebagai negara maritim. Bahkan B.J. Habibie pernah mencanangkan negeri kita sebagai benua maritim, dan kita pun punya lagu semasa anak-anak: “nenek moyangku seorang pelaut…” Bisa jadi saya mungkin harus menyelipkan sedikit “gosip” dalam blog oseanografi saya itu untuk menaikkan jumlah traffic. Jangan-jangan nanti malah jadi blog ghibah oseanografi. hahaha…

Begitulah sedikit kilas balik, buat sekedar ngupdate postingan di blog ini biar judulnya gak “Wanita dalam Sorotan” terus, soalnya pemenang polling wanita dalam sorotannya sekarang sudah jadi tersangka pengedar video mesumnya sendiri. Oh iya, sebentar lagi tahun baru deh (gile, udah mau 2007 bok! tambah tua deh ane), di Hamburg sudah riuh rendah bunyi petasan di mana-mana (tidak dilarang dan di toko-toko memang sedang sale petasan, bikinan China banyak juga ternyata), yang kadang membikin saya kaget. Untung saya gak latahan kaya Eko Patrio (gayanya masih kaya “bencong” gak ya kalau lagi jadi presenter?) atau Mak Wok (ini artis jaman baheula, nama aslinya Wolly Sutinah, teman mainnya Benyamin S, sudah meninggal dunia). Coba kalau saya latah, setiap ada bunyi petasan pasti deh teriak: “eh copot… eh copot… copot…” (ini lagunya Adi Bing Slamet waktu masih imut dulu, saya juga masih imut waktu itu, sekarang sih masih imut juga). Masih untung kalau latahnya cuman bilang “eh copot-copot”, kalau yang keluar kata-kata jorok seperti bulik saya yang di Jawa sana…? hihihi… bisa tersipu malu deh kita…

Read Full Post »

Wanita dalam Sorotan

Iseng-iseng saya melihat polling di detik.com dengan pertanyaan: “Empat wanita marak jadi sorotan media massa belakangan ini. Siapa favorit anda?”. Adapun 4 wanita yang dimaksud adalah Alfarini (istri ke-2 Aa Gym), Ninih (istri ke-1 Aa Gym), Maria Eva (pelaku “perselingkuhan” dan pemeran utama video mesum), dan Sharmila (istri korban selingkuh suami).

Sampai dengan dibuatnya postingan ini, sudah ada pemilih sebanyak 4614 orang dengan Maria Eva memperoleh suara terbanyak sebesar 36,78%, disusul Ninih dengan 28,61%, ditempel ketat oleh Sharmila dengan 26,35%, dan terakhir Alfarini yang hanya mampu meraih suara 8,26%.

Ternyata, pelaku “perselingkuhan” dan pemeran utama video mesum yang baru saja mengunjungi korban lumpur Lapindo di Sidoarjo dan mendapat sambutan yang hangat di kampung halamannya itu, justru mampu tampil menjadi wanita favorit pilihan pembaca detik.com. Hebat juga ya? Jadi penasaran, pemilih terbanyaknya laki-laki atau perempuan ya? Sementara itu, wanita “korban” poligami dan perselingkuhan hampir mendapatkan “simpati” yang sama dari para pemilih, sedangkan wanita yang mau dijadikan istri ke-2 justru kurang mendapat respon yang baik dan cenderung dibenci (sama seperti kasus Mayangsari yang ternyata banyak “diumpat” oleh para wanita karena tega “merebut” suami Halimah). Wanita “menyakiti” wanita, begitu mungkin kesan yang lebih terasa. “Masa jeruk minum jeruk?” gitu kali ya?

Kesimpulannya? selingkuh dan mesum-mesuman, apalagi kalau pake direkam dan diedarkan, jauh lebih favorit daripada poligami. “Layak” gak untuk jadi kado Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember nanti? 😀

Btw. selamat Hari Ibu deh, jangan lupa masak yang enak yah buat suami dan anak-anak, biar tetep lengket kaya perangko… 😀 *Jaka Sembung deh, gak nyambung Bleh*

Read Full Post »

Kalau Sutiyoso sedang bingung dengan bagaimana caranya mengeyahkan sampah di Jakarta, Michiaki Shigehiro justru sedang pusing mencari timbunan sampah yang cukup banyak: “kalau bisa yang lebih dari 100 ton per hari!” begitu kira-kira doi berkata.

