Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Hari Sabtu, 26 Juli 2008 yang baru lalu saya dan istri mengikuti acara Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan di Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian UGM dengan tema ”Inovasi Riset untuk Meningkatkan Nilai Tambah Produk Perikanan dan Kelautan”. Kebetulan kami memang menggeluti bidang yang sama, yaitu oseanografi, dan pada acara ini sama-sama membuat makalah. Kebetulan lagi, anak semata wayang kami masih liburan sekolah, baru akan masuk hari Senin, 28 Juli 2008, jadi kami memutuskan untuk mengajaknya ke acara seminar sehari itu, sekalian liburan di Jogja.

Kami (saya sekeluarga beserta 1 orang mahasiswa istri saya) berangkat ke Jogja naik mobil, start dari Bandung hari Jumat pukul 06.00, sempat mampir satu jam di rumah orang tua saya di Kebasen untuk melaksanakan shalat Jumat dan makan siang. Btw, Kebasen ini adalah nama sebuah desa sekaligus kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa ini tepat berada di tepi Sungai Serayu, sungai dimana saya sempat hanyut waktu SMP dulu (alhamdulillah masih bisa menyelamatkan diri).

Kami tiba di Jogja sore hari, sekitar pukul 16.30, bermalam di Wisma MM UGM yang sudah kami pesan sepekan sebelumnya. Saat kesasar mencari Wisma MM UGM ini, kami sempat melihat gerobak tukang jualan Cilok Bandung di pintu masuk utama UGM. Lho koq sebegitu menariknya si mang Cilok sampai difoto segala? Soalnya sepulangnya dari Hamburg anak saya jadi suka sekali makan Cilok, makanya setiap kali melihat tukang jualan Cilok kami suka geli sendiri. Karena kesukaannya akan Cilok ini, sampe-sampe saudara sepupunya yang sudah sejak lahir tinggal di Bandung pun penasaran ikut mencoba makan Cilok, yang selama ini belum pernah dicobanya, dan akhirnya ikutan suka juga. hehehe… Akhirnya, setelah sempat beberapa kali nanya, kami sampai juga di Wisma MM. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat seminar, kamarnya pun cukup bagus.

Acara seminar dibuka dengan 2 pembicara kunci, yaitu Prof. Dr. Hari Eko Irianto, MSc. Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan dan Dr. Ir. Ustadi, MP Ketua Jurusan Perikanan UGM. Sayangnya, saya tidak bisa konsentrasi mendengarkan apa yang dipaparkan oleh mereka karena kebetulan saya memilih tempat duduk agak di belakang dan kebetulan lagi, banyak peserta di sekitar saya yang asyik ngobrol sendiri. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak hanya sekali ini saya temukan dan alami. Terakhir kali mengikuti acara kenaikan kelas di sekolah anak saya dan workshop di kantor, hal yang sama pun terjadi. Mereka lebih suka ngobrol sendiri, padahal sedang ada orang yang berbicara di mimbar.

Selesai pembicara kunci, seminar dibagi ke dalam beberapa kelas. Menurut saya jumlah kelasnya terlalu banyak sehingga pendengar di setiap kelas hanya segelintir saja (coba lihat foto di samping kanan, banyak kursi yang kosong). Kurang greget dan kurang menantang. Apalagi waktu untuk setiap pembicara hanya dijatah 10 menit saja, terlalu singkat untuk bisa bercerita mengenai inovasi riset yang menjadi tema seminar ini mengingat pendengar bukan berasal dari latar belakang keilmuan dan keahlian yang benar-benar sama. Secara umum, dengan kondisi seperti ini, hanya sedikit manfaat yang didapatkan dari acara ini, menurut saya.

Tidak cukup “terhibur” dengan seminar yang langweilig alias membosankan (menurut anak saya yang ikut menjadi pendengar sambil main Nintendo DS), kami cukup terhibur dengan acara ketemu kawan lama waktu di Jerman dulu dan juga acara jalan-jalan, meskipun harus kesasar beberapa kali. Kami sempat jalan-jalan menikmati suasana Malioboro di malam hari, meskipun tidak sempat mencoba makan lesehan di sana karena anak kami gak mau. Sempat melihat-lihat Pasar Spanyol (Separo Nyolong) yang buka malam hingga dinihari, belanja batik, dan menikmati makan gudeg Jogja.

Btw. kalau ada yang tertarik, berikut adalah link untuk mengunduh makalah saya yang berjudul “Model pasang surut tidak linear dengan metode asimilasi data variasional”.

Iklan

Read Full Post »

Melihat-lihat kembali file-file di komputer, ternyata saya menemukan sebuah file yang berisi sedikit catatan saya ketika mengikuti penelitian dengan menggunakan kapal riset Mirai milik Jamstec, Jepang. Pelayaran ini dilakukan bulan Desember 2007 dan merupakan pengalaman pertama saya berlayar di Samudra Pasifik, juga pengalaman pertama merayakan tahun baru di atas kapal di samudra yang luas. Sebelumnya saya sempat juga berlayar menggunakan kapal riset, tetapi hanya untuk waktu yang singkat yaitu menggunakan kapal riset Baruna Jaya (lupa Baruna Jaya berapa) milik BPPT ketika ada acara Bakti Teknologi di Pulau Weh (tahun berapa ya waktu itu? lupa juga euy!) dan berlayar memasang buoy SEAWATCH Indonesia di tahun 1997 di Kepulauan Seribu dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya 8 milik LIPI. Selebihnya, kalau survei di laut biasanya saya hanya menggunakan kapal nelayan karena untuk menyewa kapal riset seperti Baruna Jaya ini biayanya cukup mahal, bisa lebih dari 60 juta perharinya.

