Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2006

Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini, bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya tembakau:

  1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN. Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok tanpa asap, cerutu, semua berbahaya.
  2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama dan rasa apapun sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar, full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free, organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products), harm-reduced, semua berbahaya. Label-label tersebut TIDAK menunjukkan bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman dibandingkan produk lain tanpa label-label tersebut.
  3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani perjanjian Internasional ini.

Internet, 31 Mei 2006

Tertanda,

agusset

Read Full Post »

Pagi dini hari, pukul 04:00 waktu Hamburg (atau pukul 09:00 waktu Yogya), seorang kawan dari Yogya mengirim SMS ke handphone (HP) istri saya. Pesannya: "ada gempa di Yogya, ada isu air masuk ke kota, tolong carikan info di internet". Kami yang terbangun karena SMS itu pun mencoba memahami pesan itu. Yang ada di otak kami saat itu adalah gempa vulkanik akibat aktivitas Gunung Merapi. Kalau memang itu yang dimaksud, tentu jauh kemungkinannya untuk terjadi air masuk ke kota alias tsunami karena Gunung Merapi tidak berada di dalam laut seperti Gunung Krakatau.

Setelah kami sedikit berdiskusi di antara sadar dan masih ngantuk, istri saya akhirnya membalas SMS itu dengan anjuran agar kawan kami itu mengungsi ke tempat pengungsian yang ada. Ternyata SMS balasan dari istri saya itu tidak bisa terkirim ke nomor HP kawan kami itu. Hal ini menjadikan istri saya penasaran dan tidak bisa tidur. SMS pun kembali dikirimkan untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja, dan kemudian dia menyalakan komputer untuk melihat berita di detik.com. Ternyata memang ada berita tentang gempa, dan di luar dugaan kami yang selama ini berkonsentrasi dan selalu mengikuti berita aktifnya Gunung Merapi, gempa yang dimaksudkan kawan kami itu ternyata gempa tektonik dengan pusat gempa berada di pantai selatan Jawa selatan-barat daya Yogyakarta dengan jarak sekitar 20 km dari Yogyakarta (lihat gambar di atas, sumber: USGS). Pantas saja ia bertanya tentang kemungkinan adanya "air masuk ke kota", karena informasi (desas-desus) awal yang beredar sumber gempa ada di pantai selatan Jawa.

Kembali ke masalah SMS, balasan SMS yang dikirim oleh istri saya ke kawannya di Yogya itu ternyata baru diterima di sana setengah jam kemudian, mungkin karena padatnya komunikasi pada saat itu. Istri saya pun tak lupa untuk menelepon mertuanya (berarti orang tua saya ya?) yang tinggal di Kebasen, sebuah desa di pinggiran Sungai Serayu, berseberangan dengan Rawalo, yang berjarak sekitar 30 km dari kota Purwokerto (betul nggak ya jaraknya?). Ternyata getaran gempa juga dirasakan cukup kuat di sana, penduduk pun sempat pergi ke luar rumah untuk menghindari dari kemungkinan runtuhnya rumah.

Sedikit informasi, seingat saya sejak kecil dulu kita memang diajari secara turun temurun untuk pergi ke luar rumah jika terjadi gempa. Biasanya jika terjadi gempa yang cukup kuat, ada suara yang khas dari langit-langit (rangken) yang terbuat dari bambu dan/atau atap seng yang saling bergesekan. Dan biasanya, jika mendengar suara itu, kami pun secara reflek akan berlari ke luar rumah dengan berteiak "lindu, lindu". Orang-orang dewasa bahkan secara reflek akan membunyikan kenthongan dengan irama "thithir" (dipukul secara terus menerus dengan cepat) untuk memberikan peringatan kepada warga lainnya yang mungkin belum sadar bahwa sedang terjadi gempa. Dan biasanya, hampir di setiap rumah, tersedia alat yang bernama kenthongan ini yang ditaruh di tempat-tempat yang mudah diraih dalam keadaan darurat dan panik. Umumnya, kenthongan ini digunakan pada kondisi-kondisi darurat seperti ketika ada pencurian, kematian, kebakaran, gempa bumi, banjir, dan lain-lain. Sistem peringatan dini tradisional warisan nenek moyang yang cukup brilian menurut saya.