Untuk apa Shigehiro mencari tumpukan sampah seabrek-abrek? ternyata doi mau mengubahnya menjadi energi listrik. Shigehiro adalah general business manager Eco Valley Utashinai, sebuah perusahaan yang mengubah sampah menjadi energi dengan menggunakan teknologi plasma arc, sebuah “sentakan” listrik yang mengionisasi gas dalam sebuah bilik (chamber) dan menghasilkan temperatur lebih dari 16.000°C, setara dengan 3 kali panasnya permukaan matahari. Sebuah teknologi seharga USD 59 juta, yang untuk menutupi investasi yang besar itu diperlukan timbunan sampah yang melimpah. Begitulah berita yang saya baca di majalah Nature online yang kebetulan bisa diakses gratis kalau komputer jinjing saya dicolokin ke jaringan di institut tempat saya kerja. Sebelumnya mohon maaf (dan koreksinya) kalau banyak istilah teknis yang saya juga bingung mencari atau salah memberikan padanannya dalam bahasa Indonesia, terutama pada istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi plasma arc ini.

Menurut artikel itu, secara teori pembuangan sampah akan menjadi bisnis yang menguntungkan dan ramah lingkungan dengan mengubah sampah yang digaskan (gassified waste) menjadi energi. Di atas kertas, sampah padat perkotaan (SPP) mengandung sepertiga hingga setengah energi batubara pertonnya dan mampu untuk memasok energi dalam skala nasional. Pembangkit plasma Utashinai adalah satu-satunya fasilitas pendaur ulang SPP menjadi energi yang sudah beroperasi dan mampu untuk bertahan hidup sejak tahun 2002.

Beberapa perusahaan, yang berharap mampu meningkatkan kinerja yang sudah dihasilkan Jepang, saat ini juga tengah merancang fasilitas plasma arc mereka. Geoplasma, sebuah perusahaan yang berbasis di Atlanta bahkan sedang dalam tahap akhir perancangan sebuah pembangkit dengan ukuran yang 10 kali lebih besar daripada Utashinai yang akan dibangun di St Lucie, Florida. Jika rancangan ini selesai, maka pada tahun 2009 pembangkit ini akan mampu mengubah 2.700 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Sementara itu Startech Environmental di Wilton, Connecticut mengumumkan kontraknya untuk membangun fasilitas serupa dengan kapasitas 180 ton per hari di Panama. Perusahaan lainnya yang saat ini masih dalam tahap negosiasi untuk pembangunan fasilitas serupa di Ottawa dan Barcelona adalah Plasco Energy Group di Ontario.

Plasma arc sendiri sebenarnya adalah sebuah teknologi lama, meskipun pemanfaatannya untuk pengolahan sampah dalam skala besar masih termasuk baru. Teknologi ini telah dikembangkan dan digunakan oleh NASA sejak tahun 60-an untuk mensimulasikan temperatur tinggi yang dialami pesawat ruang angkasa ketika memasuki atmosfer bumi. Semenjak perusahaan-perusahaan seperti Startech dan Westinghouse Plasma di Madison mengembangkan plasma arc pada tahun 90-an yang digunakan oleh Geoplasma untuk mengolah sampah, “obor” plasma (plasma torches) ini banyak digunakan untuk melumerkan sisa logam atau menghancurkan material yang berbahaya.