Sayangnya, catatan saya itu ternyata tidak lengkap betul, dan karena sudah cukup lama berlalu saya pun sudah lupa dengan sebagian besar kegiatan yang saya lakukan di atas kapal itu. Yang jelas, cuaca cukup bersahabat sehingga saya tidak sampai terkena mabuk laut. Berikut catatan harian yang sempat saya buat di atas kapal riset Mirai:

Tanggal 25 Desember 2007
Kami bertiga (saya, Fadli, dan Pak Mekki) berangkat dari Jakarta naik pesawat Malaysia Air Services, transit di Kuala Lumpur. Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Auckland perlu waktu sekitar 10 jam. Sampai di Auckland tanggal 26 Desember pkl.12.00 waktu Auckland (beda 6 jam dengan WIB). Penjagaan di bandara cukup ketat, terutama karena Auckland menerapkan peraturan yg ketat, larangan membawa buah2an, tumbuh2an, binatang (dan makanan yg terbuat dari binatang, jadi bawa rendang juga gak boleh) dari luar New Zealand. Bahkan ada anjing pelacak yg khusus bertugas mengendus buah-buahan. Kebetulan pas menunggu bagasi, ada cewek dari India yang tasnya keendus sama si anjing dan ternyata di dalam tasnya ada 2 buah jambu biji. Hebat pisan si guguk euy. Karena bisa menemukan buah2an, partner si anjing (cewek cakep dari Departemen Pertanian kalau gak salah) ngasih hadiah makanan ke si anjing.

Akhirnya, setelah menunggu sekitar 10 menit, bagasi kami pun keluar. Ternyata, bagasi milik Pak Mekki yang seperti sport bag gantungan tangannya putus semua, untung saja masih ada rodanya, jadi masih bisa ditarik.

Tanggal 26 Desember 2007
Kami menginap di hotel Kiwi International Hotel and Hostel yang memang sudah di-booking-in sama orang dari JAMSTEC. Dari bandara kami naik bus, butuh waktu sekitar 30 menit plus jalan kaki dengan turunan yang cukup terjal (kira-kira 30°). Sekamar seorang dengan biaya sewa 69 NZ$ per malam. Kami di hotel ini hanya semalam. Hotelnya cukup murah, kalau di kurs ke Euro cuman 35 Euro (1 NZ$=0,5 €). Bahkan ada juga sewa kamar yang lebih murah, hanya 39 NZ$, yaitu yang model dorm (sekamar utk beberapa orang dengan tempat tidur susun seperti di barak tentara waktu dulu ikutan prajab). Setelah check in sekitar pkl. 14.00, kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat sebentar sebelum jalan-jalan melihat keindahan kota Auckland sambil mencari makan malam. Kami janjian untuk ketemu di lobby pkl. 18.00. lumayan punya waktu 4 jam untuk istirahat dan membersihkan badan.

Akhirnya, pkl. 18.00 kami keluar jalan-jalan. Kota masih lenggang karena tanggal 26 masih masuk libur nasional, bukan dalam rangka cuti bersama seperti di Indonesia, tapi tanggal ini diperingati sebagai hari boxing (boxing day). Perlu search ke internet nih untuk tahu apa maksud dari boxing day ini. Secara umum kota Auckland cukup bersih dan rapih, juga tertib. Kalau dibandingin sama Jakarta, jelas kalah jauh lah Jakarta. Lalu-lintasnya juga tertib, jalan untuk pedestrian juga lebar-lebar, dan nyaman. Kami jalan ke arah kota yang penuh dengan gedung-gedung cukup tinggi dan megah (kalau dibandingin dari ukuran gedung2 tingginya, gedung2 di Jakarta jelas lebih jangkung-jangkung). Temperatur udara sore itu cukup sejuk, di bawah 20°C, dan kadang agak terasa dingin karena hembusan angin dari laut cukup kencang, tapi pakai sweater sudah cukup koq. Akhirnya, setelah agak lama berjalan-jalan, kami pun memutuskan mencari tempat makan. Tadinya saya mengusulkan makan di restoran India, tetapi ternyata 2 teman seperjalanan saya ini kurang begitu suka makanan India. Akhirnya mereka lebih memilih restoran Thailand. Sebenarnya saya agak kurang sreg makan di restoran Thailand karena ada menu babinya, tapi ya sudahlah, karena yg lain memilih di situ, apa boleh buat, daripada makan sendirian. Menu yang kami pilih di makan malam ini bertema seafood, dan bertiga kami harus membayar 72 NZ$.