Kembali ke masalah gempa Yogya, ternyata jumlah korban meninggal cukup banyak, lebih dari 4000 orang (informasi terakhir: lebih dari 5000-an orang meninggal dunia, saya turut berduka cita yang sangat mendalam). Gempa dengan kekuatan 6,3 skala Richter (kategori kuat) dengan pusat gempa berada pada kedalaman 35 km pada posisi 7,977°LS, 110,318°BT yang terjadi hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05:54 dini hari (sumber: USGS) ternyata cukup mengejutkan. Saat ini, seperti halnya saya, kebanyakan orang konsentrasinya lebih tercurah kepada gempa vulkanik Gunung Merapi yang kalau saya tidak salah masih pada status "AWAS Merapi". Tidak diduga, ternyata gempa tektonik yang katanya terjadi akibat bertumbukannya lempeng Australia dan Eurasia malah membuyarkan segala langkah mitigasi yang sudah disiapkan begitu matang dan baik dalam menghadapi "batuknya" Merapi.

Manusia boleh berencana, Tuhan jua yang menentukan segalanya! Mungkin ini bisa jadi pengalaman berharga buat kita semua. Indonesia memang berada pada zona lempeng tektonik yang aktif bergerak. Periodisitas gempa tektonik yang cukup lama (dalam orde puluhan bahkan ratusan tahun) kadang memang membuat kita lalai atau menganggap informasi mengenai kegempaan sebagai sesuatu yang tidak atau kurang diperlukan. Padahal, sekali gempa terjadi, ratusan bahkan ribuan jiwa bisa melayang seketika, ratusan bahkan ribuan bangunan bisa musnah seketika, dengan kerugian yang sangat besar, yang menyisakan kepedihan dan tetesan air mata. Seperti halnya Jepang, Indonesia memang perlu ahli-ahli gempa yang serius, juga sistem pemantauan dan peringatan dini kegempaan yang ditangani secara serius. Mungkin BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) perlu bekerja lebih serius lagi di bidang ini.

Menurut beberapa literatur, gempa tektonik "sebenarnya" bisa dibuatkan early warning systemnya berdasarkan penjalaran gelombang P yang 2 kali lebih cepat dari gelombang S (sebelum terjadinya getaran/goncangan akibat gempa). Kendalanya, dari pendeteksian gelombang P ini (melalui jaringan sensor yang dipasang), waktu yang ada untuk early warning system hanya dalam orde detik (maksimum ~10 detik, ada juga yang katanya bisa mendeteksi hingga 30-60 detik) sebelum goncangan dahsyat terjadi, jadi ya memang kurang cukup untuk bisa memberikan informasi/warning dan mengevakuasi penduduk ke tempat yang aman, apalagi kalau sedang tidur nyenyak. Tapi mungkin waktu sesingkat itu dapat dimanfaatkan untuk mengambil tindakan darurat pada instalasi-instalasi penting dan strategis, atau mungkin untuk perencanaan tindakan pasca gempa. Oh iya, ada satu hal yang mungkin jauh lebih penting daripada early warning system yaitu pemasyarakatan bangunan/rumah tahan gempa, pelatihan mitigasi bencana dan pelatihan-pelatihan lain pasca bencana (supaya bantuan untuk para korban tidak tersendat-sendat misalnya). Malu kan sama Presiden, masa beliau harus turun tangan sendiri untuk hal-hal yang mungkin bisa dikerjakan oleh Gubernur dan anak buahnya itu. Katanya otonomi daerah… 🙂

Informasi terkait gempa Yogya:

Read Full Post »

Salah satu yang saya suka dari ruang kerja orang-orang di Hamburg (atau malah mungkin di Jerman) adalah adanya tanaman dalam pot di hampir setiap ruang kerja mereka. Dan yang membuat saya lebih "kagum" lagi, tanaman itu diadakan sendiri oleh mereka, milik mereka sendiri dan, lebih dari itu, juga dirawat sendiri oleh mereka. Setidaknya itu yang saya tahu dari ruang kerja yang ada di lingkungan IfM, tempat saya kerja doktoran selama ini, dan juga beberapa ruang kerja di tempat lain yang pernah saya masuki karena suatu urusan.