Obor ini dibuat dengan mengionisasi udara dalam bilik dengan sebuah powerful electric arc (apa ya padanannya dalam bahasa Indonesia?) untuk membangkitkan plasma, yang selanjutnya digunakan untuk memanaskan SPP, arang (coke), dan batu kapur (limestone) dalam sebuah bilik yang miskin atau hampa(?) oksigen (oxygen-starved chamber). Dalam kondisi ini, obor plasma akan memanasi campuran tersebut hingga suhu di atas 1500°C untuk mem-vitrifikasi (vitrify: change into glass or a glass-like substance by applying heat) material anorganik dalam SPP tanpa terjadi pembakaran (combution). Ampas/sisa yang tidak berbahaya yang dihasilkan dari proses ini dapat digunakan sebagai bahan konstruksi, meskipun harganya tidak cukup komersial alias tidak terlalu menguntungkan.

Yang lebih penting lagi, panas yang ada mampu menguraikan molekul organik dalam SPP. Jika dalam pembakaran yang biasa akan dihasilkan banyak gas karbon dioksida, maka dalam sebuah lingkungan dimana jumlah oksigennya terbatas, SPP akan diubah menjadi sebuah campuran dengan kandungan gas utama karbon monoksida dan hidrogen yang disebut syngas. Nah syngas inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakan turbin gas. Hidrogen yang dimurnikan bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan campuran gas yang dihasilkan dari sampah ini terlebih dahulu harus diolah lagi untuk mengurangi kandungan polutan seperti nitrogen oksida dan dioksin, yang akan masuk ke dalam turbin atau lepas ke atmosfer.

Jepang sudah cukup sukses dengan teknologi ini. Pembangkit Utashinai sudah mampu menghasilkan 3000 megawatt energi per tahun, yang semuanya digunakan untuk menjalankan pembangkit tersebut. Nah sekarang mereka sedang bingung mencari sampah, karena suplai sampah di kota itu semakin berkurang. Namun demikian, selama ini ternyata baru 60% sampah (dari yang diharapkan oleh perusahaan) yang bisa diolah, selain itu energi listrik yang dihasilkan masih terbatas untuk digunakan oleh pembangkit itu saja, belum ada yang dijual. Fasilitas yang ada juga mengalami masalah operasional, dimana satu dari 2 fasilitas plasma arc yang ada sering tak beroperasi untuk perbaikan. Dan kalau kedua fasilitas yang ada itu berjalan semua, eh sampahnya yang tidak cukup.

Mengimpor sampah, itulah salah satu alternatif yang ada agar pembangkit Utashinai bisa tetap beroperasi optimal. Sayangnya penduduk di sana masih tidak bersedia jika daerah tempat tinggalnya dijadikan tempat penimbunan atau pengolahan sampah dari daerah lain. “Tidak ada orang yang punya persepsi yang baik tentang sampah!” begitu kira-kira kata Shigehiro.

Pada pembangkit Utashinai, energi yang mampu diubah menjadi listrik hanya 15% saja, karena turbin gas yang digunakan dalam pembangkit ini lebih murah harganya jika dibandingkan dengan apa yang tengah dirancang oleh Geoplasma. Geoplasma rencananya akan menggunakan turbin gas seharga USD 40 juta dengan efisiensi 40%.

Meskipun teknologi ini memiliki potensi yang menakjubkan untuk mengurangi tumpukan sampah yang menggunung, namun penggerak lingkungan masih saja mewaspadai akan potensi polutan yang ada dalam syngas. Dalam laporan tahun 2006 tentang strategi konversi termal SPP, Greenaction for Health and Environmental Justice yang berbasis di Kalifornia menyebut teknologi plasma arc dan gasifikasi dengan pemanasan tinggi lainnya sebagai incenerator yang tersamar.

Hmm… masalah sampah memang pelik ya? Sudah mbuang sampah belum hari ini? “saya mbuang dua!” kaya iklan minuman yang ada bakterinya aja…

Read Full Post »

Sampah di Teluk Jakarta (2)

Dalam tulisan sebelumnya saya sudah mengutip beberapa data yang ada berkaitan dengan jumlah sampah yang masuk ke Teluk Jakarta setiap harinya. Angkanya cukup beragam dan membingungkan, tapi mungkin bisa saya coba dekati dengan beberapa asumsi untuk mendapatkan harga yang mendekati. Ada 2 kata kunci yang bisa saya gunakan untuk melakukan pendekatan yaitu: (1) hanya 85% sampah di DKI Jakarta yang bisa ditangani oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta (maksudnya dibuang ke TPA), (2) jumlah sampah per hari di DKI Jakarta sekitar 6000 ton.

