Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2010

Ini bukan mau menakut-nakuti, hanya sekedar berbagi informasi saja berkaitan dengan datangnya musim penghujan 2011 yang kebetulan berbarengan dengan La Nina yang sepertinya masih akan terus berlanjut hingga pertengahan 2011. Menurut informasi yang dikeluarkan oleh Climate Prediction Center (CPC), kondisi La Nina akan semakin menguat di Nopember 2010 hingga Januari 2011, dan baru kemudian akan perlahan-lahan melemah. Bahkan menurut perkiraan yang dibuat oleh Climate Forecast System NCEP, La Nina berpotensi terus berlanjut hingga datangnya musim panas di BBU.

Kita tahu bahwa La Nina yang bersamaan dengan musim hujan akan menyebabkan curah hujan yang di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini juga dapat dilihat dari data radiasi balik gelombang panjang yang menunjukkan adanya peningkatan konveksi di wilayah Indonesia.

Kita sudah sangat paham bahwa hujan deras sebentar saja sudah bisa membuat jalan-jalan di DKI Jakarta dan kota-kota besar lainnya tergenang, dimana hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya sampah yang dibuang sembarangan ke saluran air ditambah buruknya sistem drainase. Sementara itu, di wilayah-wilayah di sekitar perbukitan/pegunungan dan daerah-daerah bertebing, kita juga harus mewaspai potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor. Hal ini harus menjadi perhatian kita karena kerusakan ekosistem saat ini sudah cukup parah, dimana salah satunya adalah akibat maraknya pembalakan liar.

Jadi, seperti peribahasa nenek moyang kita, tidak ada salahnya jika kita mulai “sedia payung sebelum hujan” sedini mungkin agar dampak negatif dari musim hujan yang berbarengan dengan La Nina ini dapat diminimalkan.

Iklan

Read Full Post »

Akhir pekan lalu saya baru mendapat kiriman buku dengan judul “Guide to best practices for ocean acidification research and data reporting” dari European Project on Ocean Acidification (EPOCA). Buku ini diberikan gratis dan sengaja saya pesan karena di 2011 BROK akan melakukan kegiatan riset yang berkaitan dengan ocean acidification atau pengasaman laut. Sebagai bidang riset yang relatif masih baru dilakukan di Indonesia, buku ini akan sangat memberikan manfaat yang signifikan karena banyak memberikan teori-teori dan metode-metode pengukuran yang dibutuhkan demi berhasilnya riset ini.

Bentuk PDF dari buku ini sebetulnya bisa diunduh secara gratis di sini, tetapi karena EPOCA juga memberikan tawaran untuk bisa mendapatkan secara gratis hard copy-nya, maka saya pun memesan satu. Buku ini dibagi dalam 15 bab yang membahas secara lengkap riset di bidang ocean acidification. Tak hanya itu, dari buku ini saya juga dapat melihat daftar pustaka yang lengkap yang selanjutnya bisa kami gunakan dalam kajian pustaka sehingga kami dapat menghasilkan penelitian yang benar-benar bermutu dan dapat memenuhi kebutuhan dasar ilmiah yang sangat diperlukan ketika membahas tentang perubahan iklim seperti yang sudah pernah saya singgung di postingan saya sebelumnya.

Read Full Post »

Hari ini saya dapat undangan untuk menghadiri acara peresmian Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan di Desa Bug Bug, Karang Asem oleh Presiden SBY. Karena jarak Perancak Karang Asem sangat jauh, yaitu dari barat ke timur dengan waktu tempuh 4 sampai 5 jam dan karena diminta untuk sudah kumpul pukul 07.30, maka mau gak mau harus berangkat dari Perancak pukul 03.00 dini hari. Sayangnya, acara yang di undangan direncanakan dimulai pukul 10.00 harus molor dan baru dimulai pukul 11.00, padahal sejak pukul 08.00 hampir semua undangan sudah hadir di tempat acara diadakan.

Lokasi Balai ini berada di pinggir pantai, dikelilingi oleh bukit berbatu dengan pemandangan yang cukup indah, hanya saja lokasinya agak terpencil dan jauh dari keramaian. Kalau dibandingkan dengan tempat kerja saya sekarang yang juga sudah cukup terpencil, maka balai ini ternyata jauh lebih terpencil lagi. By the way, meskipun cukup terpencil lokasinya, tapi balai ini oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dinyatakan sebagai pusat produksi induk udang Vaname terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 675 ribu ekor induk per tahunnya dan harga per ekornya yang 10 kali lebih murah daripada harga benih yang diimpor dari Amerika. Oh iya, Kementerian Kelautan merasa perlu untuk mendirikan balai ini karena kebutuhan akan bibit udang di Indonesia sangat besar, dan selama ini masih harus dipenuhi dengan cara mengimpor dari Hawaii dan Florida dengan harga sekitar 400 ribu per ekornya.