Bahkan ruang kerja seorang profesor ada yang benar-benar hijau dan rimbun seperti dalam "hutan" karena dipenuhi oleh pot-pot dengan tanaman yang terawat baik yang diletakkan di jendela maupun di bagian-bagian tertentu di ruangannya. Di ruangan profesor pembimbing saya pun saya lihat ada beberapa tanaman dalam pot yang beliau rawat sendiri. Salah satu yang membuat ruangan itu menjadi unik adalah adanya alat penyiram tanaman (embor?) yang ditaruh di samping pot tanamannya. Beliau selalu menyempatkan diti untuk ke kamar mandi atau dapur mengambil air dengan alat itu untuk menyiram tanamannya. Jika kebetulan sedang mengambil cuti musim panas dalam waktu yang agak lama, biasanya beliau akan menitipkan tanamannya tersebut ke mahasiswa atau kolega di ruang sebelahnya dan meminta tolong mereka untuk merawat tanaman tersebut selama beliau liburan.

Di ruang kerja saya, yang dipakai berdua dengan seorang mahasiswa S3 dari Jerman, juga ada pot tanamannya. Teman seruangan saya yang memiliki dan memelihara tanaman itu. Sementara itu saya sendiri lebih memilih untuk memelihara tanaman di rumah saja, karena suka angin-anginan kalau pergi ke tempat kerja (Biasanya saya lebih memilih bekerja dari rumah. Pergi ke tempat kerja saya lakukan kalau sedang ada jadwal diskusi dengan profesor saja atau kalau tidak sedang terserang penyakit malas).

Ada beberapa jenis tanaman yang saya taruh di ruang tamu rumah kami yaitu 3 mini kaktus, 2 pohon seperti batang bambu kecil yang ditaruh dalam pot yang berisi air, satu pohon seperti pohon beringin (katanya namanya Weeping fig atau Ficus benjamina bahasa Latinnya) peninggalan dari penghuni sebelumnya, dan 3 pot tanaman bunga yang saya tidak tahu apa namanya yang juga merupakan peninggalan penghuni rumah sebelumnya. Jika sedang musim panas dengan kondisi yang sangat cerah dan kering, pohon-pohon ini (kecuali mini kaktus) perlu disirami minimal setiap 2 hari sekali. Tetapi, jika cuaca sedang mendung atau musim dingin, maka penyiraman seminggu sekali sudah lebih dari cukup buat mereka.

Memelihara tanaman dalam ruangan sepertinya memang cukup mengasyikkan… 😀

Read Full Post »

Ketimpuk PR

Dasar si Rico iseng, masa sih gw ditimpuk PR. Tapi OK lah, karena udah terlanjur benjol, nih gw kerjain PR-nya dengan senang hati. Selamat tersenyum buat yang udah ngasih PR 😛

4 jobs you’ve had in your life
a. Tukang jualan bensin eceran semasa SMA dulu.
b. Peternak ayam buras selama nganggur setelah lulus SMA dan nggak diterima UMPTN.
c. Proyeker bantuin dosen setelah lulus S1 sebelum dapet kerja beneran.
d. Jadi PNS yang setia kepada nusa dan bangsa, rendah hati, jujur dan suka menolong sesama, meski gajinya kecil!

4 Movies you could watch over and over
a. Mulan 1 dan 2, nontonnya sama anak gw.
b. Lion King 1, 2, dan 3, nontonnya juga sama anak gw.
c. 101 Dalmatians versi kartun, nontonnya juga sama anak gw.
d. Oliver and Co., nontonnya juga sama anak gw.

4 TV shows you love(d) to watch
a. Spongebob Schwampkopf, nontonnya sama anak gw.
b. Jimmy Neutron, nontonnya juga sama anak gw.
c. Avatar – Der Herr der Elemente, nontonya pasti sama anak gw.
d. Deutchland sucht den Superstar, ini sih istri yang suka nonton.

4 places you’ve lived
a. Kedung Halang, Bogor.
b. Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah.
c. Bandung, Parijs van Java.
d. Jakarta, the crowded city.

4 of your favourite foods
a. Semua masakan buatan istri tercinta.
b. Nasi goreng.
c. Dendeng dan paru goreng a la Padang.
d. Martabak telor.

4 websites you visit daily
a. Yahoo! inbox.
b. Detik Hot, Kompas dan Republika.
c. Blog temen2 di link gw.
d. Google.