Dengan demikian, sampah yang tidak bisa ditangani oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta adalah 15% atau sekitar 900 ton/hari. Asumsikan bahwa dari 900 ton itu 25% nya dibuang langsung ke sungai-sungai yang ada di Jakarta, maka jumlah sampah yang mungkin masuk ke Teluk Jakarta setidaknya ada 225 ton/hari. Menurut data yang ada, sekitar 54% sampah yang ada di Teluk Jakarta adalah plastik (semua yang terbuat dari plastik maksudnya), 24% kayu, 14% tumbuh-tumbuhan dan daun, dan sisanya (8%) adalah karet, botol kaca/gelas, kain, dan gabus. Oh iya, sebelum lupa, komposisi sampah terbesar, menurut teman kerja saya di P3TL-BPPT, Ibu Bebassari namanya, 57% nya berasal dari rumah tangga, sementara itu dari pasar sekitar 30%, dan 13% sisanya dari industri, hotel, dan restoran.

Sekarang mari kita tinjau sampah plastik yang porsinya 54% dari total sampah yang ada di Teluk Jakarta atau setara dengan 121,5 ton itu. Angka sebesar itu untuk plastik tentu luar biasa banyaknya. Sebagai perbandingan, pesawat Airbus A-300 yang dibuat dari baja saja beratnya hanya 90 ton. Kalau saja betul bahwa kondisi Teluk Jakarta sudah separah itu, ini sebuah ancaman yang benar-benar serius: “sampah-sampah organik dan anorganik sudah menyerbu Teluk Jakarta!”. Belum lagi ditambah dengan sering ditemukannya tumpahan minyak di sekitar Kepulauan Seribu. Bakal matilah wisata bahari di DKI Jakarta dalam waktu yang tidak lama lagi, juga sektor budidaya laut.

Oh iya, ketika sedang menulis ini saya teringat dengan postingan saya yang sudah cukup lama yang berjudul “Sampah, bisnis yang mahal”. Harus diakui, bahwa semakin ke sini sampah akan menjadi masalah yang semakin pelik dan mahal penanganannya. Di majalah online Nature Vol.444 tanggal 16 November 2006, ada sebuah artikel menarik tentang teknologi pengolahan sampah bernama plasma arc, yang mengubah sampah menjadi energi listrik (saya akan coba jelaskan tentang teknologi ini di lain kesempatan). Dalam artikel itu disebutkan bahwa Amerika mengeluarkan uang USD 30 sampai 80 untuk setiap ton sampah yang dibuang di lahan pembuangan sampah dengan teknologi landfill, dan USD 69 untuk setiap ton sampah yang dibakar di incenerator. Di tahun 2005 Amerika menghasilkan sampah sebanyak 222 juta ton, dan anda bisa menghitung sendiri berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh Amerika untuk mengelola sampahnya itu. Di lain pihak, di daerah seperti Florida, tempat pembuangan sampah ternyata membuat harga property semakin menurun.

Di Jepang, sekitar 50 juta ton sampah dihasilkan setiap tahunnya (sekitar 1 kg per orang per hari) dan pemerintah Jepang harus membayar sekitar USD 200 sampai 300 untuk setiap ton sampah yang ditimbun atau dibakar. Lebih mahal daripada Amerika karena Jepang memiliki wilayah yang lebih kecil. Suatu harga yang cukup mahal dan akan semakin mahal dengan bertambahnya waktu karena timbunan sampah akan terus meningkat sementara lahan kosong akan semakin sempit karena sebagian akan dipakai untuk pemukiman seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kalau saja suatu saat nanti sudah tidak ada lagi lahan yang dapat digunakan untuk membuang sampah, mungkin kita memerlukan alat ini… 🙂