Usai makan malam, kami pun kembali ke hotel. Tidak diduga, restoran yang kami pilih itu ternyata jaraknya cukup jauh juga dari hotel, belum lagi ditambah dengan jalanan yang agak menanjak. Beberapa ratus meter sebelum sampai ke hotel hujan sempat turun, meskipun tidak terlalu lebat.

Tanggal 27 Desember 2007
Waktu maksimum untuk check out hotel pkl.11.00 dan kebetulan Pak Mekki belum punya uang dalam bentuk Dollar New Zealand, karena kebetulan ketika tiba di bandara beliau tidak menukar ke tempat penukaran uang. Dan kebetulan lagi, tanggal 26 Desember masih merupakan hari libur nasional, jadi tempat penukaran uang dan bank di kota pun masih tutup semua. Artinya beliau baru bisa menukar uang hari ini pkl. 09.00. Kebetulan tak jauh dari hotel ada New Zealand Bank, jadi bisa cukup santai lah. Oh iya, berdasarkan pengalaman Pak Fadli yang menukar uang di tempat penukaran uang (money changer), fee yang mereka tarik cukup besar (dan kebetulan tidak tahu kalau ada fee seperti itu), makanya beliau menganjurkan untuk menukar uang di bank saja.

Setelah menukar uang, karena masih ada waktu sebelum check out, Pak Mekki memutuskan untuk membeli tas baru sebagai ganti tasnya yang putus dalam perjalanan Jakarta-Auckland. Akhirnya beliau dan saya pergi ke pusat kota dekat Sky Tower (foto Sky Tower lihat di kanan atas) untuk membeli tas. Dengan jalan kaki, kira-kira perlu waktu 20 menit. Karena di hotel tidak ada breakfast, kecuali sudah pesan semalam sebelumnya, saya mampir dulu ke toko roti buat beli roti untuk sarapan, biar gak loyo. Ternyata susah juga nyari toko roti, beda dengan di Hamburg euy. Akhirnya dapat toko roti tidak jauh dari toko tas, yang jual cewek pakai jilbab. Oh iya, tidak seperti di Hamburg, di Auckland ini sepertinya jarang melihat cewek pakai jilbab. Kebanyakan yang kelihatan justru orang-orang bertampang Jepang/China, meskipun di beberapa lokasi ada juga restoran kebab.

Akhirnya, setelah memakan waktu sekitar 20 menit buat milih-milih tas, ada juga tas yang cocok di mata, hati, dan saku Pak Mekki (hahaha), harganya 75 NZ$, garansi 7 tahun. Usai beli tas, kami masih punya waktu sekitar 30 menit sebelum pkl.11.00 tiba. Bergegas kami kembali ke hotel, dengan jalan yang agak nanjak. Lumayan bikin keringatan dan ngos-ngosan rupanya, apalagi untuk orang seperti saya yang sehari-hari sukanya cuman olah raga jari (pencet-pencet keyboard komputer atau main PSP).

Urusan check out selesai, ternyata kami harus menunggu Kasino-san untuk sama-sama ke dermaga tempat kapal riset Mirai berlabuh. Waktu yang ditetapkan, kami sama-sama pergi ke dermaga pukul 13.30. Jadi, kami titipkan dulu kopor2 kami di gudang hotel dan saya beserta Pak Mekki memutuskan untuk menunggu di ruang santai hotel sementara Pak Fadli pergi ke warnet di sebelah hotel yang tarifnya 2 NZ$ per jam, sementara di hotel 2 NZ$ per 30 menit. Bosan menunggu, dan kebetulan saya punya 2 NZ$ di dompet, akhirnya saya putuskan untuk beli prepaid akses ke internet dengan WiFi. Lumayan lah sambil istirahat sehabis capek jalan2 nganterin Pak Mekki beli koper.

Usai waktu 30 menit nginternet, Pak Fadli ternyata lupa kalau dia harus mengirimkan sobekan tiket perjalanannya ke Taiwan. Akhirnya kami pun pergi bersama-sama ke kantor pos yang jaraknya tak jauh dari hotel. Lumayan, toh saya bisa ikutan nyari kartupos buat nambah-nambah koleksi kartupos di rumah. Sebelumya saya sempat juga beli 3 lembar kartupos lebar @ 1 NZ$ di bandara plus 1 perangko 2 NZ$ untuk dikirim ke Bandung, tapi sepertinya kalau cuman 3 kurang, dan barangkali ada gambar2 kartupos yang cukup menarik di kantorpos nanti.

Akhirnya, setelah pilih-pilih kartupos, saya kembali membeli 4 kartupos ukuran biasa @ 50 cent, salah satunya bergambar burung-burung khas New Zealand. Dan Pak Mekki pun tak ketinggalan membeli juga kartupos (dengan memakan waktu yang cukup lama untuk ukuran bapak-bapak dalam memilih kartupos yang harus dibeli) untuk dikirim ke Indonesia, rupanya kena juga provokasi saya.