4 tagged
a. Putri.
b. Aji.
c. Mala.
d. Ricorea… hahahaha… masa PR-nya balik ke yang ngasih? 😛

Read Full Post »

Efek Halimah

Berita disatroninya rumah Mayangsari oleh Halimah dan anak-anaknya ternyata berdampak juga pada blog saya ini. Pada tanggal 24 April yang sudah lama berlalu, saya pernah menulis sebuah tulisan di blog ini dengan judul Wartawan Gosip. Pada tulisan tersebut saya sedikit menyentil gosip Bambang-Mayangsari sebagai contoh kasus. Tidak diduga-duga, ternyata 2 hari belakangan ini kunjungan ke blog saya meningkat cukup drastis pada judul tulisan di atas. Kemarin (22 Mei 2006) ada 107 views dan hari ini meningkat tajam menjadi 220 views. Kunjungan ke tulisan tersebut semuanya diarahkan oleh mesin pencari dengan kata kunci yang mengandung kata "Bambang Trihatmodjo", "Halimah", "Gendis" dan "Mayangsari". Bahkan ada beberapa pendukung Halimah yang bersedia meninggalkan komentarnya di blog saya. Terimakasih untuk komentarnya 😀

Harus diakui, gosip Bambang-Mayangsari adalah gosip yang paling panas di tahun 2006 ini. Bahkan gosip ini mampu menyaingi panasnya drama perceraian Adjie-Reza dan Gusti Randa-Nia Paramitha. Lebih dari itu, foto Bambang-Mayangsari pun sempat mengakibatkan diciduknya seorang blogger oleh polisi akibat memelesetkan foto tersebut (dengan mengganti muka Mayangsari dengan tokoh-tokoh terkenal di Republik "BBM" tercinta).

Ada satu hal yang saya kira layak mendapat perhatian serius dari fenomena yang terjadi belakangan ini tentang gosip dan berita orang terkenal. Maraknya tayangan infotainment dan tabloid gosip telah menjadikan sepak terjang mereka (terutama yang "negatif") mudah tersiar ke mana-mana. Secara umum, kondisi semacam ini tentu saja menjadi kurang baik dan merugikan para orang terkenal tersebut juga keluarga dan orang-orang di sekitar mereka. 

Di jaman ORBA dulu, ketika stasiun TV hanya ada TVRI, dan ketika tabloid gosip belum sebanyak sekarang ini, boleh dikata segala perbuatan (terutama yang "negatif") dari para selebritis dan tokoh-tokoh terkenal masih bebas dari publisitas. Mereka mau ngelaba, mau punya laki-laki atau perempuan simpanan, mau pesta sabu, mau ini dan itu, semua bisa tertutup dan ditutup rapat-rapat rahasianya. Kalaupun ada bisik-bisik, paling-paling sebatas di lingkungan RT saja, tidak menyebar sampai ke seantero jagad raya.

Sepertinya para selebriti dan tokoh terkenal harus punya strategi baru untuk menghadapi maraknya aksi nyamuk infotainment memburu berita gosip agar privasi mereka tetap terjaga. Jawaban "no comment" a la Desi Ratnasari atau jangan terlalu akrab dengan para nyamuk infotainment mungkin bisa jadi alternatif yang paling mudah untuk mereka.

Read Full Post »

Kayaknya, bunyi peribahasa yang saya jadiin judul di atas kurang tepat buat saya. Yang lebih tepat mungkin: "sudah bertanya, masih aja sesat di jalan" hahaha…

Ya memang, dalam sejarah hidup saya, nggak pernah nggak tersesat. Tapi bukan tersesat ikut aliran sesat, atau sesat-sesat yang lain lho. Yang dimaksud dengan tersesat di sini adalah tersesat kalau mencari atau pergi ke suatu tempat, bahasa ngepopnya kesasar lah. hehehe…