Kembali ke Jakarta, saat ini pun Jakarta sering mengalami kesulitan untuk menimbun sampahnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). TPA Bantar Gebang, yang menurut berita dikelola secara tak profesional, banyak menuai protes dari masyarakat dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bahkan TPA Bojong, Bogor, yang juga dibangun untuk menampung sebagian sampah dari DKI Jakarta tidak mendapat restu dari masyarakat yang tinggal di sekelilingnya dan menuai banyak protes. Masalah yang ada sederhana saja, penduduk takut kalau nasib mereka akan sama dengan nasib penduduk di sekitar TPA Bantar Gebang, dimana pengelola sampah ternyata hanya mampu untuk membuang sampah dari depan hidung orang kota (Jakarta) dan menaruhnya di depan hidung orang desa.

Jadi memang benar, sampah itu bisnis yang mahal! Harus mulai dipikirkan bagaimana agar kita bisa mengurangi produksi sampah kita setiap harinya, dan tak kalah pentingnya, memanfaatkan sebesar-besarnya teknologi daur ulang. Zero waste gitu loh!

Read Full Post »

Sampah di Teluk Jakarta

Seberapa banyakkah sampah yang menyebar di Teluk Jakarta saat ini? Sejauh ini, setahu saya, belum ada studi yang benar-benar membahas masalah ini. Saya telah mencoba untuk mencari data penyebaran sampah di Teluk Jakarta, yang bersumber dari beberapa muara sungai yang ada, tetapi ternyata sangat sulit untuk mendapatkannya.

Di media massa, versi online, ada banyak berita yang mengabarkan banyaknya sampah di Teluk Jakarta, tapi hanya beberapa yang menyebutkan banyaknya dalam angka, sementara sisanya hanya mengatakan bahwa di Teluk Jakarta banyak sampah. Sayangnya, angka-angka yang disebutkan oleh beberapa media massa tersebut malah justru membuat saya bertambah bingung, karena berbeda-beda, bahkan ada yang ekstrim dan, sepertinya, ngawur.

Timeasia dalam beritanya tanggal 2 Oktober 2006 mengatakan bahwa sekitar 70% atau 1200 meter kubik (setara dengan 288 ton) sampah di Jakarta di buang ke sungai-sungai setiap harinya, dimana sebagian besar adalah ke Muara Angke. Sayangnya, dalam berita itu tidak disebutkan dari mana angka itu didapatkan. Dalam berita lain, di Kompas 19 Juni 2006, Bupati Kepulauan Seribu mengatakan bahwa volume sampah di Teluk Jakarta mencapai 300 meter kubik per hari (setara dengan 72 ton), seperempat dari apa yang dibeberkan oleh TIMEasia. Apakah mungkin dalam waktu hanya sekitar 3 bulan, jumlah sampah yang masuk ke Teluk Jakarta meningkat sebegitu drastisnya, dari 300 ke 1200 meter kubik per hari? Sepertinya mustahil, saya lebih percaya bahwa data yang diberikan oleh mereka kurang akurat.

Selanjutnya, dalam berita di Suara Karya Online tanggal 13 Mei 2006, Poltak U. Sitinjak, Direktur PT. Asiana Technologies Lestary, sebuah perusahaan yang memroduksi mesin penjaring sampah, mengatakan bahwa sampah yang dialirkan oleh Sungai Ciliwung, Banjir Kanal Barat, Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan berton-ton jumlahnya, tanpa dirinci lebih lanjut berapa ton persisnya. Ini jelas membingungkan. Di lain berita, Kompas 11 Oktober 2004 yang dimuat dalam FishyForum, menyebutkan bahwa jumlah sampah yang dibuang ke 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta adalah 7000 ton/hari. Angka ini jelas sangat ekstrim (dan bisa jadi ngawur), karena menurut BPLHD Jakarta, total produksi sampah domestik DKI Jakarta sekitar 6000 ton/hari, dimana sekitar 85% dari jumlah tersebut mampu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sementara 15% sisanya tercecer di selokan, sungai, lahan kosong, dan jalan-jalan. Data lain dari WALHI juga menyebutkan angka produksi sampah yang hampir sama dengan data BPLHD tersebut. Sementara itu, dalam berita di Liputan 6 SCTV 14 Mei 2006 disebutkan bahwa beban sampah yang masuk ke Teluk Jakarta sekitar 500 ribu ton/tahun atau setara dengan 1370 ton/hari. Menurut Wakil Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, I. Malik, dalam seminar “Pengendalian Pencemaran Laut di Kepulauan Seribu” di Jakarta, Rabu (13/12/2006), hingga kini volume sampah yang masuk ke Teluk Jakarta mencapai 600 meter kubik (atau setara dengan 144 ton) per hari (sumber: ANTARA).