Sebelum memasukan surat ke kotak surat, pak Fadli ingat bahwa dia belum sempat memotokopi potongan tiketnya itu, akhirnya beliau pun mencoba mencari tukang foto kopi, dan ternyata susah nyari mang fotokopi di Auckland, gak seperti di Jakarta. Akhirnya saya usulin untuk difoto aja potongan tiketnya, kebetulan saya baru beli kamera digital baru, Kodak M883, yang memang khusus dibeli dalam rangka perjalanan ini. Beliau setuju, akhirnya beres sudah urusan tiket. Perut pun mulai keroncongan, dan saya melihat tidak jauh dari situ ada yang jual kebab. Akhirnya saya dan pak Mekki memutuskan untuk membeli kebab, sementara pak Fadli lebih senang membeli hotdog Subway. Dua lamb kebab pun kami beli, take away, masing-masing seharga 8 NZ$. Sambil jalan ke hotel, kami pun memakannya. Rasanya beda dengan kebab di Hamburg, tapi cukup enak, apalagi ditemani dengan minum cola, dan yang jelas mengenyangkan, cukup untuk membuat badan fit sampai waktunya makan malam tiba.

Pukul 13.30 kami berlima (saya, Fadli, Mekki, Nori cewek mahasiswi S2 marine science dari Philipina, dan Kasino-san dari JAMSTEC) pun pergi dengan menggunakan taksi, yang ditelepon melalui resepsionis hotel, ke dermaga tempat kapal riset Mirai bersandar. Taksi hanya bisa mengantarkan hingga pintu masuk terminal tempat Mirai bersandar, dan kami harus meneruskannya dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 200 meter, dimana sebelumnya kami harus melewati polisi penjaga terminal untuk diperiksa paspor kami dan dicocokan dengan daftar nama yang ada pada mereka. Semua berjalan lancar, welcome on board. Mulai malam ini kami bermalam di kapal, saya dapat kamar nomor 7, sementara pak Fadli di kamar 8, dan pak Mekki di kamar 2, semua di bridge deck. Direncanakan kapal akan mulai berlayar besok siang, dan hari ini kami masih punya waktu hingga pukul 21.30 untuk menikmati kota Auckland.

Setelah Kasino-san membawa kami bernenam (5 seperti yg sudah saya sebut di atas ditambah satu profesor dari universitas Hawaii, namanya Richard Kelvin) berputar-putar untuk menunjukkan bagian-bagian kapal, kami bertiga pun langsung melanjutkan rencana kami, menjelajahi kembali kota Auckland. Sasaran kami adalah naik ke Sky Tower, menara tertinggi di dunia, dengan tinggi 328 meter, 4 meter lebih tinggi dari menara Eifel, dan membeli sedikit souvenir (oleh-oleh) untuk dibawa pulang, biar istri dan anak di rumah ikut senang karena kebagian oleh-oleh (hehehe). Sebelumnya, karena persediaan dolar New Zealand kami sudah menipis, kami pergi ke bank dulu untuk menukarkan uang. Kebetulan Kasino-san sudah membagi-bagikan uang saku kami selama berlayar nanti, jadi persediaan mesiu kami mencukupi untuk bisa sedikit berfoya-foya alias shopping.

Untuk naik ke Sky Tower, setiap orang dewasa dikenai biaya 25 NZ$. Dalam perjalanan menuju ke Sky Tower, kami sempatkan untuk mampir ke toko souvenir. Saya beli sebuah tempelan kulkas dan gelas hias bergambar New Zealand titipan istri tercinta. Beda dengan saya yang masuk toko, ambil barang yang diinginkan dan segera bayar, 2 bapak seperjalanan saya ini butuh waktu hampir setengah jam hanya untuk membeli souvenir. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil beberapa foto suasana kota Auckland sambil menunggu mereka, lumayan lah daripada bengong. Di pintu masuk ke lift Sky Tower sendiri ternyata ada juga toko souvenir, syukur bahwa isinya banyak yang berbeda dengan toko souvenir yang kami datangi sebelumnya. Artinya, ada kesempatan lagi untuk cari souvenir yang lain. Btw, sambil menulis kisah ini, saat ini kapal sudah berada di perairan dengan kedalaman 1000 meter dan matahari pun sudah terbenam di ufuk barat, welcome to the open sea! Sudah mulai tambah goyang kapalnya. Ternyata di Sky Tower itu, selain bisa naik ke observation deck, ada juga paket lain, terjun bebas (diikat tali pastinya). Gile!

Seperti biasa, setelah sampai di dek atas Sky Tower, foto-foto lah kami. Pemandangannya cantik bo! Sejauh mata memandang, ada gedung-gedung tinggi yang megah dan laut yang berwarna biru bersih. Kalau saja kami tak punya janji untuk makan malam bersama Kasino-san pukul 18.00, pasti lah kami sudi untuk berlama-lama di atas sini. Nah di deck ini, ada beberapa bagian yang lantainya terbuat dari kaca setebal 38 mm. Harus cukup punya keberanian juga untuk berdiri di atas lantai kaca ini, meskipun dijamin bahwa lantai kaca tersebut sama kuatnya dengan lantai biasa yang ada di sekitarnya.

Setelah cukup puas menikmati pemandangan dari atas menara, akhirnya kami pun kembali ke bawah, ke toko souvenir, untuk melihat barangkali saja ada souvenir yang mampu menarik minat kami untuk membelinya. Dan ternyata, di toko souvenir ini kembali saya membeli satu tempelan kulkas dan sekotak cokelat kiwi, oleh-oleh untuk Hasna, anak semata wayang saya.