Kesasar pertama kali yang saya inget ya waktu duduk di kelas 1 SD dulu. Ceritanya waktu itu pertama kali saya nyoba puasa Ramadhan. Sambil nunggu waktunya buka puasa, biasanya kita suka ngabuburit. Nah waktu itu, saya bersama beberapa temen punya rencana untuk ngabuburit ke desa tetangga yang ada di balik bukit. Ke kampung sebelah gitu lah istilahnya kira-kira. Waktu itu saya masih tinggal di asrama Brimob Kedunghalang, Bogor. Suka mandi di kali di kampung deket asrama sambil cari anak ikan lele buat dipelihara di toples. Untuk bisa ke desa tetangga itu kita harus ngelewatin hutan karet. Sok gaya tahu jalan, saya mengambil posisi sebagai penunjuk jalan dan pemimpin rombongan. Dan ternyata, udah jalan sampe lemes, kita cuman berputar-putar di kebun karet terus, kampung sebelah nggak juga ada di depan mata. Puasa, haus, laper, lemes dan kesasar… Saya nggak inget lagi cerita selanjutnya gimana waktu itu, yang jelas akhirnya kita nggak bisa nyampe ke kampung sebelah dan baru sampe di rumah di atas jam tujuh malem…

Ada lagi cerita kesasar yang sampe sekarang kalau diinget-inget bikin saya ketawa sendirian. Ini cerita waktu pertama kali saya masuk SMA. Saya diterima di SMA 1 Purwokerto. Karena jarak dari rumah tempat saya tinggal ke sekolah memakan waktu kira-kira satu jam, maka seperti juga anak-anak yang lain, saya kos di Purwokerto. Jadi ini pengalaman pertama kali jadi anak kos. Saya tinggal sekamar sama kakak angkatan, sama-sama satu desa dan sama-sama Agus namanya. Dari rumah kos ke sekolah jalan kaki santai kira-kira cuman 15 menit aja. Berangkat ke sekolah nggak ada masalah karena bareng sama temen sekamar. Pulangnya? Nah itu dia? Kebetulan hari pertama sekolah belum ada pelajaran, jadi pulang lebih awal. Dasar hobby kesasar, saya lupa dimana rumah kos saya. Walah, bolak-balik dicari, eh nggak ketemu juga. Coba diinget-inget, eh nggak inget juga. Akhirnya, setelah frustrasi nyari sana-sini nggak dapet, ya balik lagi ke sekolah, terpaksa nunggu temen sekamar sampe dia selesai pelajaran.

Waktu di Bandung, banyak juga pengalaman saya kesasar. Apalagi di Bandung banyak jalan-jalan kecil dan gang. Tapi, satu pengalaman yang masih suka bikin geli ya waktu njemput istri (eh udah jadi istri belom ya waktu itu? lupa! hahaha…) pake motor pinjem temen ke stasiun kereta. Kebetulan waktu itu doi ada presentasi di Jakarta. Sesuai jadwal kereta Parahyangan, diperkirakan doi sampe di bandung abis Maghrib (Jadi udah gelap ceritanya. Pas terang aja saya kesasar, ini nekad njemput pake motor pas udah gelap… demi cinta, kesasar mah nggak masalah… hahaha…). Singkat cerita, berangkat dari kampus di Jl. Ganesha (karena kebetulan lagi ada kerjaan lembur di Lab. Osean) naek motor pinjeman. Awalnya, jalan masih bisa dikuasai sampai akhirnya saya salah belok dan mulai nggak tahu jalan. Puter-puter, nggak ketemu juga stasiun kereta api. Akhirnya, daripada telat ngejemput, saya nanya ke seorang bapak yang kebetulan lagi nunggu angkot di pinggir jalan.

"Punten pak, ari stasion teh di mana nya?" saya nanya.

"Di sana mas!" kata si bapak sambil nunjuk pakai tangan.

"Ari bapak teh mau pergi kamana?" saya nanya lagi.

"Mau ke stasiun!" jawab si bapak.

"Ya udah, mbonceng saya aja atuh Pak, sekalian sambil nunjukkin jalan. Bisi saya kesasar deui!" kata saya memelas

Akhirnya, saya jadi tukang ojek gratisan, nganterin si Bapak ke stasiun sambil minta dia nunjukkin jalan… Simbiosa mutualisma… kerjasama yang saling menguntungkan… hahaha…

Sebenernya masih banyak pengalaman saya kesasar yang lainnya, termasuk kesasar masuk kamar mandi orang waktu nyari rumah di gang-gang di Bandung, juga kesasar di bandara dan kota-kota di luar negeri. Tapi, kalau diceritain semua, busyet deh, bisa jadi novel dengan judul "Kesasar" nantinya… hahaha… takut dibikin film euy sama Garin Nugroho… Nggak enak kan kalau masuk jadi box office dan dapet Academy Award!