Dari sini, kita bisa melihat bahwa data sampah yang dibuang ke Teluk Jakarta sangat simpang siur dan cukup membingungkan. Mana yang benar dari data itu, kita tidak tahu pasti.

Dalam berita lain di Tempointeraktif tertanggal 26 April 2005, Kepala Sub Dinas Kebersihan Bagian Teknik Operasional DKI Jakarta mengatakan bahwa masalah sampah di Teluk Jakarta sampai saat ini belum ada pemecahannya, bahkan lembaga mana yang harus bertanggung jawab pun masih tidak jelas. Sebuah pernyataan yang “ajaib” untuk kota “megapolitan” nan modern dan megah bernama Jakarta. Lebih jauh beliau juga mengatakan bahwa sampah-sampah yang ada di Teluk Jakarta itu kemungkinan besar berasal dari daerah lain. Nah kalau yang ini sih bisa disebut sebagai komentar “cuci tangan”.

Ketika masih menjadi mahasiswa dan melaksanakan kerja praktek di Muara Karang sekitar tahun 1993, selama seminggu lebih saya tinggal di penginapan kumuh dekat perkampungan nelayan. Menurut pengalaman dan pengamatan saya, sebagian besar nelayan memang terbiasa untuk membuang sampah-sampah yang ada (seperti tas plastik, pembungkus nasi, botol minuman, bahkan oli bekas) secara sembarangan (ke sungai atau laut). Akibatnya, di tempat dimana perahu-perahu mereka biasa ditambatkan penuh dengan sampah. Belum lagi, sebagian besar rumah yang berada di sana pun membuang sampahnya ke lahan kosong yang ada di sekitar mereka, yang akibat datangnya air pasang akan melayang kemana-mana, dan akan terseret ke laut ketika air laut kembali surut.

Di tahun 1999, ketika saya punya penelitian di Kepulauan Seribu dan sering mondar-mandir dari dermaga Ancol ke Pulau Kelapa, sampah memang cukup mudah untuk bisa kita temukan di pinggir pantai di Teluk Jakarta, terutama sampah plastik. Di Pulau Kelapa sendiri, salah satu pulau di Kepulauan Seribu dengan jumlah penduduk yang cukup padat, sampah juga cukup banyak bertebaran di mana-mana. Tidak hanya itu, di saat sunrise atau sunset, banyak penduduk di pulau itu (lelaki perempuan) yang asyik “nongkrong” di tepi pelabuhan untuk buang air besar. Sebenarnya ada fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang sudah dibangun oleh pemerintah di sana, tetapi menjadi terbengkalai karena jarang ada penduduk yang mau menggunakannya. Belum lagi tumpahan minyak berwarna hitam yang kerap kali nampak di permukaan air yang tidak jelas dari mana sumbernya, yang oleh sebagian besar warga dianggap biasa-biasa saja.

Dari fakta yang ada ini, jelaslah bahwa masalah utama yang menyebabkan banyaknya sampah yang dibuang sembarangan adalah karena kebiasaan buruk dan ketidakperdulian warganya sendiri. Dan hal itu tidak hanya ditemukan di Jakarta saja tetapi juga di Kepulauan Seribu (bahkan mungkin di seluruh Indonesia, kalau kita mau membahasnya dalam skala nasional). Artinya, bisa jadi sampah yang banyak ditemukan di Kepulauan Seribu, yang jarak terdekatnya dengan Jakarta sekitar 15 km itu, bukan hanya dari sungai yang bermuara di Teluk Jakarta saja, tetapi juga dari sampah yang dibuang masyarakat yang tinggal di Kepulauan Seribu.