Sebelum pukul 18.00 kami sudah menunggu Kasino-san di depan pintu terminal tempat Mirai bersandar, untuk sama-sama mencari kudapan makan malam. Setelah sedikit berdiskusi, kami memutuskan untuk mencoba menu makan malam di restoran Pompino yang jaraknya tak terlalu jauh, tak lebih dari 100 meter dari pintu terminal. Di restoran ini tadinya saya mau memilih lamb dengan pure kentang, tapi karena di dalam menunya tertulis sausnya dicampur dengan red wine, saya pun membatalkannya dan memutuskan untuk memilih fried fish with chips dan sebotol air mineral, dengan total uang yang harus saya keluarkan sebesar 24 NZ$. Tidak terlalu mahal untuk sebuah makan malam yang cukup enak, delicious! Btw, semakin malam tinggi gelombang laut semakin besar saja, saat ini sudah mencapai 1 meter sehingga goyangan kapal kadang cukup terasa. Syukur masih cukup kuat nih stamina, belum dihinggapi sea sick.

Tanggal 28 Desember 2007
Tanggal 27 Desember malam kami sudah mulai menginap di kapal. Tanggal 28 Desember pukul 07.00 kami sudah sarapan pagi di dinning saloon kapal, menunya telur rebus, nasi dan ikan asap, makannya menggunakan sumpit. Hmm… sedap ikan asapnya. Hari ini kami sudah tidak boleh keluar dari kapal sama sekali karena kapal dijadwalkan akan berangkat hari ini, diperkirakan di atas pukul 12.00, setelah pemeriksaan imigrasi selesai. Sekitar pukul 09.00 kami diminta untuk mengisi form isian dari dinas imigrasi New Zealand dan menyerahkan paspor kami ke orang kapal yang mengurusi masalah imigrasi. Sekitar sejam kemudian, kami kembali dipanggil untuk menuju ruang konferensi untuk ditanyai satu persatu oleh orang dari bagian imigrasi. Akhirnya urusan imigrasi selesai sudah, tanpa ada masalah.

Pukul 12.00 waktunya untuk makan siang, menunya sup, mie rebus dan steak. Lagi-lagi semua harus dimakan dengan menggunakan sumpit. Bisa saja kita meminta sendok, garpu dan pisau untuk menggantikan sumpit, tapi supaya lebih fasih dalam menggunakan sumpit, apa salahnya untuk terus mencoba pengalaman langka seperti ini. Wah, menu makan siangnya ternyata juga sedap, campuran antara menu Jepang (mie dan sup) dan menu Eropa (steak). Steaknya sendiri masih setengah mateng, kalau bukan di kapal pasti saya sudah minta untuk dimatengin lagi deh. Oh iya, waktu makan ditandai dengan bel melalui pengeras suara yang ada di setiap deck. Iramanya khas, sebuah lagu yang saya kira banyak di antara kita sudah familiar dengannya. Saya sempat merekan lagu makan siang ini dengan hand phone saya, buat kenang-kenangan.

Usai makan siang, kami belum ada pekerjaan apa-apa, karena perjalanan untuk mencapai lokasi buoy TRITON pertama di utara Papua diperkirakan akan memakan waktu sekitar 10 hari. Jadi baru pada tanggal 6 Januari 2008 kami akan mulai bekerja. Sekitar pukul 15.00, kami para scientist berkumpul di ruang konferensi di upper deck untuk mendapatkan penjelasan mengenai aturan-aturan dan fasilitas di kapal seperti bunyi emergency alarm, fasilitas lifeboat, jam makan, pakaian kerja (harus menggunakan safety helmet, safety shoes), tempat pembuangan sampah, dll. Oh iya, untuk makan kami diharuskan menggunakan pakaian yang berkerah, tidak boleh menggunakan T-shirt, juga tidak boleh menggunakan sandal.

Usai penjelasan tersebut, saya kembali ke kamar, menunggu datangnya jam makan malam pukul 17.00, sambil tidur-tiduran santai menikmati goyangan ombak yang sudah semakin terasa. Akhirnya, jam makan malam pun tiba, sayangnya saya sudah lupa apa menu makan malam hari ini, maklum saya memang orangnya pikunan. Pokoknya yang saya ingat, menu makan malamnya masih enak dan semua habis saya lahap. Oh iya, pada hari pertama kami tiba di kapal dan diperkenalkan dengan koki di dapur, koki di dapur mengatakan bahwa tidak ada menu babi dalam pelayaran ini. Maka dari itu jangan heran jika kami pun merasa sedikit aman dan mampu menyantap makanan yang disediakan dengan lahap.

Semakin malam tinggi gelombang semakin tinggi, saya pun mulai sedikit pusing dan tidak bisa memaksakan diri untuk menulis hal-hal yang saya alami di hari pertama pelayaran ini, maklum ini adalah kali pertama saya punya pengalaman berlayar selama berhari-hari. Akhirnya saya hanya mampu menulis pengalaman saya hari sebelumnya hingga pukul 21.45 saja dan memutuskan untuk membaringkan badan di tempat tidur. Sialnya ternyata saya tidak bisa tidur sama sekali, dan akhirnya saya putuskan untuk membaca majalah Tempo yang saya bawa yang sebenarnya sudah hampir habis saya baca isinya. Baru di atas pukul 24.00 saya mulai merasa benar-benar mengantuk dan bisa tertidur sedikit lelap.