Dalam pidatonya, sebelum meresmikan balai ini, Presiden SBY kembali menekankan bahwa sekitar dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut, dan sungguh sangat merugi jika potensi yang besar itu tidak dapat kita manfaatkan seoptimal mungkin. Menurut beliau, kalau Indonesia tidak mampu memanfaatkan potensi sumberdaya laut dan pantainya untuk kesejahteraan rakyat, maka ada yang salah dengan negara ini. Banyak negara ingin bisa mengembangkan budidaya udang, tapi mereka terkendala dengan potensi sumberdaya alamnya yang terbatas, jadi sungguh ironis kalau Indonesia yang sudah diberi anugerah sumberdaya yang sangat besar ini harus menyia-nyiakannya.

“Bersama kita bisa!” itulah salah satu pesan yang beliau tekankan sebelum menandatangani prasasti peresmian balai ini. Selamat untuk Balai Produksi Benih Udang Unggul dan Kekerangan. Semoga harapan dari didirikannya balai ini dapat menjadi kenyataan dan visi Kementerian Kelautan untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia di 2015 dapat terbantu dengan adanya balai ini.

Read Full Post »

Seharusnya hari Kamis tanggal 2 Desember 2010 yang lalu saya diundang jadi pembicara di acara Seminar Poseidon 2010 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Oseanografi ITB. Sayangnya, bertepatan dengan acara itu saya harus mengikuti acara Diklat PPAKP tingkat manajerial di Nusa Dua Bali, jadi terpaksa deh harus “mengutus” Kasi Tata Operasional BROK untuk mewakili saya. Seminar ini mengambil tema “Mitigasi dan Adaptasi Kelautan Indonesia”.

Dalam slide untuk acara seminar ini saya mencoba untuk sedikit membahas tentang pemanasan global dan potensial dampaknya pada sektor kelautan di Indonesia. Kebetulan sejak 2010 ini BROK mendapat tugas dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir untuk melakukan penelitian di bidang perubahan iklim, terutama dalam hal penyediaan dasar ilmiah yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dasar ilmiah ini memang sangat perlu untuk disusun sehingga Indonesia bisa berbicara dengan dasar yang kuat tentang perubahan iklim dan langkah-langkah mitigasi dan adaptasinya di forum-forum internasional.

Sebelumnya, di Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (PIT ISOI) ke-7 di Bangka Belitung 6-7 Oktober 2010, saya juga sempat memaparkan hasil penelitian yang berkaitan dengan perhitungan fluks karbon di perairan Indonesia menggunakan data penginderaan jauh dan pendekatan empirik. Tahun 2011 ini, setelah mendapatkan hasil yang membuat penasaran di 2010, BROK akan melanjutkan penelitian tentang karbon laut ini dengan menggunakan model biogeokimia laut seperti yang sudah saya ceritakan sekilas di sini.

Read Full Post »

Sepekan di Nusa Dua

Sepekan ini saya harus “bertapa” di Hotel Inna Putri Bali Nusa Dua karena harus mengikuti Diklat PPAKP (Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah) tingkat manajerial. Jadwalnya cukup padat, Senin sampai Jumat dari pukul 08.30 s.d. 21.00. Kebetulan saya dapat giliran masuk di angkatan ke-6 atau angkatan yang terakhir untuk tahun anggaran 2010. Acara ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan. Di diklat ini saya bisa belajar banyak tentang peraturan perundang-undangan dan akuntansi pemerintah, sesuatu yang mau gak mau harus saya geluti sejak pindah kerja di Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROK) Perancak, Jembrana, Bali.

Acara ini merupakan bagian dari agenda reformasi birokrasi pemerintah Republik Indonesia. Salah satu tujuan dari diadakannya diklat ini adalah untuk menjadikan laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) lebih baik lagi di tahun-tahun yang akan datang. Sebagai informasi, LKPP 2009 oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diberi opini “wajar dengan pengecualian” (WDP), dan pemerintah pusat bertekad untuk meningkatkannya menjadi “wajar tanpa pengecualian” (WTP).

Selesai dengan acara diklat, saya melanjutkannya “pertapaan” di Nusa untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-15 dengan istri tercinta. Kalau acara yang ini gak perlu diceritain di sini hehehe… 😉

Read Full Post »