Nah sekarang, bagaimana mengatasinya? Sebetulnya mudah saja, tapi ya tergantung niat juga sih. Buat saja program yang terencana dengan baik dan harus dijalankan dengan konsisten dan terus menerus, alias bukan hanya sekedar pilot project atau proyek percontohan yang konyol dan seringkali hanya jadi trend sesaat yang lazim terjadi di Indonesia. Long life program gitu loh maksud saya! Nah, cuman yang susah ya bikin programnya itu, apalagi kalau gak ada duitnya, mendingan pergi studi banding aja terus yang sudah jelas ada alokasi dananya…

Read Full Post »

Tanpa Salju

Musim dingin tahun ini, dan juga natal, sepertinya warga Hamburg harus rela merayakannya tanpa turunnya salju. Sampai hari ini, tidak ada sedikitpun salju yang turun dari langit dan menghampar luas di depan mata, memantulkan sinar matahari. Musim dingin, dan natal, yang kurang lengkap tentunya (buat mereka).

Buat saya, yang manusia tropis, inilah musim dingin yang “ideal”, tidak terlalu dingin, tak perlu jaket tebal, jalanan pun tak licin karena bebas dari salju. Selain itu, bisa sedikit mengirit pengeluaran karena tidak perlu sering-sering menggunakan penghangat ruangan.

Sejauh yang saya ketahui, menurut literatur yang ada, variabililtas musim dingin di Atlantik Utara, Eropa, dan Amerika Utara bagian timur sangat dipengaruhi oleh North Atlantic Oscillation (NAO) ini. Indeks NAO yang positif akan berarti hangat dan basahnya musim dingin di Eropa bagian utara (musim dingin menjadi lebih hangat dan banyak turun hujan) dan dingin dan keringnya Eropa bagian selatan karena menguatnya angin baratan (westerly wind) di Samudera Atlantik. Oh iya, indeks NAO yang digunakan untuk mendefinisikan NAO positif atau negatif itu dihitung dari perbedaan tekanan di atas permukaan laut antara Ponta Delgada, Azores (pada posisi 38° Lintang Utara dan 26° Bujur Barat) dan Akureyri, Islandia (pada posisi 66° Lintang Utara dan 18° Bujur Barat). Menurut perkiraan dari UK Met Office, musim dingin tahun 2006 ini, di Eropa bagian barat dan tengah, memang akan sedikit lebih hangat dari kondisi normalnya.

Sementara itu menurut National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA), untuk kondisi di Amerika Serikat, musim dingin tahun ini memang akan lebih hangat (lihat gambar dan uraiannya di sini). Dan hal ini ternyata ada kaitannya juga dengan berlanjutnya El-Nino di Samudera Pasifik, dimana signal awal El-Nino yang sudah terdeteksi sejak September 2006 (lihat di sini) kemungkinan akan terus berlanjut hingga Mei 2007 (lihat di sini).

Untuk Indonesia, seperti sudah kita ketahui, El-Nino ini akan berdampak pada terjadinya musim hujan yang kering, alias jarang terjadi hujan. Dampak positifnya, untuk penduduk di Jakarta dan juga daerah lain pelanggan setia banjir, mereka bisa sedikit bernafas lega karena kemungkinan untuk terjadinya banjir akan berkurang. Hanya saja perlu hati-hati juga dengan dampak negatifnya, yaitu kekeringan dan kekurangan air. Apalagi kalau ternyata signal El-Ninonya semakin menguat.

Tapi, jangan karena alasan El-Nino jadi jarang mandi ya! Bakalan bau kecut itu badan, dan juga bisa bikin panuan!

Read Full Post »

Older Posts »