Tanggal 29 Desember 2007
Sekitar pukul 05.00 saya sudah bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi. Lumayan segar kondisi badan sesudah mandi, apalagi sejak tanggal 27 pagi saya tidak mandi karena udaranya agak dingin. Pikir saya, gak keringetan ini, ngapain juga mandi.

Hari ini pukul 09.00 akan ada latihan dalam menghadapi kondisi bahaya, dimana kami harus menggunakan life jacket, safety helmet, dan safety shoes. Kami harus berkumpul di upper deck, sesuai dengan nomor life boat kami. Para scientist yang berada di bridge deck semua berada di life boat no.1. Harusnya dalam kondisi emergency sesungguhnya kami juga harus membawa handuk dan selimut, serta harus menggunakan baju lengan panjang. Pada latihan ini saya diingatkan oleh orang kapal supaya lain kali menggunakan baju lengan panjang. Latihan berlangsung kira-kira setengah jam lamanya, dan kebanyakan disampaikan dalam bahasa Jepang, jadi saya pun tidak terlalu mengerti semuanya. Pokoknya kalau pas kondisi bahaya sesungguhnya, ikuti saja apa yang dilakukan oleh para awak kapal, gitu pikir saya dalam hati.

Usai latihan, nganggur lagi, balik ke kamar lagi, nyalain laptop yang kebetulan sudah punya akses e-mail. Coba kirim e-mail ke istri, tapi berhubung istri sedang liburan ke Jawa Timur maka belum ada balasan. Akhirnya waktu kosong diisi dengan meng-upload foto-foto selama jalan-jalan di Auckland, lumayan jadi ada kegiatan untuk mengisi waktu kosong. Tadinya sih, selama di kapal saya sudah punya rencana untuk mempelajari program ROMS, hanya saja setelah sempat diutak-atik, dimulai dengan mengcompile library NetCDF yang diperlukan ROMS, masih ada failed, sehingga compiling ROMS-nya pun tidak berhasil. Artinya, harus nunggu balik ke Bandung untuk melanjutkan pekerjaan mempelajari ROMS ini. Sebenarnya masih ada beberapa alternatif pekerjaan yang bisa saya kerjakan seperti membuat proposal untuk ke SARC Taiwan, atau melanjutkan membuat paper dari disertasi saya, hanya saja masih belum ada mood. Hari ini usai makan siang, perut agak mual, mungkin karena tinggi gelombang yang semakin tinggi, lebih dari 3 meter, sehingga goyangan kapal semakin terasa. Akhirnya, daripada nanti muntah, saya putuskan untuk tidur-tiduran di sofa saja. Jadi acara hari ini lebih banyak tidur-tidurannya saja. Untung belum ada pekerjaan…

Oh iya, hari ini di jadwal kapal ada acara praying to KONPIRA di navigation deck, pukul 16.45. Saya sendiri tidak tahu tujuan dari acara ini, barangkali ini acara khusus pelaut Jepang, dan sayangnya saya juga tidak berusaha untuk mencari tahu. Biasanya acara khas Jepang, apalagi kalau bukan meminum segelas kecil sake yang sebelumnya didahului dengan sedikit upacara kecil berupa menundukkan kepala sebanyak 3 kali dan bertepuk tangan 2 kali. Sayangnya saya tidak boleh minum minuman yang mengandung alkohol, jadi saya cuman ikut memakan makanan kecil berupa biskuit atau dodol. Acara ini sendiri hanya berlangsung singkat, sekitar 10 menit, jadi setelah itu ya kembali ke kamar atau ngobrol di upper deck, tempat buoy TRITON berada sambil menikmati angin laut yang sepoi-sepoi dan melihat alunan gelombang yang lumayan tinggi.

Tak lama setelah acara tersebut selesai, bel makan malam berbunyi. Sayangnya lagi, saya juga sudah lupa apa menu yang saya makan malam itu. Payah deh… Oh iya, malam ini pukul 22.00 waktu di jam akan mundur 1 jam, jadi kami punya waktu tidur lebih lama 1 jam. Lumayan…

Tanggal 30 Desember 2007
Tidak terasa, kami sudah memasuki hari ketiga pelayaran. Tanggal 29 Desember malam hari tinggi gelombang hampir mencapai 4 meter, gile man! Untung masih kuat, meskipun kadang-kadang agak sedikit pusing. Makan juga masih bisa lahap kecuali tanggal 29 siang, gak habis makannya takut mual, apalagi bumbu masakannya agak sedikit menusuk. Hari ini pukul 13.00 akan ada meeting membicarakan rencana survey. Saya dan Fadli kebagian menerbangkan radiosonde setiap 6 jam nanti sejak tanggal 6 Januari. Pengalaman baru juga nih, karena sebelumnya saya gak pernah tahu kaya apa radiosonde itu dan bagaimana mengoperasikannya. Payah juga deh…

Oh iya, seperti biasa hari ini saya bangun pukul 05.00, tapi karena masih ngantuk jadi ketiduran lagi dan baru benar-benar bangun pukul 06.00 dan segera menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi. Oh iya, saya putuskan selama di kapal untuk mandi sekali sehari, di pagi hari saja. Alasannya, karena selama di kapal tidak pernah keringatan dan juga untuk menghindari supaya kulit tidak terlalu kering. Maklum, saya punya masalah kulit kalau terlalu banyak mandi dalam kondisi udara yang dingin dan kering kaya di kapal saat ini.