Tapi untungnya, saya dapat istri yang paham bener sama jalan. Feelingnya soal jalan dan tempat sama canggihnya kaya GPS pokoknya. Nah kalau pas jalan sama doi, saya merasa menjadi orang yang paling damai di dunia ini… Nggak kuatir kesasar… 😀

Read Full Post »

Mencari kesalahan

Ya itulah kerjaan gw sebulan belakangan ini. Bukan mencari kesalahan orang lain, tapi kesalahan dalam program yang gw bangun buat penelitian gw. Secara sintax, semua sudah ok beberapa bulan yang lalu, nggak ada pesan kesalahan waktu dicompile. Tapi waktu dirunning, hasilnya masih salah karena simpangannya masih besar kalau dibandingin sama hasil dengan metode yang lainnya.

Masalahnya, ternyata mencari kesalahan di dalam program lebih susah daripada mencari kesalahan orang lain, apalagi kesalahan para pejabat hahaha… Jadinya, jidat gw selama sebulan belakangan ini harus sering-sering digaruk-garuk padahal nggak gatel. Untungnya, profesor pembimbing gw orangnya baek banget dan banyak ngasih bantuan dan ide supaya gw tetep semangat nyari kesalahan di program gw. Bahkan doi mau ngebantuin meriksa program gw baris per baris.

Beberapa kesalahan udah bisa ditemuin dan langsung gw benerin, tapi ternyata masih aja belum memuaskan hasilnya. Masih ada kesalahan yang kayaknya ngumpetnya nggak ketahuan dimana. Tadinya gw udah sempet depresi dan stres aja. Apalagi waktu sepertinya berlari, ngebut banget, tiap minggu suka kaget, eh tahu-tahu udah hari Jumat lagi. Tapi meskipun begitu, alhamdulillah gw masih bisa nyenyak tidur, masih nafsu makan (tambah gembul malah saking stresnya), dan masih enjoy menikmati hidup. Cuman emang ada sesuatu yang kayanya masih membuat hidup gw kurang nyaman kalau belum bisa nemuin sumber kesalahan itu. Soalnya kalau kesalahan itu belum ketemu, gw nggak bisa ngelanjutin kerjaan gw ke tahap berikutnya.

Alhamdulillah, setelah pusing 10 keliling, Tuhan mendengar doa gw yang sudah hampir putus asa kaya orang patah hati ditolak lamarannya sama cewek yang ditaksir. Hampir setiap malem sebelum tidur gw selalu berdoa supaya sumber kesalahan di program gw bisa segera ditemuin. Kemaren-kemaren doa gw makin khusyu aja saking udah mentoknya ini otak. Dan memang, Tuhan selalu mendengar doa hambanya yang penuh harap. Dalam perjalanan dari rumah ke institut tempat gw kerja, di dalam U-Bahn ke arah Schlump dari Jungfernstieg, gw menemukan ide untuk memeriksa secara lebih seksama bagian definisi nilai awal. Dan ta ra… di luar dugaan, emang bagian itu yang bikin masalah. Ada akumulasi nilai yang disebabin oleh nilai awal ini pada operasi perkalian matrik-vektor. Seharusnya nilai awal ini harus diredefinisiin ulang di setiap loop iterasi supaya nggak terjadi akumulasi. Tuhan emang baik sekali sama gw. Tanpa bantuan-Nya, mungkin gw tambah pusing 15 keliling hari ini.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang mencari kesalahan, ternyata mencari kesalahan dalam program itu lebih susah ya daripada mencari kesalahan orang lain. Artinya, jadi programer itu lebih susah daripada jadi pengamat atau politikus. hahaha… Makanya, kayaknya gw salah ambil kerjaan deh, apalagi pake nyoba-nyoba bikin program sendiri. Kayaknya gw lebih cocok jadi pengamat atau politikus deh, atau lebih enak lagi mungkin jadi wartawan infotainment… nyari gosip orang terkenal… asal jangan dikasih tembakan peringatan atau dilempar asbak aja… hahaha…

Ok deh, back to work… with smile 🙂

Read Full Post »

Older Posts »