Pada pelayaran hari ini, menurut GMS image, kita akan melewati low pressure di barat daya New Caledonia (lihat gambar di bawah pada bagian yang berwarna kuning), untuk itu biasanya tinggi gelombang akan lumayan tinggi dan banyak turun hujan. Tapi untuk kapal sebesar Mirai mungkin akan tidak begitu terasa. Dari hasil pengamatan tinggi gelombang signifikan hari ini, didapatkan tinggi gelombang sekitar 2,5 s.d. 3 meter saja, justru jauh lebih kecil dari tinggi gelobang semalam.

bersambung kalau ingat… :))

Read Full Post »

Kemarin malam, Senin, 21 Juli 2008, saya sempat menonton acara Empat Mata dengan tema “Siapa Takut”. Dalam beberapa bagian dari acara ini saya lihat Tukul beberapa kali melakukan adegan yang menurut saya bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual, seperti memegang tangan, memeluk, duduk di samping bintang tamu sembari menciumi rambutnya, dll. Lebih dari itu, acara ini koq jadi terkesan mesum ya?

Menurut situs kesrepro dot info:

Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran hingga menimbulkan reaksi negatif: rasa malu, marah, tersinggung dan sebagainya pada diri orang yang menjadi korban pelecehan.

Ok, meskipun di akhir acara Tukul selalu berkata “… tidak ada maksud untuk melecehkan, bla… bla…” namun dari apa yang dilakukannya di acara tersebut, kesan pelecehan cukup terlihat jelas dan bisa kita rasakan.

Read Full Post »

Bubarkan saja Persib!

Mau usul nih, daripada setiap kali ada pertandingan Persib melawan tim lain di Bandung selalu terjadi kerusuhan dan tindakan brutal yang merusak dari para bobotohnya, lebih baik Persib dibubarin aja.

Harusnya kalau para bobotoh mau ngamuk, jangan ngamuk sama orang-orang atau benda-benda yang gak punya peranan dalam membuat Persib menjadi tim yang kalahan dong. Ngamuk sana sama manajemen Persib yang nggak becus ngurusin Persib jadi tim yang hebat. Lagian, namanya pertandingan pasti kan ada yang kalah dan ada yang menang ya? Kalau bobotoh kepingin Persib menang terus, suruh aja Persib main ngelawan patung.

Meuni ngerakeun pisan…

Berita terkait:

Pertandingan Persib-Persija Rusuh

Persib Kalah, Bobotoh Rusuh di Siliwangi

Read Full Post »

Saya kurang tahu berapa banyak orang yang kencing setiap harinya di depan pintu masuk ke taman Monas dekat halte bus Trans Jakarta di samping pintu masuk stasiun Gambir. Yang jelas di setiap hari Senin saya melintasi depan pintu itu, untuk berjalan kaki ke kantor selepas naik kereta api Parahyangan Bandung – Jakarta, baunya sungguh sangat menyengat, pesing. Pokoknya jorok betul!

Kalau dilihat-lihat sekelilingnya, sebetulnya ada banyak WC di sekitar situ, yaitu di stasiun Gambir. Hanya saja, mungkin karena harus bayar 1000 Rupiah untuk setiap kali kencing, maka banyak orang yang lebih memilih untuk kencing di depan pintu masuk tersebut, back to nature! Sebetulnya ada juga sih WC gratis di Gambir ini, tapi lokasinya di dalam stasiun. Sementara itu, untuk bisa masuk ke dalam stasiun tempat WC itu berada, kita harus punya karcis kereta atau beli karcis peron. Tetap saja harus keluar uang…

Tapi, siapa sebetulnya yang suka kencing sembarangan di situ? Kalau saya lihat-lihat, di sekitar tempat itu memang ada tukang ojek dan bajaj yang suka mangkal setiap harinya, dari pagi sampai malam. Mungkin mereka ya?

Mungkin, menurut pemikiran sederhana mereka, mumpung belum ada Polisi Pamong Praja yang khusus mengawasi kegiatan kencing-kencingan di pintu masuk taman Monas ini, ya kencing saja di situ. Pesing bukan urusan, yang penting lega gak perlu nahan pipis atau keluar uang untuk pipis di WC yang tersedia. Mungkin perlu dibuka perlombaan ya: ngedesain celana yang bisa nampung pipis mereka, seperti celana pipis untuk bayi tapi yang bisa dipake ulang dan gratis, supaya gak perlu pipis sembarangan. Atau mungkin perlu juga dibuat papan peringatan: “Tukang ojek dan sopir bajaj wajib memakai popok penampung pipis”. hahaha…

Jadi inget lomba mendesain celana untuk kuda di Jalan Ganesha Bandung jaman dulu, untuk mengatasi tai kuda yang bertebaran di jalan tersebut akibat adanya tempat wisata berkuda. Makanya, jangan heran kalau di jalan tersebut dulu banyak ditemui peringatan: “Kuda wajib bercelana” yang kadang huruf “K” nya suka dibuang sehingga tulisannya menjadi “Uda wajib bercelana”. hihihi…

Read Full Post »

Liburan sekolah anak bulan Juli 2008 yang baru lalu kami memutuskan untuk berlibur ke Jakarta, yaitu ke Ancol (Gelanggang Samudra, Seaworld, dan Dufan) dan ke Taman Mini Indonesia Indah. Sudah bisa dibayangkan, berlibur ke tempat wisata di saat liburan sekolah pasti bakalan penuh sesak. Pengunjung berjubel dan hotel dengan lokasi strategis dan harga terjangkau pun sudah penuh dipesan.

Untuk penuh sesaknya kawasan wisata, saya pikir itu bukan masalah yang serieus karena memang sedang saatnya musim libur, wajar lah (kecuali untuk urusan antri-mengantri yang kadang kala menjengkelkan karena selalu saja ada orang yang main serobot dan tidak sabaran, termasuk anak-anak pramuka yang waktu itu cukup banyak mengunjungi Ancol). Hal yang justru sedikit mengganggu, terutama di Ancol, adalah kemacetan lalu-lintas di dalam area wisata akibat banyaknya kendaraan bermotor pribadi, terutama mobil, yang parkir maupun yang sekedar menurunkan penumpang. Menurut saya sebaiknya beberapa area utama di dalam Ancol harus dijadikan zona bebas kendaraan bermotor, sehingga para pengunjung bisa berjalan kaki dengan nyaman. Sedangkan untuk pengunjung yang ingin berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang agak jauh tetapi masih di dalam kawasan wisata Ancol, bisa memanfaatkan bus yang disediakan secara gratis atau mungkin menggunakan kereta gantung yang juga tersedia.

Oh iya, ada sedikit cerita agak nggemesin mengenai bus gratis di Ancol ini. Saat liburan kemarin kami sempat menumpang bus ini untuk berpindah dari Seaworld ke Dufan. Busnya sih cukup bagus dan nyaman lah, dengan jendela yang terbuka yang membuat angin sepoi-sepoi bisa masuk dengan leluasa. Sayangnya, kenyamanan ini agak sedikit terganggu. Gangguan pertama adalah lalu-lintas yang macet, yang sudah saya singgung dan usulkan solusinya di atas. Adapun gangguan kedua adalah sopir bus yang selalu mengeluh belum shalat dan belum makan siang. Kebetulan waktu memang sudah menunjukkan pukul 12 lebih, waktu untuk shalat Dhuhur dan makan siang, tetapi apakah pada tempatnya jika pak sopir kemudian menjadi manja dan terus berkeluh kesah ke penumpang dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan dan diulang-ulang pula.

Menurut pak sopir, kalau saya tidak salah dengar, ada 3 bus yang tersedia untuk angkutan gratis di kawasan Ancol ini (jumlah yang terlalu sedikit untuk ukuran Ancol yang selalu ramai di musim liburan). Kalau saja manajemen Ancol bisa membuat jadwal keberangkatan bus dengan baik, disamping menghilangkan kemacetan di beberapa kawasan dengan menerapkan zona bebas kendaraan bermotor, waktu istirahat yang memadai untuk sopir saya pikir dapat dialokasikan. Sopir senang, penumpang pun senang, hehehe…

Ada masalah lain? Hmm… sepertinya rambu penunjuk jalan juga harus ditambah deh, khususnya menuju ke halte bus Trans Jakarta. Selain itu, ternyata nyari taksi yang mau pakai argo susyah pisan euy! Sama kaya di Bandung, hahaha…

Read Full Post »

Mendadak Korup

Trend korupsi rupanya mulai berubah, meluas dari yang tadinya lebih banyak digeluti secara serius oleh eksekutif sekarang mulai digeluti secara serius pula oleh legislatif. Seru nian! Kalau di dunia dangdut ada lagu “Mendadak Dangdut”, di dunia politik sepertinya perlu juga dibuatkan lagu “Mendadak Korup” lengkap dengan ikonnya. Selamat! Rupanya di jaman reformasi ini, bukan hanya pembagian kekuasaan saja yang terjadi, korupsi beserta turunan dan integralnya pun sudah ikut dibagi-bagi. Sekali lagi selamat!

Kalau saya boleh usul, mungkin lebih baik nama negara kita diubah saja, dari Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara Korup Republik Indonesia, toh singkatannya masih tetap sama yaitu NKRI. Kalau perlu lambang Burung Garudanya pun agak sedikit dimodifikasi, di bagian dada tambahkan saku dengan lembaran uang, baik Rupiah, Dolar atau Euro, yang keluar. Lalu mata Garudanya diberi kacamata hitam bergambar lambang Dolar atau Euro. Cool man!

Sudah dulu ah! Mudah-mudahan saya tidak dianggap menghina NKRI dan simbol-simbol keramatnya dengan memberikan usulan yang naif ini!

Read Full Post »